Legenda Putri Qingping

Legenda Putri Qingping
Bab 14. Membasmi Sampah Kediaman


__ADS_3

Di Istana Yongping, Zhou Ziyang masih bergulat dengan pikirannya. Lelaki itu tidak pernah menyangka penyusup tadi malam adalah orang yang dia kenal. Wajah di balik cadar hitam tidak bisa dia lupakan begitu saja.


Mata cerah dinaungi garis alis seindah bulan sabit. Bibir tipis yang terlihat kemerahan di bawah langit malam. Wajah yang menampakkan kecantikan luar biasa dengan senyuman mematikan ketika sedang meremehkan orang lain. Semua itu milik seseorang bercadar hitam, pengacau di Kediaman Liu.


Zhou Ziyang berdiri di dekat jendela. Dia menatap daun maple di halaman berguguran dengan indah. Lelaki itu tampak diam-diam berfokus pada perenungan dan alisnya berkerut dalam kebingungan.


Pada saat ini, semburan angin musim gugur meniup debu yang mengendap, seolah-olah ia menjadi hidup di mata seseorang.


Xu Jia membuka pintu dengan hati-hati dan melangkah masuk. Dia membawa setumpuk dokumen. "Yang Mulia, ini laporan yang dikirim oleh Penginapan Rongyi."


Zhou Ziyang tidak repot-repot menoleh untuk melihat Xu Jia. Dia hanya berkata dengan suara rendah. "Taruh saja di meja."


"Yang Mulia, apa ada hal yang mengganggumu?" tanya Xu Jia setelah melaksanakan perintah Zhou Ziyang. Dia mendekat ke arah jendela, menjaga jarak dua langkah di belakang Zhou Ziyang untuk berdiri di sana.


"Aku sedang memikirkan penyusup tadi malam. Sebenarnya apa yang sedang dia rencanakan?" Suara Zhou Ziyang bercampur kebingungan.


Xu Jia tidak tahu bagaimana harus menjawab. Jika Zhou Ziyang yang lebih cerdas dari dirinya saja tidak bisa menebak niat penyusup itu, apalagi dia. Xu Jia mengerutkan kening lebih dalam.


Zhou Ziyang seolah-olah mengerti ketidakmampuan Xu Jia untuk menjawab. Dia tidak memaksa bawahannya lebih lanjut, tetapi kembali bertanya tentang hal lain. "Bagaimana hal yang aku minta kamu selidiki?"


"Yang Mulia, Nona Kedua Liu sudah kembali ke kediamannya, tapi dia tidak membawa Jiang Yu. Aku sudah minta seseorang untuk menyelidiki Jiang Yu, mungkin nanti malam akan ada kabar." Xu Jia berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. "Selain itu, ada laporan bahwa Jiang Yu hanya menyandera A Heng dan melepaskannya saat menjelang pagi. Aku rasa Nona Kedua Liu tidak berniat membunuh A Heng."


Zhou Ziyang masih tidak mengalihkan pandangannya dari pohon maple. "Baiklah, aku mengerti. Kamu bisa pergi sekarang!"


Xu Jia tidak mengindahkan perintah Zhou Ziyang. Dia masih berdiri di tempatnya dengan tenang. "Yang Mulia, sebenarnya siapa penyusup itu?"


Alih-alih menjawab, Zhou Ziyang malah balik bertanya. Dia berbalik untuk melihat bawahannya. "Xu Jia, bagaimana pendapatmu tentang kemampuan bela diri penyusup itu?"

__ADS_1


Xu Jia berpikir sejenak sebelum memberikan sebuah jawaban. "Yang Mulia, menurutku keahlian orang itu sangat bagus. Serangannya mantap juga gesit, seperti orang yang sudah dilatih sejak kecil."


'Sudah dilatih sejak kecil', kalimat tersebut menarik perhatian Zhou Ziyang. Dia juga punya pemikiran yang sama seperti Xu Jia. Namun, dia masih belum bisa percaya pada wajah di balik cadar hitam. Jika mengingat hal tersebut rasa penasaran yang bercampur ketidakpercayaan menjadi satu menumbuhkan garis kerutan di tengah alisnya.


Xu Jia paham sekali bahwa Zhou Ziyang sedang berada dalam suasana buruk. Meski lelaki yang berdiri di hadapannya jarang tersenyum, tetapi dia hampir tidak pernah menunjukkan ekspresi kebingungan seperti sekarang ini. Xu Jia hanya bisa menyimpan rasa penasarannya dalam diam.


"Berapa banyak orang yang meninggal di Kediaman Liu?"


Xu Jia segera menjawab, "5 orang, Yang Mulia. Mereka 4 penjaga bermarga Meng dan 1 kepala pelayan kediaman."


"Xu Jia, kamu selidiki tentang mereka dan minta seseorang mengawasi Kediaman Liu!" Zhou Ziyang berjalan ke arah meja kerja.


Xu Jia mengikuti langkah tuannya. "Yang Mulia, kenapa kita perlu mengawasi Kediaman Liu? Apa Yang Mulia ingin memiliki Pelat Feilong?"


"Sejak kapan aku tertarik dengan benda seperti itu, Xu Jia? Aku berpikir mungkin Liu Qingqing tidak akan melepaskan A Heng begitu saja!"


Di Kediaman Liu semua orang dibuat terkejut oleh suara seseorang. Spontan mereka segera menoleh ke arah sumber suara. Meraka dapat melihat dengan jelas seorang wanita bersedekap dada di ambang pintu. Sebuah senyuman terpampang jelas di wajahnya yang cantik, tetapi sedikit membawa aura mengerikan.


Li Shu dan Liu Yifei terkejut sehingga ukuran bola mata mereka terlihat lebih besar dari biasanya.


"Ka-kamu ... masih hidup?" Li Shu tergagap oleh keterkejutan. Dia seolah-olah melihat hantu seseorang yang merangkak naik dari dunia bawah untuk menuntut balas dendam.


Liu Yifei tidak kalah ketakutan dari Li Shu. Wajahnya menjadi pucat mirip seperti A Heng. Liu Yifei menggelengkan kepala tak percaya sembari terus menunjuk ke arah Liu Qingqing yang berdiri di ambang pintu. "Dia ... dia ... masih hidup? Ini tidak mungkin!"


Liu Qingqing melangkah masuk dengan langkah ringan. Senyuman putri kedua Jenderal Liu masih mengembang dengan aura mematikan. Saat mata cerahnya bergerak dengan ringan dan santai menyapu wajah semua orang, itu akan menjadikan punggung mereka terasa merinding.


Segera semua orang menarik kembali pandangan mereka, menunduk dalam-dalam, berusaha menyembunyikan ketakutan di hati mereka.

__ADS_1


Di belakang Liu Qingqing ada Bai Liu dan lima pelayan laki-laki. Mereka hanya diam mengikuti Liu Qingqing masuk ke kediaman.


Liu Yifei beringsut mundur ke belakang Li Shu. Dia menjadikan tubuh ibunya sebagai pilar perlindungan. Gadis itu seperti pengecut kecil yang hanya bisa menjulurkan kepalanya sedikit untuk mengintip Liu Qingqing, lalu menyusut kembali seolah-olah takut kehilangan nyawanya.


Li Shu masih berdiri di tempat, meski tubuhnya mulai menggigil dengan telapak tangan dipenuhi keringan dingin. Dia tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya hanya karena merasa bersalah. Dia berusaha mengendalikan rasa takutnya untuk menatap Liu Qingqing dengan sedikit keberanian.


Liu Qingqing berhenti satu langkah di depan Li Shu. Dia melihat Li Shu dan Liu Yifei dengan sorot kebencian. Senyuman mengejek muncul bersama cibiran musim dingin. "Dasar sekumpulan orang bodoh! Kalian pikir bisa membunuhku dengan meminjam tangan orang lain! Pasti kalian sangat kecewa melihat kedatanganku hari ini!"


"Liu Qingqing, bagaimana kamu bisa lolos dari kematian?" tanya Li Shu.


Liu Qingqing tidak repot-repot menjawab pertanyaan Li Shu. Dia mengalihkan pandangannya ke arah A Heng. Liu Qingqing merasa iba melihat A Heng berwajah pucat dengan luka di sekujur tubuh, tetapi dia sadar apa yang menimpa kepada lelaki itu merupakan rencananya.


"Li Shu, kenapa kamu ingin membiarkan seorang pencuri tetap hidup?" Liu Qingqing melihat ke arah Li Shu dengan sorot mengerikan. "Hukuman yang pantas untuk pencuri adalah kematian!"


"Liu Qingqing, meski A Heng bersalah, tetapi kita tidak bisa membunuhnya. Dia merupakan pelayan pemberian Yang Mulia Raja. Pukulan 50 kali sudah cukup sebagai hukuman bagi dia!" teriak Li Shu.


Liu Qingqing kembali memberikan cibiran dingin. "Memang kenapa kalau dia pelayan pemberian Yang Mulia Raja? A Heng sudah menjadi pelayan Kediaman Liu, hal yang wajar kalau dia dihukum sesuai peraturan kediaman ini. Yang Mulia Raja tidak akan ikut campur dengan masalah kecil seperti ini!"


"Liu Qingqing, jaga ucapanmu! Kamu berani menyinggung Yang Mulia Raja, apa kamu tidak takut dihukum?" Liu Yifei menjulurkan kepalanya dari belakang punggung Li Shu. Kemudian dia kembali menyusut untuk bersembunyi setelah mengatakan kata-katanya.


"Liu Yifei, kamu yang hanya tahu bersembunyi di balik punggung ibumu masih berani memakiku! Jika kalian tidak berani melakukannya, biar aku yang melakukan!"


Semua orang menggigil mendengar ucapan Liu Qingqing. Mereka bisa melihat sorot matanya memancarkan niat membunuh yang mengerikan. Seolah-olah gadis yang berdiri di hadapan mereka merupakan keturunan dari Dewa Kematian.


Li Shu juga merasakan hal yang sama, tetapi dia masih berani melawan Liu Qingqing. "Liu Qingqing, kamu tidak perlu ikut campur dengan masalah ini! Barang yang dicuri juga sudah dikembalikan, dia sudah cukup menderita!"


"Jika aku ingin membunuhnya, siapa dari kalian yang bisa mencegahku?"

__ADS_1


Setelah mengatakan hal tersebut Liu Qingqing menarik pedang dari salah satu penjaga. Kemudian dia mengayunkan pedang itu ke arah A Heng, memotong leher lelaki yang sudah terluka parah dengan sekali tebas. Serangannya kuat dan ganas langsung menghilangkan nyawa A Heng dalam satu tarikan napas.


__ADS_2