
Sore hari, kumandang takbir mulai mengalun menghiasi langit biru, melalui bantuan pengeras suara yang terpancang tinggi menunjuk angkasa. Lebaran jadi besok rupanya. Itu ditandai dengan hilir mudik pengojek yang tak henti membawa penumpang. Lengkap dengan tentengan ayam hidup serta bungkusan plastik besar-besar. Isinya pasti bahan olahan makanan. Sayuran dan beberapa onggok daging tambahan. Biasanya seperti itu, kan?
Iseng kusambangi sekumpulan pemuda yang tengah memasang perangkat pengeras suara di Musola terdekat, untuk persiapan acara nanti malam. Saat itulah, tiba-tiba Pak RT mendekatiku lalu berkata, "Pak, ini ada sedikit rejeki untuk Bapak."
Aku terkesiap. Menatap sodoran selembar uang berwarna biru di tangan Pak RT. "Uang apa itu, Pak?" tanyaku heran. Dia tersenyum. "Ini hasil bagi-bagi rejeki dari warga sini," jawabnya kemudian.
"Uang dari mana, Pak?" Aku masih ragu untuk menerimanya. Pak RT menjelaskan, "Ini uang bantuan dari pemerintah itu, Pak. Warga kita hanya beberapa orang yang menerimanya. Tapi kami sudah berkomitmen untuk berbagi dengan semua warga lain yang tak terbantu bantuan yang dimaksud."
O, iya. Baru ingat. Dari semua data warga di kedusunan kami, hanya tiga jiwa yang memperoleh BLT (Bantuan Langsung Tunai), terkait pandemi yang sedang dihadapi saat ini. Jadi, dari nominal uang yang diterima, sebagian disumbangkan kembali untuk membantu warga lain yang tidak tersentuh perhatian pihak pemerintah. Tentu saja hal tersebut sudah dibicarakan terlebih dahulu. Hasilnya, ya, seperti itu.
Sejenak aku termenung, seraya menatap lembar uang yang masih belum berani diterima. Teringat sosok istri dan anak-anak di rumah. Mereka butuh pengayaan penganan lebaran. Daging dan ketupat.
"Tahun ini Ayah dapat THR dari kantor, kan, Yah?" tanya istri beberapa hari lalu sebelumnya. Aku menarik napas berat, lalu menjawab, "Insyaa Allah, Bu. Mudah-mudahan saja."
"Kok, jawabannya begitu? Bukankah tiap tahun juga selalu menerima THR, Yah?" Jawabanku tadi rupanya belum memuaskan istri.
"Masalahnya tahun ini, kan, keuangan negara dipakai buat nanganin efek wabah, Bu. Apalagi tempat kerja Ayah cuma instansi di daerah. Ayah sangsi kalo tahun ini bakal menerima THR seperti tahun-tahun lalu," ujarku agak berat menjelaskan. Khawatir istri akan kecewa. "Ya, kalo pun dapet juga, paling gak terlalu besar, Bu."
Istri mengangguk pelan. Raut wajah gusarnya seperti terobati mendengar penjelasanku. "Ya, mudah-mudahan saja, ya, Yah."
__ADS_1
Apa yang kuutarakan di atas pun terjadi. Tiga hari menjelang libur hari raya, sebuah amplop disodorkan ke hadapan. Setelah dibuka dan dihitung, jumlahnya tak sampai setengah uang honor yang selalu diterima setiap bulan. Timbul kembali kekhawatiran akan respons istri. Cemberut, mengambek, atau juga marah.
Ternyata tidak. Perempuan itu menerimanya disertai ulas senyum manis. "Alhamdulillah. Akhirnya dapat juga, ya, Yah," kata istri usai menghitung lembaran berwarna merah di dalam amplop.
"Segitu cukup, kan, Bu?" tanyaku menyelidik. Dia kembali tersenyum, lalu membalas, "Insyaa Allah. Cukup, kok, Yah?"
Aku tahu, dalam hati kecilnya pasti berharap lebih besar. Tapi kenyataan yang ada tak menyurutkannya untuk tetap bersyukur. Keperluan menghadapi lebaran tentu membutuhkan persediaan dana yang tak sedikit. Untungnya, tak satu pun dari anak-anak yang merengek minta dibelikan baju baru. Hanya ingin disediakan ketupat sebagai menu terakhir berbuka puasa esok hari. Bahagianya kami bercampur miris.
Sabtu pagi, istri memintaku mengantar berbelanja. Di samping itu ternyata diselingi ajakan menemui beberapa rekan ukhuwahnya.
"Ibu disuruh ngambil bingkisan, Yah," tutur istri. Aku mengiyakan.
"Ayah butuh pegangan uang gak?" tanya istri usai merobek semua amplop yang terkumpul. Aku mengekeh pelan, lalu kujawab, "Simpan saja sama kamu, Bu. Ayah belum begitu membutuhkannya."
"Beneran?" Istri meyakinkan. Kubalas dengan anggukkan. "Kalo Ayah butuh, ambil saja di dompet warna merah ini, ya. Ibu simpan di laci lemari pakaian."
"Iya, Sayang. Kalo Ayah butuh, pasti bilang, kok."
"Gimana, Pak? Mau diterima gak?" Suara Pak RT mengejutkanku. "O, iya. Maaf. Saya barusan berpikir dulu," jawabku seraya menerima uang dari tangan laki-laki itu. "Uang ini saya terima. Tapi sekarang, saya serahkan lagi sama Pak RT."
__ADS_1
"Lho? Kok, begitu, Pak?" Pak RT menatapku heran.
Kuserahkan kembali uang yang baru saja diterima ke tangan Pak RT. "Bapak kasihkan saja ke warga lain yang lebih membutuhkan, ya, Pak."
"Maksud Bapak, bagaimana?"
Kuulas sedikit senyum, lalu berkata, "Kita semua sangat membutuhkan uang, Pak RT. Apalagi di tengah kondisi seperti sekarang ini. Termasuk saya, tentunya."
"Lalu uang ini?" Pak RT memperhatikan uangku yang sudah kembali tergenggam di tangannya. "Berikanlah pada yang lebih berhak. Anak yatim, janda, atau juga jompo. Saya sangat menghargai perhatian Bapak, namun saya juga ingin berbagi bahagia dengan warga lainnya. Betul, kan, apa yang saya lakuin ini, Pak?"
Pak RT tersenyum. "Masyaa Allah. Baik sekali Bapak ini. Insyaa Allah akan saya sampaikan amanah dari Bapak ini."
"Terima kasih, Pak. Semoga bermanfaat."
Ya, aku paham kini. Rejeki memang tak hanya sekadar uang, namun berbagi kebahagiaan juga adalah bagian dari kenikmatan. Berpikir bahwa keluarga kami mengalami kekurangan, namun di luar sana masih banyak yang lebih membutuhkan uluran tangan. Semula hanya berharap pada satu koridor, kenyataannya Allah justru mempersiapkan lorong lain untuk menjawab doa-doa kami.
Kutulis kisah ini bukan untuk menuai puja-puji. Akan tetapi memaknai sebuah kata cukup itu dengan rasa syukur serta membuka mata-hati. Jangan membiarkan jiwa ini menjadi pengemis dengan syahwat tak berkesudahan. Cukup itu lebih baik daripada lebih, namun tak pernah bisa menutupi dahaga keinginan.
Sukabumi, 24 Mei 2020
__ADS_1