
Syafa pov
hari masih pagi, bahkan matahari terlihat enggan bergerak ke singgasananya. namun kami sudah berada dijalan saat ini, mobil yang kami kendarai melaju kencang membelah kabut. masih terlihat menyisakan butiran embun di setiap helai dedaunan yang kulihat di pekarangan rumah - rumah yang kami lalui.
ku tatap wajah pria itu yang duduk tepat disampingku, garis wajah yang begitu tegas, hidung mancung dengan kulit putih kekuningan betapa tampannya wajah itu jika saja aku bisa melihatnya dengan sempurna. bahkan ia terlihat sangat tampan dari samping seperti ini, Masha Allah ia tersenyum ke arahku lesung pipi itu membuatnya semakin terlihat menggemaskan bahkan lebih menggemaskan dari Sandi balita yg sering ku gendong anak mba Ranti tetangga kami.
perlahan ia tangannya menggenggam tanganku dan menciuminya masih dengan senyum manis seperti sebelumnya.
Allah terima kasih atas limpahan rahmat yang engkau berikan untukku, sungguh mendapatnya adalah anugerah terindah bagiku, bisa selalu berada disampingnya adalah hadiah terbesar yang engkau berikan untukku ya Robb. bahkan mungkin tak setimpal dengan apa yang ku berikan padamu. walau ku akui butuh perjuangan yang tidak sebentar bagiku untuk mendapatkan hatinya.
iya " Perjuangan Besar " masih jelas dalam ingatanku betapa sulitnya aku menjalani tahun pertama dan kedua pernikahan kami bahkan tahun ketiga pun demikian. pernah terbersit di hatiku untuk mengajukan sebuah perceraian tapi aku sadar jika itu adalah perbuatan yang dibenci olehmu ya Robb, maka aku mengurungkan niat itu.
3 tahun Lalu
laki - laki itu terpaku memandang bulir - bulir air hujan yang masih menggenang di lembar - lembar dedaunan yang ada di balik jendela.
merenung dengan wajah sendu tak menghiraukan istrinya yang sedari tadi mengajaknya bicara.
Mas...!
Mas....!
Mas...!
**Mas aku panggil kamu loh dari tadi kamu gak kedenge**ran...?
aaah ia Afwan Syafa, kenapa...?
ada yang perlu ku bantu...?
afwan tadi lagi gak fokus...
kamu kenapa sih mas...?
apa yang kamu fikirkan sampe gak denger aku panggil..!
ada sesuatu syaf, biar akan ku bereskan kamu gak perlu tau.
gak perlu aku tau...?
masalah serumit apa sih itu sampai - sampai aku gak perlu tau..?
atau mungkin masalah dengan cinta pertamamu itu...?
yang bahkan sampai sekarang aku tak tau siapa dia, bagaimana rupanya, akhlak dan budi pekertinya....!
bahkan aku tau tau apakah dia wanita yang pantas menjadi cinta pertamamu atau tidak..!
Syafa...!
jaga bicaramu...!
istighfar syafa kamu itu muslimah, tidak baik bagimu menghardik saudaramu seimanmu sendiri..!
aku mungkin memang mencintainya tapi ingat syafa kamulah yang aku nikahi sekarang bukan dia jadi jangan pernah kamu menjelek - jelekkan dia karena belum tentu yang kamu bicarakan adalah sebuah kenyataan karena nyatanya istriku itu kamu bukan dia.
karena itu mas..!
itulah alasannya kenapa aku seperti ini...!
tidakkah terfikir olehmu perasaanku mas...?
ingat mas aku ini istrimu..!
yang sah kau nikahi didepan kedua orang tuaku dan pak penghulu, aku istrimu mas..!
aku istrimu yang seharusnya mendapatkan hak sebagai seorang istri, tapi sebaliknya apa yang aku dapatkan.....?
3 tahun mas....!
__ADS_1
3 tahun aku bersabar menunggu, berharap suatu hari engkau akan membuka hatimu untukku dan menerimaku disisimu.
ku ikuti kehendakmu untuk pergi ke kota ini, meninggalkan keluargaku, meninggalkan orang tua dan teman - temanku untuk menetap di kota yang bahkan tak pernah aku tau bagaimana bahasa dan budayanya.
tapi apa yang kau lakukan mas...?
kau tinggalkan diriku sendiri di rumah sedang dirimu menghabiskan waktu berhari - hari dengan setumpuk pekerjaan, pergi pagi dan pulang larut malam.
itu yang engkau lakukan bukan...?
*bertahun - tahun engkau seperti itu dengan dalih.
" merintis sebuah sekolah itu sulit Syafa tidak semudah membalik telapak tangan, dan aku ingin sekolah yang ku kelola berkembang menjadi sekolah yang diakui oleh banyak orang "
seperti itu mas*....!
tanpa memikirkan ku, perasaanku, bahkan hingga detik ini kau belum menyentuhku mas....!
sesak hal terakhir yg ku rasakan saat itu, setengah berbisik kalimat terakhir itu terucap dari bibirku, aku terduduk lunglai diatas lantai tempat diriku berpijak sebelumnya, rasa sesak terasa memenuhi hati mencuri sisa - sisa oksigen didalamnya, perlahan namun mematikan.
pemuda itu berjalan ke arahku, duduk dihadapanku dan merengkuhku dalam peluknya, bisa ku dengar isaknya dalam setiap kata yang ia ucapkan.
Maaf kan Mas Syafa....!
Maaf karena sudah mengecewakanmu
Maaf karena tak pernah memikirkan perasaanmu, maaf karena tak pernah mencoba berdiri pada posisimu...!
aku terdiam mencoba meresapi setiap kalimat yang ia bisikkan.
" Mas sadar sudah membuat kesalahan besar padamu, bertahun - tahun tak menghiraukanmu "
maafkan mas syafa...!
sebenarnya mas sudah berusaha melakukannya sejak lama, namun entah kenapa begitu sulit untuk memulainya.
kau tau bukan, memupuk rasa ikhlas tidak semudah mengucapkan kata itu, tapi mas akan mencoba nya lagi mulai sekarang, mas janji Syafa akan menjadi suamimu seutuhnya mulai sekarang.
aku mengurai diri dari peluknya, mengamati wajah sendu dihadapanku itu dan tersenyum.
Janji...?
Janji...!
dan hari - hari berikutnya ku rasakan jauh lebih manis dari sebelumnya terlebih saat ia tau tentang kehamilanku. pria itu berubah menjadi super protektif dan cerewet tapi aku menyukainya. iya aku sukai kebiasaan barunya sekarang, itu lebih baik bagiku.
flash back off
*hmmm...
mulai melamun, udah berapa kali mas bilang dek melamun itu gak baik buat ibu hamil*...!
ucap pria berkoko biru malam itu pada ku, ku balas dengan manyunan manja.
idiiih siapa lagi yg melamun mas, nggak kok..!
jiaelaaah masa sih...?
jadi tadi lagi ngapain mikirin mas...?
atau lagi terpesona sama kegantengan suamimu ini...?
wuahahahhahhaa masha Allah mas pedenya...!
hahaha iya lah harus pede, ngapain juga gak pede orang emang ganteng gini kok kenyataan...!
*bener kan..?
kan*...?
__ADS_1
kali ini dia menggoyang - goyangkan wajahnya kekiri dan kanan seraya menyunggingkan senyum maut berlesung pipi nya itu. aku tersenyum geli pura - pura berfikir keras atas pertanyaannya.
hahaha hmmmm tampan gak yah...?
hmm kayaknya nggak juga tuh biasa aja ah...!
biasa aja tapi kamu suka kan...?
*kan...?
kan*...?
heee eeem hahhahaha
terdengar gelak tawa Syafa dan Fatih menggema di seisi mobil sepanjang perjalanan keduanya menuju jakarta tempat dimana perlombaan Qori & Qoriah terbaik itu di adakan.
*** La Tahla Jangan Mengeluh ***
di lain tempat
*Laila kamu baru berkemas...?
woaah gila beberapa jam lagi kita akan pergi ke bandara dan dirimu baru berkemas sekarang*...?
oceh Santi pada laila disela - sela kesibukannya menyiapkan barang - barang dari list yang sudah dibuatnya.
ckckckckk
Santai aja San masih lama ini kok, ini udah hampir selesai, ku jamin kita gak bakal ketingalan pesawat.
Subhanallah Laila awas aja kalo sakpe ada yg lupa ya...!
aku sudah mempersiapkan barang - barang dan berkemas seminggu yang lalu tapi kau...!
bagaimana bisa dirimu sesantai ini dalam mempersiapkan diri untuk mengikuti perhelatan besar seperti sekarang Laila...!
*hahahaa..
tenang aja San, insya Allah list yg aku buat udah lengkap*.
*jangan lupa tambahkan, handuk, obat - obatan, minyak angin, alat tulis, pembalut, aah satu lagi jaket jgn lupa bawa itu, kamu gak kuat dingin AC kan Laila.
bawa saja itu agar kau tak kesinginan jika Ac nya terlalu dingin*.
ocehnya lagi ku tanggapi dengan senyum
siap laksanakan...!
makin lama kau jadi mirip ibuku San, cerewet ahahaha...!
awas kamu yah...!
hardik santi seolah ingin memukul kepalaku yang menghindari seraya berlari,
aaah aaaah tidak - tidak ok - ok - ok
Afwan afwan, aq tidak akan mengejek lagi...!
dan gurauan itu berakhir setelah seseorang menghampiri kami.
Laila, Santi bagaimana sudah siap...?
sebentar lagi ustadza, saya tinggal memasukkan obat - obatan dan sedikit camilan.
baiklah jika sudah selesai datanglah ke gerbang depan semua sudah menunggu kalian disana. kita akan berangkat setelah semuanya hadir.
baik ustadza...!
dan 30 menit setelahnya terlihat mereka pergi ke bandara untuk berpartisipasi pada lomba qori dan qori'ah yang diadakan.
__ADS_1
to be continue