KUMPULAN CERPEN RELIGI

KUMPULAN CERPEN RELIGI
SECAWAN MADU DI BUKIT CINTA


__ADS_3

“Kadang tidak habis pikir, aku perhatikan kehidupan rumah tanggamu, Rhen,” ujar Evi di tengah percakapan dengan sahabatnya, Rhena. 


“Kenapa harus kamu pikirin, sih? Ini, kan, keluarga dan rumah tanggaku. Santai saja, kok,” jawab Rhena datar.


Rhena adalah sosok perempuan yang anggun dan elegan. Berbusana serba tertutup dan longgar, lengkap dengan jilbab yang menjurai menutupi rambut hingga pertengahan tubuh.


Evi mendengkus, kemudian memperhatikan respon tenang Rhena yang senantiasa menghadirkan senyuman manis di saat berucap.


“Kok, bisa, sih, menjalani kehidupan rumah tangga sebagai seorang istri yang dipoligami? Berbagi suami dan cinta kamu dengan perempuan lain yang sama sekali tidak pernah dikenal, dan datang bagai benalu bagi rumah tangga kalian?” seru Evi dengan mimik muka yang menampakan rasa kesal dan greget tidak terhingga.


“Awalnya, sih, tertekan dengan semua perasaan yang kuciptakan sendiri dulu. Aku takut suami tidak bisa berlaku adil. Atau mungkin juga maduku itu menuntut yang lebih. Anak-anak terlantar serta berbagai pikiran buruk yang lainnya. Tapi itu dulu. Ternyata tidak semuanya terjadi. Suami tetaplah seperti seorang laki-laki yang pernah kukenal selama ini. Tidak ada yang berubah. Hanya saja intensitas waktunya saja yang kini harus berkurang, karena harus berbagi dengan istrinya yang lain. Selain itu tidak ada masalah,” jawab Rhena santai seraya memperhatikan sikap Evi yang terlihat muak dengan penjelasannya itu.


“Kamu tidak pernah merasa cemburu?” tanya Evi penasaran.


Rhena tersenyum. “Tentu saja aku seringkali merasa cemburu. Tapi jauh sebelum suami memutuskan untuk menikah lagi, aku juga sering merasa cemburu. Rasa itu muncul ketika dia harus berbagi cinta dan kasihnya dengan anak-anak, ibunya dan juga dengan sang Khalik. Rasanya tidak rela saja  dengan semua itu. Tapi lambat laun aku mulai sadar, suami juga adalah seorang manusia yang mempunyai kewajiban untuk berbagi terhadap sesama makhluk Allah lainnya. Sama seperti halnya aku dengan seorang Evi, sahabatku ini.”


“Tapi itu, kan, beda, Rhen!” Evi mulai ngotot.


“Kitalah yang seringkali memilah dan membeda-bedakannya, Sayang. Menilai sesuatu hal dengan sudut pandang kita tanpa mau menyesuaikannya dengan pemikiran orang lain. Terutama dengan orang-orang yang dekat dengan kita.” Rhena masih tetap tenang seakan tanpa beban sedikit pun.


“Kamu tidak merasa dikhianati oleh suamimu sendiri, Rhen?" Tanya Evi menyelidik. "Ingat, bagaimana ketika di hari pernikahan kalian, suamimu membacakan sighat taklik di depan penghulu, wali dan saksi. Bersumpah dengan nama Allah akan selalu menyayangi dan menjagamu.”


“Aku tidak merasa dikhianati oleh siapa pun. Kasih sayang dan cinta suamiku tidak pernah berkurang. Justru beliau tengah memperkaya hatinya dengan rasa-rasa itu bukan hanya bagiku. Sumpah pernikahan itu hanya ditujukan suami untukku. Tapi tidak sampai memutuskan kewajibannya dengan pihak lain. Untuk ibunya, saudaranya, temannya, tetangganya dan sekarang untuk istrinya yang lain.”


“Aku tidak paham, Rhen.” Evi mengerutkan kening sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Sekali lagi Rhena tersenyum. “Sebagai satu contoh saja, ketika seorang suami berjanji dengan nama Allah untuk selalu setia dan menyayangi istrinya, tapi tidak sampai memutuskan kewajibannya untuk tetap setia, mencintai dan menyayangi wanita lain yaitu ibu kandungnya sendiri. Bagi kita sebagai wanita, dinikahi oleh seorang lelaki itu bukan berarti bahwa suami itu milik istri seutuhnya. Suatu saat dia akan menjadi milik anak-anaknya atau juga istrinya yang lain.”


“Ya Tuhan.”


“Hanya satu pemilik sepenuhnya, yaitu tidak lain … Allah Subhanahu Wata’ala.”


“Gila kamu, Rhena!”


“Kok, gila? Itu, kan, sudah jelas-jelas tercantum dalan pedoman kehidupan kita sebagai umat Muslim, Al-Qur’an dan Al-Hadits, Evi.”

__ADS_1


“Ya, bagaimana aku tidak bilang gila? Sementara selama ini yang aku lihat dan aku dengar dengan kehidupan poligami, tidak lain hanya sebatas perselisihan, percekcokan, persaingan antara istri tua dan istri muda. Akhirnya banyak yang berakhir dengan perceraian!”


Lagi-lagi Rhena hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. “Mengapa yang menjadi perhatian kita hanya pada masalah-masalah seperti itu? Mengapa kita justru lebih enggan mencontoh pada pelaku kehidupan poligami yang harmonis? Berpanutan kepada mereka yang bisa menjalankan kewajibannya atas dasar aturan agama. Mencontoh pada kehidupan rumah tangga Rasulullah. Itulah sebaik-baiknya contoh dan suri tauladan kita. Bukankah perselisihan dan perceraian itu tidak hanya terjadi pada pelaku poligami? Yang monogami juga banyak, kok.”


“Karena yang monogami lebih banyak daripada yang poligami. Itulah sebabnya mengapa jumlah dimonopoli."


“Karena lebih banyak yang tidak menjadikan pedoman agama sebagai landasan berkehidupan. Sebagian dari kita mayoritas hanya berpijak pada nafsu dan ego, Evi. Aku, kan, sudah bilang, berkiblatlah pada kehidupan rumah tangga junjungan kita Nabi Muhammad Salallahu'alaihi Wasallam.”


“Itu, kan, nabi, Rhena. Sudah pasti kehidupannya dijamin. Mana ada nabi melakukan kesalahan?”


“Justru dengan adanya manusia-manusia pilihan tersebut, Allah memberikan bukti nyata bahwa jika semua aspek kehidupan manusia bersandar pada firman-Nya, maka janji Allah itu akan bisa kita dapatkan. Allah sendiri yang menjaminnya, Evi.”


“Itu, kan, hanya akal-akalan manusia saja untuk memenuhi hasrat birahi dan nafsunya dengan mencontoh pada sunnah nabi. Tujuan utamanya tetap saja demi mendapatkan legalitas pemenuhan biologis saja.”


“Lho, apa salahnya? Bukankah salah satu tujuan pernikahan itu untuk menjadikan sesuatu yang tadinya haram menjadi halal? Melegalisir kehidupan dan pergaulan dua jenis manusia, dan melindungi keduanya dengan hukum, agar tidak berbenturan dengan norma-norma yang sudah ada. Nafsu syahwat tentu saja menjadi salah satu alasan, mengapa manusia ingin melakukan perkawinan, kan? Daripada selingkuh atau sampai terjadi perzinaan? Lebih buruk yang mana?”


“Memangnya satu istri saja tidak cukup? Mengapa harus dua, tiga, empat, … dan seterusnya, sih?”


“Manusia itu diciptakan lengkap dengan nafsunya, Evi. Tidak ada manusia yang merasa tercukupi, kecuali jika dia pandai bersyukur."


Rhena mereguk minuman yang tersaji di depannya. Hening sejenak.


“Laki-laki dan perempuan diciptakan oleh Allah itu masing-masing memiliki keunikannya tersendiri, Evi. Dan mengapa Allah menciptakan kaum perempuan lebih banyak daripada kaum laki-laki? Lalu mengapa Allah menganugerahkan hukum poligami di dunia ini? Mengapa Allah memberikan derajat kaum ibu tiga kali lebih tinggi daripada kaum bapak? Mengapa Allah memberi derajat lebih tinggi kepada kaum bapak-bapak sebagai imam bagi kaum ibu-ibu? Mengapa ladang pahala dan amalan itu justru lebih banyak pada kehidupan perumah tangga? Tidak lain adalah bahwa dalam sebuah pernikahan itu Allah memberikan kelebihan-kelebihan tertentu pada masing-masing kaum sesuai dengan kapasitasnya. Ingat, amal kebaikan pada seseorang yang belum menikah, belum tentu akan dia dapatkan kebaikan-kebaikan pada kehidupan berumah tangga. Tapi justru kebaikan-kebaikan setelah menunaikan pernikahan akan bisa dia dapatkan sebagaimana saat dia masih belum menikah. Artinya pernikahan menjadikan amal kebaikan dua kali lipat dari sebelumnya. Makanya mengapa pernikahan itu disebut ladang amal kebaikan.”


“Tapi, kan, jadi tidak adil, sementara suami bisa lebih banyak kesempatan untuk melakukan amal kebaikan dengan istri-istrinya, sementara kita hanya bisa berdiam diri dirumah tanpa ada banyak kegiatan.”


“Justru, kalau segi waktu kitalah kaum istri yang lebih banyak kesempatan untuk berinvestasi pahala. Bahkan dengan berdiam diri di rumah saja sudah merupakan sebuah amalan besar bagi kita. Asalkan diniatkan untuk beribadah, menjaga amanah, dan harta benda yang dititipkan oleh suami. Jangan berkecil hati, kawanku, merelakan suami menikah lagi itu jaminannya syurga, lho. Itu sudah janji Allah.”


“Tapi, kan, harus ikhlas, Rhena.”


“Ikhlas atau tidak, itu sudah merupakan ketentuan Allah, Evi. Kita memilih Islam sebagai agama, sudah tentu harus siap dengan semua konsekuensinya. Termasuk mengimani hukum-hukum yang ada di dalamnya. Suka atau tidak suka, kita harus terima. Lagipula rasa ikhlas itu sama dengan hidayah yang harus dicari dan diperjuangkan. Bukannya menunggu keajaiban turun dari langit.”


Sayangnya percakapan itu harus berakhir. Rhena harus bersiap-siap pulang karena sudah dijemput suaminya yang sudah menunggu di pelataran parkir. Sebuah mobil kecil. Di dalamnya sudah ada dua orang yang tengah menanti Rhena keluar dari restoran, tempat mereka ngobrol tadi dengan temannya, Evi.


“Assalamu’alaikum, Abi, Dik,” sapa Rhena pada dua sosok yang berada dalam kendaraan.

__ADS_1


Seorang laki-laki dan seorang perempuan muda yang sama-sama berhijab sebagaimana dirinya, Rhena.


“Wa’alaikumsalaam, Kak. Kakak duduk di depan saja, ya, sama Abi. Biar aku di belakang saja,” seru sosok perempuan muda itu sambil membuka pintu dan bergegas keluar dari dalam kendaraan.


“Tidak usah, Dik. Kakak tidak apa-apa, kok. Kamu di depan saja sama Abi,” sahut Rhena.


“Tidak apa-apa, Kak. Ini sebagai bentuk penghormatan istri muda sama senior saja,” jawab perempuan muda yang tidak lain adalah madunya Rhena.


“Ah, Adik ini bisa saja."


Mereka berdua tertawa.


“Oh, iya, Kak. Tadi aku sengaja pilihin baju yang menurut aku dan Abi, sih, bagus buat kakak.”


“O, iya? Wah, terima kasih, Abi dan Adik.”


“Nanti di rumah kita coba, ya, Kak?"


“Boleh, masa, sih, dicoba di sini?”


Mereka berdua kembali tertawa.


“Alhamdulillah,” gumam sang suami melihat keakraban kedua istrinya. Senyumnya merekah dengan bibir dijilati basah saat melihat sosok Evi yang masih tertegun berdiri tidak jauh dari mereka.


“Teman kamu, Umi?” tanya suami pada Rhena.


“Ya, tadi kami mengobrol banyak di dalam. Kenapa, Abi?”


“Ah, tidak apa-apa, Umi?”


“Abi suka?”


“Apaan, sih, Umi?”


Istri-istri itu tertawa melihat sikap suami mereka. Berbarengan dengan itu perlahan kendaraan mulai merayap meninggalkan halaman parkir.

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2