KUMPULAN CERPEN RELIGI

KUMPULAN CERPEN RELIGI
ANTARA DOA DAN KENYATAAN


__ADS_3

Alkisah, ada keluarga sederhana yang tinggal di sebuah rumah kecil, terdiri dari sepasang suami-istri, Pak Karta dan Bu Asih, beserta tiga orang anak yang masih kecil-kecil.


“Pak, besok kita silaturahim ke rumah orangtuaku, ya? Soalnya ibu sakit. Tak ada yang merawat dan menjaga beliau,” kata Bu Asih sambil menyusui anak bungsu yang masih bayi.


“Baiklah, Bu. Berarti besok, aku tak usah kuli dulu di kebun juragan tanah. Aku akan antar kalian semua sampai tiba di rumah orangtuamu,” jawab Pak Karta.


“Bagaimana dengan si sulung, Pak?” tanya Bu Asih lagi.


“Dia sudah cukup besar. Biarlah aku suruh berangkat sendirian saja. Nanti, aku kasih ongkos buat naik angkot. Toh, jarak ke sana, kan, tak terlalu jauh. Lagipula, motor tua kita tak akan muat membawa lima orang sekaligus … ”


“Ya, sudah. Terserah Bapak saja, deh.”


Sambil merenung, Pak Karta bergumam, “Seandainya saja kita punya mobil, mungkin hidup ini akan lebih enak, ya? Anak-istri bisa kebawa semua. Tak akan terkena panas maupun hujan … ”


“Aamiin,” Bu Asih menjawab dari balik bilik kamar yang sudah lapuk dan bolong-bolong.


Selang beberapa waktu kemudian, keluarga itu mendapat hadiah undian dari sebuah bank swasta, tempat di mana mereka menabung selama ini. Hadiahnya tidak tanggung-tanggung yaitu sebuah mobil keluaran terbaru tahun itu. Tentu saja mereka merasa sangat senang sekali karena doa yang pernah dipanjatkan dulu, akhirnya dikabulkan.


Namun masalah pertama pun mulai muncul, mereka harus mempersiapkan sejumlah uang untuk mengurus biaya administrasi dan pajak hadiah yang didapatkan. Karena saldo tabungan tidak mencukupi, akhirnya mereka meminjam uang pada juragan tanah. Jumlahnya lumayan besar.


Singkat cerita, hadiah mobil itu pun kini sudah resmi menjadi milik keluarga itu.


Masalah selanjutnya kembali datang, sang suami yang hanya seorang buruh kasar dan tak pernah memegang kemudi kendaraan roda empat itu tak bisa mengendarai mobil. Terpaksa dia menyewa jasa seorang sopir dengan bayaran yang diambil dari sisa pinjaman pada juragan tanah tersebut.


“Pak, bahan bakarnya mau habis! Isi dulu, ya?” sopir membelokan kendaraan yang dibawanya ke sebuah SPBU, “karena ini mobil baru, sebaiknya diisi pertamax saja, Pak, biar mesinnya awet dan terjaga!”


“Oh, gitu, ya?” Pak Karta bingung karena tak paham.


Dia terpaksa mengeluarkan kembali sisa uang pinjaman yang hanya tinggal beberapa lembar.


“Mau diisi berapa, Pak?” tanya petugas SPBU.


“Isi penuh!” seru Pak Karta tanpa pikir panjang.


Setelah bahan bakar terisi penuh, kendaraan pun melaju di tengah padatnya jalan raya.


“Pak, lapar!” rengek anak sulung yang duduk di belakang sambil memegangi perut.

__ADS_1


Pak Karta tersentak. Dia lupa kalau hari itu anak-istrinya belum sempat sarapan pagi. Saking semangat untuk segera memboyong hadiah mobil yang didapatkan. Pak Karta melihat-lihat isi dompetnya yang kian menipis. Tinggal beberapa lembar lagi. Itu pun dengan nominal recehan terkecil. Beberapa lembaran lainnya untuk membayar jasa sewa sopir nanti setiba di rumah.


“Kita makannya di rumah saja, ya, Nak? Tanggung! Sebentar lagi juga sampai, kok!” jawab Pak Karta sambil menghela nafas panjang.


Bu Asih hanya bisa terdiam dan berusaha menenangkan si sulung yang terus merengek menahan rasa lapar.


Setiba di rumah, Pak Karta langsung memberikan sejumlah imbalan pada sopir. Tak lupa, sang sopir memberikan nasihat seputar perawatan kendaraan yang tentu saja tak dipahami oleh Pak Karta sekeluarga.


“Bu, sekarang masak nasi, ya? Aku mau beli lauk-pauknya dulu,” ujar Pak Karta langsung melaju dengan sepeda motor tuanya mencari warung terdekat.


Sayang sekali, di tengah jalan motornya kehabisan bahan bakar. Terpaksa dengan sisa uang yang ada, dia mengisi sedikit tangki motor.


“Masih cukup untuk membeli lauk-pauk,” gumam Pak Karta begitu melihat isi dompet, “lumayan buat beli beberapa buah tahu dan tempe. Garam dan kecap masih ada di rumah sebagai bumbunya.”


Setelah kembali ke rumah, ternyata istrinya belum masak nasi.


“Aku lupa, kalau persediaan beras kita sudah habis dari kemarin, Pak,” jawab Bu Asih lirih.


Pak Karta segera memutar otak. Dia segera pergi menuju rumah juragan tanah untuk meminjam beberapa liter beras. Syukurlah, sang juragan masih mau berbaik hati memberikan pinjaman. Dan hari itu, keluarga sederhana itu pun bisa makan bersama di depan rumah bersama dengan mobil baru mereka.


“Aku takut mobil kita ada yang mencuri, Bu! Rumah kita ini terlalu kecil dan tak punya garasi. Mana terpencil pula dari rumah-rumah warga lain!”


Akhirnya Pak Karta memutuskan untuk pindah pembaringan. Dia tidur di dalam mobil. Terpisah dari sosok istri yang setiap malam dia peluk dan menghangatinya dari udara dingin yang masuk melalui celah-celah bilik rumah yang sudah pada koyak.


Suatu ketika, Pak Karta mencoba belajar mengendarai mobil barunya. Karena dia pikir untuk apa punya mobil tapi tak bisa membawanya. Tanpa pengetahuan dan kemampuan dasar, Pak Karta nekat melajukan mobilnya seorang diri. Hasilnya, dia menabrak sebuah pohon dan badan kendaraan pun penyok parah.


Untuk memperbaiki kerusakan yang ada, terpaksa Pak Karta meminjam kembali sejumlah uang kepada juragan tanah. Padahal pinjaman sebelumnya belum juga bisa dilunasi. Juaragan tanah masih berbaik hati memberikan pinjaman. Maka hutang Pak Karta pun semakin bertambah besar.


Berbulan-bulan dia harus mencicil sisa hutang itu dengan upah yang tak seberapa sebagai seorang buruh kasar. Alhasil, untuk memenuhi kebutuhan keluarga pun, kerepotan. Tambal sulam pun terjadi. Demi menghidupi keluarga yang kerap kali dilanda kelaparan.


Kini tibalah masa pembayaran pajak kendaraan. Tak terasa, setahun sudah mereka lalui kehidupan baru itu dengan kendaraan baru. Selama itu pula mobil tersebut lebih banyak berdiam diri di depan rumah tanpa bisa digunakan.


Pak Karta kaget, ternyata pajak kendaraannya cukup mahal dan tak mungkin terbayar dengan upahnya. Lagi-lagi terpaksa dia meminjam kembali pada juragan tanah. Hutang pun semakin menggunung. Tak mungkin dapat dilunasi dalam hitungan tahun sebanyak jemari tangan.


Dengan sangat terpaksa, Pak Karta merelakan mobil baru yang didapatkan dari hadiah undian itu untuk dijual. Kepada siapa lagi kalau bukan pada sang juragan tanah. Namun sayang sekali, juragan tanah tak bisa membayar penuh. Karena harganya terbilang mahal. Sesuai kesepakatan bersama, lalu dibarterlah dengan sebuah kendaraan miliknya yang sudah tua di tambah sejumlah uang. Tak lupa, sekaligus dipotong untuk melunasi total hutang-hutang.


Sekarang Pak Karta punya kendaraan baru tapi sudah tua dan seringkali mogok. Dengan sisa uang hasil dari penjualan mobil barunya terdahulu, dia perbaiki mobil tua tersebut di sebuah bengkel. Ada banyak suku cadang mesin yang harus diganti dan ternyata itu semua memerlukan biaya tambahan yang tak sedikit.

__ADS_1


Maka … Pak Karta pun harus merelakan motor tuanya dijual dan uang hasil penjualannya dipergunakan untuk mendanai perbaikan mobil tua, sekaligus membayar uang sekolah anak-anak. Sisanya untuk keperluan dapur rumah tangga.


Lagi-lagi masalah pun datang. Masih dengan kemampuan mengendarai kendaraan yang sangat minim dan tak sanggup menyewa jasa sewa sopir, Pak Karta nekat membawa mobil tua yang baru diservisnya itu, sendirian. Di tengah jalan dia mengalami kecelakaan. Tak sengaja mobil tuanya menabrak sebuah angkot yang sedang ngetem di pinggir jalan. Akibat kejadian tersebut, hampir saja Pak Karta menjadi bulan-bulanan warga sekitar, kalau saja tak ada petugas kepolisian yang sedang bertugas di sana.


Selanjutnya Pak Karta harus mempertanggungjawabkan semuanya. Membayar ganti rugi kerusakan pada pemilik angkot dan mobil tuanya harus mendekam di kantor polisi karena kedapatan tak memiliki SIM serta perlengkapan surat kendaraan lain. Di samping itu, Pak Karta juga harus membayar biaya perawatan dirinya yang menderita luka-luka di sebuah klinik pengobatan.


Pak Karta mulai merasa stres dengan berbagai kejadian serta sejumlah uang yang harus dikeluarkan. Sementara di saat itu, dia sama sekali sudah tak memiliki uang sepeser pun. Uang tabungan sudah ludes digunakan untuk membayar pajak dan administrasi hadiah mobil barunya terdahulu.


Tak ada pilihan lain bagi Pak Karta sekeluarga, selain harus kembali meminjam uang pada juragan tanah. Lumayan cukup besar. Untung saja sang juragan masih juga mau berbaik hati. Uang hasil pinjaman tersebut dia gunakan untuk membayar ganti rugi kerusakan angkot, menebus mobil tua di kantor polisi, dan membayar biaya pengobatan. Terakhir mobil tuanya harus kembali masuk bengkel akibat kerusakan pasca kecelakaan itu.


Setelah semua urusan sudah beres, Pak Karta akhirnya memutuskan untuk menjual kembali mobil tua itu. Kabar baiknya, ternyata masih ada yang berbaik hati membeli walaupun dengan harga yang sangat murah. Alasannya karena usia kendaraan yang sudah tua. Orang yang berkenan membelinya pun, tak lain adalah teman sendiri yang dulu pernah membeli sepeda motor bututnya.


Di akhir cerita, mobil tua itu sudah laku terjual murah dengan sistem pembayaran sejumlah uang ditambah sebuah motor butut yang dulu pernah dimiliki dan kini kembali ke pangkuan Pak Karta. Lumayan, dengan uang yang ada itu, kini dia sudah bisa melunasi hutang pada juragan tanah.


Kini Pak Karta sekeluarga hidup seperti sedia kala. Sebagai buruh kasar, rumah kecil dan sebuah motor tua, tapi sama sekali tak memiliki hutang sepeser pun.


Suatu ketika .…


“Pak, besok kita silaturahim ke rumah orangtuaku, ya? Soalnya ibu sakit. Tak ada yang merawat dan menjaga beliau,” kata Bu Asih yang kini sudah tak menyusui anak bungsunya yang sudah memasuki usia balita.


“Baiklah, Bu. Berarti ... besok, aku tak usah kuli dulu di kebun juragan tanah. Aku akan antar kalian semua sampai tiba di rumah orangtuamu,” jawab Pak Karta.


“Bagaimana dengan si sulung, Pak?” tanya Bu Asih lagi.


“Aku akan antar dulu Ibu sama si bungsu. Nanti aku kembali lagi ke sini dan mengantar pula dua anak kita lainnya sampai rumah orangtuamu! Bagaimana?”


Bu Asih tersenyum, “Baiklah, bagaimana Bapak saja. Yang terpenting jangan antar kami dengan mobil lagi, ya, Pak?”


“Kita syukuri saja yang kita miliki saat ini, Bu. Tak usah berkhayal yang aneh-aneh, deh. Sepanjang kita dekat dengan Tuhan, di situlah jalan hidup selalu terbentang … !”


Akhirnya mereka pun tertidur pulas. Pak Karta bisa kembali mendekap hangat istrinya untuk sekedar mengusir rasa dingin yang menerobos melalui celah bilik rumah yang kian melapuk ….


 


 


SELESAI

__ADS_1


__ADS_2