
Mendapat pertanyaan secara langsung oleh Zhou Ziyang membuat Yi Jintao bergegas mendekat. Dia berkata sembari memberikan kertas terlipat. "Berhasil, Yang Mulia. Ini balasan dari Nona Kedua Liu."
Zhou Ziyang menerima pemberian Yi Jintao, kemudian dia membuka secarik kertas itu secara berlahan. Ekspresi yang tertera di wajahnya menunjukkan kesenangan, membuat Xu Jia yang duduk di hadapannya merasa penasaran.
Xu Jia mencondongkan wajahnya ke depan, berusaha untuk melihat apa yang tertulis di kertas. Usaha keras pria itu membuahkan hasil, tetapi hatinya dipenuhi rasa penasaran yang tinggi. Dia tidak bisa tidak membuka suara untuk mengutarakan kebingungannya.
"Mari kita lihat seberapa besar keberuntungan Anda!"
Xu Jia mengulang kalimat tersebut beberapa kali. Namun, pada akhirnya dia tidak mengerti tetang maksud dari surat Liu Qingqing. Wajah tampannya dipenuhi dengan rasa penasaran bercampur dengan kebingungan. Itu sangat jelas sehingga mudah ditangkap oleh orang lain.
"Yang Mulia, kenapa Nona Kedua Liu mengirim surat seperti itu?" tanya Xu Jia kepada Zhou Ziyang. "Apa yang sebenarnya Anda tulis dalam surat sebelumnya?"
"Aku hanya mengajaknya untuk bertemu," jawab Zhou Ziyang sembari melipat kertas itu kembali. Kemudian dia menyimpan surat dari Liu Qingqing ke dalam lengan bajunya yang lebar.
"Jika ingin bertemu bukankah kita bisa menemuinya secara langsung, Yang Mulia? Kebetulan dia sedang berkunjung ke penginapan ini." Xu Jia kembali mengutarakan pemikirannya.
Kenapa harus repot-repot mengirim surat hanya untuk bertemu? Sementara orang yang dimaksud sudah berada di seberang pintu.
Bukankah itu hanya menyusahkan diri sendiri?
Namun, sebelum Zhou Ziyang bisa menjawab, Yi Jintao sudah menyela, "Xu Jia, Yang Mulia tentu punya alasannya sendiri. Kenapa kamu menanyakan hal yang tidak perlu?"
"Aku hanya penasaran saja, Paman Yi. Balasan dari Nona Kedua Liu cukup membingungkan. Apa itu sebuah penerimaan atau penolakan?"
Mendengar pengakuan Xu Jia membuat Yi Jintao tidak tahan untuk memberikan cibiran. "Bukan membingungkan, tetapi kamu saja yang menjadi bodoh."
"Apa Paman Yi sendiri mengerti maksud dari surat Nona Kedua Liu?" tanya balik Xu Jia.
Yi Jintao menggeleng dengan berat hati. "Tidak tahu. Tapi, aku rasa Nona Kedua Liu menyerahkan semuanya pada takdir."
Xu Jia sedikit terkekeh. Setelah itu dia mengembalikkan ucapan Yi Jintao sebelumnya. "Berarti kita sama bodohnya."
Zhou Ziyang sedikit terhibur dengan kebingungan orang lain. Sudut bibirnya melengkung ke atas membentuk sebuah simpul, tetapi itu hanya tampak sekilas sebelum akhirnya hilang bersama dengan sebuah pertanyaan. "Paman Yi, berita apa yang kamu dapatkan?"
"Yang Mulia, aku hanya mendengar Nona Kedua Liu membutuhkan pendongeng terbaik ibu kota. Sepertinya dia akan mencari Bos Yu," jawab Yi Jintao segera.
Xu Jia menimpali, "Bagus! Dengan demikian kita akan mudah mengetahui tujuan Nona Kedua Liu yang sebenarnya."
__ADS_1
"Xu Jia, kamu tahukan apa yang perlu dilakukan?" Zhou Ziyang menatap Xu Jia yang masih duduk di hadapannya.
Xu Jia mengangguk. "Mengerti, Yang Mulia."
Dia lantas bergegas bangkit dari kursi dan bersiap untuk pergi. Namun, langkahnya terhenti oleh ucapan Zhou Ziyang.
"Xu Jia, katakan pada Bos Yu untuk melakukannya seperti biasa dan jika mereka benar-benar datang sambut dengan baik."
Setelah mengangguk dan mengatakan iya, Xu Jia langsung pergi meninggalkan kamar nomor 17.
Jika Xu Jia dibuat bingung oleh balasan dari Liu Qingqing, dua orang yang lain dibuat penasaran oleh surat rahasia dari tamu kamar nomor 17. Mereka tak lain adalah Jiang Yu dan Bai Liu.
Jiang Yu tidak bisa menahan diri untuk menanyakan perihal tersebut. "Nona, sebenarnya siapa yang mengirim surat itu?"
"Oh, ini." Liu Qingqing sedikit tersenyum. "Jiang Yu, apa kamu kenal dengan Xu Jia?"
Jiang Yu mengernyitkan dahi sebelum menjawab, "Aku tidak begitu kenal, Nona. Hanya saja aku tahu dia pengawal pribadi Pangeran Kedua Zhou Ziyang. Beberapa waktu yang lalu Bos Yu juga memberitahu bahwa Tuan Muda Xu Jia sedang mencariku."
Liu Qingqing menjadi penasaran. "Untuk apa dia mencarimu?"
"Tidak mengerti dengan pasti karena aku tidak sempat menemuinya. Bos Yu hanya mengatakan mereka melihat bakat dalam diriku." Jiang Yu sedikit mengangkat bahu, lalu melanjutkan ucapannya. "Bahkan sampai sekarang aku sendiri tidak tahu bakat apa yang mereka maksud. Aku ini hanya orang rendahan dengan pengetahuan dangkal."
Melihat Liu Qingqing tidak menunjukkan reaksi apa pun selain diam membuat Jiang Yu kembali berkata, "Nona, jika kamu ingin aku menemui Tuan Muda Xu aku bisa melakukannya dan Bos Yu pasti akan membantu. Kebetulan waktu Tuan Muda Xu Jia mencariku juga belum lama ini. Aku bisa menanyakan alasannya mencariku."
"Itu tidak perlu, Jiang Yu. Aku bisa mengerti alasan Xu Jia mencencarimu, tetapi aku sedikit penasaran kenapa kamu menolak permintaannya?"
Jiang Yu menjawab dengan serius. "Itu karena aku telah bertemu Nona di penginapan ini dan menjadi bawahanmu. Sebelum pergi ke Kuil Lanyun aku menemui Bos Yu untuk mengatakan penolakanku atas ajakan dari Tuan Muda Xu Jia."
Liu Qingqing tidak pernah menyangka alasan dibalik penolakan Jiang Yu karena menjadi bawahan dirinya. Diam-diam dia mengagumi sifat setia Jiang Yu dalam hati.
Namun, Liu Qingqing tidak sepenuhnya bahagia karena pemuda itu selalu mengingatkan dia pada anak buahnya di kehidupan modern. Tidak hanya nama mereka yang sama, tetapi sifat keduanya juga sama. Mereka benar-benar orang yang patuh dan dapat dipercaya, hanya fitur wajahnya saja yang sedikit berbeda.
"Aku sungguh beruntung memiliki bawahan sepertimu, Jiang Yu. Tidak semua orang bisa memiliki bakat sepertimu, jadi kedepannya jangan mengatakan hal itu lagi. Kemampuanmu yang sekarang sudah sangat membantuku." Liu Qingqing menatap Jiang Yu dengan serius. "Semua yang aku katakan benar adanya, maka percayalah! Tidak ada alasan untuk kamu tidak percaya diri atas bakat dalam dirimu!"
Mata Jiang Yu berkaca-kaca, tetapi dia mencoba menahan supaya air matanya tidak sampai jatuh. "Terima kasih atas perhatian Nona. Aku akan mengingatnya dengan baik. Nona, apa surat itu dari Tuan Muda Xu?"
"Bukan," jawab Liu Qingqing.
__ADS_1
"Lalu siapa?" Ganti Bai Liu yang bertanya. "Kenapa Nona tiba-tiba membicarakan Tuan Muda Xu? Apa hubungannya surat itu dengan dia?"
"Dia tidak akan berani mengirim surat seperti ini, tetapi berbeda dengan tuannya."
Perkataan Liu Qingqing membuat Jiang Yu dan Bai Liu membeku di tempat. Keduanya jelas terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar. Setiap kata yang keluar dari mulut Liu Qingqing benar-benar di luar jangkauan pemikiran mereka.
"Tuannya?" tanya Jiang Yu dengan tegas dan matanya dipenuhi ketidakpercayaan.
"Maksud Anda ... surat itu dari Pangeran Kedua?"
"Bisa dipastikan iya!" Liu Qingqing menyerahkan surat dari Zhou Ziyang kepada Jiang Yu. "Kalian bacalah!"
Setelah Jiang Yu membaca surat tersebut, dia menyerahkannya ke Bai Liu. Raut muka Bai Liu menunjukkan keheranan sembari berkata, "Ini ... benar dari Yang Mulia Pangeran Kedua, Nona? Bagaimana dia bisa mengirim surat seperti ini?"
Liu Qingqing mengalihkan pandangannya ke arah Bai Liu. Kemudian dia berkata dengan suara lembut. "Ceritanya panjang, Liu'er. Kalau sudah waktunya pasti akan aku ceritakan, kamu tunggulah!"
"Baik Nona." Bai Liu mengangguk. "Nona, ini sudah hampir malam. Apa tidak sebaiknya kita segera kembali? Jika tidak, Nyonya Besar dan Nona Liu Yifei pasti akan marah."
"Liu'er, kalaupun mereka marah tidak masalah nonamu ini pasti tidak akan tinggal diam. Tapi, benar katamu kita memang harus segera kembali karena aku perlu mengurus sesuatu," ucap Liu Qingqing. "Liu'er, berikan buku yang aku minta kamu bawakan kepada Jiang Yu!"
Bai Liu mengangguk, lalu dia memberikan buku yang dibawanya. "Ini, Tuan Muda Jiang."
"Apa ini, Nona?" tanyanya kepada Liu Qingqing.
Liu Qingqing tersenyum sembari memberi perintah. "Itu cerita yang aku tulis, Jiang Yu. Kamu bisa membacanya sebelum menemui Bos Yu dan segera beri kabar setelahnya. Aku akan kembali sekarang."
Jiang Yu segera bangkit dari kursinya. "Baik, Nona. Aku pasti akan memberi kabar baik untukmu."
Sebelum Liu Qingqing meninggalkan kamar nomor 7. Dia berpesan, "Jiang Yu, kamu harus menemui Bos Yu secara diam-diam. Kemungkinan gerakan kamu akan diawasi oleh seseorang, maka berhati-hatilah."
"Baik, Nona. Aku akan mengingatnya dengan baik." Jiang Yu mengangguk penuh hormat. "Nona, biar aku mengantarmu."
"Tidak perlu, kamu tetap di sini saja. Aku akan kembali bersama Bai Liu." Liu Qingqing beralih memandang Bai Liu. "Ayo, pergi, Liu'er!"
Setelah kepergian Liu Qingqing, Jiang Yu langsung membaca cerita hasil karangan nonanya. Dia nampak serius dan sesekali timbul beberapa kerutan di dahinya. Namun, dia tetap fokus sepanjang jalan dan tidak mengeluarkan suara apa pun.
Buku itu tidak terlalu tebal, hanya berisi beberapa lapisan kertas dengan tulisan rapi. Dalam waktu singkat Jiang Yu sudah bisa membaca keseluruhan cerita, lalu memasukannya ke dalam pakaian. Dia bergegas keluar dari kamar penginapan dan turun ke bawah untuk pergi ke Paviliun Rongyu.
__ADS_1
Tanpa disadari, beberapa pasang mata mengawasinya dengan ketat.
"Sepertinya dia akan menjadi orang penting di ibu kota," ujar seseorang memecah keheningan.