
Saat Nabilo ingin kekantin, tiba - tiba ia melihat seseorang yang membuatnya melamun sambil tersenyum bodoh. Orang yang ia lihat itu adalah Shani Indira, yang tampak berjalan sendirian dari arah toilet menuju kelasnya.
Namun tiba-tiba mata Nabilo pun menangkap sesuatu hal yang mengganjal. Sebuah pot bunga yang berjejer dipinggir-pinggi tembok di lantai atas sekolahnya tampak hampir jatuh karena terlihat tidak sengaja tersenggol oleh siswa yang mendapat tugas menyiram tanaman pada hari itu.
Pot tersebut pun mulai tidak seimbang, sedangkan Shani hampir melewati jalan tempat pot bunga tersebut yang tampak tidak seimbang.
Namun karena terlalu asik melihat pot yang mulai bergoyang dan Shani yang hampir dekat, pot tersebut pun jatuh karena tidak dapat menjaga ke seimbangannya dan Ilo pun memprediksi jika pot tersebut jatuh tempat di atas kepala Shani.
“ Shani awas......” Ucap Nabilo dengan lantang.
***
Dengan gerakan yang cepat Nabilo pun sampai dengan mendorong Shani agar tidak terkena pot yang terjatuh tersebut.
Namun sayang, sepertinya keadaan dan keberuntungan selalu berpihak kepada Nabilo, terbukti bahwa yang jatuh bukanlah sebuah pot, melainkan tubuh kekarnya yang menimpa tubuh kecil milik Shani.
Deg... Deg.....
”Mata ini, entah mengapa jika aku melihat matanya hatiku mendadak teduh dengan aura ketulusan dari yang di pancarkan matanya." Ucap Shani dalam hati
” Matamu mengalihkan duniaku, menghancurkan akal sehatku, melemahkanku dan membuatku jatuh sedalam - dalamnya ke dalam pesonamu. Aku benar - benar mencintai kamu Shani Indira” Ucap Nabilo dalam hati sambil menatap Shani dengan lembut.
Untuk seperkian detik mereka masih betah dengan posisi yang bisa memimbulkan fitnah.
Namun tampaknya Shani pun mulai tersadar dari lamunannya yang menatap Nabilo, dengan cepat ia mendorong tubuh kekar Nabilo yang berada di atas tubuh nya.
“ Abil awas....” Ucap Shani sambil mendorong beberapa kali tubuh Nabilo.
“ Abil kamu itu ya, cari kesempatan aja.” Ucap Shani kembali sambil memukul lengan berotot milik Nabilo.
“ Aduh Shani sakit.... Aw..aw..” Ucap Nabilo sedikit meringis yang masih bisa di dengan Shani.
“ Gitu aja sakit, lagian Shani kan cewek tenaga Shani gak kuat dan gak akan berasa di lengan Abil.” Ucap Shani sedikit kesal.
Namun mata Shani pun menatap kearah lengan Nabilo yang terlihat mulai mengeluarkan cairan merah yang membekas di seragam milik Nabilo.
__ADS_1
“ Lengan kamu kenapa Abil ?” Tanya Shani khawatir.
“ Gak apa-apa Shani.”
“ Gak apa-apa gimana Abil, ini lengan kamu berdarah.”
“ Beneran Abil gak apa-apa Shani, dibandingkan dengan sikap Shani yang selalu cuek dan dingin dengan Abil.”
“ Isss.... Abil masih sempat-sempatnya ya bercanda, sekarang ikut Shani ke UKS.”
“ Tapi Nabil kan di hukum sama bu Mel, Shani.”
“ Ya sudah kita ke tempay bu Mel, nanti kalau Abil gak di obatin, nanti makin tambah parah loh Bil.”
“ Ya udah seterah Shani aja, Abil ikut aja.”
Shani pun mengantarkan Nabilo ke UKS dan tidak lupa juga sebelum berangkat ke UKS mereka berpamitan dengan guru mungil ke sayangan Nabilo.
Ckelek 🚪
“ Selamat pagi Dok.”
“ Hai Shani, Ilo ada apa ?” Ucap dokter tersebut sambil sekilas melihat Shani dan Nabilo.
“ Gini dok, lengan Nabilo berdarah.”
“ Berdarah, saya minta maaf Shani. Bisa tidak kamu yang obatin Nabilo, soalnya istri ingin melahirkan, saya harus cepat-cepat ke rumah sakit sekarang juga.” Ucap dokter itu kembali setelah selesai membereskan beberapa barang miliknya.
“ Kalau gitu saya pergi dulu ya Shani, Ilo.” Ucap dokter itu meninggalkan mereka berdua.
Setelah dokter tersebut pergi, Shani pun mengambil kotak P3K yang berada di dalam UKS tersebut.
“ Abil duduk di situ aja.” Ucap Shani menunjuk kasur yang berada di UKS tersebut.
Setelah mendapatkan kotak P3K, shani pun menarik kursi dan meletakkannya tepat di depan Nabilo.
__ADS_1
Saat ingin mengobati lengan Nabilo, Shani pun terlihat kesusahan karena seragam Ilo yang tampak pas di tubuhnya, sehingga tidak ada ruang untuk bisa mengangkat lengan baju nya itu.
“ Ilo buka aja bajunya, soalnya susah kalau Ilo masih pakai baju.”
Nabilo pun membuka seragamnya, tampak jelas otot-otot perut, lengan serta dada bidang yang ia bentuk berkat latihan di berbagai perguruan bela diri yang ia tekuni.
Namun penglihatan Shani pun tertuju pada perut sexy milik Nabilo.
“ Perut kamu juga berdarah Abil.”
“ Iya Shan, semalam lengan sama perut Abil kena pisau waktu tawuran dengan anak STM kemaren.”
“ Kan udah berapa kali Shani bilangin sama Abil gak usah tawuran lagi.”
“ Shani khawatir ya sama Abil ?”
“ En...enggak, masa Shani khawatir, yang khawatir itu pasti bunda Naomi, kan kasihan liat Abil luka-luka kaya gini.” Ucap Shani sedikit gagap.
“ Alah bilang aja Shani khawatirkan ?”
“ Ih..... Abil, Shani tekan ni ya luka Abil.”
“ Iya-iya jangan.”
Akhir nya shani pun mulai mengobati luka-luka yang ada di tubuh Nabilo yang ia dapat saat tawuran dengan anak STM.
“ Sekarang selesai deh.” Ucap Shani senang, karena telah mengobati Nabilo seseorang yang ia cintai secara diam-diam.
Setelah Shani selesai berbicara, tiba-tiba Nabilo pun bersuara.
“ Shani, sebenarnya belum ada 1 orang wanita pun yang melihat Abil telanjang dada gini, bahkan bunda Naomi pun tidak pernah lihat Abil seperti ini setelah Abil kelas 2 SD.”
Seketika pipi Shani pun mandadak panas dengan pengakuan dari sang pembuat onar di sekolahnya itu.
Dengan gerakan cepat pun ia beranjak dari tempat duduknya dan berpamitan dengan Nabilo dengan pipi dan detak jantung yang makin tidak bisa ia kontrol.
__ADS_1
“ Shani... Shani lucu banget sih kamu.” Ucap Nabilo sambil memperhatikan Shani yang mulai hilang dari padangannya.