KUMPULAN CERPEN RELIGI

KUMPULAN CERPEN RELIGI
LELAKI DI LORONG RUMAH SAKIT


__ADS_3

"Hoaaammm .... "


Kembali aku menguap disertai rasa kantuk berat yang menggayuti kelopak mata. Berkali terantuk sampai hampir menghajar tepian tempat tidur, di mana sosok ibuku terbujur di atas sana. Lengkap dengan balutan perban dan selang infusan yang menghujam urat lengan.


"Hoaaammm .... "


Bukannya tak mau tidur, namun bingung harus meringkuk di mana. Tak ada tikar maupun bantal. Hanya ada beberapa tempat tidur pesakitan yang masih kosong di belakang dan depanku. Padahal bisa saja kugunakan untuk beristirahat semalam ini. 


Entahlah, enggan sekali harus berbaring di sana, karena penghuninya baru saja meninggal dunia tadi sore, di atas dua tempat tidur tersebut.


Sementara Ibu tampak lelap, terbuai dalam pengaruh obat-obatan yang mengalir sepanjang nadi. Matanya rapat terpejam, sejak ketibaan beliau tadi siang.


"Bu, aku keluar dulu sebentar ya?" Kubelai dahinya penuh kasih. "Ibu istirahat dulu dan semoga cepat siuman kembali, sehat serta lekas pulang ke rumah."


Aku bergegas ke luar ruangan, melewati beberapa tempat rawat inap yang nyaring dengan bunyi-bunyian alat pendeteksi denyut jantung. Ada banyak pasien yang tergolek dengan kondisi yang sama seperti ibuku.


Tak jauh dari sana, terdapat bangku panjang yang terpatri kuat di pinggir lorong. Sepi tak ada yang menempati. Hanya lalu-lalang beberapa orang pengunjung sambil membawa jinjingan besar dan sesekali berpapasan dengan petugas rumah sakit, yang mendorong kereta pasien.


Aku duduk menyendiri di bangku panjang terdekat, menghirup udara dingin yang berhembus menusuk pori. Seketika rasa kantuk ini mulai menjadi. 


"Boleh ikut duduk di sini, Anak Muda?" Satu suara mengejutkanku di ambang kesadaran yang mulai terpecah. 


Seorang laki-laki tua tersenyum, begitu kumenoleh, memperlihatkan baris giginya yang kecoklatan dan rimbun dengan kumis memutih. "Oh, tentu saja, Pak. Silakan."


"Terima kasih," ujarnya seraya duduk tak jauh dariku. "Menunggu pasien?"


"Iya, ibuku sedang dirawat di dalam, Pak," jawabku kikuk. "Bapak sendiri?"


Laki-laki tua itu kembali tersenyum. "Sama, saya di ruangan IV itu," tunjuknya ke arah sebelah ruangan di mana ibu tengah dirawat.


"Oh, ibu di ruangan III, Pak. Baru tadi siang beliau di dalam sana."


Laki-laki tua itu mengangguk. "Ibumu sakit apa, Nak?"


Kutarik nafas sesaat sebelum menjawab, "Sakit jantung."


Kembali dia mengangguk pelan.


"Bapak sendiri ... sedang menunggui siapa? Anak, istri, atau .... "


" ... saya sedang menunggu seseorang ... " katanya lirih dengan tatapan menerawang ke depan.


Aku tertegun, "Seseorang?"


Laki-laki tua itu mengangguk untuk yang kesekian kalinya.


"Siapa, Pak?" Aku penasaran, hingga lupa dengan rasa kantuk yang mendera beberapa saat yang lalu. "O, iya. Saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya Burhan. Tapi bukan kepanjangan dari Burung Hantu ya, Pak?"


Aku mencoba bercanda, tapi sepertinya tak lucu. Laki-laki tua itu hanya menyeringai sesaat. Itu pun pasti bukan karena kelakarku.


"Panggil saja saya ... Prawiro ... " ujarnya mengawali cerita dan langsung kucatat nama itu di dalam benak. "Istri saya sudah lama meninggal dunia, tepatnya sejak usia anak perempuan kami satu-satunya, Wulan, masih balita dulu. Eh, tak keberatan, kan, kalo saya bercerita sedikit?"


Aku terhentak, "Oh, tentu saja, Pak. Akan saya dengarkan dengan senang hati."


Kupikir ini akan menjadi malam yang panjang, sekaligus ada teman berbicara di saat suntuk begini.


Pak Prawiro tersenyum sesaat dengan sorot mata kosong, seperti tengah mengembalikan sisa-sisa kenangan yang telah lama dia simpan. "Wulan anak perempuanku, kini dia telah beranjak dewasa. Gadis kecil yang kurawat dan dibesarkan penuh kasih sayang, lengkap dengan tatanan ilmu agama yang kumiliki. Sejak dulu dia begitu penurut pada orang tua, sampai suatu hari .... "


Laki-laki tua itu menghentikan ceritanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Aku jadi merasa bersalah, meminta dia tak meneruskan bicara ataukah justru memaksa agar beban hatinya sedikit berkurang? Namun sebelum kuungkapkan, Pak Prawiro melanjutkan kembali kisah yang sempat tertunda beberapa saat.


"Anak gadisku itu jatuh cinta pada seorang pemuda. Yang paling membuatku sedih, sejak mengenal laki-laki itu, Wulan sudah berani menanggalkan jilbab yang selama ini tak pernah lepas menutupi aurat rambutnya ... " Pak Prawiro tertunduk sedih, membuatku turut merasakan perih dan langsung teringat pada Risma, adik perempuanku, yang belum lama ini baru berkenan mengenakan hijab, setelah sekian lama senantiasa kami nasihati. "Perilakunya benar-benar berubah drastis, bahkan kadang berani melawanku dengan sikapnya yang menyakitkan."

__ADS_1


Tanpa sadar, aku menepuk-nepuk bahunya untuk memberikan kekuatan agar bersabar dalam menghadapi kesedihan yang tengah dirasakan. "Semoga Allah segera memberikan hidayah untuk anak Bapak itu dan Bapak tegar dalam menjalani ujian-Nya. Saya hanya bisa turut mendoakan yang terbaik untuk keluarga Bapak ya?"


Pak Prawiro mengusap air matanya. "Terima kasih, Nak. Maaf, saya jadi curhat ya?"


"Tak apa-apa, Pak," balasku tiba-tiba ikut merasa sedih. "Saya akan dengarkan cerita Bapak sampai usai .... "


Aku harap Pak Prawiro segera meneruskan kisah hidupnya tersebut, sehingga tak akan menyisakan rasa penasaran di hati ini. Alhamdulillah, doaku terkabul rupanya, setelah beberapa saat hening dihiasi isak laki-laki tua itu.


"Pemuda itu bernama ... Albert. Seseorang yang salah untuk dijadikan calon imam rumah tangga bagi Wulan, karena perbedaan keyakinan .... " lanjut Pak Prawiro diselingi tangisnya.


*     *     *     *     *


"Memang apa salahnya kalau kami saling mencintai, Pak? Bukankah tak ada larangan bagi sesama makhluk Tuhan untuk jatuh cinta?" Wulan bersikeras untuk tetap melanjutkan hubungannya dengan Albert, walaupun Pak Prawiro sudah menyatakan keberatan.


"Wulan sayang ... dalam agama kita justru diajarkan untuk berkasih sayang tehadap sesama manusia, tanpa memandang status sosial maupun perbedaan keyakinan, tapi tidak sampai seperti yang Wulan lakukan ini." Pak Prawiro masih berusaha sabar menghadapi anak perempuannya itu. "Silakan kalian mencintai satu dengan lainnya, hanya perlu Wulan ingat ... ada batasan-batasan tersendiri yang sudah diatur oleh agama kita, Nak."


"Wulan sudah dewasa, Pak. Wulan berhak menentukan jalan sendiri. Apa pun yang Wulan lakukan, semua tanggung jawab sendiri. Bapak tak perlu mencampuri urusan hidup Wulan," ujar Wulan kesal. "Lagipula, Albert itu sangat baik, kok, Pak. Tidak seperti kebanyakan laki-laki yang selama ini Wulan kenal .... "


Pak Prawiro menarik nafas panjang. "Baik saja belum cukup, Nak. Baik di mata manusia, belum tentu baik dalam pandangan Allah," balas Pak Prawiro. "Kamu itu anak perempuan Bapak satu-satunya. Tanggung jawab Bapak terhadapmu bukan hanya sebatas urusan dunia, tapi juga sampai ke akhirat kelak, Nak. Bapak tak ingin kamu mendakwa kami di yaumil akhir kelak. Ini urusannya berat sekali."


"Bapak udah terlalu banyak ngatur-ngatur Wulan!"


"Bapak tidak mengatur hidupmu, Nak, tapi agamalah yang mengatur kehidupan kita. Ini bukan aturan Bapak, tapi perintah Allah." Pak Prawiro menatap sendu anak semata wayangnya. "Bahkan ketika seorang anak sudah berani meninggalkan kewajibannya, Bapak diberi wewenang untuk memukul, tapi belum pernah Bapak lakukan karena sayang padamu, Nak."


Wulan mendengus. "Bapak sudah terlalu banyak ceramah, Wulan bosan mendengarnya, Pak. Tak bisakah .... "


"Wulan, sampai kamu berumah tangga kelak, kewajibanmu ada pada Bapak, Nak."


"Berarti kalo Wulan sudah menikah dengan Albert, Bapak sudah tak punya wewenang, begitu?" Wulan tak mau kalah berargumentasi.


Pak Prawiro kembali menarik napas panjang dengan berat. "Masalahnya ... jika laki-laki yang menjadi calon imam rumah tanggamu itu seperti Albert, bagaimana mungkin Bapak bisa dengan leluasa melepas wewenang yang masih Bapak miliki saat ini, Nak. Lihat saja sekarang, bagaimana calon suamimu itu bisa bertanggung jawab sampai akhirat, jika di dunia saja sudah bisa membuatmu jauh dari agama ... "


Pak Prawiro memperhatikan anaknya dari bawah hingga ujung kepala. "Lihat, bagaimana penampilanmu sekarang, Nak. Kemana jilbab yang senantiasa menutupi auratmu selama ini?"


"Jilbab itu tak wajib, Pak. Bahkan ada seorang tokoh agama yang mengatakan demikian. Lagipula buat apa berjilbab, kalau hatinya masih buruk? Hanya akan membuat stigma negatif agama saja," sungut Wulan seraya membuang pandangannya dari Pak Prawiro.


"Astaghfirullahal'adziim ... " Laki-laki tua itu mengusap wajahnya. "Terserah orang ingin menafsirkan firman Allah sesuai dengan kadar keilmuan manusianya itu sendiri, Nak, tapi wajib tetaplah wajib. Bapak menyampaikan apa yang sudah Bapak pelajari sedari dulu. Bapak hanya melaksanakan perintah Allah untuk menjaga keluarga Bapak dari dakwa dan siksa neraka. Kamu sudah tahu kan, bunyi ayatnya?"


Wulan terdiam.


"Seburuk apa pun sisi kehidupan seorang muslimah, menutup aurat adalah kewajiban. Jika jilbab bisa memperburuk penilaian tentang agama, lalu bagaimana dengan muslimah yang selalu memperlihatkan auratnya? Allah menilai seseorang dari keimanan, bukan hanya dari kebaikan hati. Bagaimana mungkin Bapak mampu berdiam diri, bila anak perempuan Bapak sudah mulai melenceng dari ajaran yang selama ini diterapkan?" Panjang lebar Pak Prawiro menasihati Wulan. "Bapak tidak melarangmu mencintai Albert, Nak. Karena cinta itu adalah salah satu anugerah yang terindah dari Allah. Tapi tidak sampai ke jenjang yang lebih jauh, sebelum kalian berdua sama-sama bersimpuh dalam arah sujud yang sama."


Percakapan terhenti seketika begitu Wulan beranjak dari duduknya, setengah berlari sambil terisak memasuki kamar. Pak Prawiro tak berusaha mengejar maupun menahan anak perempuannya itu.


Berhari-hari semenjak kejadian itu, Wulan tak pernah pulang ke rumah. Gadis itu menghilang entah kemana. Pak Prawiro kehilangan jejak dan tak tahu harus mencari ke mana. Hidupnya seperti hampa, kehilangan semangat hingga jatuh sakit dari penyakit yang selama ini selalu dia sembunyikan dari Wulan, jantung.


*     *     *     *     *     *


"Saya berharap Wulan pulang kembali ke rumah dan menjadi anak yang baik seperti dulu ... " Pak Prawiro mengakhiri ceritanya. "Apa pun yang terjadi, saya memaafkan semua kekhilafan yang telah dia perbuat. Itu doa yang tak pernah lupa saya panjatkan setiap malam."


Aku mengelus dada mendengar kisah yang mengharukan dari laki-laki tua itu. "Jadi ... yang sakit itu anak Bapak yang bernama Wulan?"


Pak Prawiro tak menjawab, dia hanya menepuk bahuku sebentar, lalu berpamitan hendak kembali ke ruangan rawat inap IV. "Maaf ya, Nak. Saya tinggal sendirian di sini. Saya harus kembali .... "


"Silakan, Pak," jawabku sambil memandangi sosok ringkihnya yang berjalan terseok-seok.


Kulihat jam tangan, sudah menunjukan waktu hampir tengah malam. Udara dingin makin terasa mencucuk pori. Aku beranjak masuk ke ruangan di mana sosok ibuku masih terbaring. Tak sengaja kudengar laun-laun, ada suara isak tangis seorang perempuan muda di dalam sebuah ruangan di pinggiran ranjang pasien, ditemani oleh seorang laki-laki muda seusianya.


"Pak, maafkan Wulan, Pak ... " histeris perempuan itu menangisi sosok yang terbaring di depannya.


"Wulan?" Langkahku terhenti dan berusaha mengingat seperti pernah mendengar nama yang satu itu. "Apakah Wulan anaknya Pak Prawiro? Tak mungkin .... "

__ADS_1


Dengan rasa penasaran kumasuki ruangan IV, mendekati sosok perempuan yang sedang menangis pilu.


"Ya Allah ... itu, kan, Pak Prawiro?" Aku tersurut memperhatikan wajah pucat pasien yang sedang terbaring kaku di depan perempuan tersebut.


"Anda kenal dengan Bapak ini?" tanya laki-laki muda yang berdiri di samping perempuan yang sedang menangis itu, padaku.


"Oh, maaf ... saya hanya tahu namanya saja. Beberapa saat yang lalu, kami berbincang banyak di luar sana ... " jawabku gelagapan. 


Tiba-tiba tangis perempuan itu terhenti, dia menoleh padaku dengan sorot mata aneh. "Beberapa saat yang lalu? Mas ini ngobrol dengan Bapakku beberapa saat yang lalu? Bagaimana mungkin?"


Aku jadi terheran-heran. "Bagaimana mungkin gimana, Mbak? Saya ketemu dengan Pak Prawiro tadi di luar. Beliau .... "


"Mas, sudah seminggu ini Bapakku dirawat di sini dalam keadaan tak sadar dan belum pernah bangun. Lagipula, aku berada di samping Bapak sudah sejak sore tadi. Jika Bapak terbangun, pasti orang yang tahu itu adalah aku, bukan Mas ini ... " seru perempuan itu dengan suara serak.


Aku terdiam beberapa saat. "Mbak ini yang bernama Wulan, kan?"


Perempuan itu mengangguk pelan.


"Wulan anak perempuannya Pak Prawiro?"


 "Bagaimana Mas bisa tahu?"


Aku menggelengkan kepala sambil beralih menatap sosok laki-laki yang berdiri di samping Wulan. " ... dan Mas ini ... pasti yang bernama Albert, kan?"


"Itu namaku yang dulu sebelum berganti nama menjadi Muhammad Abdullah ... " jawab laki-laki itu bergetar.


Aku tersenyum memandangi keduanya. "Saya hanya ingin menyampaikan pesan dari Pak Prawiro, beliau telah memaafkan Mbak Wulan dan berharap Mbak kembali seperti dulu sebagaimana yang pernah dikenal oleh beliau."


Wulan memejamkan matanya usai mendengarkan pesan yang kusampaikan, sambil membetulkan letak jilbab yang terjulur panjang hingga menutupi bagian dadanya. Albert atau Muhammad Abdullah mengusap-usap bahu perempuan itu dengan lembut, bermaksud memberinya kekuatan untuk bersabar dan tabah. 


Aku tak bisa berlama-lama berada di sana, karena harus kembali ke ruangan semula yang lama kutinggali.


Rasa kantuk itu mendekap erat menggayuti pelupuk mata. Lalu perlahan merebahkan diri di atas sebuah ranjang pesakitan, memburu mimpi yang sempat tertunda.


*     *     *     *     *     *


"Cari siapa, Bu?" tanya seorang perawat ketika ada sepasang perempuan dan laki-laki yang tengah mencari-cari di dalam ruangan III. Mereka adalah Wulan dan Muhammad Abdullah.


"Aku mencari seorang laki-laki yang barusan masuk ke ruangan IV, dia tadi masuk ke ruangan ini," ujar Wulan menatap lekat pada satu ranjang di sebelah seorang pasien perempuan tua, yang terbujur dengan balutan perban dan selang infus di lengannya.


Perempuan itu perlahan mendekati ranjang yang tertulis nama pasien 'Burhan'.


"Burhan?"


"Ibu kenal dengan pasien bernama Burhan itu, Bu? Baru dirawat tadi siang di sini berbarengan dengan perempuan tua yang ada di sampingnya. Menurut informasi yang kami dapatkan, keduanya korban kecelakaan lalu lintas. Sampai saat ini mereka berdua belum sadar dan kami masih menunggu pihak keluarganya. Ibu, keluarga dari pasien ini?" perawat itu memperhatikan kedua pasangan tersebut.


"Tidak mungkin! Laki-laki itu barusan menemuiku dan menyampaikan pesan terakhir dari Bapakku. Aku masih hapal banget dengan wajahnya. Dia memang pasien itu ... " tutur perempuan berjilbab panjang tersebut sambil mendekati tepian ranjang pasien bernama Burhan. "Siapa pun Anda adanya, aku sangat berterima kasih karena Anda telah berkenan menyampaikan pesan itu, Mas. Kini, aku bisa hidup lebih tenang dan berjanji akan mewujudkan keinginan Bapak, bersama orang yang yang sesuai dengan kehendak beliau."


"Innalillahi wainnailaihi raaji'uun ... " gumam Muhammad Abdullah seraya menunjuk sosok Burhan yang telah berhenti bernafas.


"Kenapa, Mas?" tanya Wulan kaget.


"Mas Burhan sudah meninggal dunia, Dek .... "


Wulan memejamkan matanya sambil merapal doa.


"Bu, aku ikut ngurus pasien bernama Burhan dan wanita tua di sebelahnya, serta jenazah Bapakku di ruangan IV. Semuanya, biar menjadi tanggung jawab kami berdua," sahut Wulan pada perawat yang masih berdiri bersama mereka.


"Innalillahi wainnailaihi raaji'uun."


SELESAI

__ADS_1


__ADS_2