
Tak lama kemudian Xu Jia datang dengan muka serius. Langkahnya panjang dan terlihat terburu-buru. Setelah sampai di hadapan kedua pangeran Kerajaan Zhao, dia langsung membungkuk penuh hormat. "Yang Mulia, Yang Mulia Pangeran Ketiga."
"Ada kabar apa?" tanya Zhou Ziyang.
Xu Jia tidak langsung menjawab. Dia memutar pandangannya ke arah Zhou Jun. Lelaki itu tampak ragu-ragu untuk melaporkan berita yang telah didapatkannya.
Zhou Ziyang mengerti maksud Xu Jia. Dia berkata dengan santai. "Katakan saja! Zhou Jun bukan orang luar, biarkan dia mendengarnya!"
"Yang Mulia, Guo Li telah dibunuh di Kediaman Liu bersamaan dengan A Heng. Kita tidak bisa mendapatkan berita tentang Kediaman Liu lagi," kata Xu Jia.
Alis Zhou Ziyang berkerut ringan. "Siapa yang melakukannya?"
"Nona Kedua Liu, Liu Qingqing."
Zhou Jun tercengang mendengar jawaban dari Xu Jia. "Apa katamu? Nona Kedua Liu telah membunuh Guo Li dan A Heng? Setahu aku dia merupakan gadis paling lembut di Kerajaan Zhao kita. Bagaimana bisa gadis seperti itu menjadi seorang pembunuh?"
"Xu Jia, kamu pasti salah mendapatkan informasi. Dia tidak mungkin melakukan hal keji seperti itu!" lanjut Zhou Jun. Dia menatap Xu Jia dengan serius, kemudian pandangannya beralih ke arah Zhou Ziyang. "Kakak Kedua, A Heng yang disebut Xu Jia apa dia pelayan pemberian Ayah?"
Zhou Ziyang hanya memberikan anggukan kecil. Ekspresinya masih sangat tenang seolah-olah berita dari Xu Jia bukanlah apa-apa. "Zhou Jun, kamu terlalu sibuk dengan buku-bukumu sehingga tidak melihat perubahan angin di ibu kota."
Suara Zhou Ziyang membawa sedikit niat mengejek yang samar. Namun, hal itu tidak membuat Zhou Jun marah atau kesal. Justru dia sedikit tersenyum. "Kakak Kedua, aku tidak seberuntung dirimu yang bisa menguasai taktik militer dengan sangat baik. Jika aku memiliki sedikit saja keahlian sepertimu, pasti aku akan menjelajahi lanskap Jianghu."
"Kecerdasaan yang kamu miliki sudah cukup untuk menjelajahi Jianghu, tetapi sepertinya Ayahanda tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi," ledek Zhou Ziyang.
Xu Jia yang mendengar dari samping hanya tersenyum melihat kedua pangeran Kerajaan Zhao.
"Iya, aku tahu Ayah tidak akan membiarkannya." Zhou Jun bangkit dari tempat duduknya. "Sepertinya ada hal penting yang perlu kalian bicarakan, maka aku tidak akan mengganggu waktu Kakak Kedua lebih lama."
"Zhou Jun, jika kamu masih ingin di sini tidak perlu buru-buru kembali. Urusanku dengan Xu Jia bisa dibicarakan nanti." Zhou Ziyang juga ikut berdiri.
"Tidak perlu, Kakak Kedua. Aku masih punya urusan lain," tolak Zhou Jun. Dia memberikan tanda kesopanan pada Zhou Ziyang kemudian pergi meninggalkan halaman.
Setelah kepergian Zhou Jun, Zhou Ziyang berniat meninggalkan halaman. Dia beranjak pergi untuk kembali ke ruang kerjanya. Namun, langkah pangeran kedua terhenti oleh perkataan Xu Jia.
"Yang Mulia, aku melihat Pangeran Pertama pergi ke Taman Xinshe bersama Nona Liu Yifei."
__ADS_1
"Nona Liu Yifei?" Kening Zhou Ziyang berkerut. "Bagaimana mereka bisa dekat? Bukankah Kakak Pertama sudah mengajukan lamaran kepada Nona Liu Qingqing? Xu Jia, apa kamu tidak salah melihat?"
"Sungguh aku tidak salah melihat, Yang Mulia. Mataku masih bisa membedakan mana Nona Pertama Liu dan Nona Kedua Liu." Xu Jia berkata dengan keyakinan penuh.
"Xu Jia, kamu selidiki tentang masalah ini!"
"Baik, Yang Mulia." Xu Jia mengangguk. "Terus bagaimana untuk masalah Kediaman Liu, Yang Mulia? Setelah kejadian ini kita akan sulit untuk menemukan seseorang seperti Guo Li."
"Bukan sulit, tetapi kemungkinan tidak akan ada lagi Guo Li kedua. Kita harus temukan cara untuk bekerja sama dengan Liu Qingqing. Jika orang seperti dia berada di pihak kita itu akan sangat menguntungkan."
"Akan aku pikirkan caranya, Yang Mulia," ujar Xu Jia sembari mengikuti langkah Zhou Ziyang.
Di waktu sore hari Liu Yifei kembali ke kediaman bersama Zhou Yicheng. Kedua tangan mereka terjalin dengan erat disertai senyuman yang berkembang cerah di wajah mereka. Semua orang bisa langsung mengerti hubungan di antara keduanya hanya dari sikap mereka.
Li Shu sudah menunggu kedatangan Liu Yifei dan Zhou Yicheng di aula utama. Dia menyambut mereka sambil tersenyum. "Kalian sudah kembali?"
Zhou Yicheng hanya memberikan anggukan kecil.
"Ibu, ada sesuatu yang perlu aku bicarakan denganmu,"ujar Liu Yifei sembari melepaskan tangannya dari genggaman Zhou Yicheng.
Liu Yifei lebih mendekatkan diri ke arah ibunya. Dia menjawab dengan suara pelan. "Ibu, aku butuh Pelat Feilong. Yang Mulia Pangeran Pertama akan menikahiku kalau aku memberikan Pelat Feilong kepadanya."
"Apa Ibu tidak salah dengar?" Mata Li Shu berbinar. Ekspresi wajahnya cerah seperti langit sore hari ini. "Yang Mulia, apa benar Anda akan menikahi putri saya?"
"Iya, aku akan menikahi Liu Yifei, tetapi aku ingin memiliki Pelat Feilong!" Zhou Yicheng menjawab dengan tegas. Lelaki itu tidak perlu lagi menyembunyikan niatnya karena dia tahu kalau Liu Yifei dan Li Shu pasti tidak akan menolak tawarannya. "Dengan adanya Pelat Feilong kekuatanku pasti akan semakin bertambah dan itu juga akan menguntungkan kalian. Kedudukan kalian akan semakin tinggi setelah Liu Yifei menikah denganku."
"Ibu, bagaimana?" tanya Liu Yifei. Dalam hatinya dia ingin sekali menikahi Zhou Yicheng dan menjadi istri seorang pangeran. Namun, dia tidak berani mengutarakan perasaannya kepada Li Shu.
Li Shu tersenyum. "Jelas Ibu akan mendukung hubungan kalian. Ah Yifei, ini kesempatan bagus untukmu. Cepat kamu ambil benda itu di tempat rahasia di kamar Ibu!"
"Baik, Ibu, aku mengerti." Liu Yifei segera mengangguk, lalu melangkah keluar dari aula utama dengan hati berbunga-bunga. Dia pergi ke arah serambi kanan, tempat di mana kamar Li Shu berada.
"Yang Mulia, silakan duduk! Kita bisa membicarakan tentang pernikahan sambil menunggu Ah Yifei kembali," pinta Li Shu penuh kesopanan. Dia menunjukkan sikap ramahnya dalam menyambut seorang tamu agung.
Zhou Yicheng mengindahkan ucapan Li Shu. Dia duduk dan menikmati beberapa sajian di atas meja. Wajahnya dipenuhi kebahagiaan yang nyata. Hal tersebut bukanlah karena dia akan menjadi bagian dari Keluarga Liu, tetapi karena sebentar lagi keinginannya akan terwujud.
__ADS_1
Jika seseorang bisa memiliki Pelat Feilong, itu sama saja menguasai Kamp Utara. Orang tersebut juga akan dianggap sebagai pemimpin dari ribuan pasukan Kavaleri Naga Terbang—penjaga perbatasan di wilayah utara. Zhou Yicheng tentu saja tidak akan mengalihkan perhatiannya pada kesempatan seperti ini. Kekuatan besar yang akan menyokong kekuasaannya tentu akan dia perjuangkan mati-matian.
Liu Yifei akhirnya sampai di kamar Li Shu. Dia memasuki ruangan rahasia sebagai penyimpanan benda berharga. Dia mencari benda yang diinginkan calon suaminya dengan hati-hati. Setelah menemukan kotak kecil, dia segera keluar untuk kembali ke aula utama.
Namun, saat Liu Yifei berjalan ke halaman terbuka dia berpapasan dengan Liu Qingqing. Ekspresi kesombongan terpampang jelas di wajahnya. Dia menghampiri Liu Qingqing.
"Liu Qingqing, aku beri tahu kamu sesuatu. Sebentar lagi aku akan dinikahi Pangeran Pertama. Aku sarankan kamu untuk tidak lagi menggodanya!"
"Ah, sepertinya rencanaku berhasil. Mangsa telah masuk ke dalam perangkap," kata Liu Qingqing dalam hati.
Sembari tersenyum Liu Qingging membalas perkataan Liu Yifei. "Selamat untuk keberhasilanmu, Liu Yifei. Aku sarankan jaga baik-baik pangeran idamanmu itu, jangan sampai kamu akhirnya dikecewakan."
"Tentu saja! Aku tidak akan membiarkan wanita sepertimu mempunyai kesempatan untuk mendekati Pangeran Pertama. Liu Qingqing, kamu terlalu bodoh telah menolak lamaran dia waktu itu!"
Setelah mengatakan hal tersebut Liu Yifei pergi meninggalkan Liu Qingqing. Dia mempercepat langkahnya untuk menunjukkan barang yang dibawa kepada Zhou Yicheng. Senyum penuh kebahagiaan terus berkembang di wajah gadis itu.
Dalam hati Liu Yifei berkata, "Liu Qingqing, kamu jangan harap bisa menindasku lagi setelah aku menjadi istri Pangeran Pertama. Ketika aku sudah menyandang gelar Nyonya Zhou akan kupastikan kamu hidup menderita."
Zhou Yicheng sendiri terlihat sibuk berbincang dengan Li Shu. Mereka tengah membahas masalah pernikahan antara dirinya dan Liu Yifei. Perbincangan mereka terhenti saat Liu Yifei masuk dengan langkah ringan.
Li Shu melihat ke arah Liu Yifei sembari bangkit dari kursi. "Ah Yifei, sudah kamu temukan barangnya?"
"Sudah, Ibu." Liu Yifei mendekatkan diri ke Li Shu seraya menunjukkan kotak kecil yang dibawanya.
Zhou Yicheng ikut berdiri. Pandangannya tidak pernah lepas dari kotak yang dibawa oleh Liu Yifei. Disertai sebuah senyuman dia berkata, "Liu Yifei, kamu tidak mengecewakanku. Cepat, berikan kotak itu kepadaku!"
"Ibu." Ada keraguan pada diri Liu Yifei ketika hendak memberikan pelat Feilong. Dia sepintas melirik ke arah ibunya, tetapi Li Shu hanya memberikan persetujuan dengan anggukan kepala.
Liu Yifei akhirnya memberikan kotak tersebut ke Zhou Yicheng. "Yang Mulia, ini barang yang Anda minta. Semoga Anda tidak melupakan janji Anda untuk menikahiku."
"Ah Yifei, kamu tenanglah aku pasti akan segera menikahimu. Besok aku akan membicarakan pernikahan kita dengan Ayahanda," ujar Zhou Yicheng setelah menerima pemberian Liu Yifei.
Sebuah senyuman masih setia berkembang di wajah Zhou Yicheng sebelum membuka kotak kecil. Dia ingin segera melihat Pelat Feilong dengan matanya sendiri. Lengannya bergerak dengan cepat, tetapi sayang sekali kotak sudah kosong ketika dibuka.
Seketika wajah sang pangeran berubah drastis. Tidak ada senyuman barang sedikit pun. Justru hanya ada tatapan nanar dari matanya yang hitam pekat saat memandang dua wanita dari Kediaman Liu.
__ADS_1
"Di mana Pelat Feilong?" Suara Zhou Yicheng meninggi. Tatapannya tajam seperti pedang yang siap menghujam Li Shu dan Liu Yifei. Dia sungguh telah dikuasi amarah karena benda yang diinginkannya tidak ada dalam kotak. "Apa kalian ingin mempermainkanku?"