KUMPULAN CERPEN RELIGI

KUMPULAN CERPEN RELIGI
PELUH YANG MENGERING


__ADS_3

Menjelang petang, gontai kulangkahkan kaki menuju jalan setapak yang terjal dan kering akibat musim kemarau panjang, berharap secepatnya tiba di rumah dan disambut istri serta anak tercinta. Telanjang kaki ini sudah tak mampu lagi kupijakan, di atas tanah yang masih terasa membara. Gundah gulana menggayuti dada, karena hanya bisa pulang membawa alat tukang yang biasa menemaniku kerja, tanpa sepeser pun uang yang terselip di kantong celana.


"Mang Darman mau pulang sekarang?" tanya temanku, Sarmin, yang biasa menjadi rekan kerja tukang bangunan selama ini.


"Aku nunggu Pak Gatot dulu, Min," jawabku sambil mengemas peralatan ke dalam tas lusuh dan sudah koyak di sana-sini. "Soalnya ... hari ini, kan, saatnya terima upah."


Sarmin mendengkus keras. "Buat apa ditunggu? Tadi kulihat Pak Gatot pergi sama temannya."


Gatot adalah mandor bangunan yang biasa memberi arahan kerja, sekaligus yang memberikan upah ditiap akhir pekan.


"Kapan?" tanyaku agak kecewa, karena bisa dipastikan hari ini tak akan jadi gajian.


"Tadi, sesaat sebelum kita beresan," jawab Sarmin dengan raut muka masam.


"Emang gak nitipin duitnya atau gimana ya? Kan, seharusnya dia tahu, hari ini saatnya hak kita dibayarkan ... " Semakin sesak rasanya dada ini, karena rencana nanti petang membawa anakku yang sedang sakit panas ke dokter akan gagal total.


"Ya, kayak gak kenal kebiasaan dia aja, Mang? Urusan duit, dia selalu nyepelein, tapi kalo ngasih perintah kudu dikerjakan saat itu juga," rutuk Sarmin tak bisa menyembunyikan kekesalannya. "Telat dikit, ancamannya dipecat! Dipecat! Dipecat! Suwe banget, dah!"


Mendadak kerongkongan ini terasa mengering dan sakit. Terbayang buah hatiku yang sedang tergolek lemas di rumah, harus menunggu kembali hingga esok petang untuk berobat. Tadi pagi saja saat hendak ditinggalkan kerja, suhu badannya panas sekali. Aku hanya bisa berpesan pada istri, agar anak itu dikompres saja terlebih dahulu, dan berjanji akan membawanya ke dokter begitu pulang dari tempat kerja. Karena yakin, hari ini pasti gajian. Nyatanya ....


"Jadi Bapak hari ini belum terima uangnya?" tanya istri kala aku baru sampai di rumah.


"Belum, Bu .... "


"Lalu bagaimana dengan anak semata wayang kita, Pak? Panasnya belum mereda, malah tambah parah, lho. Tadi siang aja sampai mimisan beberapa kali. Aku khawatir kalau—"


"Barangkali kita bisa pinjam uang dulu sama tetangga, Bu?" tukasku merasa sangat bersalah karena tak bisa memenuhi janji pagi tadi.


"Aku sudah mencobanya, Pak. Mereka juga sama seperti kita. Tak punya uang," pungkas istriku, "kalo saja dapat pinjaman, mungkin sudah dari tadi siang aku bawa anak kita berobat. Toh, sorenya bisa langsung dibayar begitu Bapak pulang .... "


Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya bisa terdiam sambil memperhatikan Izran, anak laki-lakiku satu-satunya, tergolek dengan wajah memucat.

__ADS_1


"Kita tunggu saja sampai besok pagi ya, Bu. Begitu ketemu Pak Gatot nanti, aku akan minta upah dan langsung memberikannya sama kamu."


"Apa gak bisa sekarang saja ke rumahnya Pak Gatot itu, Pak? Anak kita harus segera dibawa berobat."


Aku menarik napas berat sesaat. "Rumah Pak Gatot itu jauh dari sini, Bu. Lagipula, aku gak punya uang sama sekali buat ongkos ke sana."


Istriku merengut. Tampak sekali kekhawatiran akan kondisi Izran yang belum kunjung turun panas badannya.


"Kita masih punya beras, kan, Bu?" tanyaku setelah beberapa saat kami terdiam.


Dia menggelengkan kepala. 


Ya, Tuhan! Rasanya hari ini, kami bertiga harus berpuasa sampai esok siang. Hanya air putih yang bisa mengisi perut, di kala bunyi lapar itu terus mendera. Setidaknya, itulah yang akan menjadi tetabuhan hiburan selama masa berbaring, dalam pejam mata, dan dirasakan semalaman nanti.


"Ya sudah, aku mau pergi ke kebun dulu ya, Bu. Siapa tahu ada buah pisang yang sudah tua dan bisa direbus untuk mengganjal perut kita."


Istriku tak menjawab. Wajahnya tertunduk sambil mempermainkan ujung bajunya. Aku tahu, dia pasti kecewa karena harapannya untuk bisa segera membawa Izran harus tertunda, gara-gara tak jadi menerima uang gaji.


Dengan peluh masih membajiri raga, kuturunkan panggulan buah pisang dari pundak. Lalu dipotong-potong hingga berbentuk satuan dan siap dimasukan ke dalam wajan berisi air panas. Segera kuhampiri istri yang berada di dalam rumah ....


"Pak, anak kita ... " ujar dia begitu aku memasuki ambang pintu depan rumah.


"Kenapa dengan Izran, Bu?" tanyaku melihat sedu sedan istri.


Dia tak menjawab, namun segera berlari menghampiri dan merangkulku dengan kuat. Seketika wadah buah pisang yang siap dibawa ke dapur, terlepas tanpa sadar dari tangan. Jatuh berhamburan ke atas lantai tanah yang kering dan berdebu.


"Ya, Tuhan .... "


*     *     *     *     *     *     *     *


"Kenapa datang terlambat? Ini sudah jam berapa, Darman? Kalo udah gak mau kerja, bilang aja! Jangan bikin kerjaan saya molor kayak gini!" bentak Pak Gatot begitu aku tiba di tempat pekerjaan, tidak seperti biasanya. "Berapa kerugian yang harus saya tutupi? Gara-gara kamu, rencana saya jadi kacau dan terbengkalai!"

__ADS_1


Aku hanya menundukan kepala, tak berani menatap mata mandor bangunan tersebut. "Maaf, Pak, saya .... "


"Maaf ... maaf! Kamu pikir dengan minta maaf, bisa mengganti kerugian saya?" seru Pak Gatot tak mau kalah.


Sarmin yang sedang bekerja seorang diri, hanya bisa melihat kami dari kejauhan.


"Sekali lagi saya mohon maaf, Pak." Tenggorokanku makin terasa sakit hendak berucap sesungguhnya. "Saya ada keperluan keluarga dulu."


"Keperluan apa, sih? Kewajiban kamu itu, ya, kerja sebenar-benarnya di sini. Urusan keluarga, kan, bisa dibereskan kalo tugas kamu di sini selesai, Darman!" Nada suara Pak Gatot tetap tak berubah rendah. "Gak kayak minta uang gaji, maunya tepat waktu. Giliran kewajiban sendiri, lalai!"


Aku melihat Sarmin memandang iba. "Justru karena kemarin belum nerima uang gaji, saya terlambat membawa anak berobat. Sekarang— "


"Anak kamu sakit? Kenapa gak bilang dari kemaren, Darman?" Pak Gatot terperanjat dan segera mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tas kecil yang melingkar di pinggangnya. "Nih, uang gaji kamu pekan kemaren. Sekarang, bawa anakmu berobat!"


"Gak usah berobat, Pak," jawabku seraya mengambil sodoran amplop berisi upah dari tangan Pak Gatot.


"Kenapa? Kalo anak sakit, ya, harus cepat-cepat dibawa berobat, dong, Darman! Orangtua macam apa kamu itu?" Pak Gatot mendengkus kesal.


Aku menunduk sedih sampai tak terasa beberapa tetes air mata jatuh berderai membasahi baju. "Anak saya sudah meninggal dunia dini hari tadi .... "


Pak Gatot tertegun, "Ya, Tuhan .... "


Sarmin yang mendengar penuturanku barusan, langsung datang menghampiri dan memeluk. Tidak berapa lama, laki-laki muda itu berbalik badan menghadap Pak Gatot.


BUK!


Satu pukulan keras, telak mendarat di rahang mandor itu hingga terjengkang.


"Coba dari kemarin elu ngasih hak kami! Mang Darman gak akan telat membawa anaknya berobat, *******!" teriak Sarmin sambil meludah kental tepat di wajah Pak Gatot yang mulai mengucurkan darah segar.


Sarmin menarik tanganku menjauh dari sosok mandor itu, berjalan dan berjalan meninggalkan tempat pekerjaan yang selama ini menghidupi kami.

__ADS_1


SELESAI


__ADS_2