KUMPULAN CERPEN RELIGI

KUMPULAN CERPEN RELIGI
NASI BUNGKUS


__ADS_3

Gelap mulai menyapa sang alam, sementara remang angkasa kembali menyelimuti dalam keabuan. Hujan yang turun sejak sore tadi, masih menyisakan rintik yang belum juga berkesudahan, disertai hembusan banyu mengigit pori. Riuh suara kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan, sibuk saling memperdengarkan pekikan. Bersatu padan terbungkus dalam balutan, seakan ingin sesekali menyuarakan, betapa keras hidup yang harus dilalui berhari-hari oleh para kaum berpeluh asam. Ditambah lagi dengan sorot lampu jalanan disertai kilatan mata-mata bercahaya dari berbagai kendaraan, silih berganti mengisi lorong-lorong pekat.


Ryu berdiri mematung di balik jendela kaca ruangan kantor sambil memperhatikan tontonan pemandangan perkotaan, yang sudah mulai memasuki kehidupan malam. Kelopak matanya seakan enggan berkedip dan melewatkan setiap detail peristiwa yang hadir saat itu.


Tiba-tiba ponsel selularnya berdering disertai getaran-getaran di dalam saku celana.


“Ya, Mah, sebentar lagi Papah pulang. Ini masih di kantor sambil menunggu waktu Maghrib. Takutnya nanti kejebak macet di tengah jalan … ” ujar Ryu kemudian menutup percakapan, lalu melihat jam dinding yang hampir menunjukan pukul enam petang.


Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara adzan yang berkumandang melalui pengeras suara. Mengalun syahdu menggetarkan qalbu serta merangsang diri, agar lekas bersujud pasrah kepada Sang Illahi.


Ryu segera keluar dari ruangan kerjanya. Berjalan melewati beberapa deretan meja-meja staf yang telah kosong. Hanya menyisakan beberapa lembar sampah kertas serta berbagai bungkus bekas makanan yang ditinggal pemiliknya. Berserakan di hampir sekitar ruangan.


Ryu menggelengkan kepala, begitu banyak sisa makanan dan minuman yang dibiarkan begitu saja. Dibeli dengan harga yang tak murah, namun selebihnya hanya akan menjadi tumpukan sampah.


Langkahnya tiba-tiba terhenti seraya memperhatikan satu titik tempat, tepatnya di belakang sebuah meja yang berada paling ujung dari sudut ruangan itu. Mata Ryu seperti menangkap ada sebuah pergerakan disertai bunyi yang samar di sana.


Perlahan Ryu mengendap mendekati arah yang menjadi pusat perhatiannya.


“Lagi ngapain, Mas?” tanya Ryu begitu tiba di tempat yang dituju.


Tampak seorang laki-laki muda sedang berjongkok melahap makanan dalam sebuah bungkusan kecil beserta beberapa botol minuman dalam kemasan.


“Astaghfirullah … ” seru laki-laki muda itu terkejut. Hampir saja sisa makanan yang masih berada dalam mulutnya tersembur keluar. Sesaat kemudian wajahnya berubah memerah begitu mengenali sosok yang tengah berdiri persis di belakangnya itu, “Pak Ryu!”


Sebelum berdiri, laki-laki muda itu sibuk membersihkan sisa makanan yang dirasa menempel di pinggiran bibir.


“Kamu lagi ngapain, Mas Arya?” tanya Ryu kembali sambil memperhatikan sosok petugas kebersihan kantor yang tampak malu dan salah tingkah.


“Membersihkan ruangan, Pak,” jawab laki-laki muda yang bernama Arya itu dengan suara terbata-bata.


Wajahnya semakin memerah tak berani beradu pandang dengan Ryu.


“Mas lagi makan? Kenapa sembunyi-sembunyi kayak gitu?” sekali lagi Ryu memperhatikan bungkusan sisa makanan yang tadi sempat dilahap bawahannya itu.


“Beneran, Pak. Saya lagi bersih-bersih ruangan, kok. Enggak tahu kalo ternyata Pak Ryu masih berada di kantor … ” suara Arya tercekat.


Ryu tersenyum dan sesaat menggelengkan kepala melihat sikap Arya tersebut.


“Sudah sholat?”


“Belum, Pak.”


“Ya, sudah. Kalo begitu, kita sholat maghrib berjama’ah dulu, yuk!”


Arya menganggukan kepala. Laki-laki muda itu mengikuti langkah kecil Ryu yang berjalan di depannya menuju mushola yang terletak tak jauh dari ruangan itu.


Setelah mengambil air wudhu, lalu keduanya beriringan masuk ke dalam mushola yang terlihat bersih dengan hamparan sejadah yang wangi. Ryu mengumandangkan iqomah untuk menyegerakan ritual kewajiban menyembah Sang Khalik.


“Silakan ... Mas Arya yang jadi imam, ya,” Ryu menepuk pundak Arya serta mengayunkan telapak tangannya yang terbuka ke depan, meminta Arya yang menjadi imam sholat.

__ADS_1


Arya tampak ragu.


“Bapak aja yang jadi imamnya. Saya … ”


“Hafalan Al Qur’an saya gak begitu banyak. Bacaannya pun gak fasih. Saya sering denger Mas Arya membaca Al Qur’an dengan makharijul huruf yang bagus. Jadi, udah selayaknya Mas Arya yang menjadi imam. Bagaimana?” sekali lagi Ryu menepuk-nepuk pundak Arya.


Akhirnya laki-laki muda itu pun bersedia juga maju ke depan dengan sedikit terpaksa kelihatannya. Mungkin karena dia merasa Ryu itu atasannya dan tak patuta Ryu berada di barisan makmum.


Namun itulah agama! Ketika status sosial tak lagi berlaku, bila harus disandingkan dengan ilmu agama. Maka yang akan berbicara di sana adalah tingkat ketakwaannya.


“Mari ... ikut ke ruangan saya, Mas. Kita ngobrol sebentar sambil menunggu hujan reda dan jalanan bebas dari macet,” ujar Ryu seusai melaksanakan ibadah sholat.


Arya sedikit merasa sungkan. Ada perasaan tak nyaman begitu pundaknya digelayuti lengan Ryu. Bagaimanapun juga, Ryu itu atasannya dan tidaklah mungkin jika Arya membalasnya dengan sikap yang sama.


“Duduklah di kursi itu,” Ryu menutup pintu ruangan setelah mereka berdua berada di dalamnya.


Sesekali Arya memperhatikan sosok atasannya itu, berjalan menuju meja kerja. Dia meraih ponsel seluler lalu menghubungi seseorang dari sana, “Mah, mungkin Papah akan pulang telat malam ini. Ada sedikit urusan kantor yang mendadak dan harus diselesaikan. Nanti Papah telepon lagi begitu sudah selesai, ya?”


Ryu tersenyum sambil menutup teleponnya. Lalu kembali memperhatikan sosok Arya yang duduk tertunduk sambil memainkan jemari.


“Oke, sekarang tinggal kita berdua yang ada di dalam ruangan ini. Saya harap Mas Arya … ” belum selesai Ryu berucap, tiba-tiba Arya bersimpuh di kaki Ryu dengan suara tercekat.


“Ma’af, Pak. Saya udah beristri. Saya takut dan malu!” seru Arya terbata-bata.


Ryu melongo heran.


“Tolong jangan meminta saya melakukan hal yang tidak-tidak, Pak! Saya mohon! Saya malu!” rengek Arya seperti hendak menangis.


“Lho, emangnya saya mau minta kamu ngapain? Saya, kan, belum selesai bicara, Mas.”


Arya beringsut kembali duduk di tempatnya semula penuh rasa malu.


“Baiklah … saya hanya ingin bertanya sama Mas Arya, betah kerja di kantor ini?” tanya Ryu setelah dirasa suasana sudah tenang kembali.


Arya mengangguk sambil tertunduk.


“Dengan penghasilan yang selama ini Mas Arya dapatkan, apakah sudah cukup?” Ryu memperhatikan sosok laki-laki muda yang ada di depannya itu dengan seksama.


Agak lama Arya berpikir, lalu berusaha menjawab dengan penuh kehati-hatian, “Kalau berbicara masalah cukup, rasanya semua orang tak akan ada yang merasa tercukupi, Pak. Karena secara fitrah, manusia itu diberikan hawa nafsu. Tapi kalau bagi saya, sih, rasanya wajib bersyukur atas semua yang Allah berikan selama ini. Termasuk masalah kehidupan saya di sini.”


Ryu tersenyum mendengar jawaban Arya barusan.


“Anak-istri bagaimana?”


“Alhamdulillah, anak dan istri saya sehat wal’afiat, Pak. Mereka cukup bahagia berada di kampung, walaupun sering ditinggal mencari nafkah di kota ini. Semua gaji yang saya dapatkan, diberikan seutuhnya untuk bekal hidup mereka di sana. Kalo saya, sih, paling hanya mengambil sedikit bekal buat ongkos pulang dan pergi. Itu pun hanya pada awal-awal bulan saja, Pak. Selebihnya berusaha sendiri.”


“Untuk kebutuhan makan sehari-hari kamu, bagaimana?”


Arya mengangkat wajahnya sesaat.

__ADS_1


“Itu saya usahakan sendiri, Pak. Toh, rejeki itu bisa datang dari mana saja, kok. Insyaa Allah.”


“Termasuk dengan cara memakan bekas makanan pegawai di sini, ya?” Ryu menyelidik.


Arya tersentak kaget. Dia tak menyangka Ryu akan tahu, apa yang selama ini dilakukannya.


“Mohon ma’af kalau itu salah, Pak,” Arya kembali menunduk.


“Ini bukan masalah benar atau salah, Mas. Hanya ingin tahu aja, kok. Jadi benar, ya, kalo selama ini, Mas mengandalkan dari makanan sisa untuk sekedar bertahan hidup?”


Arya menganggukan kepala perlahan, tertunduk lebih dalam, “Terpaksa, Pak. Itu pun kalo misalkan masih layak untuk dimakan dan halal.”


“Berbicara masalah gaji, kalo misalkan ... saya kasih tambahan tunjangan untuk kebutuhan makan Mas Arya sehari-hari, apakah Mas Arya masih akan tetap melakukan hal yang sama?”


“Maksudnya gimana, Pak?” Arya bingung.


“Maksudnya begini ... gaji berikut tunjangan uang makan yang Mas Arya terima, akan tetap diberikan untuk keluarga di kampung dan Mas Arya tetap mempertahankan cara bertahan hidup seperti semula?”


Agak lama Arya berpikir, “Seperti yang saya bilang sebelumnya, Pak, apa pun yang Allah berikan untuk saya melalui kebijakan dan kebajikan Bapak Ryu, Insyaa Allah ... akan tetap disyukuri. Lagipula, Bapak sudah memberikan yang terbaik dengan menerima saya sebagai salah satu pekerja di kantor ini.”


“Maksud kamu?”


“Sebelumnya saya menghaturkan banyak terima kasih pada Bapak, karena sudah menerima saya bekerja di sini. Saya sadar dan tahu diri, kok, bahwa dengan bekal pendidikan terakhir yang dimiliki, serta tugas dan tanggung jawab yang diemban selama ini, rasanya tak mungkin jika saya menghendaki penghasilan yang sama dengan yang Bapak terima selama ini, kan, Pak?”


“Maksudnya kamu tidak mau naik gaji, nih?” tanya Ryu sedikit berkelakar.


“Kalo itu Bapak berikan, tentu saja merupakan kebahagiaan tersendiri bagi saya, Pak. Tidak sekalipun juga, tak akan mengurangi loyalitas saya untuk tetap mengabdi pada Bapak. Karena saya juga sadar, bahwa penilaian itu datangnya bukan dari diri sendiri, tapi ada pada mata-mata orang lain yang memperhatikan kita … ”


“Luar biasa … ” Ryu sampai bertepuk tangan mendengar penuturan Arya tadi.


Telapak tangannya berulang kali menepuk-nepuk pundak laki-laki muda itu sambil tersenyum. Arya agak sedikit jengah dan beringsut menjauh dari posisi duduk Ryu.


“Tenang, saya bukan homo, kok, Mas. Istri saya pasti jauh lebih cantik dari istrimu, kan?” Ryu tergelak sendiri.


Kali ini Arya ikut tersenyum. Malu karena sempat berpikiran yang tidak-tidak terhadap atasannya itu.


Ya, waspada, kan, harus! Apalagi hidup di kota metropolitan seperti ini. Kadang T-shirt bukan hanya sebagai pakaian santai, adakalanya berubah fungsi menjadi pakaian dalam. Iya, kan? You know what I mean, right?


“Gimana kabarmu, Mas? Sudah makan hari ini?” tanya Ryu beberapa hari kemudian saat bertemu Arya di lorong menuju ruangannya.


“Alhamdulillah, sudah, Pak. Tadi pagi dibawain sarapan sama Ibu Dewi. Siangnya diajak makan sama Pak Tito. Untuk malamnya sudah ada bekal makanan dari Pak Rezky … ” jawab Arya sumringah.


Ryu tersenyum sendiri sambil berjalan menuju ruangan kerja, melewati deretan meja-meja stafnya. Semua yang ada di sana tersenyum. Ryu mengacungkan dua jempol untuk mereka ….


Indahnya berbagi!


Jika dilakukan secara bergotong royong, rasanya beban berat itu akan sulit kita temukan dalam kamus kehidupan!


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2