KUMPULAN CERPEN RELIGI

KUMPULAN CERPEN RELIGI
BATAL NIKAH


__ADS_3

Dara senyum-senyum sendiri menatap cermin, sambil merapihkan bedak di pipi yang kurang merata. Lincah jemari menarikan kuas, menyusuri lekuk wajahnya yang putih dan cantik. Lalu mematut sejenak, memperhatikan detail warna-warni riasan yang menghiasi, jelita.


Semerbak harum memenuhi ruang kamar, melenakan setiap hirupan nafas mengisi paru. Menambah aura keindahan seperti yang tengah Dara rasakan. 


Hari ini, Jaka sang kekasih hati, akan datang melamar. Setelah sekian lama menjalin hubungan tanpa kepastian. Terombang-ambing dalam janji yang sulit dipenuhi. Sampai akhirnya laki-laki itu mantap berkenan mengikat jari, dengan perhiasan cincin yang akan terselip sesaat lagi.


"Dara .... "


Suara Mama memanggil dari luar kamar.  


"Iya, Ma," sahut gadis itu bergegas memburu pintu.


Sejenak Mama tertegun memandangi Dara yang terlihat cantik dengan riasan berpadu busana kebaya yang dikenakannya. "Cantik sekali anak Mama ini," gumam Mama sambil mencubit dagu Dara dengan lembut.


"Mama bisa aja," Dara tersipu. "Ada apa, Ma?"


"Jaka sudah datang bersama keluarganya, Nak. Kamu cepetan temui mereka. Mama mau siapin dulu minuman buat mereka," ujar Mama sambil kembali tersenyum manis.


"Biar Dara aja yang kerjain, Ma."


"Beneran?"


"Iya, Ma. Kalau cuma air, sih, Dara juga bisa, kok."


Sesaat Mama tampak berpikir sampai kemudian akhirnya mengangguk perlahan."Ya, sudah. Mama tunggu di ruang depan, ya, Nak."


Sepeninggal Mama, Dara langsung bergegas ke dapur mempersiapkan minuman untuk keluarga calon suaminya.


"Dara ke mana, Tante?" Jaka melihat-lihat keadaan rumah begitu Mama Dara muncul dari ruang tengah dan duduk bergabung, bersebelahan dengan Papa Dara.


"Ada. Lagi nyiapin air minum," jawab Mama Dara sambil memperhatikan Jaka serta kedua orangtuanya. "Kenapa? Nak Jaka kangen sama Dara, ya?"


Papa Dara menyikut pelan lengan istrinya sambil mengedipkan mata. Memberi isyarat agar bisa menahan diri untuk menggodai calon menantu. Sementara Jaka tertunduk malu, dengan wajah sedikit merona. 


Tidak berapa lama, Dara datang ke tengah-tengah mereka, membawa beberapa gelas minuman. Senyum manis gadis itu menyeruak di antara padu padan indah busana yang dikenakan.


"Silakan diminum, Om-Tante," ramah Dara menawarkan minuman pada kedua orangtua Jaka. 


"Terima kasih, Nak Dara," sahut mereka tak lepas menatap kagum akan kecantikan paras Dara hari itu. 


Dara duduk di sebelah Mama. Sesekali ujung matanya beradu pandang dengan Jaka. Rupanya pemuda itu pun tengah melakukan hal sama.


Percakapan antara dua keluarga pun dimulai. Pihak kedua orangtua Jaka dan Dara serius membicarakan rencana kelanjutan hubungan anak mereka. Tawa bahagia sesekali menyelingi obrolan. Sampai kemudian ....


"Tapi, mohon maaf, nih, Pak Erwin," ujar Papa Dara ditengah perbincangan. "Ada hal yang mau saya sampaikan."


Pak Erwin, Papa Jaka, mengerutkan kening. "Tentang apa, ya, Pak Galih? Saya pikir tadi sudah disampaikan semuanya."

__ADS_1


Pak Galih melirik istrinya sejenak dengan pandangan berat. Papa Dara itu menelan liur sebelum melanjutkan ucapan.  "Sebaiknya kita bicarakan berdua saja. Pak Erwin dan saya."


Dara dan Jaka saling berpandangan, bingung.


"Ada apa, Pa?" Dara menyentuh lengan Papanya.


"Kamu tenang saja dulu, Dara. Biarkan Papamu bicara dengan Papa Jaka," Mama Dara menenangkan.


Pak Galih memberi isyarat pada Pak Erwin agar mengikuti ke ruang lain. Rupanya tak hanya Jaka dan Dara yang dilanda tanya, Mama Jaka pun demikian.


"Ada apaan, sih, Ma?" tanya Dara kembali pada Mama, sesaat setelah Pak Erwin dan Papanya meninggalkan ruangan itu.


"Nanti juga kita akan tahu sendiri, Nak," balas Mama tanpa mau menjawab pertanyaan Dara. "Sudahlah, gak usah dipikirin. Lebih baik, kamu ajak ngobrol Nak Jaka di depan rumah, ya, Nak."


Dara mendengkus kesal. Namun, akhirnya gadis itu menuruti anjuran Mama. Bersama Jaka, dia beranjak ke luar rumah. 


"Kira-kira apa, ya, yang dibicarakan Papa kita itu?" Dara membuka percakapan.


Jaka mengangkat kedua bahunya. "Biasalah obrolan orang tua. Apalagi?"


"Tapi, aku merasa ada yang serius. Seperti ada sesuatu yang tidak boleh kita ketahui."


Jaka menyentuh lengan Dara, "Tidak boleh begitu sama orangtua. Kita percayakan semuanya pada mereka, ya, Sayang."


Dara menunduk masih dengan kepala yang dipenuhi berbagai pertanyaan.


Belum usai Dara berucap, tiba-tiba Pak Erwin muncul dengan wajah muram. Disusul istrinya yang kebingungan.


"Jaka, kita pulang sekarang juga!" Datar suara Pak Erwin sambil bergegas meninggalkan tuan rumah yang hanya bisa terdiam.


"Ada apa, Pa? Kok, buru-buru?" Jaka ragu mengikuti langkah Papanya.


"Nanti kita bicarakan di rumah saja!" Pak Erwin menjawab keras. "Ayo, pulang!"


Dara memandang wajah Jaka penuh kebingungan.


"Aku pulang dulu, ya, Dara. Nanti aku kabari lewat ponsel," akhirnya Jaka mengikuti langkah Pak Erwin dan segera masuk ke dalam kendaraan yang terparkir di depan rumah.


Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Pak Erwin begitu kendaraan yang dibawanya meninggalkan pekarangan rumah. Wajah yang tadinya tampak ramah, mendadak dingin dan masam.


"Ada apa ini, Pa? Apa yang terjadi?" Dara menghambur kepelukan Papanya. 


Pak Galih menuntun Dara dan istrinya masuk ke dalam rumah. "Ada hal yang harus kamu ketahui, Dara," lirih suara Papa menahan rasa sedih di balik dada. "Ini, mengenai kamu, Nak."


"Ada apa dengan Dara, Pa?" Gadis itu semakin penasaran. 


Papa dan Mama, sejenak, saling berpandangan. Seakan ada sesuatu hal yang berat diungkapkan.

__ADS_1


"Maafkan kami, ya, Nak. Papa dan Mama memohon, jangan sampai kamu membenci kami berdua," Papa Dara menundukan kepala dalam-dalam.


"Kenapa Papa dan Mama harus minta maaf? Kenapa pula Dara harus membenci? Ini, sebenarnya ada apa?" 


Papa Dara menarik nafas panjang sesaat, lalu ....


"Dulu kami berdua, pernah melakukan kesalahan .... " Papa Dara mengawali cerita. "Tepatnya ketika Papa dan Mama masih dalam masa pacaran. Kami melakukan perbuatan dosa besar, sampai menyebabkan Mama hamil. Tapi, Papa bertanggung jawab, kok. Papa menikahi Mamamu."


Dara berusaha tegar dan memahami kalau dirinya ternyata anak yang terlahir dari perbuatan zina. "Lalu masalahnya di mana?"


Papa memandangi wajah anak gadisnya dengan pilu, "Itu artinya, secara hukum agama, kamu bukan anak Papa, Dara. Papa tidak berhak menjadi wali dalam pernikahanmu."


"Hanya itu?" Dara masih belum mengerti. "Itu yang Papa katakan tadi pada Papa Jaka, kan?"


Papa mengangguk perlahan. "Pak Erwin merasa keberatan kalo mempunyai menantu sekaligus calon ibu dari cucunya, yang terlahir dari hasil hubungan di luar pernikahan." Papa mulai terisak sedih. 


Mama memeluk Papa dengan erat. Turut menyesalkan kejadian dulu namun hanya bisa pasrah.


"Sesederhana itukah alasannya?" tanya Dara menahan sesak yang mulai terasa di dada. "Begitu buruk nilai seorang anak yang terlahir dari hasil perbuatan zina? Sedangkan kesalahan itu dilakukan oleh kedua orangtuanya, mengapa anaknya harus turut menjadi korban kelaliman itu?"


"Tidak, Dara. Kamu tidak salah. Itu semua kesalahan Mama-Papa dan kami sudah bertobat atas kemaksiatan yang pernah dilakukan dulu," ujar Mama ganti memeluk Dara sambil menangis. "Kamu tetap anak kami! Darah daging kami! Keturunan kami! Hanya saja, kamu kehilangan beberapa hak atas Papa kamu. Itu saja!"


Dara tersenyum getir.


"Aku paham, Ma. Dan anehnya, Dara juga harus kehilangan harga diri bagi sebagian orang yang merasa lebih suci hanya karena mereka terlahir dari sebuah ikatan pernikahan yang suci. Sehingga berhak menilai seorang makhluk Tuhan dari kesalahan moyangnya," gumam Dara.


"Dara .... "


"Dara ingin sendiri dulu, Ma, Pa. Maafkan Dara!" Gadis itu berlari ke kamarnya. Lalu menumpahkan tangis di atas pembaringan.


Tiba-tiba ponsel Dara berbunyi. Ada pemberitahuan pesan masuk di layar. Dari Jaka, sang kekasih. 


[Dara Sayang, apakah harus kita katakan juga bahwa kau pun kini tengah berbadan dua karenaku? Aku bingung dan takut, Sayang. Aku mencintaimu, Dara.]


[Lebih baik kita terus terang saja, Mas. Sebelum perut Dara semakin membesar.]


[Aku tak tahu harus berbuat apa, Dara. Setelah tulisan ini kaubaca, mungkin tubuhku sudah berada di bawah sana. Aku .... ]


[Mas!]


Tak balasan. Mendadak pesan bertanda centang satu.


[Mas Jaka!]


Masih sama, dan begitu seterusnya. Tangis Dara pun pecah. "Mas Jakaaaaa .... "


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2