
Angin musim gugur bertiup cukup kencang membawa rasa dingin yang sejuk. Sepasang nona dan bawahan masih setia duduk di kamar menikmati kenyamanan dengan ditemani secangkir Teh Tieguanyin.
Liu Qingqing mengangkat ujung bibirnya ke atas membentuk senyuman manis. Suara gadis itu terdengar lembut saat mengatakan, "Liu'er, kamu semakin pintar sekarang. Aku tidak langsung menjawab bukan karena tidak merasa nyaman, tetapi hanya sedikit bingung harus mulai dari mana menceritakan semuanya kepadamu."
"Nona, kamu bisa mulai dari mana saja. Aku akan mendengarkannya dengan baik," jawab Bai Liu menampakkan senyum yang indah.
"Baiklah, Liu'er. Aku akan menceritakan kisahku, tetapi ini mungkin akan membuatmu sedikit bingung."
Bai Liu memberikan anggukan kecil, seperti murid yang patuh di hadapan gurunya.
Liu Qingqing menarik napas dalam-dalam sebelum dia bercerita. Gadis itu memberi tahu Bai Liu tentang dirinya yang bernama Xiao Qing, termasuk pekerjaannya sebagai wakil ketua organisasi pembunuh bayaran. Satu hal yang tidak Liu Qingqing katakan yaitu tentang jiwanya yang masuk ke dalam tubuh tokoh cerita fiksi, tetapi ke dalam cerita sejarah. Dia mengakui dirinya berasal dari dunia masa depan.
Bai Liu mendengarkan dengan sangat baik. Ekspresi wajahnya sering berubah sepanjang Liu Qingqing bercerita. Terkadang dia terlihat mengerutkan kening, tetapi juga sering menunjukkan kekaguman.
"Nona, jadi kamu dari dunia masa depan dan mengetahui semua hal yang bakal terjadi?" tanya Bai Liu. Dia merasa kebingungan dengan cerita Liu Qingqing karena baginya perpindahan jiwa adalah hal misterius dan hampir tidak pernah terjadi selama bertahun-tahun.
Liu Qingqing mengangguk. "Iya, Liu'er. Aku berasal dari dunia masa depan dan dalam sejarah diceritakan tentang kisah kalian. Hanya saja semua orang yang aku temui di dunia ini agak berbeda dalam cerita."
"Jadi alasan Nona menolak lamaran Pangeran Pertama Zhou Yicheng untuk menghindari nasib buruk? Lalu, akankah Nona kembali ke dunia masa depan lagi?"
"Sangat benar, Liu'er. Aku tidak ingin kamu dan nonamu terus menderita jadi aku harus melawan orang-orang jahat untuk melindungi kalian. Ini alasan aku membunuh A Heng dan Guo Li." Liu Qingqing berhenti sejenak, lalu menghela napas dengan berat. "Untuk masalah aku akan kembali ke dunia masa depan atau tidak, itu tergantung keputusan sang Dewa. Setidaknya selama aku berada di dunia ini, aku harus melakukan hal baik demi mendapatkan karma baik."
Wajah Bai Liu menampakkan raut kesedihan. Di memegang punggung telapak tangan Liu Qingqing, lalu menepuknya dengan lembut. "Nona, pasti Dewa akan memberikan karma baik kepadamu karena kamu punya hati yang baik. Jadi, Nona tidak perlu khawatir dan aku akan selalu berada di sisimu selama kamu berada di sini."
"Terima kasih, Liu'er. Kamu sungguh anak baik," ujar Liu Qingqing dengan suara lembut.
"Nona, aku jadi khawatir kalau kamu terus melawan Yang Mulia Pangeran Pertama. Apa dia tidak akan menyakitimu?" tanya Bai Liu.
__ADS_1
"Liu'er, kamu tenanglah! Aku sudah menyiapkan berbagai rencana untuk melawan Pangeran Pertama Zhou Yicheng, tetapi sayangnya aku belum bisa bekerja sama dengan Pangeran Kedua Zhou Ziyang. Jika aku mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan dia dan meminjam kekuasaannya untuk melawan Pangeran Pertama Zhou Yicheng itu akan memudahkan rencanaku."
Melihat raut kecewa Liu Qingqing, Bai Liu mencoba menghiburnya. "Nona, aku yakin cepat atau lambat kamu akan bertemu dengan Yang Mulia Pangeran Kedua. Kamu bisa memikirkan cara untuk bekerja sama dengannya dan aku pasti akan membantumu!"
Liu Qingqing tersenyum melihat ketulusan Bai Liu. "Baiklah, Liu'er. Aku akan memikirkannya pelan-pelan."
Liu Qingqing tidak menyadari bahwa sebetulnya dia pernah bertemu dengan Zhou Ziyang. Bagaimanapun dia tidak bisa menebak satu dari jutaan ribu orang hanya dengan penjabaran detail karakter dalam novel yang cukup terbatas. Seperti halnya ketika gadis itu bertemu dengan Zhou Yicheng, dia tidak langsung bisa menebaknya.
Zhou Ziyang yang diharapankan oleh Liu Qingqing sedang sibuk di halaman terbuka. Hari ini dia kedatangan tamu istimewa yaitu Zhou Jun, adik tirinya. Mereka duduk di kursi batu dengan ekspresi berbeda, satu orang tampak tenang dengan sebuah buku dan satunya lagi terlihat cemberut sepanjang waktu.
"Zhou Jun, wajahmu sangat tidak enak dipandang. Jika kamu kesal terhadap seseorang lekas pergi dari sini dan lampiaskan amarahmu kepadanya," ujar Zhou Ziyang di sela-sela membaca buku.
Zhou Jun mengerucutkan bibirnya dan berkata dengan muka masam. "Kemarin Ayah memintaku untuk mengunjungi Kakak Pertama, tetapi kedatanganku tidak disambut dengan baik. Dia terlihat sangat marah dan hari ini setelah kembali dari istana aku berniat memeriksa keadaannya, tapi dia sudah pergi ke Kediaman Liu. Sekarang aku datang ke sini pun tidak dipedulikan oleh Kakak Kedua. Masih bisakah aku tidak kesal?"
"Kalau aku tidak memedulikan dirimu kenapa kita berada di sini sekarang?" Zhou Ziyang meletakkan bukunya di atas meja. "Kamu mengatakan Kakak Pertama pergi ke Kediaman Liu. Apa kamu tahu untuk apa dia berkunjung pagi-pagi?"
Dahi Zhou Ziyang berkerut. "Memangnya ada masalah apa?"
"Nona Kedua Liu mengirimkan kotak hadiah berisi pakaian berlumur darah, ini jelas tindakan yang sangat tidak sopan. Meski aku tidak tahu akar masalahnya, tetapi ini sudah sangat keterlaluan. Kakak Pertama jelas tidak akan mentolerir masalah ini."
Zhou Ziyang tampak berpikir. Kerutan di dahinya terlihat semakin banyak dengan bibir terkantup rapat-rapat. Lelaki tampan itu benar-benar tidak mengatakan satu kata pun.
Zhou Jun melanjutkan kembali perkataannya. "Nona Kedua Liu jelas dalam masalah besar, karena Kakak Pertama bukanlah orang yang mudah untuk diprovokasi. Tetapi, aku menemukan kejanggalan dalam masalah ini."
"Apa yang kamu temukan?" tanya Zhou Ziyang dengan ekspresi serius.
"Aku menemukan masalah ini tidak sampai ke istana. Di pengadilan istana tadi pagi pun tidak ada pembahasan tentang hal ini. Apa Kakak Pertama sengaja merahasiakan perbuatan Nona Kedua Liu? " Zhou Jun tampak berpikir. Pandangan dia mengarah ke Zhou Ziyang seperti meminta pendapatnya.
__ADS_1
Tiba-tiba dia kembali berkata sebelum Zhou Ziyang memberikan pendapatnya. "Tapi, jika benar seperti yang aku katakan masalah ini lebih janggal lagi. Kakak Pertama bukanlah orang yang seperti itu. Dia akan lebih suka memaparkan masalah di muka umum sekaligus meminta Ayah memberikan hukuman berat untuk pelaku kejahatan, terlepas orang itu seorang wanita atau pria."
"Pengenalanmu terhadap Kakak Pertama semakin baik, Zhou Jun. Menurutku dengan kecerdasanmu, kamu bisa menemukan titik masalahnya."
"Kakak Kedua, akan lebih baik jika kamu yang memecahkan masalah ini. Aku sudah memberikan banyak hal yang kuketahui."
"Aku tidak meminta kamu melakukan itu, Zhou Jun. Tetapi, karena kamu sudah datang ke sini akan aku biarkan Xu Jia memecahkannya."
Semangat Zhou Jun menyusut dalam waktu cepat. Muka masam kembali menghiasi ketampanan pemuda itu. "Xu Jia lagi, Xu Jia lagi. Kapan aku bisa mendengar dari mulutmu sendiri, Kakak Kedua?"
Zhou Ziyang hanya memberikan senyuman kecil sebagai tanggapan.
"Kakak Kedua, kenapa hari ini kamu tidak pergi ke istana? Kakak Pertama juga tidak menghadiri pengadilan istana pagi ini?" tanya Zhou Jun penuh rasa penasaran. "Apa kalian ada masalah sampai tidak bisa hadir?"
"Oh, dia juga tidak hadir," tanggapan Zhou Ziyang enteng. "Apa ada hal penting yang dibahas di pengadilan hari ini?"
Zhou Jun masih bersedia menjawab, "Ayah berencana memberikan gelar kepada kedua putri Jenderal Liu Anren sebagai balas jasa atas kontribusi besar sang jenderal kepada negara."
"Itu langkah yang bagus untuk meyakinkan rakyat bahwa raja sangat peduli kepada para pahlawan negara."
Zhou Jun mengangguk. "Iya, dengan begitu Ayah akan semakin disukai rakyat dan bisa dicatat dalam sejarah sebagai raja yang bijaksana."
"Kamu juga akan seperti Ayah bila jadi raja berikutnya," ujar Zhou Ziyang sembari tersenyum.
Zhou Jun mengeluh dengan pahit. "Kakak Kedua, aku sudah mengatakan berkali-kali kepadamu kalau aku tidak tertarik duduk di singgasana itu. Posisi itu hanya akan membuatku sangat kesepian dan aku tidak menginginkan hal tersebut!"
Tak lama kemudian Xu Jia datang dengan muka serius. Langkahnya panjang dan terlihat terburu-buru. Setelah sampai di hadapan kedua pangeran Kerajaan Zhao, dia langsung membungkuk penuh hormat. "Yang Mulia, Yang Mulia Pangeran Ketiga."
__ADS_1
"Ada kabar apa?" tanya Zhou Ziyang.