Legenda Putri Qingping

Legenda Putri Qingping
Bab 17. Hadiah untuk Pangeran Pertama


__ADS_3

"Itu memang benar, tapi sayang sekali aku tidak bisa melihat ekspresi ketakutannya." Zhou Yicheng sedikit menghela napas dengan berat.


Guan Zhong mengerti Zhou Yicheng agak kecewa. Itu bisa diketahui dari helaan napasnya yang berat.


Guan Zhong menuangkan teh ke dalam cangkir Zhou Yicheng, lalu menyesap cangkirnya sendiri secara berlahan. "Yang Mulia, kamu bisa melihat lebih banyak setelah menikahinya. Aku lebih penasaran bagaimana dia bisa meloloskan diri dari bawahan Nona Song."


"A Heng mengatakan Nona Song sengaja melepaskannya. Dia pasti sudah memberikan ancaman yang menakutkan sehingga Liu Qingqing bahkan tidak berani pulang ke kediaman."


"Apakah Yang Mulia akan terus membiarkan hal ini?" tanya Guan Zhong.


Zhou Yicheng dengan senang hati menjawab, "Tentu saja tidak. Aku akan mengutus seseorang untuk mencari penginapan yang dia tinggali, lalu menjemputnya untuk pulang ke kediaman."


"Itu ide bagus, Yang Mulia. Hal tersebut cukup menunjukkan ketulusanmu," tanggapan Guan Zhong.


Zhou Yicheng tersenyum. "Baiklah, mari kita lihat hadiah apa yang dia kirim untukku!"


Guan Zhong hanya mengangguk kecil. Dia dengan sabar menunggu Zhou Yicheng membuka kotak hadiah dari Liu Qingqing. Ada sedikit rasa penasaran di hatinya melihat ukuran kotak itu cukup besar.


Zhou Yicheng jauh lebih penasaran dengan hadiah pemberian Liu Qingqing, wanita yang dengan tegas telah menolak lamarannya tempo hari. Meski bisa dipastikan kotak tersebut bukan berisi Pelat Feilong, tetapi dia masih senang menerima niat baik Liu Qingqing. Lelaki itu menggerakkan tangannya untuk membuka kotak hadiah secara hati-hati.


Mata Zhou Yicheng melebar dua kali lipat dari ukuran biasanya saat kotak hadiah telah terbuka. Ekspresi senang hilang dalam sekejap, berubah menjadi kemurkaan yang dalam. Wajah lelaki itu berbingkai merah dan dengan gerakan kasar membuang kotak ke tanah.


Kotak kayu terlempar dengan keras. Isinya keluar dan berserakan memenuhi halaman. Itu adalah pakaian yang dipakai A Heng terakhir kali ketika menemui Zhou Yicheng.


Bau anyir darah yang menyengat menguar ke udara. Pakaian itu sudah tidak utuh lagi dengan robekan di sana sini. Guan Zhong secara refleks mencubit hidupnya, tidak membiarkan apa pun masuk. Keterkejutan terpampang jelas di wajah lelaki paruh baya itu.


Zhou Yicheng tidak terima. Dia menggebrak meja dengan keras. "Liu Qingqing, beraninya kamu!"


Melihat kemarahan Zhou Yicheng, Guan Zhong sedikit ketakutan. "Yang Mulia, kamu harus tenang."


"Bagaimana aku bisa tenang? Liu Qingqing sudah terlalu lancang, dia bahkan berani membunuh A Heng!" Zhou Yicheng dikuasai kemarahan. Pupil matanya yang hitam menunjukkan sorot mematikan.

__ADS_1


"Aku harus menemuinya sekarang! Dia harus didisiplinkan supaya tidak menjadi wanita yang kurang ajar!" teriak Zhou Yicheng sekali lagi. Kata-kata lelaki itu seperti ditekan keluar dari celah giginya. Dia bangkit, lalu melangkah ke arah pintu kediaman.


Guan Zhong buru-buru bangkit untuk mengikuti Zhou Yicheng. Dia berulang kali berteriak kepadanya. "Yang Mulia, Yang Mulia, kamu mau ke mana?"


"Aku akan pergi ke Kediaman Liu untuk memeriksanya! Kamu bawa orang untuk memeriksa setiap penginapan di ibu kota dan temukan Liu Qingqing untukku!" Setiap kata diucapkan Zhou Yicheng dengan tegas dan keras.


Guan Zhong cemas. Dia bergegas ke depan Zhou Yicheng. Lelaki itu hampir kehabisan napas saat berkata, "Yang Mulia, kamu tidak boleh gegabah. Jika kamu menemui Nona Liu Qingqing dengan cara seperti ini, hanya akan mengacaukan rencana kita. Pelat Feilong belum kita dapatkan, sebaiknya kita tidak memperbesar masalah ini. A Heng hanyalah pelayan rendahan, cepat atau lambat dia akan kehilangan nyawanya."


Seketika itu, langkah Zhou Yicheng terhenti. Dia bisa menangkap perkataan Guan Zhong dengan sisa kejernihan dalam pikirannya. Tangan lelaki itu terkepal erat dan wajahnya yang tampan tampak merah padam.


Guan Zhong melambaikan tangan ke arah salah satu penjaga yang terlihat. "Kamu kemari!"


Pelayan itu buru-buru berlari untuk mendekat. Dia membungkuk dalam-dalam karena ketakutan. "Yang Mulia, Tuan Guan."


"Singkirkan pakaian dan kotak itu, bakar semuanya sampai menjadi abu!" perintah Guan Zhong.


Pelayan segera mengangguk. Kemudian dia bergegas membereskan kotak kayu dan pakaian yang robek penuh darah dengan buru-buru. Lelaki itu tidak berani mengangkat pandangannya ke arah Zhou Yicheng dan Guan Zhong selama menjalankan tugasnya.


Dahi Zhou Yicheng berkerut. "Untuk apa dia datang?"


"Sebaiknya biarkan dia masuk, kita akan mengetahui niatnya," ujar Guan Zhong.


Zhou Yicheng memandang ke arah penjaga sembari berkata, "Undang dia masuk!"


Penjaga bergegas pergi dengan kecepatan seperti waktu dia datang. Zhou Yicheng dan dan Guan Zhong meninggalkan halaman untuk menunggu kedatangan pangeran ketiga di ruang kerja.


Pangeran ketiga diizinkan masuk ke kediaman setelah penjaga melaporkan kedatanganya ke tuan rumah. Dia adalah pemuda berusia sekitar dua puluh tahunan. Wajahnya tampan dihiasi hidung mancung. Pemuda itu memiliki mata seperti Zhou Yicheng dengan pupil hitam pekat.


Dia adalah Zhou Jun, seseorang yang akan selalu menjaga formalitas kesopanan pada segala hal. Zhou Jun lebih seperti sarjana muda berstatus bangsawan tinggi. Sebagian besar waktu, pemuda itu dapat ditemukan di dalam perpustakaan kerajaan dan secara diam-diam dia akan membolak-balik berbagai buku untuk beberapa alasan tertentu.


Ketika Zhou Jun masuk dan melewati halaman untuk pergi ke ruang kerja pangeran pertama, dia sepintas melihat pakaian berlumur darah di dalam kotak kayu. Pemuda itu buru-buru bertanya dengan ekspresi cemas. "Pelayan, itu pakaian siapa? Kenapa berlumuran darah? Apa terjadi sesuatu dengan Kakak Pertama?"

__ADS_1


Pelayan itu membungkuk untuk memberi hormat kemudian menjawab, "Yang Mulia, kotak ini dikirim oleh Nona Kedua Liu, tetapi saya tidak mengerti pakaian di dalam sini punya siapa."


"Sekarang di mana Kakak Pertamaku?"


"Dia bersama Tuan Guan ada di ruang kerja, Yang Mulia," jawab pelayan itu dengan sopan.


"Baiklah, kamu boleh pergi! Aku akan ke sana untuk menemui Kakak Pertamaku," kata Zhou Jun. Setelah itu dia melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja Zhou Yicheng.


Sebelum jam makan malam dikirim keluar, Liu Qingqing menginstruksikan semua orang yang ada di kediaman untuk makan sendiri. Selain itu, dia juga memerintahkan siapa pun tidak diperbolehkan untuk mengganggunya. Maka dari itu, Liu Qingqing buru-buru merapikan diri dan menutup matanya saat dia berbaring di atas tempat tidur.


Tepat ketika Liu Qingqing setengah tertidur, dia mendengar seseorang berbicara dengan suara berbisik di luar pintu. Dia berusaha membuka kelopak matanya kemudian bangkit untuk duduk di pinggir tempat tidur. "Siapa di luar?"


"Ini saya, Nona Besar. Saya hendak melaporkan tentang Nona Bai," jawab orang yang berdiri di balik pintu.


Liu Qingqing bangkit dari tempat tidur. Dia mengambil jubah luar, lalu memakainya sambil berjalan ke arah pintu. Pintu dibuka, tetapi dia tidak membiarkan penjaga yang datang melapor untuk masuk. "Apa yang kamu temukan?"


"Nona Besar, Nona Bai telah kembali dan langsung masuk ke kamarnya. Dia tidak melakukan hal yang buruk, hanya duduk di pinggir Danau Barat dan menangis di sana," terang penjaga itu dengan sabar.


Liu Qingqing tidak menunjukkan banyak emosi. Dia hanya memberikan perintah, "Kamu pergi ke dapur dan katakan kepada mereka untuk menyiapkan makanan. Minta mereka untuk mengantarkan makan malam ke kamar Bai Liu."


"Baik, Nona Besar. Lalu, makan malam Anda bagaimana?"


"Tidak dibutuhkan! Aku akan beristirahat lebih awal," kata Liu Qingqing.


Penjaga itu segera mengangguk, lalu pergi ke arah dapur.


Liu Qingqing tidak melanjutkan tidurnya. Dia meninggalkan kamar kemudian berjalan ke arah pohon bunga persik. Gadis itu berdiri di sana sepanjang waktu sembari memikirkan kemungkinan terburuk mengenai hubungan dirinya dengan Bai Liu.


"Liu'er, akankah kamu tetap percaya kepadaku? Masih bisakah kamu menganggapku sebagai nonamu?"


Suara Liu Qingqing terdengar seperti desiran angin malam ini—pelan dan membawa kesuraman.

__ADS_1


__ADS_2