KUMPULAN CERPEN RELIGI

KUMPULAN CERPEN RELIGI
SUJUD CINTA


__ADS_3

Siang itu mentari tampak malu memperlihatkan teriknya di antara celah sekumpulan awan putih, di atas semesta. Keangkuhan yang biasa menusuk kulit bumi, hari itu terhijabi oleh keanggunan angkasa. Peluknya yang mempesona, hanya menyisakan bias cahaya yang tak membarakan. Ditambah semilir angin yang bersenandung syahdu menebar sejuk, mengajak dedaunan berdansa dengan lembut dengan sisa titik bening bekas tangisan sang alam.


Di saat kicauan burung menggema di antara desiran bayu, seorang lelaki yang terlihat masih muda, duduk bersandar pada sebuah pohon tua yang masih basah. Kerutan kecil di wajahnya menampakan bahwa laki-laki itu telah banyak menjalani wisata duka dihampir separuh usia. Sorot matanya kosong tanpa daya. Sementara dari mulutnya sesekali terdengar suara desah kepasrahan.


“Ya Allah … apalagi yang harus kulakukan? Ke mana aku harus berikhtiar? Kaki ini rasanya sudah tak sanggup lagi kuayunkan, mengikuti bisikan hati sendiri ... ” gumamnya di antara katupan mata yang tak lelap.


Peluh terus membanjiri sekujur badan. Sesekali dia mengusap keringat yang menetes deras di wajah dengan ujung bajunya yang lusuh. Ringisan pedih di bibir yang hitam menyertai kesendiriannya, menahan rasa perih akibat luka menganga di telapak kaki yang pecah bertelanjang.


“Cobalah kamu bermunajat kepada Allah. Minta pertolongan-Nya dengan banyak mendirikan salat dan memanjatkan doa. Allah itu Maha Mendengar setiap keluh kesah curhat hamba-Nya yang sedang kesusahan,” ujar Abdullah, sang sahabat, sore kemarin saat lelaki itu menyambangi kediamannya yang sederhana.


“Aku sudah lakukan semua itu, Dul! Salat Tahajud, salat Duha, bahkan sampai salat Hajat sekalipun. Semua kukerjakan tanpa tertinggal sehari pun, sebagaimana kujaga kewajiban yang lima waktu. Aku minta pada Allah agar diberikan rejeki untuk persiapan kelahiran anakku yang pertama. Tak lebih ... hanya itu. Aku tak minta kekayaan melimpah yang justru khawatir akan menjauhkan keluargaku dari Rabb-nya. Tapi, selama ini mana? Tuhan Yang Maha Mendengar? Maha Mengabulkan? Maha Memberi? Omong kosong semua! Bahkan sampai usia kandungan istriku menginjak hampir setengahnya waktu melahirkan, Dia masih belum juga memberi apa yang kupinta!” tandas laki-laki itu panjang lebar dengan nafas tersengal, menahan amarah yang mulai memuncak.


“Istighfar … Ismat, Sahabatku! Istighfarlah! Tak baik engkau mencaci Tuhan seperti itu,” tukas Abdullah sambil menepuk pundak sahabatnya yang bernama Ismat itu. “Sabar, ya! Lebih baik minumlah dulu. Luluhkan amarahmu dengan air ini .… ”


Ismat mengambil segelas air yang disodorkan Abdullah.


“Baca dulu bismillah, Kawan,” bisik Abdullah di telinga Ismat dengan lembut.


Ismat menahan gelasnya sesaat sebelum menuruti. Setelah melafalkan mukadimah kalam Illahi, dengan sedikit berat dan terpaksa, laki-laki muda itu mulai mereguk nikmat air bening ke dalam tenggorokannya yang kering dan sesak.


“Bagaimana? Terasa agak baikan, kan?” tanya Abdullah sambil tersenyum.

__ADS_1


“Mendingan … ” jawab Ismat dingin.


“Alhamdulillah … ucapkan alhamdulillah … ” lanjut Abdullah kembali menepuk bahu Ismat. Kali ini agak keras dari sebelumnya.


“Iyaaaa … alhamdulillah … !” sungut Ismat terpaksa.


Abdullah sampai tertawa melihat sikap kawan semasa kecilnya itu. “Sekarang kamu pulanglah dulu, atau ... lanjutkan ikhtiar untuk menghidupi keluargamu. Semoga tak lama lagi, Allah mengabulkan doa-doamu, Kawan! Insyaa Allah .… ”


Begitulah ucapan terakhir Abdullah sore kemarin. Ismat pun langsung pulang ke rumah dan memberikan semua hasil penjualan rongsokan hari itu pada istrinya. Ya, sehari-hari dia cuma bisa berkeliling ke berbagai tempat untuk mencari sampah plastik yang tercecer di jalanan. Selanjutnya, dia kumpulkan dan dijual ke sebuah tempat penampungan. Dari hasil penjualan limbah itulah, Ismat mampu memberikan nafkah penghidupan untuk keluarga.


Dengan penghasilan yang tak seberapa, hanya cukup untuk biaya hidup berdua bersama sang istri. Ya, cuma untuk memenuhi kebutuhan makan belaka. Sebentar lagi akan bertambah satu kewajiban yang harus dipenuhi, tapi untuk biaya persalinan dan beli popok bayi saja, Ismat masih kelimpungan. Tak tahu harus mencari tambahan ke mana? Bisa saja dia meminjam uang pada tetangga ataupun sanak keluarga. Tapi bagaimana nanti mengembalikannya? Pasti tak akan sanggup.


Selang beberapa hari setelah kunjungan ke rumah Abdullah, malam sehabis salat Isya, tiba-tiba sahabatnya itu datang ke rumah. Membawa bungkusan yang cukup besar.


“Tapi bagaimana jika suatu saat nanti kalian memiliki anak lagi?” tanya Ismat bingung.


“Tak usah khawatir, Kawan! Anak itu amanah dari Allah. Kami yakin, Dia tak akan tinggal diam. Pasti ada bagian rejekinya walaupun hanya seutas tali benang.”


Ismat memeluk Abdullah dengan erat. Tak terasa air mata mengalir begitu saja merasakan keikhlasan sang sahabat menolong dirinya.


“Kamu sudah punya Kartu Keluarga, kan? KTP suami istri?” tanya Abdullah kemudian.

__ADS_1


“Ada, semuanya lengkap. Memangnya mau apa?”


“Besok pagi kita berangkat ke Kantor Dinas Sosial untuk meminta surat rekomendasi. Setelah itu, kita pergi ke Kantor Dinas Kesehatan.”


“Buat apa?”


“Membuat permohonan Kartu Jaminan Kesehatan Nasional dan Kartu Indonesia Sehat untuk persiapan lahiran istrimu. Nanti bisa melahirkan di Puskesmas atau tempat pelayanan kesehatan lainnya tanpa dipungut biaya sepeser pun. Karena semuanya sudah ditanggung oleh pemerintah, Kawan! Oke?”


“Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu?”


“Aku sudah minta ijin istriku, besok tak akan bekerja dulu barang sehari. Lagipula, istriku masih punya simpanan sisa uang belanja harian. Jadi kalau cuma sehari tak nyari limbah sampah, rasanya kami sekeluarga tak harus berpuasa seharian. Hehe. Insyaa Allah .… ”


Sekali lagi Ismat memeluk erat tubuh sahabatnya itu seraya menghaturkan terima kasih.


Mungkin itulah jawaban yang Allah berikan atas doa-doa Ismat selama ini. Bersujud dalam Tahajud dan berusaha dalam Duha. Memohon diberikan rejeki yang berkah serta halal. Limpahan uang yang datang secara ajaib dari langit atau juga kejutan-kejutan yang tak terduga.


Namun ternyata Allah justru mengabulkannya dalam wujud seorang sahabat yang tulus membantu, datang di saat bimbang dan menolong di kala iman hampir kosong.


Ya Allah … nikmat manalagi yang kami dustakan? Begitu mudahnya ingkar hanya karena menilai rejeki dari-Mu dalam bentuk rupiah. Padahal Engkau senantiasa memberi tanpa kami pinta sekalipun.


Suara kumandang azan membuyarkan lamunan Ismat yang sedari tadi sibuk memikirkan diri yang banyak dosa. Dengan sedikit tertatih, laki-laki ini berusaha bangkit dari sandarannya, lalu perlahan melangkahkan kaki yang telanjang menuju arah suara panggilan sujud di waktu Zuhur.

__ADS_1


(Rejeki tak hanya berupa uang dan harta semata. Anak, kesehatan, sahabat, nasihat, dan lain-lain adalah merupakan rejeki yang tak terhingga nilainya. Salat bukanlah sarana ritual untuk mencari kekayaan. Tapi sebagai salah satu bentuk wujud syukur kita kepada Allah atas semua nikmat yang telah kita terima).


TAMAT


__ADS_2