
“Sudah sampe mana, Christine?” tanya Aisha melalui ponsel pada seseorang. “Aku tunggu di resto yang kita janjiin, ya? Aku sudah tiba duluan, nih.”
“Oke, gue lagi on the way. Macet, nih, jalanan. Paling bentar lagi juga nyampe,” jawab satu suara milik seorang wanita yang tadi dipanggil Christine.
“Oke, deh. Hati-hati, Say,” ujar Aisha seraya menutup telepon.
Aisha membuka-buka website yang berisikan artikel-artikel keagamaan sambil menunggu Christine. Jemarinya sibuk menyentuh layar gawai dengan lincah. Sesekali kening perempuan itu berkerut, membaca tulisan yang dibaca. Lalu mengambil sebuah nota kecil dan ballpoint untuk mencatat.
Tak berapa lama, seorang perempuan muda dengan busana terbuka menghampiri Aisha sambil tersenyum. Tentunya sosok ini yang berbicara melalui handphone tadi. Christine.
“Hai, Gishel,” sapa Christine begitu mendekat. “Hai, Chris. Assalamu’alaikum,” sahut Aisha langsung berpelukan hangat. Tak lupa saling menciumi kedua pipi. “O, iya, namaku sekarang Aisha. Jangan panggil Gishel lagi ya.”
Christine tertawa kecil. “Duh, yang baru jadi muallaf. Harus ganti nama segala?”
Aisha tersenyum. “Mau pesen apa? Tadi aku sudah pesenin minuman ringan dan Insya Allah … HALAL,” kata Aisha kemudian setelah keduanya duduk berhadapan. Maklum, kursi yang mereka pesan memang cuma untuk berdua.
“Idem elo saja, deh. Gue percaya, kok, elo gak bakalan ngasih gue kopi sianida,” ujar Christine diiringi tawa.
Sesaat mereka berbicara basa-basi. Sebagai pembuka pertemuan yang sekian lama tak pernah terjadi lagi. Tepatnya setelah sama-sama menikah dan mengubah keyakinan atau keimanan mereka.
“Elo banyak berubah, Gish … eh, Aisha,” celetuk Christine seraya memperhatikan busana Aisha yang serba tertutup, santun dan syar’i. “Berubah apanya? Pakaianku?” tanya balik Aisha.
“Semuanya. Bahasa, pakaian, gaya hidup, juga nama elo. Ah, pokoknya banyak, deh.”
“Ah, masa sih?”
“Gue sendiri kagak yakin kalo orang yang ada di depan gue saat ini elo, Aish. Kalo saja gue nggak save nomor elo dan ngajak ketemuan di sini.”
“Bisa saja kamu, Chris.” Aisha tertawa kecil di balik telapak tangan.
Percakapan mereka terhenti, saat seorang pelayan resto menghampiri dan membawakan pesanan mereka.
“Terima kasih.” Aisha membantu.
“Kok, minuman ginian, sih? Tumben? Gak kayak dulu yang sering kita pesen, Aish?” Christine memperhatikan isi gelas yang baru saja diantar pelayan resto.
“Insya Allah … itu halal dan baik buat tubuh kita.”
“Hhhmm, dasar cewek aneh. Sejak kapan, sih, elo berubah aneh kayak gini?”
“Sejak aku mengenal Islam dari mantan pacarku.”
“Mantan pacar?”
“ … yang sekarang menjadi miswaku, Chris.”
“Miswa? Apaan tuh?”
“Suami.”
Kedua perempuan itu tertawa lepas. Hanya saja Aisha kembali menutup mulut dengan telapak tangan, agar suara tawanya tak terlalu keras. Terdengar oleh pengunjung di dalam resto.
“Bener-bener aneh, deh,” kata Christine lagi. “Apanya yang aneh? Aku merasa biasa-biasa saja, kok,” jawab Aisha santai. “O, iya … sebentar, aku lupa menelpon miswa. Harus memberitahu dia kalo aku masih ada di sini bersamamu. Tadi aku minta ijin sampai tengah hari ini, tapi karena kamu datang terlambat, sepertinya aku butuh sedikit tambahan waktu. Bersama sahabatku ini tentunya.”
Christine menyeringai geli melihat sikap sahabat lamanya ini. Dulu dia kenal Gishel ini cuek hampir terhadap segala sesuatu.
“Assalamu’alaikum, Sayang, aku masih ada di resto yang aku bilang tadi. Sepertinya masih agak lama di sini bersama sahabatku Gishel. Hanya kami berdua, kok. Aku mohon ijinmu, ya, Sayang? Insya Allah gak lama,. Nanti aku kabari lagi kalau sudah selesai.” Aisha memperhatikan raut muka Christine yang melongo keheranan. “Baik, Sayang. Terima kasih, ya, sudah ijinin aku. Assalamu’alaikum, Miswaku.”
“Gila, bahkan untuk bertemu gue saja elo mesti minta ijin laki elo?” Christine menggeleng-geleng.
“Itu salah satu konsekuensi pernikahan, Gish. Hidupku adalah tanggungjawab suamiku. Dunia dan akhirat. Jadi apa pun yang kulakukan, itu tidak terlepas dari tanggungjawab imam rumah tanggaku. Bahkan satu langkah kaki saja dari teras rumahku tanpa seijin suami, itu merupakan dosa besar yang harus kupertanggungjawabkan di hadapan Rabb-ku kelak. Terlalu banyak beban seorang suami dalam menjalankan kewajiban rumah tangganya, jadi jangan ditambah pula dengan sikap kita yang mengingkari kepercayaan yang diberikan olehnya. Karena Allah Subhanahu Wata'ala itu Mahamelihat dan Mahamengetahui semua yang kita lakukan, walaupun kita pandai mengelabui suami.”
“Waw, lancar banget. Kayak ustazah yang suka nongol di TV saja."
__ADS_1
Kembali mereka berdua tertawa lepas.
“Emang elo gak ribet mesti pake pakean gituan? Serba tertutup dan kelihatannya kuno banget, Aish.”
Aisha tersenyum. Dia melanjutkan percakapan setelah mereguk sedikit minuman yang sudah terhidang di depan meja. “Aku malah merasa nyaman sekali dengan busana yang aku kenakan sekarang ini. Menutupi setiap jengkal aurat tubuh dan mencegah dari pandangan orang-orang yang bukan mahromku. Tak ada lagi mata jelalatan yang senantiasa melahap kulit tubuh dengan percuma. Kalaupun ada yang menilai busana seperti ini kuno atau kampungan, tapi setidaknya aku yakin di mata Allah, fashion seperti ini justru sangat spesial dan bernilai tinggi.”
“Bahkan di depan mertua elo sekalipun?”
“Tentu saja. Walaupun mertuaku termasuk mahrom yang boleh melihat batas-batas aurat tertentuku, tapi aku harus tetap menjaga marwah suamiku dengan menggunakan pakaian yang santun, sesuai dengan anjuran agama. Bukankah dalam agama juga diharuskan seorang istri itu harus tetap tampil cantik dan bersolek? Bahkan di saat hendak tidur sekali pun. Jikalau kita niatkan untuk menyenangkan suami, Insya Allah akan bernilai ibadah dan menambah pundi-pundi amal kita kelak ketika menghadap Tuhan.”
“Ribet amat, sih, jadi orang Islam?”
“Lho, bukankah sudah lama kamu juga jadi muallaf?”
“Iya, sih. Tapi itu, kan, cuma syarat agar gue bisa kawin sama laki gue. Kalo gue masih tetap sama keyakinan gue yang dulu, laki gue gak bakalan mau ngawinin gue. Lagian sayang banget kalo sampe gak jadi kawin. Laki gue, kan, tajir, Cin,” sahut Christine sambil tertawa keras.
Kali ini Aisha tak ikut tertawa. Perempuan berhijab ini justru terdiam dengan raut muka masam, memandangi wajah sahabatnya ini. Perlahan menggeleng sambil berucap, “Astaghfirullahal’adzim.”
“Kenapa, Aish?”
Aisha meraih lengan Christine dan menggenggamnya dengan erat. “Agama itu bukan untuk dipermainkan, sahabatku sayang! Sekalinya kamu berhijrah menjadi seorang muallaf, maka otomatis kamu telah menjadi seorang mukallaf.”
“Apa itu mukallaf?”
Aisha menarik napas sesaat. Dia memandang sahabatnya. Miris sekaligus perih. “Muallaf itu artinya tunduk atau pasrah. Definisinya adalah seseorang yang baru berhijrah dari keyakinan (agama) lama menjadi seorang muslim seutuhnya. Diharapkan bisa menjadi seorang muslim yang kaffah. Sedangkan mukallaf adalah orang Islam yang sudah akil baligh dan dikenakan kewajiban untuk menerapkan setiap ajaran dan aturan agama yang berdasarkan Al Qur’an dan Hadits."
“Hubungannya dengan gue apa?”
“Tentu saja sangat berhubungan, Sayang. Kamu sudah memutuskan untuk mengucapkan kalimah tauhid berupa syahadat. Itu artinya kamu sudah resmi menjadi wanita muslimah. Dan sejak saat itulah kamu dikenai kewajiban-kewajiban untuk menunaikan rukun Islam dan rukun iman sebagaimana halnya wanita muslimah lain. Itu artinya kamu telah lama menjadi seorang mukallaf. Kamu harus meninggalkan semua hal-hal yang berhubungan dengan ajaran-ajaran yang ada dalam agama kita terdahulu, dan memasrahkan sepenuhnya hidupmu dalam hukum Islam.”
“Gue nggak ngerti itu semua. Gue pikir jadi muallaf itu cuma sekedar berganti status agama gue di KTP jadi Islam doangan.”
“Sebaiknya kamu sering-sering belajar agama. Baca buku-buku tentang Islam. Hadiri acara-acara pengajian. Atau … kamu mau belajar agama dariku? Insya Allah aku siap untuk mengajarkannya sesuai dengan kapasitas ilmu keagamaan yang kumiliki sekarang ini,” ujar Aisha tak berhenti menatap dalam-dalam mata sahabatnya itu dengan penuh kasih.
Di saat tengah berbincang, tiba-tiba muncul sesosok wanita berkerudung menghampiri mereka. Aisha segera menyambut dengan suka cita. “Hai, Sarah. Assalamu’alaikum.”
“Alhamdulillah kabar baik. O, iya … perkenalkan ini sahabatku Christine."
Sarah dan Christine bersalaman. Ada senyum sinis di bibir Christine begitu melihat sosok Sarah yang mengenakan busana serba longgar, panjang dan tertutup. Mirip dengan yang dikenakan Gishel atau Aisha.
“Ohl, iya … maaf kalau hari ini aku juga sudah janji ketemu dengan sahabat liqo aku, Sarah. Kami mau pergi ke tempat biro jodoh untuk mencarikan calon suami untuk Sarah,” ujar Aisha pada Christine.
“Emang elo belum kawin, ya, Sar? Gue lihat, sih, elo itu seharusnya sudah punya anak dua atau tiga. Kayak gue dan Aisha inilah …. ” kata Christine kemudian tertawa keras.
Sarah menunduk dengan rona duka di wajah. Aisha segera menepuk lengan Christine. Memintanya untuk berhenti tertawa.
“Ups, sorry! Sorry! Gue gak bermaksud untuk …. ”
“Tidak apa-apa. Aku paham, kok,” jawab Sarah tersenyum getir.
Aisha segera memecah kekakuan. “Eh … Chris, Sarah ini juga sama-sama muallaf seperti kita, lho. Dia baru setahun ini bergabung dengan aku di pengajian yang sering diadakan di MCI (Muallaf Center Indonesia). Alhamdulillah, pengetahuan agamanya semakin bertambah. Kayaknya, aku pikir kamu juga gak ada salahnya, deh, ikutan sama kita-kita hadir di acara pengajian di sana.”
“Gak dulu, deh. Gue lagi banyak kesibukan. Entar aja ngkali, ya?”
“Gak ada salahnya, kan, kamu sempetin sekali-kali.”
“Iya … entar!”
“Kapan?”
“Elo itu kayak laki gue, deh, Aish. Dikit-dikit agama, dikit-dikit ngaji! Gue bosan diceramahin terus, Cin!”
“Ya ... itu, kan, memang kewajiban suami kamu buat ngingetin kamu sebagai istrinya. Sebagai istri, seharusnya kamu ikutin sepanjang itu untuk berbuat kebaikan.”
__ADS_1
“Ya gue gak mau dipaksa-paksa gitu, Cin. Gue mau berbuat baik itu dengan ikhlas tanpa ada unsur paksaan dari siapa pun juga.”
“Sampai kapan kamu menunggu sampai hati ikhlas? Untuk berbuat kebaikan memang harus ada paksaan. Kalau tidak, lalu kapan? Hidayah itu harus dicari bukan ditunggu, Sayang.”
“Aaahhh … sudahlah! Gue pusing dengernya!”
Sarah memberi kode pada Aisha untuk tidak melanjutkan pembicaraannya. “Sudahlah, kita tunggu dan doakan saja untuk kebaikan sahabat kita ini, Aisha. Kita hanya berusaha dan Allah Yang Mahamenentukan.”
“Tuh, bener kata temen jomlo elo itu, Aish,” sahut Christine sengit.
Sesaat suasana terasa hening dan kaku. Aisha tak tahu harus berkata apalagi. Ada dua sahabat di hadapannya dengan masing-masing permasalahan yang tengah dihadapi. Dia bingung percakapan mana yang harus dilanjutkan. Akhirnya, mereka bertiga hanya bisa berbicara sekadarnya sampai kemudian ….
Percakapan kami terhenti begitu terdengar suara azan yang berkumandang dari kejauhan. Aisha lekas-lekas menyudahi pertemuan dengan sahabatnya itu. Mereka berpisah di pelataran parkir gedung resto.
“Kamu gak sekalian ikut kami sholat Duhur dulu di Mesjid terdekat dari sini?” tanya Aisha ketika Christine sudah berada dalam mobil pribadinya.
“Sudahlah. Saat ini gue lagi gak nafsu bicara masalah agama. Gue mau ke rumah temen gue yang lain. Ada acara arisan,” jawab Christine diiringi tawa.
Aisha hanya bisa mengusap dada melihat sikap Christine. Sementara Sarah cuma terdiam. Kemudian berdua pergi ke Mesjid. Setelah itu, Aisha mengantar Sarah ke tempat biro jodoh.
Selama di perjalanan, mereka terdiam. Tak banyak percakapan dari kedua perempuan tersebut. Sampai kemudian tiba di rumah, pikiran Aisha dipenuhi berbagai pertanyaan. Teringat sosok Christine yang masih belum bisa menjadi muslimah seutuhnya, namun beruntung dianugerahi kehidupan yang cukup baik. Bersuami, memiliki anak juga kehidupan ekonomi layak. Sementara Sarah, masih harus berjuang untuk mendapatkan sosok imam sejati untuk masa depannya kelak. Dua perbedaan kontras terjadi di depan mata.
Pikiran itu terus berkecamuk dalam kepala. Sampai menjelang tidur pun, masih terngiang kata-kata Sarah yang memohon bantuannya.
“Masih belum tidur juga, Umi?” tanya suami Aisha yang sudah berada di sisi tempat tidur.
Aisha tersenyum. “Belum, Abi. Aku sedang berpikir tentang dua sahabatku yang tadi siang ketemuan itu. Abi tidurlah terlebih dahulu. Besok, kan, harus bangun Subuh dan kembali kerja.”
“Bagaimana mungkin aku bisa tidur, sementara istriku tersayang masih terbuka matanya! Suami macam apakah aku ini, menikmati sendiri rejeki yang Allah berikan tanpa berbagi dengan istri sendiri.”
“Ah, Abi bisa saja. Ya, sudah kalau begitu, aku juga lebih baik tidur, ya.”
Aisha segera membenamkan wajah di antara dada bidang suami. Dekapan hangat tangan kekar itu serasa melindungi seutuhnya dengan penuh kasih. Degup jantung perkasa, seperti detak jarum jam yang menghantarkan diri menuju alam mimpi.
Entahlah, mengapa tiba-tiba terbersit ada bayangan lain di pelupuk mata. Berandai jikalau saat itu ada sosok lain yang ikut terbaring di antara mereka. Sosok dengan wajah yang tidak asing lagi. Sarah.
Ya, Sarah.
Mengapa bibit pemikiran itu mendadak hadir di kepalan? Atau mungkin berharap agar suami berkenan untuk memadu dirinya dan berbagi cinta dengan wanita muslimah lain? Bukankah balasan surga yang akan didapatkan, bila bersedia menerima keputusan suami untuk berpoligami? Ah, mengapa harus seperti itu?
Sarah memang seorang muslimah muallaf yang baik. Sayang sekali, Allah masih belum memberinya seorang jodoh. Karena penampilan dia selama ini yang membuat kaum lelaki merasa tak tertarik dengan dirinya? Atau memang ….
Ah, lagi-lagi pikiran itu kembali mengerucut pada sosok suaminya sendiri. Sampai kemudian, tak ingat lagi apa yang sedang dipikirkan. Rasa kantuk itu sudah memenuhi rongga mata. Dekapan kekar dan hangat itulah yang membuatnya cepat melangkah ke alam peraduan.
Pagi-pagi sebelum berangkat kerja, sang suami menyodorkan ponsel pada Aisha lalu berkata, “Dari tadi hape Umi berbunyi terus. Mungkin ada pesan penting yang harus Umi ketahui.”
“Kenapa Abi tak buka dan memberitahukan isinya pada Umi?”
“Tidak, Sayang. Aku khawatir apa yang ada dalam pesan itu bukan untuk diketahui olehku. Sebaiknya, Umi lekas membukanya. Siapa tahu penting?”
Aisha segera mengambil ponselnya dari genggaman suami. Segera membuka pemberitahuan yang muncul di layar. Ada dua pesan instan dari nomor Christine dan satu lagi dari nomor tak dikenal. Perlahan Aisha membaca kiriman dari sahabatnya terlebih dahulu.
“Cin, malam tadi gue udah cerai sama laki gue. Soalnya gue udah gak tahan sama sikap laki gue yang terus-terusan meminta gue supaya bisa kayak elo. Berjilbab, bergamis dan segala aksesoris kuno yang gak gue suka. Sorry, ya. Kayaknya gue langsung pulang ke rumah orangtua gue saja. Ortu gue, sih, minta supaya gue kembali ke agama gue yang dulu Gue masih bingung. Nanti, deh, gue kabari lagi, ya.”
Aisha mengusap dadanya seraya berucap, “Astaghfirullahal’adzim.”
Kemudian membuka pesan kedua dari nomor yang tak dikenal tadi, berbunyi, “Assalamu'alaikum. Maaf jika saya berani mengirim pesan ini pada Anda. Saya tahu Anda adalah sahabat dekat istri saya, Christine. Saya dapatkan nomor Anda ini di HP istri saya. Sebagai informasi saja bahwa saat ini kami sudah bercerai. Saya sudah tidak tahan dengan sikap istri saya yang sudah tidak mau lagi menuruti perintah saya. Terutama dalam masalah agama. Berulangkali saya mengetahui dia sering pergi ke tempat ibadah bersama orangtuanya setiap hari Minggu. Tapi …. ”
Aisha tak sanggup lanjut membaca isi pesan tadi. Air matanya mulai menetes, mengalir deras di pipi. Seketika tubuh perempuan itu terasa seperti tak bertenaga. Jatuh terduduk dengan lemas. Isaknya pun mulai pecah dengan dada menyesak.
Untuk saat ini tak tahu harus menghubungi siapa. Christine, suaminya, atau Sarah? Mengapa dalam situasi semacam ini tiba-tiba dia berpikir tentang Sarah lagi? Lalu perlahan membaca kembali isi pesan terakhir dari nomor yang tidak dikenal tadi yang ternyata milik suami sahabatnya sendiri?
Sarah dan mantan suami Christine.
__ADS_1
Ya Allah ….
SELESAI