
Jaenab duduk mematut di depan cermin, menatap wajahnya yang mulai berkeriput dan kusam. Sudah berbagai macam krim kecantikan dicoba, namun semua tak mampu melawan takdir, bahwa dia memang sudah tak muda lagi. Beberapa helai rambutnya pun, mulai bercampur, hitam dan putih. Ah, seandainya saja Dicky, suaminya, memberi uang lebih, tentu Jaenab akan selalu pergi ke salon untuk mengecat rambut, perawatan kulit wajah, suntik vitamin hingga memutihkan bokong. Sayang sekali, jatah belanja bulanannya kini tak seperti dulu. Tepatnya semenjak Dicky memutuskan untuk menikah lagi dengan perempuan yang jauh lebih muda dari Jaenab. Mira, begitu nama perempuan muda yang cantiknya tak lebih dari Jaenab. Tubuhnya pun proporsional. Bedanya hanya satu, Mira genit.
"Abang mau menikah lagi, Dek," itu awal kali Dicky berterus terang pada Jaenab, perihal pernikahannya yang kedua.
"Nikah sama siapa, Bang?" tanya Jaenab tiba-tiba merasa perih sekali hatinya.
Bagaimana tidak? Sebagai seorang istri yang telah rela menyerahkan sepenuh hidupnya, untuk seorang laki-laki tampan yang tak pernah dikenal dan dijodohkan, karena orang tua.
"Kenapa, Bang? Apakah begitu banyak kekurangan yang kumiliki, sehingga Abang tega berpaling pada perempuan lain?" Jaenab masih berusaha menahan gejolak emosinya yang siap meledak.
Rahimnya subur. Anak-anak lancar terlahir tanpa operasi caesar hingga dua kepala. Rumah tertata rapih walaupun sering kali merasa kelelahan. Semua kebutuhan dan pelayanan kewajibannya sebagai seorang istri, terpenuhi. Lalu, kekurangan apalagi? Kurang cantik? Mungkin karena Jaenab jarang berhias. Bukan tak mau, karena kebutuhan peralatan kosmetiknya habis untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Ah, manusia memang tak pernah ada puasnya. Apalagi kalau sudah menyangkut masalah nafsu. Sesuai dengan nama suaminya, ****-y. Benda itu yang selalu menjadi alasan kaum laki-laki untuk berkhianat.
"Abang berbuat khilaf, Dek," ucap laki-laki yang telah menginjak usia kepala empat namun masih terlihat gagah itu sambil menundukan kepala, "Mira tengah mengandung anak Abang."
Kalau menuruti hawa nafsu saat itu, ingin rasanya Jaenab mencakar-cakar wajah Dicky; memelintir tangan, membanting punggung, menendang ************ ... eh, jangan! Bagian itu masih dibutuhkan.
"Mira janda kampung sebelah yang artis penyanyi organ tunggal itu?" Jaenab mencoba menebak.
Dicky mengangguk perlahan.
Tepat sekali dugaan Jaenab selama ini. Hobi nyawer Dicky ditiap kali ada acara panggung hajatan, kini menuai hasil. Dia kepincut salah satu penyanyinya yang selalu berperilaku genit dan mengundang syahwat kaum laki-laki. Kali ini pilihannya jatuh pada Mira. Entahlah untuk selanjutnya. Maklum, selain karena ganteng, masa muda Dicky dikenal dengan sebutan cassanova. Playboy kampung yang kere tapi sukses gonta-ganti kekasih. Hingga akhirnya 'taubat' dalam pelukan seorang Jaenab yang sholehah.
"Kenapa bisa sampai khilaf, Bang? Bukankah Abang sudah lama menjauhi hobi Abang yang satu itu?" kelopak mata Jaenab mulai tergenang isak perih.
"Iya, Dek. Maaf, Abang benar-benar khilaf."
Khilaf? Lupa? Selalu kata itu yang menjadi alasan manusia berlindung di balik kekurangannya.
"Bang, daripada punya uang dihambur-hambur begitu, mendingan dipake buat kebutuhan rumah tangga. Kan, Abang tahu sendiri biaya pendidikan anak-anak kagak murah. Belum lagi harga kebutuhan dapur terus merangkak naik; BPJS, tarif listrik, BBM, pajak dan lainnya," Jaenab mulai berdakwah.
Kalau rasa kemanusiaannya sudah hilang, bisa saja Jaenab tega ikut turun ke berdemo mendukung RUU KUHP yang nyeleneh tapi banyak menguntungkan kaumnya itu.
"Lalu Abang harus meninggalkan tanggung jawab Abang terhadap Mira dengan rahim yang sudah terisi darah daging Abang?"
Dih, itu, sih, derita elu! Tapi kenapa gue yang kena imbasnya? Rutuk Jaenab jika mau berkata kasar.
Sebenarnya Jaenab bukanlah tipe perempuan lemah. Bisa saja dia menuntut cerai saat itu juga. Tapi ke mana harus melangkah. Satu-satunya keluarga yang dimiliki saat itu hanya anak-anak dan suami. Sebagai anak tunggal dari kedua orangtuanya yang telah lama meninggal, tak ada pilihan lain bagi Jaenab selain harus merelakan cinta suami dibagi dengan perempuan genit itu.
"Kamu masih muda, Jaenab. Wajahmu belum begitu tua. Di luar sana masih banyak laki-laki yang berkenan memperistrimu atau mungkin saja ... menjadikanmu istri simpanan," bisik cermin mencoba menggoyahkan keteguhan hati Jaenab untuk tetap mempertahankan kelangsungan rumah tangganya.
Ah, Jaenab cepat-cepat membuang pandangan dari bujuk rayu cermin yang selalu memuji-muji kesholehahannya. Cermin itu juga yang dulu pernah mengagumi keberhasilan Jaenab menghijrahkan Dicky dari lingkungan hidung belang. Namun kini, dia sedang menertawakan kesetiaannya untuk tetap bersuamikan seorang laki-laki pemuja dunia erotis.
"Sah ....!!!" ucap beberapa saksi serempak begitu Dicky usai melafalkan ijab qabul, menikahi Mira si janda genit yang tampak membuncit perutnya.
Disaat yang lain tersenyum bahagia, Jaenab justru diam dengan luka tak berdarah yang menganga di dalam hati.
"Sabar, ya, Mbak. Tetap fokus saja mengurus dan merawat anak-anak," hibur seorang ibu-ibu yang ikut hadir di acara walimahan Dicky dan Mira, sambil menyantap lahap daging rendang yang menumpuk hingga empat potong di atas piringnya.
Hanya bisa menasehati dengan kata 'sabar', padahal bila dirinya sendiri yang bernasib sama, belum tentu bisa setegar Jaenab. Paling juga akan mengamuk dan memporak-porandakan panggung perasmanan dengan ceracau tak berkesudahan, diiringi himbauan dari bedebah MC hajatan, "Mohon untuk bersabar, ini ujian!"
"Papah kapan pulang ke rumah, Mah?" tanya si sulung Putri yang baru duduk di bangku SMP kelas dua, begitu melihat Jaenab tergolek sendiri di kamar tidur.
"Sabar, ya, Nak. Nanti kalau saatnya pulang, pasti ada di rumah, kok," sahut Jaenab sambil melirik bantal di sampingnya yang kosong.
Di sana biasanya ada sosok Dicky, suaminya yang sering tertidur dibarengi suara dengkur yang keras. Beberapa hari ini memang sepi, namun sebuah kesunyian yang harus dibayar mahal karena pemiliknya sedang berada dalam dekapan perempuan lain.
"Tapi aku jadi sering diledek teman-teman, Mah," rengek Putri kembali.
"Diledek bagaimana, Nak?" Jaenab tersentak kaget.
Setengah terisak Putri berkata, "Aku dikatain punya ibu tiri, Mah. Padahal, kan, ibuku hanya Mamah seorang."
Jaenab segera memeluk anak perawannya itu dengan hangat, "Sabarlah, Nak. Biarin saja teman-temanmu itu mau berkata apa. Yang penting, masih ada Mamah di sini yang akan selalu menyangimu dan si Adek. Sudah makan belum? Mamah sudah siapkan di dapur, Nak."
"Gak mau! Aku maunya makan bareng sama Papah. Seperti dulu!" si sulung Putri ngambek, bergegas meninggalkan Jaenab seorang diri di kamar.
__ADS_1
Jaenab hanya bisa mengelus dada. Lagi-lagi perih itu menggerus dinding hatinya yang koyak. Kapan sembuhnya, ya Tuhan! Kalau saja ada ahli medis yang menjual penawarnya, mungkin Jaenab sudah lama membelinya. Namun ini luka dalam yang lain. Tak mungkin mampu terbaca oleh alat secanggih scanner rontgen sekali pun. Bah!
"Kok, cuma segini, Pah?" Jaenab menghitung lembaran uang yang sudah berpindah tangan dari Dicky.
"Memangnya harus berapa? Kan, kamu tahu sendiri gajiku berapa. Sekarang harus dibagi dua dengan Mira dan anaknya," jawab Dicky bersikeras bahwa selama ini dia sudah cukup berlaku adil terhadap istri-istrinya.
"Untuk biaya pendidikan anak-anak, Pah," Jaenab berusaha berharap pengertian dari Dicky dengan kondisinya kini.
"Sudahlah, jangan banyak nuntut. Kamu, kan, bisa buka usaha sendiri. Dagang apa, kek, di depan rumah untuk mencari penghasilan lain. Jangan hanya bisa mengandalkan pemberian uang dari suami saja. Kreatif dikitlah, Mah!"
Kreatif dikit? Berhemat sebisa mungkin dari jatah uang suami yang hanya cukup untuk biaya hidup setengah bulan, itu yang selama ini dinamakan kreatif? Jika saja Dicky mau bertukar posisi beberapa bulan saja dengan Jaenab, yakinlah, laki-laki itu pasti akan langsung kurus kering dibuatnya.
"Tapi, Pah ... "
"Contoh tuh, Mira, adikmu. Dia bisa mencari uang sendiri dari hasil nyanyinya selama ini. Jarang sekali merengek-rengek manja seperti kelakuanmu itu, Mah. Berpikirlah dengan isi kepalamu," sifat arogan Dicky mulai kambuh, "itu pun kalau kamu punya otak ... "
Ya, Tuhan! Jaenab berdiam di rumah selama ini bukan berarti tak mau kerja atau hanya berharap pemberian uang dari suami. Apalagi dengan latar pendidikan tinggi yang dimiliki, bisa saja Jaenab mendapatkan pekerjaan yang penghasilannya jauh di atas gaji Dicky. Namun ini masalah prinsip. Jaenab hanya ingin fokus mengurus rumah tangga, suami dan anak-anaknya. Menghindari lingkungan bebas dan demi menjaga marwah dia dan suami. Tapi pengorbanannya sekarang justru berbuah pahit seperti ini ....
Tit! Tit! Tit!
Di luar terdengar suara klakson mobil yang dibunyikan beberapa kali.
Itu pasti Mira.
Benar, perempuan genit itu tengah duduk gelisah di belakang kemudi, menunggui Dicky yang sedang bersitegang dengan Jaenab, sang istri tua.
Wajah putih hasil dempul tebal bedaknya, dipadu dengan berbagai riasan warna-warni di sekitar kelopak mata dan pipi, memberi hasil yang cukup menggelikan. Bukannya cantik, tapi lebih mirip pemeran wayang orang versi seni budaya orang Tionghoa, begitu pikir Jaenab.
"Mau kemana, Pah?" tanya Jaenab begitu Dicky buru-buru hendak menghampiri Mira dengan klaksonnya yang pengang.
"Nganter Mira pentas di panggung hajatan. Apalagi? Kamu mau ikut?" Dicky tersenyum mengejek.
Jaenab tak menjawab. Ujung matanya hanya bisa menatap kepergian laki-laki itu dengan rasa pedih. Mana mungkin bersedia melihat lenggak-lenggok madunya itu di atas pentas, ditemani laki-laki yang bukan suaminya, demi mendapatkan pundi-pundi rupiah.
Ah, semua orang memang memiliki jalan hidup dan cara mencari rejekinya masing-masing. Tapi meniru seperti yang dilakukan Mira? Tidak. Jaenab lebih memilih menikmati statusnya sekarang, menjadi istri yang kuper dan kolot.
Berhari-hari Jaenab berpikir, langkah apa yang akan dia lakukan. Anak-anak terus tumbuh dewasa. Kebutuhan pendidikan dan hidup mereka semakin meningkat. Tak mungkin Jaenab diam atau berjalan di tempat. Karena tuntutan hidup kian mendesak.
Jaenab memperhatikan seutas tali panjang yang sedari tadi dipegangnya. Kemudian beralih pada kaleng yang berisi cairan pembasmi serangga. Juga sebilah pisau dapur yang sudah terasah tajam.
Anak-anak sengaja diungsikan ke rumah kakek-nenek mereka, mertua Jaenab. Mumpung libur sekolah. Jadi, Jaenab bisa lebih leluasa mempersiapkan segala sesuatunya sesuai rencana.
Perempuan itu berjalan limbung tak tentu arah sambil menenteng bungkusan bahan-bahan yang telah dipersiapkan. Jalan pikiran buntu, ditambah rasa perih yang mengiris perut, karena sedari kemarin belum terisi sebutir nasi pun.
Langkah Jaenab semakin melambat, disusul dengan ambruknya pertahanan tubuh yang sudah tak kuat lagi ditopang dengan sisa tenaganya yang sudah terkikis habis.
Jaenab merintih di antara gelapnya dunia yang menyelimuti. Perlahan semuanya menghilang, kemudian berganti hitam dan kelam.
"Hhhmmm ... " rintih Jaenab beberapa waktu kemudian.
Perempuan itu membuka kelopak mata perlahan. Silau terkena tatap bias mentari yang langsung menghujam.
"Di mana aku?" gumam Jaenab memperhatikan sekeliling. Terasa asing namun seperti pernah berada di sana sebelumnya. Tapi entah kapan?
Dengan susah payah, Jaenab berusaha bangkit dan berjalan limbung ke arah yang ditunjuk jari kaki. Terseok-seok dengan tenaga yang ada.
"Mau ke mana, Bu?" tanya seorang laki-laki muda yang ditemui Jaenab di tengah perjalanan, di atas sepeda motornya.
"Aku mau pulang," jawab Jaenab dengan suara tercekat dari kerongkongannya yang kering.
Untunglah laki-laki tadi segera memberinya beberapa tegukan air minum. Lumayan, jadi ada tenaga tambahan untuk bisa melangkah lebih kuat.
"Pulang ke mana, Bu?" tanya laki-laki itu kembali.
"Rumahku," Jaenab menyebut nama seseorang yang langsung direspon heran.
"Rumah istri Pak Dicky?" gumam laki-laki tersebut pelan, namun tak berniat kembali bertanya.
__ADS_1
Dengan sepeda motornya, Jaenab diantar ke tempat yang disebutkan tadi.
"Ini tempatnya, Bu," ujar laki-laki itu setelah laju sepeda motornya berhenti. Tepat di depan sebuah toko besar.
"Bukan di sini, Mas. Ini bukan rumahku." Jaenab menggelengkan kepala.
"Rumah kediaman istri Pak Dicky memang dulu di sini, Bu. Tapi sudah lama berubah menjadi toko yang besar ini," jawab laki-laki itu sambil memperhatikan lebih seksama sosok Jaenab yang kelihatan lusuh.
"Maksudmu sudah lama bagaimana, Mas? Aku baru kemarin pergi meninggalkan rumahku. Hari ini Anda mengantarkanku ke tempat yang tidak kukenali," Jaenab menggelengkan kepala tak percaya.
"Tempatnya memang ini, Bu," laki-laki itu berusaha menyakinkan Jaenab.
"Tidak ... bukan ... Anda salah!" Jaenab bergegas hendak meninggalkan tempat itu. Namun ....
"Mamah .... " satu suara memanggil Jaenab.
"Siapa, ya?" tanya Jaenab memperhatikan sosok gadis muda yang tadi memanggilnya dengan sebutan 'Mama'.
"Ini Mamah, kan?" gadis itu kembali mengulang tanyanya. Senyum sumringah menyeruak dari bibirnya dengan manis.
"Siapa kamu, Cantik? Aku tak--"
"Mamah, ini aku ... Putri! Anak sulung Mamah!" seru gadis cantik yang berusia sekitar dua puluh tiga tahun itu mendekati Jaenab.
"Putri?" Jaenab heran dan bingung, "aku memang mempunyai dua orang anak, Putri dan Putra. Tapi mereka masih seusia anak SMP dan SD. Bukan gadis sepertimu, Cantik."
"Aku memang Putri yang Mamah maksud itu, Mah. Dan itu Putra, adikku. Anak Mama juga!" Putri menunjuk laki-laki muda yang tadi mengantar Jaenab dengan sepeda motornya.
"Mamah?" laki-laki muda yang tadi mengantar Jaenab terperanjat kaget.
"Putra? Putri?" Jaenab tambah bingung. Bagaimana mungkin anak-anak yang kemarin dititipkan pada mertuanya, hari ini bertemu dalam keadaan telah dewasa seperti itu? Tapi yang lebih mengejutkan adalah ....
"Mah, benarkah ini juga Mamah?" Putri menatap wajah dan tubuh Jaenab, "hampir sepuluh tahun Mamah menghilang, tapi Mamah masih kelihatan muda sebagaimana Mamah pertama dulu pergi."
Jaenab memegangi pipinya yang masih terasa kencang. Tapi sebelum menjawab, ketiga orang itu berpelukan sambil menangis melepas rindu yang sekian lama tertahan.
"Mamah sendiri tak tahu, Nak. Mamah hanya merasa tertidur sebentar di suatu tempat dan terbangun begitu saja," Jaenab kembali memeluk kedua anaknya, "Papah kalian mana?"
Putri dan Putra saling berpandangan.
"Ada apa dengan Papah? Lalu bagaimana pula Mira?" tanya Jaenab kembali masih diliputi heran dan bingung.
"Papah dirawat di rumah sakit jiwa. Sementara Mamah Mira .... " Putri melirik pada Putra, adiknya.
"Kenapa dengan Mira?" Jaenab semakin bingung.
"Semenjak Mamah pergi dulu, Papah berubah. Apalagi dengan kenyataan bahwa ... bayi yang dikandung Mamah Mira, ternyata bukan anak Papah. Mereka berpisah dan Papah berusaha mencari Mamah. Mungkin karena dilanda rasa bersalah yang berkepanjangan, Papah jatuh sakit. Tak bisa disembuhkan, terkecuali harus dirawat di rumah sakit jiwa," Putri bertutur cerita, "Mamah Mirna sendiri telah lama meninggal dunia karena menderita penyakit HIV. Anaknya yang dulu sempat diakui anak Papah, kini mendekam di penjara gara-gara kasus perdagangan narkoba!"
Jaenab mengusap wajahnya dengan pilu, "Lalu rumah yang ditempati ke mana?"
"Dijual dan dipakai modal usaha. Inilah hasilnya," Putri menunjuk pada sebuah bangunan toko besar yang ada di hadapan mereka.
Jaenab memandang takjub sambil berpikir.
"Bagaimana kalian berdua bertahan hidup hingga menjadi dewasa seperti sekarang ini? Mamah benar-benar tak mengerti."
"Ceritanya panjang, Mah," ujar Putra yang sedari tadi terdiam karena masih shock, dipertemukan kembali dengan orang yang selama ini dicintainya menghilang entah kemana. Kini bersua dalam keadaan masih seperti dulu, "sebaiknya kita masuk dulu ke dalam. Nanti kita cerita panjang lebar di sana."
Jaenab menurut, namun pikirannya masih tertuju pada seseorang ....
"Mamah ingin menemui Papah kalian. Mungkin saja dengan kedatangan Mamah, sakit Papah kalian bisa sembuh."
Putri dan Putra tersenyum.
Itulah kekuatan hati seorang perempuan. Biar pun telah tersakiti, namun jauh di lubuknya yang terdalam, masih sempat memikirkan orang yang telah membuatnya kecewa.
Satu lagi, pernikahan bukan hanya soal ganteng atau cantik.
__ADS_1
TAMAT