KUMPULAN CERPEN RELIGI

KUMPULAN CERPEN RELIGI
PESONA DI BALIK JENDELA


__ADS_3

Seperti biasa, setiap pagi aku disibukan dengan berbagai aktifitas sebagai seorang ibu rumah tangga. Yang paling penting tentu saja menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anak. Biarlah untuk urusan yang lain bisa dikerjakan nanti selepas mereka berangkat ke tempat tujuannya masing-masing.


“Hai, Sayang. Selamat pagi,” sapa suami begitu muncul di balik pintu ruang makan. Sudah rapi dan wangi tentunya. Dia langsung duduk di kursi. Seperti biasanya. Menghadap ke arah jendela luar rumah. Dulu tak begitu. Selalu di ujung meja yang memanjang dan menyamping dari jendela itu.


“Selamat pagi juga, Sayang,” jawabku sambil meletakan sepiring roti bakar yang sudah kuolesi selai rasa nanas kesukaannya. “Anak-anak mana, Pah?”


“Ada di kamar mungkin?” jawabnya tanpa melihat ke arahku. Tapi menatap jendela luar sana.


“Lho, kok, tak diajak makan?” Aku heran seraya menoleh ke arah pandangan suami. Jendela luar itu lagi.


“Tadi pintu kamar mereka masih tertutup. Jadi Papah pikir masih sibuk mempersiapkan keperluan sekolah mereka,” jawabnya, lagi-lagi tanpa memandangku. Ke arah jendela itu.


Aku diam. Lebih memilih memanggil anak-anak untuk sarapan pagi. Sebelumnya kusempatkan menoleh dan mengintip apa yang ada di balik jendela luar itu. Hanya jalan serta sebuah rumah bercat warna merah muda. Tak ada yang aneh. Apalagi menarik.


“Selamat pagi, Mah.”


Suara yang sudah dikenal mengejutkan. Milik dua manusia mungil yang sudah berdiri di hadapanku. Anak-anak tentunya.


“Pagi, Sayang-Sayang Mamah! Ayo, sarapan dulu sebelum berangkat sekolah,” balasku lembut. Penuh sayang.


Mereka duduk di kursinya masing-masing. Menghadapi hidangan ringan roti bakar, lengkap dengan segelas susu. Tak ada perbincangan khusus. Terkecuali sesekali, aku mencuri pandang pada sikap suami yang sejak tadi fokus ke arah jendela. Ah, itu lagi.


“Pah, ayo berangkat,” seru anak-anak beberapa waktu kemudian.


“Oh, iya. Ayo.” Suami gelagapan. Antara terkejut dan salah tingkah. Menyadari dirinya tengah melamun sesaat. Melamun? Sejak kapan dia suka melamun? Memikirkan masalah keluarga atau pekerjaan? Ah, secara bahasa tubuh, jika pikiran manusia tengah digelayuti oleh sesuatu hal biasa, lebih banyak menunduk dengan wajah yang ditopang telapak tangan. Bukannya tertuju pada satu pandangan. Jendela luar rumah misalnya. Mengapa harus ke sana?


Itu awal keanehan yang terasa, setelah memperhatikan tingkah suami akhir-akhir ini. Berbagai macam pertanyaan mulai hinggap di balik kepala. Namun belum sanggup kuungkapkan, karena mungkin ini hanya sebatas dugaan belaka. Hanya satu yang membuatku heran, mengapa suami begitu rela berlama-lama memandang jendela itu?


Sampai kemudian ….


“Belanja, Bu?” tanya seorang perempuan yang menghampiri saat aku tengah belanja sayur-mayur, di depan rumah. “Oh, iya. Mau belanja juga, Bu?” tanyaku sambil menoleh pada sosok tadi. Masih terlihat muda dan menarik. Usianya pasti tak jauh dariku. Sedikit stylist dengan rambut sebahu yang dicat kecoklatan.


“Iya nih, Bu. Tadinya saya mau ke pasar, eh … gak tahunya di sini ada pedagang sayuran keliling juga,” jawabnya seraya melirik tukang dagang. “Jadi gak repot, dong, harus keluar rumah.”


“Saya, mah, selalu siap on the way atuh, Ibu-Ibu. Menyediakan keperluan dapur ibu-ibu rumah tangga. Menerima pesanan juga. Terkecuali, tidak menerima kasbon,” ujar si tukang sayur disambut tawa kami berdua. “Aahh, si Abang ini bisa saja,” balas perempuan itu tertawa-tawa.


“Ibu baru tinggal di sini?” tanyaku kemudian setelah tawa reda.

__ADS_1


“Oh, my God! Sampai lupa perkenalin diri,” seru wanita itu kaget sambil tepuk jidat.


Namanya Mirna. Tetangga depan rumah yang bercat warna merah muda itu. Seorang janda tanpa anak. Pekerja keras. Berangkat sore, pulang subuh. Entah kerja apa. Yang pasti hampir setiap pagi selalu terlihat di depan rumah, menjemur pakaian. Bertepatan dengan saat-saat aku, suami dan anak-anak berada di ruang makan. Itu pula yang menjadi bahan jawaban, mengapa suami kerap memandang jendela luar, yang menghadap arah depan rumah bercat warna merah muda itu. Sekaligus menjadi daya tarik pemandangan. Ada apa dan siapakah dia?


“Aku dulu teman sekolah satu kelas suamimu, Bu. Namanya Revan, kan?” begitu kata Mirna membuka cerita, waktu kami sibuk memilih sayuran di pagi lain. “Revan itu pintar, Bu. Jago matematika. Tiap kali ada PR, pasti semua teman-teman nyontek sama dia.”


Oh, begitu rupanya? Teman lama suami. Mengapa Mas Revan tidak pernah cerita? Setidaknya bertegur sapa dengan temannya ini. Tak mungkin kalau Mas Revan tak mengenali bekas temannya sendiri. Selama ini, aku tak pernah melihat Mas Revan bertemu dengan Mirna. Mengobrol bercerita tentang masa lalu. Juga memperkenalkanku pada Mirna, sebagai istrinya. Justru suami hanya bisa mencuri pandang sosok Mirna, di balik jendela ruang makan rumah kami.


“Tapi ini rahasia ya, Sis. Cukup kamu saja yang tahu. Dulu waktu di sekolahan, Pak Revan pernah naksir Bu Mirna. Bahkan suamimu itu pernah mengutarakan isi hatinya pada Mirna. Tapi Mirna menolak. Sayang sekali, padahal Pak Revan jujur mengakui kalau Mirna itu cinta pertamanya, Sis,” begitu kata Elin, sahabatku sekaligus bekas teman satu kelas Mas Revan dan Mirna juga, melalui telepon seluler kami suatu ketika. “Sabar ya, Sis. Aku harap, kamu bisa menghadapi masalah ini dengan baik. Kalau ada apa-apa, hubungi aku lagi ya?”


Oh, Tuhan! Aku mulai dilanda cemburu. Bukan karena takut kehilangan sosok suami tercintai, tapi ternyata ada nama lain tak tercatat di dalam buku pernikahan kami. Wujud lain yang mengisi relung cinta di hati suami. Aku percaya Mas Revan seorang tipe laki-laki dan suami setia, bertanggungjawab, baik, juga romantis. Tahu bagaimana membuatku selalu jatuh cinta padanya.


Akan tetapi, apakah kehadiranku dalam hidupnya hanya sebatas reinkarnasi cinta kasihnya yang dulu pernah tak bersambut?


Ya, Tuhan!


Aku tidak ingin menyalahkan suami sendiri. Cinta itu anugerah Tuhan yang paling indah. Rasa yang lain itu telah disematkan pada hati dia sekian lama. Tak ada keinginan seseorang untuk memilih mencinta. Namun hal itu tumbuh sendiri tanpa diundang atau dipaksakan. Sekali lagi, aku tak ingin menyalahkan Mas Revan.


Sekian waktu berlalu. Jendela ruang makan itu telah membuka lembaran sejarah baru. Mempertemukan kembali dua insan yang tak pernah berpadu. Di satu pihak hanya bisa terdiam dalam bisu. Bergejolak dilanda rasa yang semu.


“Nikahi dia, Pah,” itulah kalimat yang terucap dari bibirku suatu ketika. “Aku sudah tahu semuanya. Papah tak pernah bisa melupakan dia, kan?”


Aku tersenyum. Bukan kecut. Berusaha pasrah dan menerima keadaan yang sudah mulai menebar butiran kerikil yang terasa panas.


“Aku tak mau jadi manusia yang egois, Pah. Aku perempuan yang diberi perasaan halus dan peka. Tahu bagaimana rasanya cinta itu. Indah. Sangat indah. Jauh melebihi keindahan nafsu yang seringkali membutakan mata dan pikiran manusia. Aku mengerti sepenuh hati, rasanya memendam cinta terpenjara.”


“Mamah jangan gila ya? Papah bahagia bisa memiliki kamu, Mah.”


Kutatap mata suami dengan saksama. Memperhatikan setiap kedip kelopak yang mempesona. Lalu kembali tersenyum.


“Aku tahu, Pah. Di matamu ada banyak cinta untukku, tapi aku melihat di sisi lain, masih menyisakan cinta lama. Entah untuk siapa? Cinta pertamamu mungkin? Aku cemburu, Pah. Tapi lebih cemburu pada Tuhan, karena Dia telah memberimu cinta yang begitu besar dan tak lekang oleh waktu.”


“Mah.”


“Pergilah. Temui dia. Ungkapkan apa yang selama ini kamu rasa, Pah.”


“Mah!”

__ADS_1


“Aku siap untuk dimadu.”


“Mamah .… ”


“Aku akan baik-baik saja, Pah. Percayalah, aku akan menerimanya dengan ikhlas.”


Aku duduk menunggu dengan setiap helaan nafas berat di ruang makan yang biasa digunakan kami ketika sarapan. Menghadap jendela luar. Mempertontonkan sosok lelaki yang kucinta, masuk perlahan ke dalam rumah bercat warna merah muda itu. Ada yang menyambutnya dengan senyuman menggoda di sana.


Ya, Tuhan.


Aku tahu ini bukan satu-satunya jalan keluar. Merelakan suami jatuh ke pelukan perempuan lain, yang memperkenalkan rasa cinta untuk pertama kali dalam hidup. Sadar, tak sepenuhnya rela. Namun sebagai wujud dan bukti, bahwa aku sangat mencintai Mas Revan. Di situlah dasar, mengapa aku begitu percaya sepenuhnya pada cinta.


Aku masih duduk menunggu. Enggan rasanya berkedip, walau hanya sesaat. Sekadar menghilangkan perih pada bola mata yang mulai mengering. Ya, mengering. Karena aku sama sekali tak sedang ingin menangis. Hanya ingin Mas Revan segera keluar dari rumah bercat warna merah muda itu dan memberiku kabar bahagia.


Benar saja, setelah sekian lama akhirnya sosok yang kucintai itu keluar, penuh pesona. Berjalan tegap memburuku. Aku berdiri menyambut dan berharap. Meneliti setiap kilatan mata Mas Revan yang mampu membuatku berdiri di atas tumpuan kaki sendiri.


“Aku tak ingin menikahinya,” itulah sebait kalimat awal yang membuatku semakin kuat berdiri menghadap suami. “Mengapa?” tanyaku heran. “Dulu aku memang pernah mencintainya, hingga bertemu kembali dengannya. Tapi ketika aku kembali dan melihatmu saat ini, rasa itu tiba-tiba hilang dan semakin memperbesar cintaku sama kamu, Mah,” ungkap Mas Revan sungguh indah.


Ya, Tuhan. Itu kalimat terindah yang belum pernah kudengar sebelumnya dari suami selama ini. “Iya, Pah. Tapi mengapa?”


“Cinta itu tak pernah berkompromi. Tak mengenal syarat. Karena cinta itu lahir sendiri dari hati yang penuh kejujuran. Tak ada yang tersakiti oleh cinta. Bahkan untuk melukai sekalipun.”


“Maksud Papah apa?”


“Mamah begitu mencintai Papah. Sehingga Mamah rela menahan sakit dan cemburu yang Mamah rasakan. Tak ada penawaran yang Mamah berikan pada Papah, terkecuali merelakan separuh hati Papah untuk berbagi dengan masa lalu Papah.”


“Lalu?”


“Mirna memang cinta pertama Papah. Tapi Papah bukan cinta pertama dia. Perempuan itu mau Papah nikahi dengan satu syarat, yaitu Papah harus melepasmu selamanya.”


“Ya, Tuhan.”


“Itu bukanlah cinta, Mah. Namun sebuah keegoisan yang dibiaskan dengan nama cinta. Detik ini pula, aku semakin percaya sama kamu, Mah. Papah ingin, kamulah sosok bidadari syurga yang Tuhan janjikan untuk Papah kelak.”


Aku tak kuasa untuk segera memeluk Mas Revan dengan erat. Akhirnya di sinilah tangisku pecah dan menumpahkan air mata di dadanya yang hangat. Sungguh karunia yang teramat besar atas semua doa-doaku selama ini. Tuhan telah memecahkan kebuntuan dengan kuasa-Nya yang melimpah dan unik.


Terima kasih, Tuhan!

__ADS_1


SELESAI


__ADS_2