KUMPULAN CERPEN RELIGI

KUMPULAN CERPEN RELIGI
BERDAMAI DENGAN ANAK


__ADS_3

Alunan syahdu suara tahrim mengalun menghiasi angkasa gelap. Lambat laun menjauhkan alam mimpi yang memenuhi ruang sadar. Disertai tepukan lembut menyentuh bahu, kudengar merdu membangunkan, "Yah, Subuh."


Seraut wajah teduh terpampang samar di depan mata. Sudah dibalut mukena putih berenda motif bunga, berwarna biru langit dan merah muda. "Iya, Bu. Ayah bangun," sahutku hampir menyerupai bisikan.


Aroma semerbak sabun cair lavender menyeruak di antara busana perempuan yang tengah mengandung enam bulan itu. Ditambah wewangian sampo yang sudah hapal betul mereknya. Sang Permaisuri sudah lebih dulu bangun rupanya. Bersuci sekujur badan di pagi hari yang dingin menusuk tulang. Setelah semalam, bersama menjenguk calon anggota keluarga kami secara berulang. Sekaligus mengisi awal bulan Syawal dengan penuh kegairahan.


Janari ini aku kalah, usai menang telak di sepanjang medan pertempuran semalam. Ya, 'keok' berburu bangun lebih awal. Tak seperti waktu di bulan Ramadan kemarin.


Meraba-raba sebentar mencari segitiga pengaman yang entah dini hari tadi dilempar ke mana, di tengah rasa kantuk yang masih menghantui. Akhirnya kuputuskan menyambar selembar handuk setengah lembab, teronggok memilukan di pinggiran tempat tidur.


Tak sampai lima belas menit, aku sudah kembali ke kamar. Menggigil kedinginan begitu keluar dari kamar mandi. Tentunya sama wangi semerbak dengan yang digunakan oleh permaisuri kerajaan tadi. Kemudian bergegas mengenakan zirah kebesaran untuk melawan serangan hembusan angin di luar sana. Tak lupa membangunkan dan mengajak serta anak sulung ke Musala terdekat. Sementara anak kedua perawan dibiarkan terlelap sampai nanti ibundanya menunaikan tugas.


Ah, bersyukurlah. Saf jamaah masih seperti waktu Subuh-Subuh kemarin. Cukup satu deret dengan sisa kiri-kanan yang melompong kosong. Beruntung, 'segitu juga sudah uyuhan.' Demikian pepatah menurut versi orang barat (kulon) dulu.


Usai mengerjakan kewajiban vertikal, aku nongkrong dulu di rumah orang tua. Menyeduh secangkir kopi hitam panas, menyapa paru dengan hisapan nikotin, membuka beranda media sosial, sekaligus membalas sapa perpesanan dan menyambangi berbagai notifikasi. Sejenak harus menunggu hingga ponsel siap digunakan setelah melewati proses loading cukup lama. Maklum, smartphone yang sudah berkurang kecerdasannya, akibat dijejali ragam aplikasi seni musik dan tulis-menulis. Asyik bercengkerama memadu tulisan melalui tarian jemari tangan. Terutama dari kirimanku beberapa hari lalu.


Tak terasa, hari pun mulai tampak terang. Mentari perlahan mengintip genit di ufuk timur. Biasnya memencar memenuhi angkasa biru. Pertanda bahwa aku harus segera balik badan, menghadapi tumpukan tugas rumah. Setelah seharian penuh kemarin menjadi raja-ratu pengangguran. Peralatan masak, makan, pakaian kotor, juga sisa-sisa penganan berserak menghiasi hampir setiap sudut ruangan. Akan jadi hari panjang dan melelahkan. Bagiku, sang Raja, bukan beliau yang tengah berbadan dua.


Hhmmm, anak perawan kami masih tergolek pulas. Menelungkup nyenyak, membentuk ruas pulau kecil di atas hamparan sarung bantal. "Sayang, bangun. Tètèh belum salat Subuh, ya?" sapaku sambil mencolek-colek pipinya. Dia mengeliat sebentar, membuka mata, lalu beradu tatap sepersekian detik. "Alhamdulillahilladzi ahyaana ba'dama amatana wailaihinnusur .... "

__ADS_1


Tak berucap, namun gapaian tangannya memberi kode khusus. Minta digendong. Sesuatu yang lazim dia pinta padaku saat terbangun dari tidur pagi. Dengan senang hati, kupenuhi keinginannya. Membawa dalam dekapan menuju kamar kecil. Membiarkan buang air kecil.


"Tètèh belum wudu?" tanyaku usai menunggui anak itu di pintu luar. "Mau apa memangnya, Yah?" si anak perawan balik bertanya. "Salat Subuh, dong, Sayang," jawabku lembut.


Dia berpikir sesaat, lalu lanjut berucap, "Tapi sudah siang, Yah."


Aku balas tersenyum. "Gak apa-apa. Wudu aja dulu, terus salat Subuh, ya." Dia menyahut, "Kata Ibu 'kalo salatnya siang bukan salat Subuh, tapi salat Duha', Yah."


Hampir saja aku tertawa, namun keburu ditahan. "Hari ini gak apa-apa, deh. Makanya besok bangun tidurnya Subuh. Kayak kemaren-kemaren waktu mau makan sahur. Jadi salatnya Subuhnya gak siang kayak sekarang."


Anak itu terdiam. Tak bergerak di tempatnya berdiri. Mungkin ragu atau bisa juga malas menunaikan perintah. "Kenapa diam? Tètèh gak mau salat?" Aku mulai mendesak. "Ingat, Sayang. Tètèh itu sekarang sudah tujuh tahun. Ayah sudah boleh memukul anak Ayah ini kalo gak mau ngelaksanain salat."


Akhirnya mau juga dia berwudu, serta melaksanakan salat Subuh. Dengan syarat, kusiapkan seperangkat alat salat dan menungguinya. Kemudian beralih mengeksekusi tumpukan pakaian kotor dan cucian lain.


Ah, awal hari yang begitu menyenangkan. Bahagia sekali bisa memfungsikan sosokku sebagai seorang laki-laki berkewajiban. Tak perlu menarik urat leher maupun menaikkan volume pita suara. Cukup memutar otak untuk menghadapi ragam karakter anak-anak. Tiga raga dengan sifat yang berbeda-beda. Kadang teori tak semudah pelaksanaannya, apalagi jika mereka sudah mulai beranjak remaja. Perpaduan jiwa orang tua akan tampak jelas pada sikap sosok-sosok tersebut. Berontak, patuh, cuek, 'ngeyel', dan sebagainya akan kita jumpai.


Jika tegas tak harus identik dengan keras, mengapa tak dicoba dengan cara persuasif. Humor misalkan. Tentu akan menjadi teknik menyenangkan tanpa harus menanamkan rasa berang maupun menorehkan gusar di hati. Memberi sedikit dispensasi, asal disertai syarat mengikat lainnya. Seperti tadi, berdamai dengan pelaksanaan salat Subuh di siang hari. Berlaku hanya untuk hari itu saja. Esoknya edukasi harus naik tingkat. Tak ada kompensasi apa pun. Begitu terus hingga mereka mulai sadar akan kewajiban sendiri dan terbiasa. Waktu kami sebagai orang tua, cuma punya dua tahun lagi. Sebelum si anak perawan mendapatkan jejak pertama menjadi perempuan utuh dengan haid perdananya.


"Yah, sudah beres salatnya," lapor anak itu menghampiriku di pinggir mesin cuci.

__ADS_1


"Beneran? Kok, sebentar?" Aku menyelidik.


"Subuh, kan, dua rakaat, Yah. Pasti sebentar, dong," kilahnya tak mau kalah.


"Ada yang dilupakan gak sama Tètèh?"


Dia berpikir, lalu menggeleng.


Lanjutku, "Beresin bekas salatnya. Mukena dan sajadah dilipat. Simpan di tempat biasa, supaya kalo mau pake lagi gak harus nanya-nanya sama Ayah-Ibu."


"Oh, iya. Tètèh lupa," jawabnya diiringi tawa kecil menggemaskan. "Rapihin sekarang, ya, Cantik. Ayah mau siapin dulu sarapan buat kita," ucapku langsung dituruti perawan kecil itu.


Ah, masih permulaan. Masih banyak lagi hal yang kudu dituntaskan. Hari ini juga. Sebelum esok kembali berjibaku dengan kewajiban lain, mencari sebongkah berlian.


Sekarang aku akan menuntaskan semua kilatan lemak bekas lebaran kemarin serta tempelan daki di tumpukan pakaian kotor itu. Semakin cepat, akan semakin leluasa menyisakan waktu istirahat siang hari nanti. Berduaan dengan Ibunda Ratu, mengunjungi calon penerus keturunan.


Corona membuat liburan hari raya kami menjadi sangat singkat. Kapan ini akan berakhir? Wallahualam.


Sukabumi, 25 Mei 2020

__ADS_1


__ADS_2