Legenda Putri Qingping

Legenda Putri Qingping
Bab 19. Memainkan Trik Licik


__ADS_3

Setelah disibukkan oleh kehadiran Zhou Yicheng, Liu Qingqing kembali ke kamar. Dia duduk di kursi dan menuangkan secangkir teh untuk menyegarkan tenggorokannya. Pikiran gadis itu sedikit kacau karena harus menghadapi kelicikan Zhou Yicheng dan kesalahpahaman antara dirinya dan Bai Liu yang belum mereda juga.


Sejak pertengkaran kemarin Bai Liu belum juga menemuinya. Bukan berarti Liu Qingqing tidak bisa mendatangi Bai Liu terlebih dahulu, tetapi dia ingin memberikan sedikit ruang untuk Bai Liu menenangkan diri. Dia berharap angin musim gugur mampu meluruhkan kesalahpahaman Bai Liu terhadap dirinya.


Keinginan Liu Qingqing cukup sederhana, yaitu sebelum musim dingin datang hubungan dia dengan Bai Liu sudah membaik. Setidaknya mereka bisa menghadapi dinginnya musim dingin dengan kehangatan kasih sayang dan lebih dekat dalam hubungan. Gadis itu menginginkan jalinan yang lebih dari sekadar nona dan bawahan, misalnya ikatan kekeluargaan seperti adik dan kakak.


Jendera kamar Liu Qingqing dibiarkan terbuka. Asap naik secara lembut dari pembakaran dupa. Wangi aroma bunga tercium bebas dan itu memberikan efek menenangkan pada pikiran.


Liu Qingqing bersandar di kursi sambil menyamankan diri dalam relaksasi dan memejamkan mata. Dia merasakan keletihan seperti semua kekuatan di tubuhnya telah dihisap hingga kering. Gadis itu tidak yakin sudah berapa lama waktu telah berlalu sampai dia mendengar pintu dibuka dengan paksa.


Dia membuka kelopak matanya dengan berat, mencoba untuk melihat siapa yang datang. Dia menemukan Bai Liu berdiri di ambang pintu, tidak melangkah lebih jauh. Ada keraguan di wajah bawahannya. Liu Qingqing bangkit dari kursi dan berdiri di tempat.


Liu Qingqing bingung, tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia takut jika mendekat ke arah pintu, Bai Liu akan pergi lagi seperti terakhir kali. Mereka hanya diam dan saling pandang untuk waktu yang lama.


Liu Qingqing menunggu lebih jauh, tetapi tidak ada suara yang terdengar. Pada akhirnya dialah yang harus menjadi pemecah keheningan. Gadis itu membuka bibirnya dengan gerakan sangat lambat. "Liu'er, kamu ...."


Liu Qingqing tidak melanjutkan ucapannya. Dia tidak tahu kata apa yang pantas untuk dikatakan. Rasanya sangat canggung dengan perasaan campur aduk.


"Nona, maafkan aku." Suara Bai Liu terdengar lemah dan air mata berkilau di matanya. "Kamu sangat baik terhadapku, seharusnya aku tidak pernah meragukanmu. Kemarin aku pergi ke Danau Barat untuk merenungkan semuanya dan aku sudah membuat keputusan. Meski kamu telah banyak berubah, tapi aku akan terus menganggapmu sebagai nonaku. Jadi, Nona, tolong kamu maafkan aku."


"Liu'er, kamu tidak perlu meminta maaf. Aku yang salah, tidak memberi tahu kamu tentang semuanya. Liu'er, kamu boleh melampiaskan kemarahanmu kepadaku, tetapi tolong jangan pernah pergi dari kediaman ini. Aku sungguh khawatir terhadapmu." Liu Qingqing tidak bisa menahan air matanya.

__ADS_1


Bai Liu segera berlari ke arah Liu Qingqing kemudian berdiri di hadapannya. Jarak mereka sekarang hanya satu langkah. "Nona, terima kasih sudah mengkhawatirkan aku."


Liu Qingqing menarik bahu Bai Liu ke dalam dan memeluk gadis yang tampak sedikit lebih pendek dari dirinya. Dia menepuk punggung Bai Liu dengan lembut, seperti sedang menghibur anak kecil. Pada saat inilah, matanya yang menyipit bisa menangkap kehadiran sosok tersembunyi di luar jendela.


"Liu'er, aku membutuhkan bantuanmu. Ceritakan kepadaku tentang Pelat Feilong dan katakan benda itu ada di tangan Li Shu," bisik Liu Qingqing. "Kamu jangan menoleh, ada seseorang yang mengintip kita dari luar."


Bai Liu hanya memberikan anggukan kecil.


Pelukan kedua gadis itu terlepas. Liu Qingqing mengajak Bai Liu untuk duduk sambil mengobrol. Dia menuangkan teh ke dua cangkir dan menyerahkan salah satunya ke Bai Liu.


"Liu'er, apa kamu tahu tentang Pelat Feilong?" tanya Liu Qingqing. Suaranya sengaja dibuat lebih keras dan nyaring.


"Coba kamu ceritakan!"


"Setelah Tuan meninggal, Nyonya yang mengatur kediaman. Semua harta kekayaan Tuan disimpan oleh Nyonya termasuk Pelat Feilong. Tetapi, Nyonya tidak begitu peduli dengan benda itu karena Nyonya dan Nona Liu Yifei lebih menyukai uang dan perhiasan," terang Bai Liu. Dia menatap Liu Qingqing dengan serius. "Nona, jika kamu menginginkan Pelat Feilong mungkin Nyonya akan memberikannya."


Liu Qingqing sedikit tersenyum. "Aku tidak membutuhkan benda itu, Liu'er! Selagi kita bisa hidup dengan tenang, itu sudah lebih dari cukup."


Pembicaraan Liu Qingqing dan Bai Liu bisa didengar oleh mata-mata di luar kamar. Setelah merasa cukup dengan informasi yang didapatkan, dia segera meluncur pergi dengan gerakan hati-hati. Namun, sangat disayangkan tanpa sepengetahuan dia, aksinya diam-diam diketahui oleh penjaga Kediaman Liu.


Seorang penjaga kediaman datang menemui Liu Qingqing. Dia melaporkan, "Nona Besar, mata-mata sudah pergi. Apa yang perlu kami lakukan?"

__ADS_1


"Kamu utus seseorang yang bisa diandalkan untuk mengikutinya! Cukup pastikan dia dibawah perintah siapa!" ujar Liu Qingqing sembari melihat ke arah penjaga.


"Baik, Nona Besar, saya mengerti." Penjaga itu mengangguk, lalu pergi meninggalkan Liu Qingqing dan Bai Liu.


"Nona, kenapa kamu tahu ada seorang mata-mata? Apa kamu akan melepaskannya begitu saja?" tanya Bai Liu. Dia masih belum mengerti maksud dari rencana Liu Qingqing.


Liu Qingqing dengan senang hati menjawab. Dia tidak menginginkan ada kesalahpahaman lagi dengan Bai Liu. "Liu'er, itu mudah saja. Aku hanya menebak dari gerak-geriknya, ditambah lagi kedatangan Pangeran Pertama juga karena masalah ini."


"Apa?" Mata Bai Liu tampak melebar. Dia menurunkan volume suaranya. "Pangeran Pertama ingin memiliki Pelat Feilong?" Apa yang sedang dia rencanakan, Nona?"


"Entahlah, aku masih harus menyelidikinya lebih jauh!" ujar Liu Qingqing.


Bai Liu sedikit mengangguk tanda mengerti, tetapi hatinya masih diliputi oleh kebingungan. Mata tajam Liu Qingqing bisa menangkap hal tersebut sehingga berkata, "Liu'er, tanyakan saja apa yang ingin kamu ketahui! Aku akan menjawab semuanya."


Bai Liu sedikit ragu-ragu, tetapi dia masih mengajukan sebuah pertanyaan. "Nona, bagaimana kamu bisa bertarung? Meski aku tidak tahu banyak tentang hal tersebut, tapi aku paham bahwa seni bela diri tidak mungkin bisa dikuasai dalam waktu singkat. Bahkan hal itu sangat memerlukan banyak latihan dan kerja keras. Ketika aku melihatmu bertarung dengan Tuan Li, aku tahu bahwa kemampuan kamu tidak perlu diragukan lagi dan di atas rata-rata."


Bai Liu berhenti sebentar sebelum melanjutkan ucapannya. "Nona, aku rasa kamu tidak sesederhana yang aku pikirkan. Kamu pasti telah mempunyai kemampuan seperti itu dalam waktu yang lama."


"Aku tidak menyangka Liu'er memperhatikan setiap detailnya dengan baik. Apakah orang lain juga bisa melihat dengan jelas perubahan pada diriku?" batin Liu Qingqing.


Melihat Liu Qingqing tidak kunjung mengatakan sesuatu. Bai Liu kembali berkata, "Nona, jika kamu merasa tidak nyaman maka tidak perlu menceritakannya. Aku akan tetap menjadi bawahan setiamu!"

__ADS_1


__ADS_2