LEGENDA PENDEKAR PEDANG LING

LEGENDA PENDEKAR PEDANG LING
58. Karamahan Keluarga Monsul Khan.


__ADS_3

Di ujung Timur Cakrawala! Matahari yang telah membuka mata. Terbit tanpa mendung, benih kehidupan telah lahir.


Sebagai notif pengingat di mulainya banyak darah mengalir dari rahim sebab akibat. Itulah sebabnya! Langit berwana merah, saat pagi menyapa.


Di dataran pengunungan salju! Tenda, Pemukiman keluarga Monsul Khan.


Terlihat anak muda itu, telah selesai membersihkan diri dan beranjak keluar dari dalam tenda.


Terlihat anak muda itu, sedang memperhatikan aktivitas kehidupan suku pengunungan salju di pagi hari.


Tiba-tiba sosok gadis bermata cerah dan berwajah khas oriental suku pegunungan berdiri di depan tenda pemuda itu dan menyapanya.


"Tuan Dugu, ternyata anda telah bangun! Saya datang ke pintu tenda anda, untuk menyampaikan pesan dari ayah," Ucap gadis itu dan berkata;" Ayah dan Ibu telah menunggu Tuan Dugu di depan."


"Eh, Salam nona Naran! " Ling Qiubai terkejut manyapa gadis berwajah oriental itu dan berkata;" Nona silakan."


Gadis bermata cerah dan berwajah oriental itu, tidak lain adalah putri tertua Monsul Khan, Naran Khan.


Setelah beberapa saat, Ling Qiubai telah berada di depan tenda Keluarga Monsul Khan.


"Tuan Dugu, anda telah datang! silahkan duduk, jangan sungkan," Ucap Monsul Khan dengan menatapnya dan berkata; " Semua jamuan ini adalah di siapkan oleh istri dan di bantu kedua putriku."


"Terima kasih Tuan Monsul, Nyonya Khan dan Kedua Nona Khan." Ucap Ling dengan sopan dan beranjak duduk di salah satu bangku kosong disi Tuan Monsul Khan.


Terlihat Monsul Khan dan Istrinya telah membuat perjamuan untuknya. Dengan menikmati hidangan di atas meja sambil membuka percakan di antara mereka.


"Tuan Dugu, apakah anda akan melanjutkan perjalanan ke kota Karqan, pagi ini? " Kata Monsul sambil mentap Ling Qiubai.


"Ya," Ling Qiubai mengantuk.


"Apakah Tuan Dugu, tidak tinggal beberapa hari dulu disini? " Ucap Nyonya Khan dengan .


"Terima kasih Nyonya Khan! Tapi saya harus segera melanjutkan perjalanan ke Utara. Karena ada sesuatu hal yang harus saya lakukan," Ucap Ling Qiubai dengan serius.


"Jika Tuan Dugu telah memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pagi ini! Kami telah menyiapkan beberapa perbekalan selama perjalanan," Ucap Nyonya Khan dengan perhatian.


"Naran cepat kedalam tenda, bawalah keluar perbekalan yang telah di siapkan untuk Tuan Dugu." Kata Nyonya Khan pada putri tertuanya.


Ling Qiubai, baru semalam berkenalan dengan Keluarga yang beranggotakan enam orang ini.


Tapi telah memberikan kesan hati, karena ketulusan dan keramahan keluarga Monsul Khan, seperti berada dibawah atap perhatian keluarga.


Karena sedari kecil ia tidak pernah melihat sosok ibu yang melahirkannya. Di usia 12 tahun, ia harus berpisah dengan sosok ayah tunggal yang selalu memberikan perasan perlindungan keluarga.


Selama empat tahun di klan Ling, hanya Ling Meng'er dan Ling Jian Lan yang memberinya perasan memiliki keluarga. Namun, semua hanya sesaat, semenjak penghianatan mereka terhadapnya.


"Tuan Dugu. Jika di masa depan Anda melewati penggunungan salju ini, anda jangan lupa menyapa kami di sini," Kata Monsul Khan sambil menatapnya dengan serius.


"Naran ayo, berikan perbekalan itu pada Tuan Dugu, " Kata Nyonya Khan pada putrinya.


Naran melangkah ke depan Ling Qiubai dengan tersipu malu dan berkata ;" Tuan Dugu, ini perbekalan anda. Mohon di terima,"


"Nona Naran, terima kasih!" Ling Qiubai mengambil perbekalan itu dan berkata kembali;" Nona Naran, jika di masa depan kita bertemu kembali, jangan panggil saya dengan sebutan Tuan! Panggil saja saya dengan nama Jianling."


Setelah mendengar perkataan Ling Qiubai, Naran semakin tersipu malu.

__ADS_1


Monsul dan Istrinya melihat perilaku anak gadisnya tidak biasa terhadap Ling Qiubai, mereka menatap putrinya dengan prasaan bahagia dan tersenyum.


Walaupun mereka mengenal Ling Qiubai baru sesaat, namun dalam penilainnya hati mereka. Ling Qiubai telah membuat kesan khusus di hati mereka.


Ling Qiubai adalah sosok pemuda yang memiliki kepribadian baik, terlebih dia sangat tampan dan sangat sopan terhadap orang yang lebih tua.


Mereka tidak akan menolak, jika menyerahkan salah satu putri mereka untuk di rawat oleh Ling Qiubai.


"Tuan Dugu, Kendi ini berisi Anggur Embun Salju untuk menemanimu selama perjalanan ke kota Karqan, ambilah! " Ucap Nyonya Khan sambil menyerahkan kendi yang berisi anggur embun salju.


"Tuan Dugu, anda harus menjaga diri baik-baik. Perjalanan ke Utara tidak mudah, banyak bahaya yang harus anda lewati." Kata Monsul sabil tersenyum padanya.


"Tuan Monsul dan Nyonya Khan, dan Kedua Nona Khan. Terima kasih atas semuanya! Jika tidak ada lagi hal lain, saya akan melanjutkan perjalanan sekarang," Ucap Ling Qiubai dengan kesan hormat.


"Jianling Hati-hati! " Naran berkata sambil mengangkat kepalanya, terlihat matanya sedikit berkaca-kaca.


"Ya," Setelah mengangguk, Ling Qiubai berbalik dan melangkah melanjutkan perjalanannya ke Kota Karqan.


Setelah kepergian Ling Qiubai! Terlihat Naran menatap punggung Ling Qiubai dengan air mata yang telah tertumpah di kedua pipinya.


Monsul Khan dan Nyonya Khan melihat perilaku putri mereka, segera memeluknya dan menenangkannya.


..................


Waktu 4 jam telah berlalu begitu cepat! Keluar meninggalkan wilayah penggunungan salju.


Ling Qiubai saat ini berada jauh dari pengunungan salju. Tepatnya, ia berada di kawasan hutan Konifer, tiga kilo dari Kota Karqan.


Di balik batu Cadas setinggi dua meter!


"Tidak terasa perjalanan menuju ke utara sangat tenang tanpa ada masalah apapun, selama perjalanan," Ling Qiubai bergumam pada dirinya sendiri.


"Seharusnya! Tidak jauh dari hutan ini adalah Kota Karqan... "


BHOOMMM~~~!


Namun tiba-tiba, ia di kagetkan oleh suara pertarungan kelompok, dua puluh meter dari tempatnya beristirahat.


"Hmm, Sepertinya di depan sana ada beberapa pendekar yang bertarung!" Kata Ling Qiubai dan berinisiatif mengintip seperti apa sosok pendekar yang bertarung.


Di balik batu cadas, Ling Qiubai menyaksikan sepuluh orang pendekar dengan kekuatan rata-rata dari mereka semua, berada di ranah Alam Laut Spritual Tingkat Puncak, dan dua orang di Alam Inti Emas Tingkat Awal.


Mereka adalah lima wanita dengan setelan pakaian putih salju. sedangkan lawan mereka adalah lima pedekar pria dengan setelan pakaian biru laut.


Mereka terlihat sedang membuka percakapan di antara mereka!


"Murong Yan! apakah begini sikap kalian sesama anggota Aliansi Bendera Lima Warna? " Kata seorang gadis yang sedang menteng pedangnya kearah seorang pemuda.


"Nanggong Yining, ini hanya kesalah pahaman. Kami berlima tidak sengaja lewat dan kami tidak melihat kalian berlima di sana sedang...!" Kata Pemuda yang bernama Murong Yan itu serius.


"Bajingan, pergilah ke neraka! " Gadis bernama Nanggong Yining itu meraung mengutuk pemuda di depannya dan lansung meyerangnya.


BHOOOM~~~!


Namun pemuda bernama Murong Yan, sama sekali tidak serius bertarung dengan gadis bernama Nanggong Yining.

__ADS_1


"Uhg! "


Terlihat pemuda bernama Murong Yan mundur sepuluh langkah, di sela mulutnya ada jejak darah segar dan lengan kirinya ada sobekan pedang.


"Tuan Muda~! "


Tiba-tiba pertarungan mereka semua terhenti, empat rekan pemuda bernama Murong Yan berteriak dan menghampirinya.


Sambil menatap gadis bernama Nanggong Yining, Pemuda yang terluka itu berkata;" Nanggong Yining, kami benar-benar tidak sengaja dan tidak melihat! Jika kamu ingin membunuh ku, saya tidak akan menahanmu."


"Tuan Muda, tidak! " Ucap keempat orang rekannya.


"Kalian jangan berani memblokir serangannya untuku, jika kalian masih ingin hidup." Ancam pemuda yang bernama Murong Yan kepada keempat rekannya.


Namun sikap gadis bernama Nanggong Yining, masih memiliki niat membunuh di matanya yang sangat intens, kepada pemuda bernama Murong Yan.


WHOOOSSS~!


Tiba-tiba gadis itu melesat dan menebas kan pedangnya ke arah pemuda yang bernama Murong Yan, terlihat pemuda itu menutup matanya, siap menerima serangan tanpa memblokirnya.


"Hiyyyaaah~! "


Sebelum ujung bilah pedang dari gadis bernama Nanggong Yining itu mencapai dada pemuda itu.


BHOOOMMM~~!


Tiba-tiba tebasan pedang di blokir, sedangkan pedang di tangan gadis itu terlepas dari tangannya.


"Siiapa...Siapa itu!"


"Keluar, tunjukan dirimu!"


Gadis bernama Nanggong Yining meraung marah, karena serangannya di blokir secara tiba-tiba oleh seseorang.


"Siapa...disana...keluar!"


Segera keempat rekan dari gadis bernama Nanggong Yining menghampiri nya dan dengan melirik setiap sisi hutan, mencari keberadaan orang yang telah memblokir tebasan pedang tersebut.


Sementara Murong Yan kembali di hampiri oleh keemapat rekannya sambil mencari orang yang telah memblokir serangan pedang, dari Gadis bernama Nanggong Yining.


"Benar-benar pemandangan yang sangat konyol!"


Bersambung... 👆


...Terima kasih...


Semoga Terhibur.


Pembaca terhormat yang saya tidak hormati seperti upacara bendera.🖐


Satu dukungan kalian sangat membantu melunasi utang secangkir Caffeine author di Warkop Bu Juminten😁. 🤫


Para Geng "LPPL" Selalu jaga kesehatan, panjang umur, rezekinya makin meningkat, ibadahnya makin khusyuk, dan yang jomblo semoga di pertemukan jodohnya. Aamiin🙏🌹


JL. Stay to Follow, Like, and Komang

__ADS_1


__ADS_2