KUMPULAN CERPEN RELIGI

KUMPULAN CERPEN RELIGI
MENIKAH UNTUK BERCERAI


__ADS_3

MENIKAH UNTUK BERCERAI


Penulis : Daoed Soelaeman


Siang itu, telepon berdering untuk kesekian kali. Dari nomor kontak yang sama. Kiranti. Perempuan yang pernah kutaksir dulu hingga kini. Pasti akan membicarakan perihal kemarin dan sebelumnya. Setengah malas, terpaksa diangkat juga dengan hati berat.


"Iya, halo. Ada apa, Ran?" tanyaku setelah menghentikan aktivitas kerja sesaat.


"Kamu di mana, Rajiv?" Terdengar suara Kiranti di balik ponsel. Lirih. Mungkin tertekan dengan masalah yang tengah dihadapinya. "Aku ada perlu sama kamu. Punya waktu luang gak?"


Kutatap layar komputer. Masih menyisakan setumpuk tugas kantor yang belum selesai dikerjakan. "Aku di kantor, Ran. Masih kerja."


"Jam segini masih di kantor? Lembur?" tanya Ranti kembali.


Kulirik layar bawah kanan komputer. Pukul setengah enam petang. Sebentar lagi Magrib. Kemudian menjawab, "Iya, aku lembur. Ada pekerjaan yang harus segera kutuntaskan hari ini juga."


"Sampai kapan?" Suara Ranti terdengar mendesak. "Pulang lembur, kamu bisa temui aku, 'kan? Di cafe tempat biasa kita ketemuan."


Kutarik napas panjang, bingung harus menjawab. Bukan apa-apa. Ada rasa enggan menemui perempuan itu, saat ini. Apalagi dengan topik yang sama. "Aku gak tahu, Ran. Soalnya pekerjaanku belum kelar."


Terdengar dengkus Ranti di seberang sana. Kemudian berujar, "Kamu ini kenapa sih, Rajiv? Tiap kali kuajak ketemuan, sepertinya terus menghindar. Kamu sudah gak mau ketemu sama aku?"


"Bukan begitu, Ran. Tapi …. "


"Kupikir kamu masih mencintaiku. Nyatanya begini ya, sikap kamu ini!" Nada suara Kiranti meninggi.


"Aku gak bermaksud begitu, Ran. Maaf. Tapi aku …. " Agak ragu kulanjut bicara. Sikap Kiranti lekas kambuh jika keinginannya tak segera dipenuhi.


"Oke, kalau mau kamu begitu. Aku gak akan menghubungi kamu lagi!" ancam Kiranti memekakkan telinga.


"Tunggu, Ran," seruku menahan agar perempuan itu tak segera menutup telepon. "Baik, aku akan temui kamu. Nanti jam delapan, kita ketemuan di tempat biasa. Bagaimana?"


"Nah, begitu dong. Itu baru Rajiv yang kukenal selama ini," timpal Kiranti terdengar semringah. "Aku tunggu ya. Awas, jangan sampe gak datang lho."


"Iya, Ran. Aku ke sana nanti," balasku akhirnya.


Kuhempas napas usai menutup percakapan. Kepala ini tiba-tiba terasa berdenyut. Pusing. Konsentrasi pecah, antara memikirkan pekerjaan dan pertemuan nanti dengan Kiranti.


Kuakui, rasa cinta ini pada perempuan itu, belum juga kunjung pudar. Sejak masih sama-sama duduk di bangku kuliah, benih-benih kasih ini mulai tumbuh. Entahlah, tak ada keberanian untuk mengungkapkan. Apalagi jika mengukur diri, tak sebanding kiranya aku yang hanya seorang biasa harus bersanding dengan primadona almamater. Kiranti nan cantik berasal dari keluarga berada, dan papahnya adalah salah seorang sosok berpengaruh di lingkungan kampus. Penyokong dana terbesar di sana. Tak heran bila keberadaan dia begitu diistimewakan saat itu.


Yakin sekali, Kiranti tahu bahwa aku menaksirnya. Bahkan dari hal tersebut, sering kali dia pergunakan kesempatan itu untuk mengambil keuntungan sepihak. Mengerjakan tugas-tugas kuliah hingga membuatkannya skripsi. Itu semua aku yang lakukan. Namun usai menuntaskan jenjang pendidikan, Kiranti mendadak menjauh dan terakhir mendengar kabar, dia menikah. Suaminya tak lain, adalah teman sekontrakanku sendiri. Rizal.


Semula aku tak percaya. Namun itulah faktanya. Teman sekamar yang bertahun-tahun berada dalam kondisi memprihatinkan, justru kini tampil sebagai pemenang dalam kompetisi tersembunyi. Entah, dengan cara apa dia bisa menggaet hati Kiranti hingga bertekuk lutut. Dari selentingan kabar, di samping perut perempuam yang kucintai itu terlebih dahulu mendua, Rizal menggunakan jalan tak lazim. Guna-guna.


'Laki-laki pengecut!' rutukku waktu itu. 'Tak bisakah melalui cara fair dan alami? Tanpa menggunakan hal-hal beraroma mistik seperti itu!'


Kini Kiranti hadir kembali setelah sekian lama menghilang. Kisruh dalam rumah tangganya dengan Rizal, menuntun perempuan tersebut mendatangiku. Lengkap dengan sedu sedan serta permasalahan yang kompleks.


"Tolonglah aku, Rajiv," kata Kiranti awal kami bertemu beberapa waktu sebelumnya. "Aku tahu, kamu pernah menyukaiku, 'kan? Entahlah sekarang. Tapi, seenggaknya itulah yang membuatku harus menemuimu."


Kiranti bercerita bahwa Rizal telah menceraikannya. Bukan sekali itu saja. Namun sudah kali ketiga. Namun dengan alasan masih saling mencintai, Rizal menyesal dan bermaksud untuk kembali ke pangkuan mantan istrinya tersebut. Bodohnya Kiranti, dia masih mau saja diajak rujuk. Tentu saja hal itu tidak boleh terjadi menurut hukum agama. Harus ada jeda yang mewajibkan perempuan itu menikah dengan lelaki lain. Pilihan menyesakkan tersebut, justru jatuh padaku. Kebetulan hingga saat ini, aku masih belum mau menikah. Karena bayang-bayang perasaan ini pada Kiranti, belum bisa membuka hati ini untuk perempuan lain.

__ADS_1


"Nikahilah aku untuk sementara waktu, Rajiv. Agar aku bisa kembali ke pangkuan mantan suamiku," pinta Kiranti memelas.


Keningku berkerut. "Maksudmu, kita menikah kemudian bercerai kembali, dan setelah itu kamu akan menikah kembali dengan Rizal? Begitu?"


Kiranti mengangguk. "Aku masih mencintai Mas Rizal, Rajiv. Aku gak bisa hidup tanpa dia."


'Bullshit! Alasan klasik cinta macam apa di era milenium seperti sekarang ini? Begitu mudahnya berkata cinta, tapi di sisi lain justru gemar menabur kebencian!' geramku merasa muak mendengar kisah rumah tangga mereka.


"Apakah Rizal tahu kalo kamu menemuiku, Ran?" tanyaku menyelidik. Kembali Kiranti mengangguk, jawabnya, "Bahkan dia sendiri yang memintaku menemuimu, Rajiv."


'Sialan! Tak henti-hentinya Jahanam laknat itu mempersulit hidupku!'


"Mengapa bukan dia sendiri yang menemuiku?" Rasa sebal tiba-tiba bergelayut saat nama laki-laki tersebut diucapkan.


Kiranti menggeleng sedih. "Mungkin dia gak berani, Rajiv."


"Memangnya aku menyeramkan ya? Dia itu bukan siapa-siapa lagi," kataku setelah mereguk soft drink yang terhidang di atas meja cafe. "Dulu kami pernah bersama-sama saat masih kuliah. Kenapa sekarang menghindar?"


"Aku gak tahu," jawab Kiranti. "Bisa saja malu, mungkin?"


"Hhmmm," gumamku diiringi dengkus. Lama terdiam, lalu berlanjut, "Kenapa harus aku, Ran? Gak adakah laki-laki lain yang kamu kenal. Aku yakin, di luar sana banyak yang gak akan menolak memperistrimu."


"Artinya, kamu juga gak mau?" Kiranti menatapku lirih. "Please, Rajiv."


"Bukan itu maksudku."


Seandainya saja Kiranti memintaku untuk menikah bukan karena tujuan seperti itu, pasti akan kusambut dia sepenuh hati. Bahkan bersiap memberinya kasih sayang menggantikan perih yang ditoreh oleh Rizal. Sekaligus mengakhiri masa kesendirian ini bersama perempuan yang sangat dicintai.


Lama aku kembali terdiam. Berpikir untuk memberikan jawaban. Sampai akhirnya berkata, "Beri aku waktu, Ran. Ini bukan masalah sepele. Apalagi berhubungan dengan hukum agama."


"Hukum agama?" Kiranti mengerutkan kening. "Aku juga sedikit banyaknya paham tentang hal itu. Makanya, minta bantuanmu untuk menuntaskan masalah kami. Tolonglah, Rajiv."


Sebenarnya ingin sekali kubahas banyak tentang rencana Kiranti tersebut, akan tetapi butuh tambahan waktu untuk menjelaskannya. Bukan apa-apa, terkadang masih banyak orang yang belum memahami perihal satu ini. Maka dari itu, tanpa memberikan harapan apa pun, kucoba mengulur waktu sebisa mungkin sampai menemukan saat yang tepat.


Momen yang dinantikan pun tiba di kala tak diharapkan. Petang itu. Kiranti kembali mempertanyakan kesediaanku untuk menikahinya. Hanya sebagai satu syarat agar dia bisa kembali ke pangkuan Rizal halal secara agama.


Usai menuntaskan tugas kantor, kupenuhi janji bertemu dengannya di sebuah cafe. Namun kali ini ada sosok Rizal yang turut menemani Kiranti. Agak sungkan, sepertinya, laki-laki itu menyalami. Itu terlihat dari sikap serta suara bergetar kala kami berbicara.


"Lama kita gak ketemu ya, Jiv?" ujar Rizal berbasa-basi, "bagaimana kabarmu?"


Aku tersenyum kecut. "Seperti yang kamu lihat sekarang ini, Zal. Beginilah aku," balasku seraya duduk berhadapan dengan mereka. Tak lupa memesan segelas soft drink, karena di atas meja hanya tersaji dua gelas milik Rizal dan Kiranti.


Setelah lama berbincang di luar topik, akhirnya kubuka pembicaraan sesuai janji yang pernah terucap beberapa waktu lalu pada Kiranti.


"Begini ya, Zal dan juga Ranti," ungkapku mengawali obrolan resmi. "Mau gak mau dan suka atau enggak, hal ini harus kujelaskan pada kalian berdua, mengenai permohonan bantuan Kiranti kemarin."


Kiranti dan Rizal bersiap-siap mendengarkan. "Ngomong aja, Rajiv. Kami siap dengan penjelasanmu."


Aku menarik napas panjang terlebih dahulu, kemudian lanjut berucap, "Pertama-tama, aku turut berbahagia jika kalian berdua berniat untuk bersatu kembali. Membina rumah tangga yang sempat tercerai-berai. Itu sudah menjadi landasan bagus, karena pada dasarnya kalian masih saling mencintai, 'kan?"


Rizal dan Kiranti mengangguk. "Tentu saja, kami saling mencintai. Karena itulah, makanya kami berniat rujuk kembali. Walaupun secara hukum agama, harus melalui proses dan syarat tertentu," timpal Rizal. Kiranti mengiyakan.

__ADS_1


"Baiklah, aku pikir dalam hal ini kalian sudah paham rupanya. Jadi, gak perlu panjang lebar aku menjelaskannya," lanjut ucapku. "Hanya saja, ada satu hal yang perlu aku luruskan di sini, bahwa rencana kalian padaku seperti ini justru enggak dibenarkan dalam agama."


"Maksudmu bagaimana, Jiv?" tanya Rizal menyela. Dia menoleh sejenak pada Kiranti, kemudian beralih menatapku.


"Menyuruh Kiranti untuk menikah terlebih dahulu denganku maupun laki-laki lain, sebagai syarat agar kalian bisa bersama lagi, itu dilarang oleh agama kita," kataku menjelaskan, disambut raut masam keduanya. "Enggaklah semudah itu, setelah kamu menjatuhkan talak ketiga pada Kiranti, Zal. Pernikahan terencana apalagi sementara hanya sebagai penghalang, itu jatuhnya bisa haram. Aku pikir, gak perlu menjelaskan definisi kata haram itu sendiri, 'kan? Kalian pasti sudah paham."


"Jadi kamu tetap gak mau membantu kami, Rajiv?" Kiranti tampak tak senang mendengar penjelasanku.


"Sepanjang enggak melanggar dan bertentangan dengan hukum agama, aku siap membantu kalian. Tapi enggak dalam hal yang sedang kita bicarakan sekarang ini, Ranti," jawabku menegaskan.


"Lho, apa bedanya dengan masalah ini, Jiv?" Rizal turut bicara. "Bukankah hal ini juga dalam rangka tolong menolong? Kamu membantu kami, agar aku dan Kiranti bisa kembali bersama. Itu saja."


"Maaf, Zal. Seperti yang kubilang, itu enggak diperbolehkan dalam agama. Apa pun alasannya, aku gak bisa membantu kalian," tandasku. "Maafkan aku."


Rizal mendengkus keras. "Aturan macam apa itu? Emang gak ada dispensasi khusus ya, agar kami bisa kembali halal? Teman macam apa kamu ini gak mau membantu sama sekali?"


Aku berusaha tenang dan menghiasi setiap ucapan dengan senyum. "Bukan aku yang menolak, Kawan. Tapi agamalah yang berbicara," kataku pelan. "Pernikahan itu sebuah ikatan yang suci. Kita gak boleh bermain-main dengan hukum, apalagi aturan agama. Rencana pernikahan sementara seperti yang kalian utarakan padaku itu, sama saja dengan pernikahan mut'ah atau perkawinan kontrak. Dalam agama kita, jelas itu sangat dilarang. Kalaupun kalian ingin bersatu kembali, maka Kiranti harus menikah terlebih dahulu dengan laki-laki lain, tanpa embel-embel akan minta cerai lagi dari suami barunya nanti demi kembali padamu, Rizal. Semua harus terjadi melalui proses alami tanpa syarat dan ketentuan. Sebagai tambahan, pernikahan dengan suami barunya pun, harus sampai terjadi proses persetubuhan. Jika enggak, maka itu gak sah. Terkecuali ada hal lain yang terjadi."


Rizal mendelik. "Jangan-jangan elu memang berniat memiliki Kiranti, 'kan? Bukannya elu pernah naksir mantan istri gua?"


Aku tertegun. Hampir saja lonjakan emosi ini meledak, tapi keburu ditahan. Nada bicara Rizal sudah berubah. Masih disertai senyuman, kujawab, "Hhmmm, sejujurnya … iya. Aku gak mau munafik, Zal. Tapi kalo harus menikahi Kiranti untuk memenuhi syarat yang dimaksud, aku bilang enggak sama sekali. Itu sama saja aku mendukung kemungkaran. Maaf, aku lebih baik mencari perempuan lain."


"Sombong lu!" rutuk Rizal mulai kasar.


"Terserah apa katamu, Zal. Tapi sebagai seorang kawan, aku hanya bisa berpesan padamu; jadilah lelaki yang tangguh dan enggak murah menjatuhkan talak. Kalau memang masih mencintai istrimu, pertahankan dia dengan semampu imanmu. Tapi sekarang, harapanmu ada pada Kiranti. Mantan istrimu. Kalaupun sekarang atau nanti kalian tetap pada rencana semula, maka … pernikahan kalian gak akan sah. Artinya, seumur-umur kalian akan terus berzi—"


BYUR!


Tiba-tiba Rizal mengayunkan gelas minuman di hadapannya, lalu menumpahkan isinya ke wajahku.


"Mas Rizal!" seru Kiranti terkejut. Begitu pula denganku. Namun lagi-masih masih berusaha meredam emosi yang kian membeludak, menyesakkan dada.


"Kita tinggalkan saja manusia pengecut ini, Kiranti! Percuma saja kita minta bantuannya. Gak ada yang bisa diharapkan!" Rizal bangkit dari duduk sambil bercekak pinggang.


"Tapi apa yang Rajiv ucapkan tadi, memang benar, Mas. Aku gak boleh kembali lagi menikah denganmu," seru Kiranti kembali.


Pengunjung cafe serentak menoleh ke arah kami.


"Diam kamu, Kiranti!" bentak Rizal. "Gak bisakah kamu berpikir, sudah lama dia juga ingin menikmati tubuh kamu! Di otak dia hanya ada kata mesum! Mungkin karena lama dia gak pernah bisa laku pada perempuan!"


BUK!


Tiba-tiba tanpa sadar aku bangkit, lalu layangkan tinju sekeras mungkin pada wajah Rizal. Seketika, laki-laki itu pun jatuh tersungkur dengan derak pada batang hidungnya.


"Terima kasih, Kawan! Akhirnya, keperawanan kepal tanganku bisa pecah hari ini mengenai mukamu," kataku dingin. "Tahukah kamu, itu sudah kupertahankan selepas kita selesai kuliah dulu. Semoga itu bisa memberikan pertanda, itulah yang selayaknya kamu terima sebagai seorang manusia yang mengaku SAHABAT."


Usai berkata, aku bergegas pergi meninggalkan sosok Rizal yang masih tergeletak sambil meringis memegangi hidung berdarah. Tak peduli dengan tatapan beberapa mata di setiap sudut cafe. Terutama teriakan Kiranti, mengikuti langkah ini sambil memanggilku namaku.


SELESAI


Sukabumi, 21 Juli 2020

__ADS_1


__ADS_2