
ba'da Maghrib seperti yang di janjikan hari itu Laila meminta izin menginap di rumah ustadza Siti, saat mereka sibuk menyiapkan beberapa kue yang akan dihidangkan terdengar suara salam dari arah pintu, Ahmad suami Ustadza Siti membuka pintu.
waalaikumsalam kang Santoso monggo silahkan masuk....
( kang Ahmad mempersilahkan bapak Santoso dan istrinya duduk di ruang tamu sedang Ustadza Siti bergegas menuju ruang tamu untuk menyambut kehadiran tamu special itu )
*selamat datang di rumah kami mba Sukma, kang Santoso dimaklumi begini adanya....
terima kasih de' haduh ndak usah repot - repot, kita kan kesini juga dalam rangka silaturahmi tooh*"
perbincangan hangat terjadi diantara teman sejawat itu ketika Laila datang bersama pembantu menyajikan teh dan beberapa kue yg telah dibuatnya bersama ustadza siti tadi sore.
ini yang namanya Laila yah...?
( tanya bu Sukma memerhatikan Laila, ustadza Siti tersenyum mengiyakan )
La' perkenalkan ini mba Sukma dan kang Santoso temen mba dan mas Ahmad.
( laila menghampiri dan menjabat tangan pasangan paruh baya itu,lalu bergegas duduk di kursi bersebelahan dengan ustadza Siti )
*jadi cuma berdua nih mba maen kesini..?
ooh ndak Ri juga ikut kok dek, cuma dia lagi terima telpon di depan.
ooo begitu*.... !!
ustadza siti melirik ke arah Laila yang terlihat tegang mendengar kata - kata Sukma.
*Assalamualaikum.....!
Waalaikumsal....lam
looh Ustadz Fahri*.....!!!
Ustadza Siti setengah berteriak terkejut melihat kedatangan Fahri, begitu juga dengan Fahri dan seisi ruangan itu tak terkecuali dengan Laila tentunya, ia yang semula hanya merunduk menengadahkan kepala karena penasaran dengan apa yang dilihat oleh ustadza siti.
*Ustadza Siti kok ada disini....?
bu...?
woalaaah kalian saling kenal yah...?
iya laah mba' yu Ustadz Fahri mengajar di pondok yang sama dengan tempat kami bekerja, ia kan Laila*....?
ustadza siti menepuk pundak Laila, membuat gadis itu menganggukkan kepala meyakinkan kata - kata yang baru di ucapkan ustadza siti.
*Mari ustadz silahkan, woalah gak nyangka jadi yang biasa mba panggil Ri itu ustadz fahri toh.
Iya dek Ri itu nama panggilan sayang keluarga.
Masha Allah ternyata bener dunia itu sempit ya mba, gak nyangka kalo fahri itu anak sampean dan kang santoso.
__ADS_1
Hehe iya dek*...!
fahri duduk di sebelah bu Sukma tepat berseberangan dengan Laila, ia mengamati ekspresi gugup gadis itu, dalam benaknya ia pun merasa terkejut dengan kejadian yang baru saja di alaminya, bisa duduk berhadapan dengan Laila dalam rangka perkenalan adalah hal yang sama sekali tak terbayangkan dibenaknya.
hal serupa juga di alami oleh Laila sungguh ia tak percaya dengan apa yg ia alami sekarang, dihadapannya kini duduk seorang pemuda yang begitu dikagumi oleh banyak wanita di tempatnya menimba dan berbagi ilmu, sungguh tak pernah ia duga jika ia akan dipertemukan dengan Fahri dalam acara perkenalan keluarga seperti ini, entah apa yang harus ia lakukan sekarang. jujur seluruh otak dan fikirannya terasa beku dan tak berfungsi bahkan jika disuruh berfikirpun mungkin ia tak sanggup saat ini.
***
malam hampir larut ketika keluarga Fahri Pamit undur diri kang Ahmad dan Ustadza Siti mengantar mereka hingga mobil, sedang Laila memilih memisahkan diri dari mereka dengan dalih membereskan piring - piring sisa makan malam mereka.
Sukma berjalan beriringan dengan Ustadza siti sebelum ia membenamkan diri ke dalam mobil Fortuner hitam itu ia sempat memeluk erat ustadza siti dan membisikkan sesuatu.
salam sayang buat Laila ya dek...!
mba seneng banget kalo dia bener - bener jadi mantu mba, dia gadis yang baik, santun, mba harap kamu bisa bantu dek.
kalimat itu hanya dibalas anggukan dan kalimat Insya Allah dari bibir ustadza Siti.
sepeninggalan ustadza siti dan para tamu Laila sibuk membereskan meja makan, dan mencuci piring bekas makan masih dengan perasaan berkecamuk.
sulit rasanya ia mempercayai apa yang baru saja di alaminya, antara mimpi dan kenyataan ia baru saja dipertemukan dengan keluarga yang mungkin saja akan menjadi bagian dari keluarganya, rasanya baru kemarin ia meyakinkan dirinya bahwa ia akan mencoba bertemu dengan keluarga pemuda yang dijodohkan ustadza dengannya.
rasanya baru kemarin ia memutuskan untuk berusaha membina hatinya kembali dengan cara berkenalan dengan pria yang mungkin akan berjodoh dengannya, namun ia sama sekali tak berfikir kalau pria itu adalah Ustadz Fahri, bahkan nama itu pun tak sempat terlintas di otaknya. Laila duduk termenung di kursi meja makan ketika Ustadza siti mendekatinya.
*Masha Allah Laila....!
entah ini takdir atau kebetulan La' mba sama sekali gak menyangka jika anak mba Sukma itu Ustadz Fahri dek, setau mba orang tua Fahri itu tinggal di kediri.
mba bener2 gak nyangka La*'....!!
ustadza siti begitu antusias membahas tentang kejadian yang baru mereka alami, sedang laila masih terduduk lemas dengan fikiran kacau, memikirkan apa yang akan ia lakukan setelah pertemuan singkat yang baru saja dijalaninya.
*La' kamu denger mba ngomong kan...?
ia mba Laila denger.....!
jadi bagaimana de' kamu mau kan ta'aruf dengan ustadz Fahri....?
dia pria yang baik dek kamu pasti tau itu*..!!
mendengar pertanyaan ustadza Siti semakin membuat perasaan Laila berkecamuk, ia sudah bisa menduga nya jika ustadza siti akan mempertanyakan hal ini cepat atau lambat.
*entahlah mba' ini benar - benar diluar dugaan Laila, entah apa yang harus laila putuskan sekarang...?
mba tau kamu terkejut dek, sama seperti kamu mba juga gak menyangka jika putra mba Sukma adalah ustadz Fahri...!
tapi percayalah dek, kejadian hari ini bukan serta merta terjadi begitu saja, ada campur tangan Allah yang membuat setiap kebetulan terjadi.
fikirkan baik - baik dek, mba yakin Fahri baik untuk kamu....!!!
jangan biarkan dirimu hancur dalam bayang - bayang semu yang berkepanjangan...!!!
__ADS_1
jika tidak kebahagiaan gak akan kunjung engkau raih Laila....!
mba yakin akan ada hikmah besar dibalik semua peristiwa, berfikirlah dek istikharah minta petunjuk Allah.
"tak ada yg bisa memberikan jalan keluar terbaik selain Allah*"
Laila tersenyum menggenggam erat tangan ustadza siti yang mencoba menyakinkannya secerca harapan timbul dihatinya.
sedetik kemudian gadis itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis ke arah ustadza siti berusaha meyakinkan dirinya.
kedua wanita itu pun memisahkan diri beristirahat ke kamar masing - masing.
malam makin larut nyanyian jangkrik terdengar merdu iringi rintik - rintik hujan, berulang kali Laila mengganti posisi tidurnya berusaha memejamkan mata namun sama sekali tak bisa membuatnya terlelap, entah kemana rasa kantuk yang biasa dirasakan matanya seolah menguap bersama dinginnya udara diluar jendela kamar.
hatinya masih berkecamuk memorinya kembali mengulang - ulang kembali perkenalan singkatnya dengan keluarga ustadz Fahri beberapa hari lalu, nasehat ustadza siti untuk beristikharah pun sudah ia jalani beberapa hari ini namun tetap saja tak ada jawaban dari Allah, hal itu lah yang menghantui fikiran Laila.
kebimbangan semakin menghantuinya kala waktu yang ia minta kepada ustadza siti untuk memikirkan jawabannya atas pinangan ibunda Fahri tempo hari sudah hampir habis, ia harus menjawab tawaran itu esok hari, namun hingga detik ini ia sama sekali belum mempunyai jawaban.
kamu kenapa sih La' dari tadi kok bolak - balik gak bisa tidur....?
Asiah yang tidur tepat diatas ranjang Laila mempertanyakan kelakuan teman sekamarnya itu.
*gak tau siah ini hati kok gak enak banget yah, dari tadi mata susah dipejamin....!!
ya wees sono tahajud la biar lebih tenang, curhatin semua yang kamu risaukan pada sang pemilik hati La' jika memang curhat kepada manusia tak membuat masalahmu hilang, cobalah untuk berbagi kepadanya....!!
iya Siah maturnuwun atuuh udah diingetin...
afwan La*'......!!
laila menutup pintu kamar melangkahkan kakinya menuju masjid Al - falah mengambil wudhu dan sholat tahajud, keadaan masjid yang sepi membuat hatinya merasa tenang, ia bersimpuh di atas sajadah menceritakan segala kegundahan hati pada Allah sang pemilik hidup.
begitu khusyu' Laila berdoa hingga tak menyadari jika ada seorang laki - laki yang memperhatikannya dari balik pintu masjid, dengan senyum tipis lelaki itu mendekati microfon di depan mimbar masjid dan mengumandangkan Azan Subuh.
Suara itu...
Suara Azan yg amat merdu membuat hati Laila merasa damai, ia begitu meresapi setiap bait yg dilantunkan oleh pemuda berkoko biru itu, entah angin apa yg membuat rasa penasaran dihati Gadis manis itu, ia berjalan ke arah tirai pemisah antara makmum lelaki dan perempuan di tengah masjid dan menyibak sedikit tirai itu, untuk melihat siapa gerangan pemuda bersuara merdu yg masih mengumandang kan azan "Allah" hanya kata itu yg bisa terucap dari bibir Laila sebelum ia tersadar dan kembali ke posisinya di syaff wanita.
*Allah berikanlah kemantapan hati hamba untuk bisa memilih diantara keduanya, antara cinta dan kasih.
ini adalah sebuah keputusan besar yang beresiko besar juga untukku ya allah. seperti yang engkau tau dia adalah pemuda yang begitu dipuja oleh Santi sahabatku maka tak seharusnya aku menerima pinangannya.
mengingat akan ada banyak hati yang terluka jika mengetahui diriku bersamanya.
namun dilain pihak ada luka yang harus aku obati dengannya. luka yang bertahun - tahun aku tahan namun hingga detik ini pedihnya masih begitu menyakitkan.
luka yang mungkin bisa sembuh karenanya
haruskah aku menerima pinangannya...?
ataukah aku harus menolaknya...?
__ADS_1
to be continue