
Perlahan suster membuka kain plester yang membalut mengelilingi sebagian kepalaku. Menutupi semua pandangan yang sudah lama kelam, sejak kejadian kecelakaan yang menimpaku beberapa tahun yang lalu. Dari situlah aku mulai kehilangan semua pesona keindahan dunia ini, melalui kedua bola mata ini yang buta.
Pada waktu itu tengah tergesa keluar dari kampus. Memburu waktu pulang menemui Mamah yang tengah terbaring di rumah sakit. Pikiranku bergejolak penuh tanya. Berkecamuk hingga hilang kesadaran. Sampai kemudian secara tiba-tiba sebuah mobil melemparku melayang di udara dan menghempaskan dengan keras di atas aspal panas yang tengah dibakar matahari.
Sesaat merasakan nyeri luar biasa menghujam kelopak mata, kemudian perlahan pandangan pun menjauh dari kehidupan nyata. Sayup perlahan ada beberapa suara dan teriakan yang memanggil namaku. Jeritan itu masih terngiang tertangkap gendang telinga, lalu hilang dan sunyi. Berganti warna hitam pekat mendekap seluruh alam sadar.
Selanjutnya, kutemukan diri ini tengah terbaring dengan rasa sakit yang masih mendera di sebagian tubuh. Terbangun namun masih terasa seperti tertidur pulas. Padahal tahu, sudah membuka lebar kedua mata ini. Bahkan membelalak sekuat tenaga untuk menatap diri dalam keadaan gelap gulita.
Aku tahu bukan malam. Karena suara riuh itu terdengar dengan jelas di sekeliling. Dunia seperti tengah kehilangan mentari selama-lamanya. Pekat menggulita dalam satu warna. Gelap dan hitam.
Barulah tersadar bahwa aku buta. Jerit tangis suara Mamah yang pertama kali terdengar disertai rangkulan erat. Menciumiku penuh kasih. Terbata di antara isak, serta berusaha menghibur dengan petuahnya yang lembut dan anggun. Aku tak mampu berkata apa-apa, kecuali membisu kelu. Genangan air hangat menyusuri kulit wajah.
Lama terdiam dengan perih yang menusuk di balik dada. Aku harus menerima takdir dari Tuhan untuk hidup dalam kondisi seperti ini. Tak ada lagi aura pesona. Tak ada pula warna-warni dunia yang kerap menghiasi di setiap kedip, kecuali hitam pekat. Kadang tak tahu apakah tengah terbangun ataukah masih tertidur. Semuanya memiliki nuansa sama.
"Selamat pagi, Atiqah." Itu suara asing pertama terdengar di suatu suatu hari. Seorang laki-laki muda. Setidaknya masih seumuran. Begitu pikirku sibuk menerka.
Sesaat kemudian ruangan tempat di mana kuterbaring dipenuhi semerbak wangi bunga. Membelai dengan manja pada setiap helaan nafas segar menyejukan. "Selamat pagi. Siapa Anda? Dokter baru, ya?" dugaku penuh harap.
Terdengar dengkus nafas di samping. Aku pikir dia pasti tengah tersenyum kecil.
"Kamu pasti tahu siapa aku, karena aku juga kenal siapa kamu," jawab suara itu pelan dan lembut. "Siapa, ya? Teman kampusku?" tanyaku penasaran.
Hening. Lama tak ada jawaban.
"Kok, diam?" tanyaku lagi. "Ya, aku Andrew. Teman kampus kamu, Atiqah," jawab laki-laki itu akhirnya.
Kudengar Andrew tengah membuka sesuatu. Gemerisik seperti suara plastik. "Kamu bawa buah jeruk, kan?" Aku menyelidik dengan hirupan aroma yang hadir di antara kedua lubang hidung.
"Kamu pintar. Ternyata walaupun buta kamu itu .... " Suara Andrew tak berlanjut.
Aku menantikan lanjutan kalimatnya dengan alis meninggi, "Aku ... kenapa? Kok, gak diterusin?"
"Makanlah dulu buah jeruk ini. Sangat bagus untuk kesehatan di saat kondisi perutmu yang masih kosong." Andrew menyuapiku.
"Idih, emangnya kamu siapa nyuruh-nyuruh aku makan segala?" Aku menepis tangan Andrew, "lagipula kamu itu Andrew yang mana, sih? Di kelasku tak ada yang namanya Andrew."
"Anak sastra," jawab Andrew singkat.
"Ooohh."
Itulah awal perkenalanku dengan Andrew. Sosok lelaki yang hanya dikenali dari suaranya saja. Tak tahu bagaimana rupa dia. Hanya bisa merasakan kelembutan di saat menyentuh bibir, jemari atau pula membelai rambutku yang panjang terurai.
Kami jadi terbiasa dengan suasana seadanya seperti itu. Tiada hari tanpa tawa. Seakan melupakan rasa perih akibat kehilangan penglihatan.
Penglihatan?
Karena kecelakaan yang menimpaku tempo hari. Softlens yang kukenakan pecah menembus kedua bola mata sehingga menyebabkan kebutaan.
Lalu siapa yang telah mencelakaiku?
Jawaban itu keluar dari mulut Andrew sendiri. Dia mengakui, dialah yang secara tak sengaja menabrakku. Andrew merasa berdosa dan bersumpah akan menebus kesalahan itu dengan merawatku sepanjang waktu.
Aku sempat terkejut dan marah pada Andrew. Beberapa waktu tak mau ditemuinya. Tiba-tiba merasa benci sekali. Namun dia tak pernah putus harapan, kerap mengunjungi setiap saat. Sampai akhirnya, aku luluh sendiri merasakan ketulusan Andrew untuk memenuhi sumpah.
Setiap waktu tertentu dia datang. Membawa jalan-jalan ke luar ruangan sambil bercerita banyak tentang kehidupannya.
Dia baik sekali. Tutur katanya mampu membiusku hingga terlena dalam balutan perasaan yang tak menentu. Ada rasa kesepian di kala dia tak ada. Rindu akan sentuhan jemarinya di bibirku dan suara besar namun lembut menyejukan.
Apakah aku jatuh cinta? Bagaimana mungkin? Rupanya saja aku tak pernah tahu. Mungkin saja dia jelek. Atau bisa jadi juga ....
"Mau kubacakan berita apa hari ini, Atiqah?" Selalu itu pertanyaan yang keluar saat Andrew menjenguk.
"Bagaimana kalau kamu bacakan zodiak aku hari ini?"
Laki-laki itu membuka lembaran majalah yang dibawanya. "Hari ini kondisi keuanganmu—"
"Bukan yang itu, tapi bagian hatinya," sahutku disertai tawa kecil di antara bibir yang tertutup jemari tangan.
__ADS_1
"Sepertinya kamu lagi jatuh cinta, ya?" tanya Andrew setelah agak lama mencari-cari bagian yang kuminta.
"Emangnya seperti itu, ya, menurut zodiakku?" Kembali aku tertawa kecil.
"Kamu jatuh cinta sama siapa, sih?" tanya Andrew pelan. Suaranya dekat sekali. Aku bisa merasakan hawa panas dari napasnya.
"Andrew .... " Aku tersentak dan secara refleks beringsut menjauh. "Bagaimana kalau itu benar adanya?" tanya Andrew lagi. Suaranya mengikuti.
"Andrew ... apaan, sih?" Bulu tengkukku berdiri. Bukan karena takut, tapi ada rasa aneh yang menjalar di setiap desiran darah yang mengalir cepat ke kepala, saat aroma napas itu membakar pori-pori kulit.
"Bagaimana jika kamu jatuh cinta pada orang yang memiliki rasa yang sama, terhadapmu?"
"Andrew ... kamu .... "
Kucari-cari sosoknya dengan ujung jemari yang mulai kaku, dan menemukan dirinya hanya beberapa inci dariku.
"Aku jatuh cinta sama kamu, Atiqah," ujar Andrew pelan. Kuraba wajahnya yang basah dengan keringat dingin, "Kamu sakit, Andrew? Kamu butuh dokter."
"Aku tak butuh dokter. Aku hanya butuh dirimu, Atiqah. Aku benar-benar jatuh cinta sama kamu," bisik Andrew.
"Andrew."
Dia menarik wajahnya. Menjauhiku yang masih terengah dalam balutan gejolak hati yang sulit digambarkan.
"Andrew ... kamu di mana?" tanyaku mencari-cari sosoknya dalam kepekatan. Laki-laki itu tak menyahut. Entah diam ataukah pergi. Yang jelas, sejak saat itu aku tak pernah lagi mendengar suaranya. Dia menghilang. Benar-benar menghilang.
Tak pernah kudengar lagi kabar beritanya. Walau untuk sekadar titip salam sekali pun. Aku bingung dan sungguh tersiksa. Antara rasa cinta, rindu dan benci yang perlahan mulai menggerogoti sisi buruk hati. Berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam pikiran yang satu pun tak pernah mendapatkan jawaban.
Aku tersiksa dengan kesendirianku.
Sampai suatu ketika sosok yang kunantikan itu muncul kembali. Bicara dengan nada tertahan dan berat. Memohon maaf sepenuh hati. Aku marah sekaligus bahagia. Terisak dalam dekapan dadanya yang hangat.
"Atiqah, kamu tahu apa yang kubawakan untukmu hari ini?" tanya Andrew. "Apa itu? Bunga, ya?" tanyaku sibuk menerka, "atau ... makanan mungkin?"
"Bukan. Tapi ... coba kamu diam dulu sebentar, biar aku bantu kenakan, ya."
Andrew mendekat. Sebuah kain lembut terjulur dengan indah lalu perlahan membungkus kepalaku.
"Ini jilbab, Atiqah," jawab Andrew sambil membetulkan letak kain yang kukenakan baru saja.
"Jilbab? Kamu, kan .... " Aku mulai bingung.
"Sudahlah, simpan dulu pertanyaanmu itu untuk sementara waktu. Sekarang, aku mohon padamu, tutuplah selalu rambutmu dengan jilbab. Aku sengaja memberikan banyak untuk kamu kenakan setiap hari. Terutama di saat kamu bertemu denganku atau yang bukan mahrommu."
"Andrew ... kamu?"
Laki-laki itu menempelkan telunjuk di bibirku. Meminta untuk terdiam dalam rasa penasaran.
Ada banyak perubahan dalam diri Andrew. Terutama sejak kepergiannya tempo hari. Dia banyak mengajarkan agama padaku. Sikap laki-laki itu semakin lembut, penuh kasih sayang. Bahkan di suatu pagi buta aku terbangun, mendengar lantunan kalimat suci dengan suara terbata dan kaku.
Aku bingung dan ingin bertanya. Tapi dia selalu mengelak untuk menjawab.
"Suatu saat aku sendiri yang akan mengatakannya padamu," begitu ujarnya lembut. Entah sampai kapan? Yang pasti aku selalu berada dalam situasi yang tak menenangkan.
Itu terjadi hingga suatu ketika, Andrew menyampaikan keinginannya untuk memperistriku. Dia benar-benar tulus mencintai. "Aku ingin kita bersama-sama menjalani hidup ini sesuai dengan aturan agama," katanya serius.
"Andrew ... benarkah itu?" tanyaku di antara rasa kejut dan bahagia tiada terkira. "Tentu saja, Atiqah. Tapi ada satu hal yang ingin kusampaikan padamu." Andrew menarik napas panjang.
"Apa?"
Andrew menyampaikan sebuah kabar yang menambah rasa bahagia ini. Dia ingin aku menjalani operasi. Menggantikan bola mata yang rusak dan tidak berfungsi ini, dengan milik seseorang yang telah rela mendonorkannya. Entah punya siapa. Yang pasti Andrew sudah mempersiapkan semua untukku.
Terbayang rasa bahagia kelak, bisa kembali menikmati keindahan dunia ini seperti dulu. Terutama bisa melihat sosok Andrew yang selama ini hanya bisa kukenali melalui suaranya saja.
Hari yang ditunggu pun tiba. Aku menjalani operasi yang cukup melelahkan. Terbaring kaku setengah sadar di atas altar bedah. Menikmati setiap sayatan pisau-pisau tajam yang menari-nari di dalam rongga mata. Sampai kemudian benar-benar tertidur pulas dan terbuai dalam mimpi panjang.
"Buka perlahan matanya, ya, Mbak," sahut dokter menghentak lamunan. Hatiku berdebar dengan detak jantung tak beraturan. Ada rasa cemas saat perlahan membuka kelopak mata.
__ADS_1
Ada setitik sinar yang membias masuk ke dalam bola mata. Samar dan perlahan. Nampak tak jelas mengabur mencari titik fokus. Aku tak bisa membuka lebih lebar, karena serasa silau yang teramat sangat.
"Untuk pertama kalinya, Anda akan mencoba berusaha beradaptasi dengan kondisi sekeliling. Terutama pada sumber-sumber cahaya. Nanti masih ada pemeriksaan lanjutan yang harus dilakukan," kata seorang dokter sambil mengamati kedua bola mataku.
Tak peduli apa pun yang terjadi. Sosok pertama yang dicari tentu saja Andrew. Yang kulihat di ruangan itu hanya ada beberapa sosok suster, dokter dan juga Mamah.
Tak ada yang lain. Ke mana Andrew?
"Andrew menitipkan ini buat kamu, Nak," ujar Mamah seraya memberikan secarik kertas putih, setelah kami berpelukan bahagia.
Perlahan kubuka dan menemukan tulisan tangan Andrew yang tersusun rapih.
Atiqah sayang ....
Aku turut bahagia atas apa yang kamu dapatkan kembali hari ini. Maaf aku tidak bisa turut hadir di sisimu. Di saat kamu sudah mulai menemukan sosok-sosok yang sempat hilang dari pandanganmu. Namun ada sesuatu hal yang belum kamu ketahui di balik hubungan kita selama ini.
Aku akan membukanya di kala kita bertemu nanti. Datanglah ke tempat yang kumaksud. Alamatnya ada di balik surat ini.
Purnama mendatang kita bertemu di sana.
With love
Andrew
Aku belum memahami apa yang Andrew maksud. Akan ada banyak kejutan yang siap-siap menghujamku berkali-kali. Itu akan terjadi nanti dua pekan mendatang.
Waktu pun bergulir dengan cepat. Tak terasa masa penantian pun telah berakhir. Aku datang memenuhi undangan untuk menemui sosok Andrew di suatu tempat. Sebuah daerah pemakaman keluarga terpencil di pinggiran kota. Hanya ada beberapa buah pusara di sana. Lengkap dengan tanda dua palang panjang saling menyimpang pada jeda akhir menjelang ujungnya dan tertancap dengan megah.
Di sana sudah ada sosok laki-laki muda seusiaku, berdiri mematung di samping sebuah makam yang nampak masih baru. Laki-laki sederhana dengan tampilan sebagaimana umumnya kalangan anak muda. Berperawakan tinggi dan putih layaknya orang Manado.
"Andrew?" tanyaku perlahan, khawatir salah orang. Laki-laki itu menoleh dan tersenyum begitu melihat kedatanganku, yang mengenakan gamis biru memanjang. Dipadu kain jilbab panjang terjurai dengan warna senada.
"Bukan, aku Albert," jawab laki-laki itu seraya tersenyum kembali.
Tapi suara itu mirip sekali dengan suara yang selama ini kerap menemani hari-hari di saat masih buta. Aku bingung. Tapi rasa kejut ini tiba-tiba kembali menusuk jantung, begitu mataku tertuju pada nisan makam yang bertuliskan nama Andrew.
"Kamu siapa? Kenapa ada nama Andrew di makam itu?" tanyaku masih dengan rasa kejut yang belum juga sirna.
"Baiklah, sesuai janjiku sebelumnya, aku akan membuka semua amanat yang telah aku simpan selama ini," Albert mulai bercerita dari awal aku mengalami kecelakaan hingga perkenalan dengan Andrew.
Beberapa bulan yang lalu Andrew bekerja keras mencari uang dan menyimpannya untuk persiapan biaya operasi mataku. Dia bertekad untuk membayar penyesalan yang dia rasakan selama ini, karena telah membuat derita berkepanjangan pada seorang gadis, tentunya itu adalah aku. Serta pula untuk memenuhi janjinya menikahiku. Karena dia akui sejujurnya telah jatuh cinta padaku.
Perkenalan singkat dalam situasi yang tak biasa telah mengetuk lorong hati untuk segera menemukan bongkahan tulang rusuknya yang hilang.
Sayang suatu ketika Andrew mengalami kecelakaan tragis di sebuah jalan. Dia mengalami masa-masa kritis dan hanya memiliki peluang hidup yang teramat sedikit. Menjelang hembusan napas terakhir, Andrew berpesan pada Albert untuk mendonorkan matanya padaku dan mempergunakan sisa tabungan yang selama ini dia kumpulkan. Terakhir meminta Andrew meminta Albert untuk menikahiku.
Rasa cinta Andrew begitu besar, sampai jelang kematiannya pun dia meminta agar bisa mengikuti keyakinan yang aku anut selama ini. Tapi sayang, keinginan Andrew tak sempat dipenuhi. Tuhan telah berkehendak lain.
Akhirnya Albert datang menggantikan posisi Andrew. Dia datang dengan suasana baru. Berusaha menjadi sosok Andrew yang selama ini kukenal. Sikap, nada bicara, kasih sayang, dan juga cintanya.
Di tengah kepura-puraannya menjadi pribadi seorang Andrew, ternyata Albert pun mengalami hal sama. Dia mulai menikmati perannya dan jatuh cinta. Semenjak itulah Albert mulai belajar agama sesuai dengan keyakinanku. Sedikit demi sedikit menambah tabungan ilmu menuju arah baru yang dia yakini. Bahkan tahu bagaimana seharusnya memperlakukan aku sesuai kaidah dan aturan agama yang dipahami.
Aku tertunduk lemah, bersimpuh di samping pusara Andrew yang masih merah. Mataku nanar memandangi setiap jengkal gundukan tanah yang baru ditaburi berbagai macam bunga. Salah satunya adalah bunga yang selama ini seringkali Andrew bawa saat datang menjenguk dulu.
Wangi semerbak di antara terpaan semilir angin yang bertiup menyibak kain jilbab yang kukenakan. Tak terasa air mata ini meleleh menyusuri pipi. Begitu besar perjuangan seorang Andrew, sampai akhirnya Tuhan memanggil dia di saat aku belum pernah sekali pun melihat wujudnya yang asli.
Ingin sekali saja melihat raut wajah laki-laki itu. Sepertinya teduh sebagaimana suara Andrew yang selalu lembut saat berucap. Mampu membangkitkan semangat hidup di kala aku terpuruk karena cacat sementara.
"Lalu ... apa hubunganmu dengan Andrew?" tanyaku di sela isak yang tak kuasa dihentikan.
Lama Albert menjawab. Sampai kemudian laki-laki itu berjongkok dengan wajah tertunduk. "Aku saudara kembarnya Andrew. Dia adikku yang sangat kucintai."
Aku terperangah dan secara tak sadar beringsut menjauhi sosok itu. Benar-benar hidupku dipenuhi dengan berbagai kejutan yang tak pernah terduga sebelumnya.
"Kamu .... "
"Ya, akulah yang menggantikan sosok Andrew sejak dia menghilang dan tak lagi datang menjengukmu. Aku juga yang pagi-pagi buta itu belajar melafalkan ayat-ayat Tuhan. Aku jatuh cinta sama kamu, Atiqah."
__ADS_1
Beberapa saat, aku hanya bisa memandangi wajahnya yang mempesona, dengan senyum yang menyeruak perlahan. Kemudian wajah itu berubah hitam. Kelam dan pekat. Bersamaan dengan hilangnya kesadaran yang sedari tadi dipertahankan. Melemah dan terhempas di atas hamparan bumi yang mulai memanas terpanggang matahari ....
S E L E S A I