
Suatu ketika seorang Ustadz terlihat sedang kebingungan, berjalan mondar-mandir di depan rumahnya. Sesekali memandang jauh ke ujung jalan, seperti tengah menanti seseorang? Melihat hal itu, istrinya datang sambil membawa piring berisikan makanan kesukaan suami dan bertanya, “Ada apa gerangan, Abi? Dari tadi Umi lihat, Abi seperti tengah dilanda gundah gulana.”
“Aku sedang menunggu seseorang, Umi,” jawab sang ustadz singkat.
“Siapakah seseorang yang Abi maksud itu? Begitu pentingnyakah dia di matamu, sampai tak sempat menatap Umi di kala menjawab pertanyaan?” Sang istri mulai merajuk.
“Oh, maafkan Abi ya, Umi. Seseorang yang Abi maksud itu adalah seorang laki-laki setengah tua yang setiap sebulan sekali datang bertamu ke rumah kita. Umi masih ingat, kan?” Kali ini sang ustadz menjawab sambil memandangi istrinya dengan rasa kasih.
“Umi tak begitu cemburu pada Abi, terkecuali di saat Abi tengah bermunajat kepada Allah, dengan penuh rasa cinta yang begitu besar,” ujar istri ustadz seraya meletakan piring yang dibawanya tadi di atas meja. “Tentu saja Umi masih ingat dengan orang yang Abi maksud itu. Lalu, apa yang membuat Abi begitu berharap dia datang kembali ke rumah kita?”
Sang ustadz menarik nafas dalam-dalam. “Sudah beberapa purnama ini, dia tak pernah datang berkunjung menemui Abi. Entah apa sebabnya? Abi khawatir dia sakit.”
“Mungkin dia tengah sibuk dengan pekerjaannya, Abi,” pikir istri ustadz seraya duduk di kursi.
“Mungkin saja. Bisa jadi …. ”
Setelah ustadz ikut duduk tak jauh dari tempatnya, kemudian istri ustadz kembali bertanya, “Sebenarnya apa yang sering Abi bicarakan dengan orang tersebut selama ini? Umi melihat sepertinya dia sedang mendapatkan kesulitan waktu itu.”
Ustadz menyantap terlebih dahulu makanan yang disajikan istrinya, lalu segera menjawab, “Ya, dia sedang menghadapi masalah keuangan. Waktu pertama kali datang, dia mengeluh tentang kondisi keluarganya yang dilanda kesulitan ekonomi, lalu Abi menyarankan agar dia lebih giat lagi berusaha dalam menjalankan kewajiban, mencari nafkah bagi keluarganya.”
Sang Ustadz masih ingat betul, saat laki-laki setengah tua itu datang menemuinya dengan kondisi pakaian yang lusuh, menebarkan aroma keringat yang menyengat. Mungkin baru pulang dari kebun atau pun sawah, dan belum sempat membersihkan badannya.
* * * * * * * *
“Aku hanya minta pada Allah untuk diberikan kemudahan, guna memberikan bekal ilmu agama untuk anak laki-lakiku, Ustadz. Jangan sampai nasibnya kelak, seperti yang kualami saat ini, miskin ilmu dan juga miskin harta. Aku ingin memasukannya ke sebuah sekolah agama, sekaligus menimba ilmu di pondok pesantren. Cukuplah kakak perempuannya saja yang harus berhenti sekolah, akibat kefakiran kami sebagai orangtua yang tak bisa membiayai sekolah.” Kalimat itu yang mengawali keluh-kesahnya di depan sang ustadz.
“Berikhtiarlah lebih tekun dari biasanya, bekerja lebih keras, dan jangan lupa … pendekatan diri pada Yang Maha Memiliki kehidupan ini,” kata ustadz memberi wejangan.
“Bagaimana caranya, Ustadz?”
“Tunaikan kewajibanmu sebagai hamba Allah dan lengkapi dengan ibadah sunnahmu.”
“Contohnya?”
__ADS_1
“Kerjakan qiyamullail, isi seperempat waktu tidurmu untuk bermunajat pada-Nya, lalu sambung paginya sebelum berangkat kerja dengan sunnah Dhuha.”
“Apakah sesederhana itu, Ustadz?”
“Ya, cukup sederhana dan mudah, tapi pelaksanaannya yang sulit. Karena di sepanjang perjalanan ritual keagamaan ini, jalan kita akan senantiasa sesak dipenuhi berbagai ujian. Kuncinya adalah kesabaran. Di situlah biasanya letak kelemahan seorang manusia, yang suka menginginkan segala sesuatu itu secara cepat dan instan.”
Laki-laki setengah tua itu berterima kasih atas wejangan yang telah disampaikan sang Ustadz, lalu segera pamit pulang dengan wajah sedikit ceria.
Selang satu bulan setelah pertemuan pertama, dia datang kembali dengan wajah kusut dan lesu. “Semua wejangan dari Ustadz sudah kulakukan tanpa tertinggal sekali waktu pun, tapi Allah tak juga memberikan apa yang kuinginkan.”
“Bukan tidak, tapi belum, Saudaraku. Allah itu Maha Pemberi. Di saat tidak diminta pun, Allah memberinya dengan gratis. Hanya saja, kita yang sering lupa dengan bersyukur.”
“Tapi selama sebulan ini aku belum juga merasakan adanya perubahan, Ustadz.”
“Sedari awal, kan, sudah kubilang, bersabarlah …. ”
“Lalu hal apalagi menurut Ustadz yang harus kulakukan?”
“Perbanyak dzikrullah.”
“Tambah pendekatan dirimu pada Allah dengan memperbanyak ibadah yang lain. Puasa Senin dan Kamis, sebagaimana yang sering Rasulullah kerjakan,” jawab ustadz, usai laki-laki itu berkeluh-kesah tentang hal yang sama seperti saat-saat sebelumnya.
Dengan langkah gontai dia pun pulang ke rumahnya. Seperti biasa, dua bulan kemudian datang kembali, masih dengan bunyi keluhan yang senada. “Sholat wajib dan sunnah, dzikir, baca Al Qur’an serta puasa Senin-Kamis hingga badanku kurus kering seperti ini, tapi Allah masih juga belum mau menyentuh hidupku. Kurang apalagi coba? Semua perintah-Nya sudah kukerjakan, larangan-Nya sudah kutinggalkan, tapi mana arti sebuah 'Kuasa' yang selama ini sering kita tambahkan di akhir penyebutan nama-Nya?!”
“Astaghfirullah, Bapak jangan lupa dengan kata ikhlas dan ihsan. Itu juga harus bapak tanamkan dalam hati di kala beribadah, Pak.”
“Aku sudah berusaha, Ustadz. Semuanya!”
“Bersabarlah, selalu khusnudzon kepada Allah, karena benteng iman yang paling utama bagi seorang Muslim yang sedang berkesusahan itu adalah ... sabar. Yakinkan dalam hati bahwa Allah sedang bermesraan dengan hidupmu menurut cara-Nya. Gaya-Nya memang tidak dapat ditebak, tapi hasil yang didapatkan seringkali berakhir dengan kepuasan yang tiada tara. Jauh sekali keindahannya dengan film-film romantis India yang seringkali happy ending .… ” ustadz menghibur laki-laki itu dengan candanya.
Begitulah pertemuan terakhir ustadz dengan laki-laki setengah tua yang belum pernah diketahui namanya itu. Sudah lebih dari separuh tahun Hijriah, dia tak pernah datang kembali, setidaknya memberi kabar bahwa dia masih hidup dan berkenan untuk bersujud pada-Nya.
* * * * * * * *
__ADS_1
“Itulah pembicaraan yang sering kami lakukan, Umi. Abi tidak tahu siapa dia maupun di mana tinggalnya. Abi terlalu asyik dengan nasihat-nasihat yang masih Abi ingat, dari mendiang Ayahanda dan guru Abi dulu ... ” Pembicaraan ustadz dan istrinya terhenti, ketika tiba-tiba terdengar deru suara kendaraan memasuki pelataran rumah. Mereka berdua segera memburu ke depan.
Tampak sebuah kendaraan mewah dan masih mengkilap, terparkir dengan pongahnya di sana. Disusul beberapa sosok manusia yang keluar dari empat penjuru pintu dengan busana rapih dan santun. Satu dari sosok mereka menjadi titik fokus mata sang ustadz, hingga enggan berkedip.
“Laki-laki setengah tua itu …. ” gumam sang Ustadz tanpa sadar dengan mulut terbuka lebar.
Ya, itu adalah laki-laki setengah tua yang dulu sering datang ke rumah dengan keluh-kesahnya. Dulu seringkali muncul di ambang pintu rumah depan dengan pakaian lusuh bercampur aroma keringat menyengat, disertai raut muka lesu tak bergairah. Kini dia muncul kembali dengan kondisi yang berbeda, pakaian putih bersih. Dari tubuhnya tercium aroma wewangian parfum khas tanah Arab, ditambah wajah berseri-seri dan selalu menebar senyum bahagia, begitu melihat sosok ustadz berdiri mematung terpaku bumi. Laki-laki itu diiringi dua orang laki-laki dan dua orang perempuan. Semuanya seragam dengan busana putih bersih menyilaukan mata, di saat pantulan cahaya matahari menerpa kemilau.
“Ini … istriku yang dulu sering menjadi korban kekesalanku, di saat rumah tak lagi mengepulkan asap dapur, karena aku pulang dengan tangan hampa. Yang itu anak perempuanku yang dulu pernah terputus menimba ilmu karena tak ada biaya, beserta suaminya, seorang anak dari ustadz kondang yang memiliki pondok pesantren terkenal itu. Terakhir, anak laki-lakiku yang kini sudah dapat mengenyam pendidikan agama dengan bebas dan gratis, sekaligus santri dari suami kakaknya sendiri,” begitu kata laki-laki setengah tua tersebut, setelah mereka berkumpul di dalam rumah. Tentu saja sebelumnya terjadi peluk-cium hangat bagaikan dua kawan lama yang baru bersua.
“Anak dari pemilik pondok pesantren yang terkenal itu? Siapa gerangan nama bapakmu, wahai Ustadz muda?” tanya ustadz pada laki-laki yang duduk bersebelahan dengan anak perempuan laki-laki setengah tua itu dengan takjub, melihat perubahan drastis yang dialami oleh sosok yang selama ini sering ditunggu.
“Namaku Muhammad Farzan Al Khalifi Daud, putra pertama Ayahku yang bernama Kyai Haji Muhammad Mubaraq Al Khalifi Daud, dari istri ketiga beliau ... tentunya.”
“Kyai Haji Mubaraq? Beliau itu temanku saat mondok di pesantren di daerah Jawa dulu. Masya Allah … ” seru sang ustadz terkejut luar biasa. “Lalu bagaimana ceritanya kalian semua bisa bertemu dan terkumpul dalam satu keluarga?”
“Ini semua sudah diatur oleh Allah, tentunya.” Laki-laki setengah baya itu mulai bercerita. “Saat itu aku bertekad untuk mendaftarkan anak laki-lakiku ke pesantren yang terkenal itu. Lumayan ... dari hasil penjualan seuntai kalung emas istri bisa untuk membekali biaya mondok. Ditemani oleh anak perempuanku, akhirnya kami datang ke pondok pesantren tersebut, namun tanpa sengaja malah bertemu dengan ustadz muda yang jadi menantuku sekarang ini. Selanjutnya Pak Ustadz pasti dapat menyimpulkannya sendiri, kan? Hehehe.”
Kemudian, percakapan demi percakapan pun berlangsung lama dan panjang lebar. Sampai kemudian semua harus berakhir, saat para tamu pamit meninggalkan nuansa silaturahim yang masih menyisakan benih rindu, sekaligus titik kecil rasa penasaran di hati sang ustadz.
“Mubaraq … Mubaraq … Tak kusangka, ternyata benar sekali ambisimu untuk bisa memiliki lebih dari satu istri itu. Kini telah dia dapatkan dan menjadi kenyataan. Aku pikir, dulu dia hanya bergurau belaka. Mengapa dia mampu sementara aku tidak?” gumam sang ustadz dengan suara perlahan setelah menengok ke sekeliling, untuk memastikan istri tak sedang berada di dekatnya.
Perlahan ustadz keluarkan ponsel dari balik saku gamisnya. Memeriksa adakah pesan masuk tentang konsultasi spiritual dari mantan kekasihnya dulu yang kini sudah menjanda. Ternyata belum ada notifikasi apa-apa.
“Umi, sekarang jam berapa?” tanya sang Ustadz begitu melihat istrinya tengah membereskan sisa-sisa jamuan tamu mereka tadi.
“Baru jam sepuluh lebih, Abi. Ada apa? Abi mau keluar?” tanya balik sang istri.
“Ah, tidak. Hanya memastikan kalau sekarang masih ada waktu untuk sholat Dhuha,” jawab ustadz sembari membuka-buka status daftar kontak Whatsapp, berharap sang mantan memposting status terbarunya. “Oh, iya, nanti tengah malam tolong bangunin Abi buat Qiyamul Lail ya, Umi. Terus besok, siapin buat sahurnya.”
“Abi mau puasa?”
“Ya, Umi, dawamin puasa Senin-Kamis .… ” jawab ustadz tersenyum manis sekali.
__ADS_1
Sang istri gelengkan kepala diiringi ucapan, “Tumben …. ”
SELESAI