
Di bawah langit malam terlihat Xu Jia memasuki Istana Yongping dengan tergesa-gesa. Ekspresi wajahnya tampak sangat serius dan dengan langkah panjang dia pergi ke ruang belajar Zhou Ziyang. Xu Jia membungkuk di hadapan Zhou Ziyang untuk memberi salam.
Zhou Ziyang tengah membaca sebuah gulungan kayu. Dia mengangkat kepalanya untuk melihat Xu Jia. "Ada kabar apa?"
"Yang Mulia, Jiang Yu keluar dari penginapan dan mengikuti A Heng dari Kediaman Liu. Aku telah memerintahkan seseorang untuk mengikuti mereka," jawab Xu Jia.
"Apa ada tindakan dari Liu Qingqing?"
"Nona Kedua Liu tidak melakukan tindakan apa pun yang mencurigakan. Dia hanya berlatih pedang tadi pagi dan waktu luangnya akan dihabiskan untuk membaca buku di halaman belakang. Bahkan dia tidak pernah keluar dari penginapan sampai sekarang ini."
"Lalu, apa kamu sudah menemukan untuk apa Jiang Yu datang ke Kediaman Liu?"
Xu Jia tidak menjawab secepat sebelumnya. Dia agak takut mendengar suara dingin Zhou Ziyang. "Belum, Yang Mulia. Orang kita hanya melihat Jiang Yu kembali ke penginapan seorang diri. Setelah itu dia tidak melakukan gerakan apa pun."
Mendengar penjelasan Xu Jia, Zhou Ziyang menghentikan kegiatan bacanya. "Mereka sepertinya akan mulai bertindak dan menjadikan A Heng target pertama."
"Yang Mulia, apa yang akan kita lakukan? Apa aku perlu membantu A Heng?" tanya Xu Jia.
"Tidak perlu, kita cukup mengawasinya saja. Aku ingin lihat bagaimana putri Jenderal Liu akan bertindak!" Zhou Ziyang tampak tersenyum, tetapi itu hilang dalam sekejap. Dia bangkit dari kursinya, lalu menghampiri Xu Jia. Tangan Zhou Ziyang terulur menepuk bahu Xu Jia. "Mari, pergi!"
Sontak Xu Jia bertanya, "Ke mana, Yang Mulia?"
"Melihat sesuatu yang harus dilihat!" jawab Zhou Ziyang sembari berjalan pergi.
Mendengar jawaban tuannya membuat dahi Xu Jia berkerut. Dia menghela napas panjang sebelum mengikuti di belakang Zhou Ziyang. Xu Jia begitu patuh meski tidak tahu ke mana tujuan mereka.
Lentera yang digantung di setiap sudut Kediaman Liu bergoyang tertiup angin. Sebuah bayangan hitam menerobos masuk melalui sisi sayap kiri. Dia melompat dari tembok luar dan memanfaatkan pohon bunga persik di sisi pojok untuk pijakan sebelum turun ke bawah.
__ADS_1
Bayangan itu meminjam dinding samping kamar Liu Qingqing untuk bersembunyi. Matanya menelisik setiap sudut yang dijaga oleh penjaga. Dari tempatnya dia bisa melihat empat orang sedang menjaga kamar di sayap kanan kediaman.
Empat orang itu hampir memiliki tinggi yang sama. Mereka terlihat sedang asyik mengobrol. Di antara mereka ada satu orang dengan luka di wajahnya dan dia dipanggil 'Dage' oleh yang lain.
Bayangan hitam itu mengambil kesempatan untuk meluncur pergi ke tujuannya, di saat empat penjaga sedang sibuk dengan obrolan mereka. Dalam sekejam dia sudah berada di belakang kamar Li Shu. Dia melubangi jendela, lalu mengambil bambu kecil dari lengannya.
Orang itu meniup bambu kecil untuk memasukan obat tidur. Li Shu yang sedang berada dalam ruangan tidak sengaja menghirup obat tersebut yang bercampur dengan udara kamar. Tak lama kemudian kesadaran Li Shu berkurang dan berlahan-lahan kepalanya terkulai di atas meja.
Melihat Li Shu sudah tak sadarkan diri, tamu tak diundang itu masuk ke kamar dengan sangat hati-hati. Dia mengendap-endap untuk memeriksa seisi ruangan. Aksinya benar-benar tidak disadari oleh penjaga di luar pintu kamar.
Setiap laci meja dia buka dengan gerakan sangat pelan. Tangannya selalu berpindah dari benda yang satu ke benda lain. Pandangan orang itu menajam, benar-benar tidak membiarkan sesuatu lolos dari pemeriksaannya.
"Di mana Li Shu menyembunyikan benda itu! Aku harus segera menemukannya!" gumam si bayangan hitam dengan pelan.
Orang itu berpindah ke arah rak buku yang cukup tinggi. Dia mencoba mencari di sana, tetapi tidak menemukannya juga. Tiba-tiba tangannya memegang sebuah batu tinta yang membuat dia penasaran karena benda itu tidak bisa diangkat.
Ruangan itu tidak terlalu besar berbentuk persegi. Dia masuk dan menemukan beberapa kotak kayu dengan ukuran berbeda. Mencari dengan teliti akhirnya dia menemukan barang yang diinginkan, satu kotak kecil dan satu kotak merah berukuran sedang. Dia mengambil benda di dalam kotak kecil, lalu meletakkan kembali kotak kecil tersebut di tempat semula.
Dia tersenyum. "Akhirnya ketemu."
Setelah selesai dengan misinya, orang itu segera keluar ruangan dan memutar kembali batu tinta. Rak buku sebagai pintu gerbang harta karun di tempat rahasia kembali tertutup rapat. Dia meluncur pergi meninggalkan Li Shu yang masih belum sadarkan diri.
Malam itu sepertinya Dewa sedang berbaik hati kepada sosok berpakaian laki-laki serba hitam bercadar. Aksinya sejauh ini sangat lancar, tidak ada halangan sama sekali. Jika tahu akan mendapatkan hasil yang begitu baik, dia tidak akan repot-repot menunggu sampai saat ini.
Bayangan itu tidak langsung meninggalkan Kediaman Liu, tetapi dia pergi ke arah kamar belakang. Di mana semua pelayan kediaman tinggal. Dia masuk ke dalam sebuah kamar dan meletakan kotak merah di laci meja paling bawah.
Kemudian dia keluar dari kamar dan berniat meninggalkan Kediaman Liu. Namun, sangat disayangkan aksi orang itu diketahui oleh kepala pelayan. Ketika kepala pelayan hendak berteriak 'Penyusup' sebuah belati terbang secepat kilat ke arahnya. Belati tersebut menancap di leher kepala pelayan membuat ucapannya tertinggal di tenggorokan dan berakhir kehilangan nyawa.
__ADS_1
Suara tubuh yang ambruk ke lantai terdengar oleh beberapa penjaga. Bayangan hitam itu dengan cepat segera meluncur pergi, tetapi gagal karena empat penjaga kamar di sayap kanan memergokinya.
Seorang penjaga berteriak, "Ada penyusup!"
Sebelum penjaga lain datang bayangan hitam itu segera melawan empat penjaga bermarga Meng. Dia melemparkan empat jarum beracun dengan jarinya ke arah penjaga. Meski lemparan orang itu bisa dikatakan bagus, tetapi hanya dua jarum yang berhasil melukai dua pelayan. Jika benda kecil itu tidak dilapisi racun yang mematikan pasti tidak akan bisa mengambil nyawa dua penjaga bermarga Meng secepat itu.
Melihat saudaranya meninggal dalam sekejap mata, penjaga yang dipanggil 'Dage' menyerang dengan ganas. Matanya memerah dipenuhi amarah. Setiap tebasan dari pedang di tangan orang itu memiliki dendam untuk mengambil nyawa si bayangan hitam.
"Aku akan membunuhmu!" teriakan penjaga dengan panggilan 'Dage'. Suaranya menggelegar memecah keheningan malam, seolah-olah seluruh Kediaman Liu dipenuhi oleh suara orang itu.
"Dage, mari kita bunuh orang ini bersama-sama!" seru penjaga bermarga Meng yang lain. Kemarahannya telah memuncak dengan kebencian sangat dalam. "Akan aku penggal kepala orang ini untuk menenangkan saudara kita!"
"Itu tergantung kemampuan kalian!" ujar si bayangan hitam dengan sorot kedinginan.
Diserang dari dua arah, depan dan belakang membuat si bayang hitam harus menjaga konsentrasinya dengan ketat. Ketika dia sedang mengayunkan pedang ke penjaga yang ada di depannya, dari arah belakang juga meluncurkan serangan. Namun, bayangan hitam itu segera mengangkat sarung pedangnya untuk menangkis serangan tersebut.
Derap langkah yang mendekat ke arah sayap kanan kediaman terdengar sangat keras. Hal itu menyadarkan si bayangan hitam untuk segera menuntaskan pertarungannya. Dia tidak memiliki waktu untuk bermain dengan para penjaga di halaman Kediaman Liu.
"Aku harus segera pergi dari sini. Jika tidak, aku akan kehilangan nyawa." pikir si bayangan hitam.
Penjaga bermarga Meng tidak mengendurkan serangannya sama sekali. Mereka terus melayangkan serangan ke arah bayangan hitam. Sepasang adik dan kakak saling bekerja sama untuk segera mengambil nyawa si bayangan hitam sebagi pembalasan untuk nyawa saudara mereka.
Ketika pedang kedua saudara itu mengarah ke bayangan hitam, dia segera menghindar dengan memutar tubuhnya. Dia memanfaatkan kesempatan itu untuk melemparkan segenggam bubuk putih beracun ke arah lawan. Tidak dapat menghindar tepat waktu, mata kedua penjaga bermarga Meng terluka parah sehingga mereka melolong kesakitan.
Kedua penjaga itu tidak bisa membuka mata karena mata mereka menjadi merah dan bengkak. Ketika mata mereka diusap dengan tangan, darah merembes keluar dari sana. Bayangan hitam mengambil momen tersebut untuk melayangkan serangan terakhir, mengesekusi mereka dengan tebasan yang mematikan.
Pada saat itu puluhan penjaga lain datang untuk menangkap bayangan hitam, tetapi dia segera melompat ke atap dan meluncur pergi.
__ADS_1