KUMPULAN CERPEN RELIGI

KUMPULAN CERPEN RELIGI
LELAKI TUA DI ATAS PUSARA


__ADS_3

“Aamiin Yaa Robbal’aalamiin.”


Kututup do’a usai membacakan kalimat-kalimat suci di depan makam almarhumah ibuku, yang masih berhiaskan tanah merah dan beberapa deretan batu-batu kecil di sekelilingnya. Belum ada nisan yang bertuliskan nama beliau di sana atau juga lempengan keramik licin seperti makam-makam yang ada di sekitar. Bukannya tak mau mempercantik ‘rumah’ peristirahatan terakhirnya, namun belum ada kesempatan yang kumiliki untuk melakukannya.


Suatu saat nanti Allah pasti akan membantu mewujudkan. Itu impianku saat ini. Seperti halnya menghiasi alam kubur ibu dengan iringan do’a-do’a yang senantiasa terucap dari lisan ini sesaat setelah sujudku bersimpuh padaNya.


Kusapu pandangan mengitari area pemakaman yang senyap beralaskan rumput-rumput liar yang mulai tumbuh meninggi. Sesekali terdengar desiran angin yang menyapa dedaunan nan menghijau. Menghasilkan tembang alam yang syahdu dengan iramanya yang menggoda dan merayu pepohonan untuk berdansa.


Tak jauh dari keberadaanku saat itu, terlihat ada sesosok laki-laki yang berjongkok di depan sebuah makam baru yang masih ditutupi pelepah daun kelapa. Samar-sama terdengar senandung indah dari bibirnya yang tengah melafalkan firman Tuhan. Sesekali dia menghentikan bacaannya dan tertunduk dengan kelopak mata terpejam. Lirih terdengar saat dia mencoba melanjutkan kembali iqra’nya.


Semula aku bermaksud untuk segera meninggalkan tempat itu, namun berpikir kembali tak ada salahnya jika laki-laki itu kuajak serta berjalan bersama meninggalkan Astana Pemakaman Umum. Lumayan jadi ada teman mengobrol disepanjang jalan nanti.


“Assalamu’alaikum ... ” kudekati sosoknya dari arah samping. Laki-laki itu menoleh, memperhatikan sejenak.


Seorang laki-laki tua berusia sekitar enam puluh tahunan. Mengenakan peci hitam dan baju koko yang nampak kusam.


“Wa’alaikumsalaam,” jawab laki-laki tua itu seraya menutup buku kecilnya dan berdiri menghadapku, “ma'af, dengan siapa, ya? Apakah saya mengenalmu, Anak Muda?”


Aku tersenyum.


“Tidak! Sepertinya kita belum saling jumpa, Pak! Kebetulan saya melihat Bapak di sini usai berziarah ke makam ibu saya di sana,” aku menunjukan letak makam almarhumah dengan ibu jari, “kalau Bapak sudah selesai dengan ziarahnya mungkin kita bisa pulang sama-sama. Kebetulan kendaraan saya terparkir tak jauh dari sini.”


Kini gantian laki-laki tua itu yang tersenyum sambil menatapku sesaat. Kemudian beralih memandangi makam yang ada di depannya.


“Saya masih ingin berdiam diri dulu di sini untuk beberapa saat, Anak Muda! Sekedar mengobati rasa rindu yang masih terasa semenjak kepergiannya,” ujar laki-laki tua itu terpejam dan menarik nafas berat.


“Makam istri Bapak?” tanyaku mencoba menelusuri kisah hidupnya yang seolah getir dan perih. Itu kulihat dari raut wajahnya yang tak begitu ceria. Walau pun berulangkali berusaha tersenyum di antara bibir hitamnya.


“Bukan! Ini makam anak perempuan saya yang meninggal sekitar sebulan yang lalu,” jawabnya pelan.


“Istri Bapak masih—”


“Ada. Dia sedang di rumah.”


“Oh, ma’afkan atas pertanyaan saya barusan, Pak.”


“Tidak apa-apa, Anak Muda! Saya paham, kok.” Lagi-lagi senyumnya begitu hambar kulihat.


Sebenarnya aku bermaksud untuk segera pergi dari sana begitu berpikir bahwa laki-laki tua itu tidak akan memenuhi ajakanku tadi. Namun sorot matanya yang tajam saat memandang timbunan tanah makam, rasanya dia ingin sekali berbagi cerita denganku. Mungkin tentang masalah hidup atau juga perihal kepergian anak itu?


Benar saja dugaanku, tak berapa lama kemudian, laki-laki tua itu mulai membuka suaranya. Pelan dan perlahan.


“Sore itu … Fazriah, anak perempuan saya datang ke rumah dengan membawa serta anaknya sambil menangis! Dia memohon kepada kami agar mau menerimanya bermalam untuk sementara waktu,” laki-laki tua itu mengawali cerita.


*    *    *    *    *


“Ke mana suamimu, Nak? Apakah kamu pergi dari rumah dan datang kemari atas sepengetahuan dan seijin suamimu?” tanya laki-laki tua itu saat anaknya mulai mengadu.


Fazriah menangis di pelukan ibunya.


“Kami bertengkar hebat, Abah! Dia pergi begitu saja setelah kami bertengkar. Aku sudah tak tahan lagi hidup bersamanya. Dia sudah tak bisa memberikan kenyamanan hidup buat aku sebagai istrinya,” jawab Fazriah terisak dalam pelukan ibunya yang ikut pula meneteskan air mata melihat anak perempuan semata wayangnya itu.

__ADS_1


“Berarti kamu pergi tanpa ijin suamimu, kan?”


Fazriah mengangguk.


“Apa pun permasalahan yang tengah kalian hadapi, itu adalah masalah dan tanggung jawab kalian berdua. Abah dan Ambu sudah tidak lagi memiliki kuasa dan wewenang dalam kehidupanmu, Nak! Kau sudah merupakan tanggung jawab suamimu sendiri, dunia dan akhirat. Kami selaku orangtua hanya bisa menasehati agar hidupmu senantiasa berada dalam aturan yang telah Allah tetapkan. Tidak lebih.”


“Aku mohon, Abah. Ijinkan aku menetap disini untuk sementara waktu sampai keadaan kami tenang kembali,” ujar Fazriah memelas.


“Masalah itu bukan untuk dihindari tapi untuk dihadapi, Nak. Masalah tidak akan pernah luput dari kehidupan kita karena itu sudah fitrah dari Yang Maha Kuasa. Itu sebagai ujian dan sarana untuk membentuk manusia agar bisa merubah diri menjadi insan yang lebih baik. Untuk itulah makanya Allah menganugerahkan kepada kita selaku manusia berupa akal pikiran. Berikanlah hak bagi pikiranmu itu. Kewajibanmu kini adalah berikhtiar untuk mencari jalan keluarnya. Caranya dengan berpegang teguh terhadap ajaran agama dan datangilah sumbernya yaitu Allah Subhanahu Wata’ala.”


“Abah tak mengerti apa yang sedang kurasakan saat ini.”


“Abah faham, Nak. Faham sekali.” Laki-laki tua itu mencoba memberikan pengertiannya, “sebagai orangtua kami selalu menyambut kedatanganmu, Anakku. Namun sekarang tanggung jawab hidupmu sudah sepenuhnya berada ditangan suamimu. Menantu kami. Dunia dan akhirat. Kami hanya bisa memberimu nasihat. Tidak lebih. Masalah rumah tanggamu adalah urusan kalian berdua. Kami tidak berhak ikut campur lebih dalam. Bagaimanapun dan apapun sikap suami itu, dia tetap suamimu. Bapak dari anakmu. Yang wajib kamu patuhi dan selalu setia berada disampingnya apapun yang terjadi.”


“Biarlah dia bersama kita untuk beberapa waktu, Pak. Tak ada salahnya, kan? Toh, dia anak kita sendiri. Bukan siapa-siapa ini, kan?” sela istrinya ikut memberikan suara.


“Bu, anak kita pergi dari rumahnya tanpa sepengetahuan dan seijin suaminya. Itu adalah sebuah kesalahan dan dosa besar. Dengan membiarkan anak kita berada disini sekarang, sudah tentu kita telah ikut andil membiarkan anak kita untuk melakukan kesalahan dan dosa yang jauh lebih besar. Kita juga sebagai orangtua akan turut berdosa! Sampai kapan?”


“Tapi jika suaminya bertanggung jawab anak kita tidak akan seperti ini, Pak.”


“Kita tidak tahu duduk permasalahannya, Bu. Bersalah atau tidak, seorang istri itu tidak boleh keluar dari dalam rumahnya tanpa seijin suaminya. Apalagi sampai meninggalkannya. Apa pun alasannya, seorang istri itu memiliki keterbatasan aturan hidup karena semua kuncinya ada pada suaminya.”


“Lalu bagaimana sekarang dengan anak kita, Pak?” tanya istrinya lagi.


“Aku yang akan mengantarkannya kembali menemui suaminya,” jawab laki-laki tua itu dengan suara tegas.


Fazriah terkejut, “Abah!”


Maka detik itu pula Fazriah dipaksa untuk pulang kembali ke rumah suaminya dengan diantar oleh abahnya. Beruntunglah di sana mereka bertemu dengan suami Fazriah.


“Nak, jagalah istri dan anakmu ini baik-baik, ya. Kami telah mengikhlaskan anakku menjadi pendamping hidupmu. Kalau dia melakukan kesalahan tolong ingatkan dan perbaiki. Kalau kamu masih ingin hidup bersamanya mohon perlakukan anak kami dengan baik. Sebagai seorang suami perlu dituntut kesabaran dan pemakluman. Sebagai seorang istri harus pula lebih banyak kelembutan. Jika sudah tidak menghendakinya, kami sebagai orangtuanya akan menerima anak kami kembali dengan senang hati,” itulah kalimat terakhir yang laki-laki tua itu ucapkan sebelum pergi meninggalkan mereka di rumahnya. Dan kali terakhir pulalah saat itu dia bertemu dengan anaknya dalam keadaan bernyawa.


*    *    *    *    *


“Maksudnya ... kemudian anak perempuan bapak itu meninggal dunia?” tanyaku di sela-sela cerita laki-laki tua itu.


“Iya, Nak. Keesokan harinya saya menerima kabar bahwa anak perempuan saya itu telah meninggal dunia.”


“Meninggal kenapa, Pak?”


“Dibunuh oleh suaminya sendiri.”


“Astaghfirullah …. ” Aku mengusap wajahku sendiri.


Miris sekali.


“Lalu bagaimana kelanjutannya?”


“Menantu saya itu menyerahkan diri kepada pihak kepolisian. Dia menyesal telah melakukan sebuah kekhilafan. Dia meminta ma’af pada kami. Dan Alhamdulillah telah kami ma’afkan serta mengikhlaskan semuanya.”


“Begitu saja? Apakah tidak mengambil langkah hukum agar dia dijatuhi hukuman yang seberat-beratnya, Pak?” geram sekali rasanya aku mendengar cerita laki-laki tua itu.

__ADS_1


“Biarlah itu urusan Allah saja. Lagipula Dia sudah memberikan sebagian dari hukumannya saat ini melalui pihak penegak hukum dunia. Sisanya akan menjadi wewenang-Nya di akhirat nanti. Yang terpenting kami sudah merelakan kepergian almarhumah Fazriah. Kewajiban kami saat ini adalah mendo’akannya agar ditempatkan di antara hamba-hamba Allah yang beriman. Itu saja.”


“Bapak tidak merasa kehilangan?”


“Tentu saja, kami merasa sangat kehilangan anak perempuan semata wayang kami ini. Tapi takdir Allah telah berkata lain. Kami hanya bisa menerimanya dan pasrah. Dan …. ”


“ ... dan apa, Pak?”


Laki-laki tua itu tersenyum sambil menatap gundukan tanah makam di depannya, “Anak perempuan kami meninggal dalam keadaan ta’at pada perintah Allah, orangtua dan suaminya. Dia mendengarkan nasihat kami dengan tidak meninggalkan suaminya walaupun dengan resiko harus kehilangan nyawanya. Seandainya saja dia meninggal di rumah kami dalam keadaan berdosa, karena telah meninggalkan rumah tanpa seijin suaminya, tentunya rasa ini akan lain adanya.”


“Subhanallah.” Kembali aku mengusap wajah.


Geram namun juga merasa kagum dengan ketegaran hati laki-laki tua itu.


“Kami memang telah kehilangan anak semata wayang kami, namun Allah telah memberikan gantinya yang jauh lebih baik dan cantik,” ujar laki-laki tua itu seketika membuatku penasaran.


“Siapa, Pak?”


Mata laki-laki tua itu menunjuk pada sosok seorang wanita tua yang sedang berdiri bersama seorang anak perempuan kecil, tak jauh dari tempat kami berada.


“Mereka itu istri dan cucu saya,” kata laki-laki tua itu dengan senyumnya yang sudah tidak tampak hambar lagi, “di usia senja saya sekarang ini, Allah masih memberikan kesempatan untuk merawat, menjaga, serta mendidik amanah-Nya. Agar menjadi manusia yang selalu ta’at kepada-Nya. Dialah cucu saya. Diusianya yang masih begitu belia dia sanggup mengawali hidupnya dengan menjadi seorang hafidzah.”


“Masyaa Allah.”


Istri dan cucu perempuan laki-laki itu berjalan mendekati kami.


“Siapa ini, Abah?” tanya anak perempuan cantik itu sambil menatapku.


“Sesama makhluk Allah yang sama-sama telah kehilangan orang yang dicintainya, Nak.”


Aku mendekati anak perempuan itu, “Siapa namanya, Dik?”


“Namaku Siti Aisyah,” jawabnya lembut.


Aku bermaksud bersalaman dengan anak itu. Dia menyambutnya namun tidak menyentuhkan telapak tangannya untuk menjabat tanganku.


“Kenapa, Dik? Kok, salamannya begitu?” tanya aku heran.


“Ma’af, Om ini bukan mahromku. Jadi aku tidak boleh bersentuhan,” jawabnya tanpa sungkan-sungkan.


“Lho, tak apa-apa, kok, Dik! Kan, Adik ini belum akil baligh jadi tidak akan berdosa jika bersalaman dengan yang bukan mahromnya,” aku sedikit menggodanya.


“Ma’af, walaupun begitu tapi aku hanya ingin membiasakan diri untuk selalu ta’at pada ajaran agamaku. Seperti yang sering abah ajarkan selama ini.”


Wajahku tiba-tiba memerah. Laki-laki tua serta istrinya tersenyum mendengar jawaban cucu mereka.


Di penghujung pertemuan, mereka mengundangku untuk datang ke rumahnya. Ternyata letaknya tak begitu jauh dari area pemakaman. Aku jadi tertarik sekali dengan keluarga itu. Suatu saat nanti aku pasti akan sering bersilaturahim dengan mereka. 


Insyaa Allah.


S E L E S A I

__ADS_1


__ADS_2