La Tahla Jangan Mengeluh

La Tahla Jangan Mengeluh
Tutup Usia


__ADS_3

Bandung


sebuah rumah d kawasan komplek perumahan " Pelita Bandung Raya" pagi itu terlihat ramai begitu banyak mobil terparkir di jalan sekitar komplek perumahan minimalis itu. disepanjang jalan terlihat beberapa wartawan tengah sibuk dengan tugasnya, beberapa Reporter terlihat tengah mewawancarai seseorang laki - laki paruh baya yg mengenakan kemeja batik coklat dan peci putih di kepalanya.


*jadi bagaimana keadaan suami Allmarhummah pak...?


apakah suaminya akan mengajukan tuntutan kepada pihak tersangka*...?


berbagai macam pertanyaan - pertanyaan serupa yg berulang kali di tanyakan oleh para wartawan yg bertugas meliput acara pemakaman hari itu.


nguing... nguing... nguing....


sebuah mobil ambulan berhenti di pekarangan rumah yg telah di penuhi dengan sanak keluarga dan tetangga yg datang melayat juga para wartawan yg hendak meliput acara pemakaman hari itu.


para pelayat dan tuan rumah yg terlihat duduk dikursi - kursi yg di persiapkan oleh panitia amal kematian di komplek itu segera berdiri dan sedikit menepi memberikan ruang untuk orang - orang membawa jenazah yg telah siap dikebumikan itu untuk dimasukan ke dalam rumah duka. terdengar isak tangis dari beberapa keluarga, seorang ibu terlihat histeris saat tubuh tak bernyawa anak tersayangnya terbujur kaku, tangisnya tak berhenti mengingat betapa ia sangat menyayangi putrinya.


putri yg selama ini selalu bersikap santun dan perhatian padanya dan suami, tangisnya semakin menjadi kala ia teringat jika putri yg tengah mengandung 4 bulan itu harus pergi dengan membawa serta calon cucu yg ada di rahimnya.


sementara si ibu ditenangkan oleh beberapa sanak saudara yg mendampingi, terlihat seorang pemuda tengah duduk tepat disamping jenazah, ia menatap wajah pucat istri yg dicintainya itu tanpa ekspresi, pemuda itu terlihat gamang, tak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya bahkan air matapun tak sempat lagi ia teteskan. Matanya kosong dari ekspresi wajahnya terlihat jelas jika ia menahan begitu banyak sesak dalam hatinya.


bukan berarti ia tak bersedih dengan kematian istrinya namun ia masih belum bisa percaya dengan kenyataan yg ada, sulit sekali ia mempercayai semuanya.  rasanya baru kemarin ia bercanda dengan wanita itu, menggodanya dan berngobrol dengan calon bayi yg ada dalam kandungan istri tercintanya namun kini apa yg ia lihat dihadapannya saat ini...?


yang ia lihat saat ini adalah istri sholeha nya terbujur kaku tak bernyawa, istri tercintanya kini telah pergi menghadap yang kuasa dengan membawa serta buah cinta mereka, perih rasanya menghadapi ujian yg diberikan Allah padanya saat ini, bahkan terasa jauh lebih perih dari pada ujian berat yg telah ditempuhnya ketika ia harus merelakan cinta terpendamnya pada farah dan harus belajar mencintai syafa istrinya.


Fatih yg kini masih menatap kosong wajah pucat Syafa itu terkesiap ketika bahunya disentuh seseorang, ia menolehkan kepalanya melihat seorang pria yg telah lama tak ditemuinya, ia tatap lagi wajah pemuda itu ada rasa tak percaya melihat pemuda itu bisa hadir di rumahnya setelah sekian lama tak saling memberi kabar.


fatih tersenyum samar membalas pelukan dan tepukan belasungkawa di bahunya dari pemuda yg dulu adalah sahabat karibnya ketika masih menimba ilmu di Al - Azhar entah siapa yg memberikan kabar padanya hingga ia bisa hadir saat ini.


*turut berduka Sobb....!!


ana harap ente sabar tih, yakinlah Allah mempunyai rencana indah dibalik setiap ujian*...!!


ucap laki - laki itu masih menepuk - nepuk pundak fatih.


na'am....!!!


ana akan berusaha sabar dan ikhlas....!!


fatih tersenyum kecut setelah kata - kata dari bibirnya itu keluar.

__ADS_1


" sabar dan ikhlas..? "


bisakah ia melakukan nya..?


setelah semua perjuangan panjang yang ia lakukan, setelah semua usahanya untuk melupakan farah lalu belajar menggantikannya dengan Syafa, dan kini setelah cintanya sudah mulai mendalam pada istrinya Allah kembali memberi ujian yang entah bisa atau tidak ia lewati.


Masih teringat jelas olehnya hari - hari berat itu, 3 tahun tentu bukan waktu yang sebentar baginya untuk belajar melupakan bayang - bayang Farah dan belajar menerima Syafa sebagai istrinya.


huuufsh fatih menghela napas berat, pemuda yg duduk disampingnya itu menggenggam dan mengusap tangan kanan fatih mencoba memberi semangat padanya. seolah pemuda itu mengerti apa yg dirasakan sahabatnya saat ini.


Adzan Ashar berkumandang dari masjid yg berada di tengah komplek itu, keluarga dan para pelayat terlihat melaksanakan sholat berjamaah sebelum mereka menyolatkan jenazah berlanjut dengan menguburkannya di tempat perkuburan Umum yg berada 1km dari komplek.


nama : Syafaatull illmi


lahir : Palembang 15 januari 90


wafat : Bandung 17 maret 2019


hari telah menjelang sore para pelayat yg ikut mengantar jenazah di kebumikan satu per satu mulai meninggalkan rumah duka begitu juga para wartawan yg telah menyelesaikan tugasnya meliput jenazah salah satu korban kecelakaan di puncak Bogor tempo hari.


ikhlaskan sobb ana yakin ente bisa melewati ujian ini....!!


bagaimana ente bisa tau ana ada disini..? fatih tergelitik untuk bertanya


*dua hari yg lalu ana menghadiri acara kompetisi qori terbaik se Indonesia di Jakarta sobb, saat itu ana diminta pihak panitia untuk mengisi acara sebagai qori pembuka acara menggantikan qori yg berhalangan hadir, nah setelah acara selesai ana tanya dengan pihak panitia siapa qori yg ana gantikan itu eeeh ternyata ente sobb sahabat lama ana.....!


ana juga dapet kabar tentang musibah yg ente alami dari pihak panitia maka setelah acara selesai ana meminta izin cuti untuk menemui ente*....!!


pemuda itu menjelaskan semua pertanyaan - pertanyaan yang hinggap di fikiran fatih.


sungguh Allah maha penyayang sobb saat ana butuh sandaran dia mengirimkan ente untuk membantu ana....!


fatih kembali tersenyum kecut menatap nanar halaman rumahnya.


" *Allah nggak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuan hambanya... "


ente harus sabar sob....!!!


makasih ri*...!!

__ADS_1


3 hari sahabat lamanya itu menginap dikediaman fatih menghabiskan malam takziyah, kini para keluarga mertua dan Ayah juga Nadia pun sudah mulai meninggalkan rumah duka kembali ke palembang. Meninggalkan fatih dan umi sendiri, iya wanita paruh baya itu memutuskan tinggal dan menetap sementara di bandung untuk menemani anak laki - lakinya itu.


stasiun kereta api Bandung


Fatih berdiri berhadapan dengan pemuda yg telah menjadi sahabat karibnya saat kuliah di Al Azhar itu, mereka berdiri menunggu kehadiran kereta jurusan bandung - kediri yg sesuai jadwal akan tiba 15 menit lagi.


Fahri....!!


syukron ente sudah mau menemani ana 3 hari ini...!


fahri tersenyum melihat fatih ada rasa iba dihatinya melihat raut wajah sendu sahabat dihadapannya itu.


*Afwan sobb cuma itu yg ana bisa bantu untuk sekarang....!!!


tapi ente tenang aja kapanpun ente butuh ana ente boleh telpon atau datang ke pesantren tempat ana ngajar*....!!


*na'am pasti suatu hari ana akam mampir ke pesantren ente itu, penasaran juga ana pengen ngeliat langsung ente mengajar ckckckkk...!


hahahaha yang pasti murid ana gak ana ajarkan ngebolos la sobb...!


diajarin juga gak papa lagi, emanh ente demennya gitu kan saat kuliah dulu*...!


hahahaha ( keduanya tertawa )


tuuuut....tuuuut.....


terdengar suara kedatangan kereta api yg akan ditumpangi fahri, kini pemuda itu bersiap beranjak dari tempatnya menuju salah satu gerbong di dalam kereta api itu.


syukron atas bantuan nya sobb...!!


hati hati di jalan.....!!!


fatih tersenyum mengakhiri pertemuan mereka sedang fahri melambai - lambaikan tangannya tanda perpisahan sementara dengan sahabat lamanya itu sedetik kemudian kereta pun berjalan meninggalkan fatih yg masih berdiri ditempatnya memandang kepergian sahabatnya.


to be continue


***


terkadang kita dipertemukan bukan untuk disatukan, namun hanya sebagai ujian agar diriku dan dirimu lebih bisa belajar arti dari sebuah perjuangan.

__ADS_1


__ADS_2