La Tahla Jangan Mengeluh

La Tahla Jangan Mengeluh
Pesantren Al Falah


__ADS_3

sepeninggalan farah terlihat syafa dan fatih berlari - lari mendekati astri dan keluarga farah, namun kekecewaan harus mereka terima karena farah telah pergi. pesawatnya telah terbang tepat di saat fatih dan syafa sampai di bandara.


fatih pov


aku begitu terkejut ketika pagi ini Syafa menelponku dan memintaku menemaninya ke bandara untuk menemui Farah.


"apa yang terjadi dengan farah..? " fikirku...


"akhi fatih masih disitu kan?


apa akhi gak bisa mengantarku..?


pertanyaan Syafa itu berhasil membuyarkan lamunanku, seketika aku menanggapi pertanyaannya dengan perasaan tak menentu.


*ya akhi dengar ukhti memangnya Farah mau pergi kemana?


sepagi ini sudah dibandara*?


tanyaku penasaran.


" Farah akan pergi jauh akhi meninggalkan kita "


ada nada gelisah dalam suara syafa saat ini itu menunjukan jika yg dikatakannya bukan main - main.


pergi....?


" iya akhi dia akan mondok di salah satu pesantren yg ada di jawa timur, entah kapan ia kan kembali "


aku masih terdiam mencoba mencerna kalimat yg baru di ucapkan oleh syafa.


Akhi bisa kan mengantar syafa..?


sebab abi dan putra sedang pergi sejak kemarin malam dan baru akan pulang nanti sore.


" oooh baiklah ukhti, bersiaplah aku akan menjemputmu sebentar lagi "


secepat kilat aku menyambar kunci motor keluar dari kamar dan menuruni tangga segera berlalu pergi setelah sebelumnya berpamitan pada umi dan abi. Aku segera menghidupkan mesin motor dan menjalankannya dengan cepat menuju rumah syafa untuk menjemputnya.


Tak ku huraukan angin dingin pagi yang menerpa tubuh karena aku lupa mengenakan jaket tadi.


tak berselang lama dari kejauhan ku lihat Syafa sudah menungguku di depan rumahnya wajah cantiknya berubah kalut pagi itu, ada rona ketidak sabarannya untuk segera sampai di bandara yang terletak sekitar 6 km dari rumah syafa.


aku mulai merasakan kekalutan yang sama dengan yang di rasakan syafa manakala kami terjebak dalam kemacetan panjang yang selalu terjadi pada jam - jam kerja di kota sebesar palembang ini, penumpukan kendaraan roda 2 dan 4 memang sering kali membuat pengguna jalan geram, karena harus menempuh kemacetan yang tidak sebentar.

__ADS_1


Tapi ini masih tergolong pagi matahari baru saja menyembulkan sinarnya, kenapa jalan sudah begitu ramai.


tepat pukul 06.40 kami sampai di halaman bandara aku segera memarkirkan motor dan menyusul syafa yang tengah lebih dulu berlari ke arah penerbangan domestik, ku lihat dari kejauhan Astri dan keluarga Farah berdiri dan berbicara dengan syafa tanpa farah, dan itu artinya aku dan syafa telah kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan farah sebelum ia pergi.


Astagfirullah allazim....!


aku segera beristighfar ketika rasa kesal menyeruak dalam hati ini, begitu banyak yang farah tinggalkan setelah kepergiannya, rasa kehilangan di hati astri dan syafa, pertanyaan besar dihatiku atas airmatanya yang menetes di hari pertunanganku dan Syaffa, juga begitu banyak pertanyaan lainnya.


***La Tahla Jangan Mengeluh***


Farah pov


hari sudah menjelang sore ketika aku menginjakkan kaki di depan pagar pintu sebuah pesantren tertulis dengan jelas di sebuah papan nama pesantren itu.


" Pondok pesantren Al - Falah "


ada rasa senang, haru dan kehilangan ketika aku melihat papan nama itu.


senang karena setelah sekian lama aku menginginkan menjadi santri di pondok ini yang akhirnya baru sekarang bisa terwujud, haru karena ketika aku melangkah kan kakiku melewati gerbang ini maka aku akan memulai hidup baru yang akan jauh lebih baik dari sebelumnya.


dan kehilangan karena aku harus berusaha meninggalkan semua orang yg aku sayangi, orang tuaku, adikku abangku, juga sahabat - sahabat ku. tapi aku harus kuat fikirku.


"kau pasti bisa Farah "


aku berjalan pelan, tangan kananku masih menarik koperku kulihat di sekelilingku begitu banyak santri berlalu lalang.


ada sebuah masjid besar di tengah pondok ini " masjid Al Falah " nama masjid itu disisi kanan dan kiri terdapat gedung sekolah juga asrama yang berada di belakang gedung itu, tempat yang begitu luas wajar jika mengingat sekolah dan asrama santriwan dan santriwati sengaja di buat terpisah.


Assalamualaikum...!


sapa seorang laki - laki kepadaku, aku tengadahkan wajah melihat lelaki itu yg berdiri di hadapanku dengan tatapan mata yang tertunduk, aku tak bisa menebak jika ia adalah seorang santri atau ustadz karena ia masih muda. mungkin umurnya tak jauh berbeda denganku.


*Afwan ukthi ada yg bisa saya bantu..?


sepertinya ukthi baru disini*....!


lelaki itu berkata sambil melirik koper yg aku bawa.


"*ooh waalaikumsalam....


iya akhi saya santri baru disini bisa kah akhi menunjukan pada saya dimana ruang kantor*...?


tanya ku pada laki - laki itu.

__ADS_1


" kantor berada di balik masjid ini, ukthi bisa berjalan lebih jauh ke ujung sana "


lelaki itu menunjukkan arah kemana harus aku tempuh. aku pun menganggukkan kepala tanda mengerti.


"baiklah terima kasih"


ucapku padanya dibalas dengan senyuman olehnya. aku pun berlalu pergi meninggalkan nya, berjalan menuju tempat yang baru saja ditunjukan pemuda itu.


sesampainya di tempat yang ku maksud aku disambut hangat oleh seorang lelaki paruh baya yang mengenakan peci putih dan berjanggut panjang, ada beberapa pertanyaan yang diajukannya padaku dan setelah aku mengucapkan nama abangku Farhan, kiyai paruh baya itu pun tampak tersenyum cerah memperkenalkanku pada beberapa ustadz dan ustadzah yang kebetulan berada di tempat itu.


perkenalkan nak ini Ustadza Siti, dia yang akan menemanimu berkeliling dan menunjukkan kamar yang akan kau tempati di asrama.


aku tersenyum ke arah seorang ustadza yang dari perawakannya Usianya berada diatasku sekitar 3 atau 4 tahun. Ustadza yang menggunakan gamis cream itu pun tersenyum dan mempersilahkan aku berjalan mengikutinya.


ia membawa ku berkeliling memperkenalkan ruangan yang ada di beberapa gedung di komplek pesantren.


" nah ini kamar yang akan kau tempati. "


ucapnya ketika kami memasuki sebuah kamar dengan 2 buah ranjang bertingkat dan sebuah meja belajar ditengahnya juga terdapat 4 buah lemari di samping kiri dan kanan kamar.


*Kau akan tinggal di kamar ini bersama 3 santri lainnya..!


" akur - akur lah dengan mereka, jangan sungkan untuk bertanya padaku jika ada sesuatu yang tidak kamu mengerti tentang semua hal di pesantren ini ataupun jika ada pelajaran yang tidak kau mengerti*. "


Ucapnya ku balas dengan anggukan.


Aah ia Farah...!


Laila Ustadza, nama panggilan saya adalah Laila bukan Farah...!


*baiklah Laila...!


aku adalah teman abangmu Farhan ketika masih menjadi pengajar di pesantren Palembang dulu, jadi jangan sungkan - sungkan bicara padaku jika ada sesuatu yang kau butuhkan, oke*...!


terima kasih ustadza....!!


Aah ia jika bukan di tengah kelas panggil aku Ayuk atau mba saja Laila, karena adik Farhan adikku juga.


Terima kasih mba Siti.


tak usah sungkan Laila semoga kau betah disini*.


to be continue

__ADS_1


__ADS_2