Legenda Putri Qingping

Legenda Putri Qingping
Bab 22. Pencarian Pelat Feilong


__ADS_3

"Di mana Pelat Feilong?" Suara Zhou Yicheng meninggi. Tatapannya tajam seperti pedang yang siap menghujam Li Shu dan Liu Yifei. Dia sungguh telah dikuasi amarah karena benda yang diinginkannya tidak ada dalam kotak.


Jika tidak ada hukum Kerajaan Zhao, mungkin saat ini Zhou Yicheng sudah membunuh Li Shu dan Liu Yifei guna meredakan amarahnya. Dia kembali berkata dengan keras. "Apa kalian ingin mempermainkanku?"


Li Shu dan Liu Yifei tidak bisa tidak merasa menggigil menghadapi kemarahan Zhou Yicheng. Meskipun Zhou Yicheng tidak bisa menuntut mereka ke pengadilan secara resmi karena masalah ini, bukan berarti mereka akan bebas begitu saja. Zhou Yicheng tentu akan membuat perhitungan terhadap pasangan ibu dan anak itu. Dia tidak akan melepaskan mereka dengan mudah setelah dipermainkan.


"Yang Mulia, kami sungguh tidak tahu kenapa kotaknya kosong. Sebelumnya Pelat Feilong ada dalam kotak tersebut dan tidak pernah ada yang membukanya," jawab Li Shu penuh ketakutan.


"Nyonya Li, apa aku anak kecil yang mudah kalian bodohi?" Suara Zhou Yicheng terdengar dingin. Dia menatap Li Shu dengan mata seperti tembaga yang terbakar.


Li Shu mencoba untuk meredakan kemarahan Zhou Yicheng. "Yang Mulia, tolong Anda jangan marah. Kami akan mencarinya segera dan setelah ketemu akan langsung kami berikan kepada Anda."


"Pastikan untuk menemukannya! Jika tidak, siapkan diri kalian untuk menerima pembalasan dariku!" Setelah mengatakan hal tersebut Zhou Yicheng langsung berbalik untuk pergi. Namun, baru beberapa langkah Liu Yifei menahannya.


Liu Yifei dengan sedikit keberanian memegang lengan Zhou Yicheng. Dia berkata, "Yang Mulia, bagaimana dengan pernikahan kita? Kita masih belum membicarakannya lebih jauh."


"Kamu masih berani membicarakan pernikahan denganku?" Zhou Yicheng memandang Liu Yifei dengan tatapan nanar membuat wajah gadis itu berubah menjadi pucat pasi. "Jika tidak ada Pelat Feilong jangan harap pernikahan akan terjadi!"


Zhou Yicheng mengayunkan tangannya, lalu pergi meninggalkan Liu Yifei dan Li Shu. Langkahnya panjang saat dia menyusuri halaman menuju pintu utama kediaman. Semua bawahan yang dibawa pangeran pertama hanya diam mengikuti di belakangnya. Mereka tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun, terlalu takut melihat kemarahan Zhou Yicheng.


Diam-diam seorang penjaga memperhatikan kepergian Zhou Yicheng. Kemudian dia pergi untuk melaporkan hal tersebut kepada Liu Qingqing.


Hilangnya Pelat Feilong mengundang kemarahan Li Shu dan Liu Yifei. Namun, hal itu juga membingungkan mereka. Bagaimana mungkin benda tersebut bisa tiba-tiba hilang secara misterius?


Semua pelayan dan penjaga kediaman dikumpulkan di halaman terbuka. Tidak terkecuali Bai Liu-pelayan pribadi Liu Qingqing. Mereka saling melirik satu sama lain dengan sebuah pertanyaan yang tampak jelas di wajah setiap orang. Namun, tidak ada yang berani bertanya untuk perkara apa mereka dipanggil.


Melihat pemandangan tak terduga di waktu menjelang malam, Liu Qingqing memutuskan untuk keluar kamar. Dia bersandar pada kusen pintu sembari memandang ke semua orang. "Untuk apa kalian berkumpul di situ?"


Bai Liu menjawab, "Nona, Nyonya Besar yang meminta kami berkumpul di sini. Tetapi, untuk alasannya kami semua tidak mengerti."


"Jika tidak ada hal penting, lebih baik kalian bubar dan lakukan pekerjaan yang jauh lebih berguna!" perintah Liu Qingqing. "Aku memberi upah kepada kalian bukan untuk melakukan hal bodoh seperti itu!"


Sekali lagi semua orang hanya saling memandang dalam bingung. Namun, mereka akhirnya tetap memilih untuk membubarkan diri. Baru saja beberapa langkah mereka sudah dihentikan oleh peringatan Li Shu.

__ADS_1


Li Shu berseru, "Siapa yang menyuruh kalian pergi? Jika kalian berani melangkah lebih jauh, aku tidak akan sungkan untuk menghukum kalian!"


Segera semua orang berhenti.


"Kembali berkumpul dan dengarkan perkataan ibuku baik-baik!" perintah Liu Yifei. Dia datang dengan tangan dilipat di depan dada. "Liu Qingqing, kamu juga sebaiknya ikut mendengarkan!"


"Huft, siapa kamu berani memerintahku?" Liu Qingqing mendengus dingin.


"Liu Qingqing, ini masalah serius! Kamu sebaiknya juga menahan diri untuk mendengarkan perkataanku!" Li Shu menampilkan ekspresi serius.


"Cepat katakan! Ada hal penting apa sehingga semua orang dikumpulkan di situ?"


Hal tersebut bukanlah keinginan Liu Qingqing semata, tetapi itu merupakan rasa ingin tahu semua orang.


"Pelat Feilong telah hilang!" Li Shu akhirnya membuka suara dengan lantang. Tidak ada sedikit pun kepura-puraan dalam raut mukanya.


Semua orang tercengang mendengar berita tersebut.


"Kami juga tidak mengerti mengapa bisa hilang. Ketika aku mengambilnya dari ruangan rahasia Ibu, benda itu sudah tidak ada dalam kotak penyimpan," jawab Liu Yifei.


"Lalu, untuk apa kamu mengeluarkan benda itu?" tanya Liu Qingqing penuh amarah.


Liu Yifei tidak langsung menjawab. Dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan tentang perjanjiannya dengan Zhou Yicheng. Gadis itu sedikit menyipitkan matanya ke arah Li Shu, meminta bantuan untuk kata yang disebut 'Pembelaan'.


Li Shu jelas mengerti maksud dari putrinya. Dia berseru sekali lagi. "Liu Qingqing, untuk masalah apa kami mengeluarkan Pelat Feilong kamu tidak perlu tahu! Sekarang yang perlu kita lakukan hanya mencari benda tersebut sampai ketemu!"


Balasan sedingin musim dingin keluar dari bibir Liu Qingqing. "Li Shu, Pelat Feilong adalah benda peninggalan leluhur Kelurga Liu. Bagaimana bisa kamu melarangku bertanya tentang akar masalahnya? Aku sebagai putri kedua Ayah berhak atas benda tersebut!"


"Tetapi, sekarang barangnya sudah hilang! Apa masih perlu kita berdebat di sini?" Li Shu menatap tajam Liu Qingqing. "Lebih baik pikirkan cara untuk menemukannya!"


Meskipun Liu Qingqing sangat marah terhadap Li Shu dan Liu Yifei, tetapi akhirnya dia mengalah. Dia tidak lagi mempertanyakan alasan keluarnya Pelat Feilong dari ruang rahasia. Sebagai putri kedua Jenderal Liu, dia berkewajiban menemukan benda itu sampai ketemu.


Liu Qingqing berjalan ke arah halaman, lalu berdiri di depan semua orang. Dia memberikan instruksi dengan tegas. "Semua dengarkan pengaturanku! Aku akan memeriksa setiap ruangan yang ada dalam kediaman. Selama pemeriksaan belum selesai, setiap orang tidak diizinkan untuk pergi dari sini!"

__ADS_1


Semua orang hanya mengangguk dengan wajah yang dipenuhi ketakutan.


"Kalian ikut aku memeriksa seluruh kediaman ini!" Liu Qingqing menunjuk lima orang. Mereka adalah pelayan yang tempo hari menemani dia ke makam kedua orangtuanya. Kemudian pandangan wanita itu beralih ke arah Bai Liu. "Liu'er, kamu awasi semua orang di sini bersama Liu Yifei!"


"Kenapa harus aku?" tanya Liu Yifei, "aku tidak mau di sini. Aku mau ikut mencari bersama Ibu!"


"Liu Yifei, di situasi seperti ini kamu masih bisa bersikap seperti anak-anak! Berapa usiamu sekarang?" cibir Liu Qingqing. Sudut mulutnya terangkat membawa senyum mengejek. "Jika kamu di sini, mereka tidak akan berani pergi bahkan hanya untuk melangkahkan kaki sejauh satu inci pun!"


"Tapi, tetap saja aku tidak ingin hanya berdiri di sini untuk mengawasi mereka!" Liu Yifei masih menolak pengaturan Liu Qingqing. Dia memandang ibunya dengan ekspresi memelas. "Ibu, aku tidak mau di sini. Aku ingin ikut Ibu!"


"Ah Yifei, sebaiknya kamu dengarkan Liu Qingqing. Apa yang dia katakan ada benarnya juga. Biarkan Ibu dan Liu Qingqing yang memeriksa seluruh kediaman," ujar Li Shi. Kali ini dia sependapat dengan Liu Qingqing.


Meskipun enggan, tetapi Liu Yifei akhirnya hanya menurut. Dia mendengarkan perkataan Li Shu untuk mengawasi semua pelayan di halaman terbuka.


Liu Qingqing dan Li Shu bersama lima pelayan laki-laki mulai memeriksa Kediaman Liu. Mereka mulai dari kamar Li Shu, lalu berpindah ke kamar Liu Yifei, berlanjut ke kamar Liu Qingqing, dan diteruskan ke ruangan-ruangan yang lain.


Malam ini terasa begitu panjang untuk para penghuni Kediaman Liu dan juga untuk Zhou Yicheng. Setelah kepulangannya dari kediaman Jenderal Liu Anren, dia mengurung diri di kamar. Seseorang telah diminta untuk memanggil Guan Zhong sehingga lelaki paruh baya itu sedang bersamanya sekarang.


"Tuan Guan, bagaimana menurut pendapatmu tentang masalah ini?" tanya Zhou Yicheng.


Melihat raut muka Zhou Yicheng yang tidak enak dipandang, Guan Zhong menjawab dengan sedikit berhati-hati. "Masalah ini sedikit mencurigakan, Yang Mulia. Jika mereka berbohong itu tidak mungkin karena tawaran Anda sangat menguntungkan bagi mereka."


"Jadi, menurutmu Pelat Feilong benar-benar telah hilang begitu?"


Guan Zhong mengangguk. "Aku rasa begitu. Lebih tepatnya bukan hilang, tetapi telah dicuri!"


"Dicuri?" Dahi Zhou Yicheng berkerut. "Bagaimana itu bisa dicuri? Siapa yang mencurinya?"


"Itulah yang belum bisa aku pastikan. Tetapi, karena Nyonya Li Shu mengatakan Pelat Feilong disimpan dalam ruangan rahasia dan belum pernah ada yang membukanya, berarti si pencuri merupakan orang yang sudah mengetahui setiap sisi Kediaman Liu."


Zhou Yicheng tampak berpikir. Dia diam sejenak, mencoba menebak siapa kira-kira yang bisa menjadi tersangka terkuat dalam kasus hilangnya Pelat Feilong. Setelah keheningan panjang akhirnya sebuah nama berhasil keluar dari mulut pangeran pertama.


"Apa orang itu A Heng?"

__ADS_1


__ADS_2