
Di pagi yang cerah, sebuah kereta mewah berhenti di depan Penginapan Rongyi. Li Zemin sebagai kusir, turun untuk menjemput Jiang Yu. Tidak ada obrolan yang berlangsung karena mereka segera pergi setalah Li Zemin memberi salam kepada Liu Qingqing.
Selepas kepergian Li Zemin dan Jiang Yu, Liu Qingqing datang ke halaman belakang penginapan. Tempat itu telah dia sewa karena bersebelahan langsung dengan kamarnya dan agak tersembunyi dari dunia luar. Dalam suasana hati yang baik Liu Qingqing berniat untuk mulai berlatih pedang.
Ini pertama kali Liu Qingqing menggunakan pedang, entah itu sebagai dirinya sendiri atau dengan jiwa Xiao Qing. Di kehidupannya dulu Liu Qingqing tidak pernah punya kesempatan untuk berlatih seni bela diri, sedangkan di dunia modern Xiao Qing lebih sering menggunakan pisau pendek atau belati dan pistol.
Pada waktu luang Liu Qingqing akan membaca catatan tentang seni bela diri atau dasar-dasar cara menggunakan pedang. Dia juga telah menanyakan kepada Jiang Yu beberapa hal yang berkaitan dengan kegemarannya itu. Jiwa pembunuhnya dari dunia modern kembali hadir, memberikan dorongan kuat untuk mempraktekkan setiap gerakan yang telah dia pelajari dari buku-buku kuno.
Meski angin membawa hawa dingin, itu tidak menyurutkan tekad Liu Qingqing untuk terus mengasah kemampuan bertarungnya. Dia agak kesulitan di awal saat mengayunkan pedangnya, tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama. Setelah berjuang keras dan mencoba mengulang semua gerakan, Liu Qingqing terlihat mulai sedikit lebih mahir.
Liu Qingqing begitu bersemangat dalam berlatih. Gerakannya meski tidak segesit ketika dia menggunakan belati, tetapi itu terlihat indah dan mantap. Ada niat membunuh di setiap tebasan yang dia lakukan, seolah-olah hal tersebut sengaja diperuntukkan untuk menjatuhkan musuh.
Padahal yang dihadapinya sekarang hanyalah halaman kosong dengan beberapa pohon yang sedang meranggas. Sinar mentari menyeruak masuk di antara daun-daun kuning, memberikan sedikit kehangatan dengan udara sejuk. Laba-laba merentang di antara cabang-cabang, seolah-olah itu jalanan sutra mereka.
Bai Liu datang membawa handuk dan Sup Acar Plum, meletakan keduanya di atas meja batu di pojok halaman. Melihat Liu Qingqing sudah bersimbah keringat, Bai Liu merasakan sakit di hatinya. "Nona, mari istirahat dulu!"
Liu Qingqing lantas menghentikan latihannya. Dia berjalan ke arah meja batu dan menerima handuk yang diulurkan oleh Bai Liu. Ekspresi kepuasan muncul ketika dia menyeka dahinya yang basah oleh keringat.
Di tempat lain di aula yang luas berdinding putih dengan pilar penuh ukiran rumit, tengah duduk seorang lelaki. Di depannya persis di tengah aula ada sebuah kolam hias berbatu berbentuk persegi panjang. Puluhan ekor ikan koi berenang dengan bebas di air yang jernih.
__ADS_1
Wajah lelaki itu benar-benar tampan dengan kulit seputih salju. Dia memiliki mata sangat cerah dengan garis alis dalam dan jernih. Bulu mata tebal tampak menyembunyikan setengah dari pandangannya ketika dia melihat ke bawah, seperti kebiasaan umum.
Dia berusia sekitar dua puluh tiga tahun. Namanya Zhou Ziyang, pangeran kedua Kerajaan Zhao. Seseorang yang memiliki ketampanan sempurna dengan bakat luar biasa, ahli militer, dan termasuk pemuda terbaik di Ibu Kota Taiyuan.
Telapak tangannya yang dipenuhi kapalan karena sering menggunakan pedang, terlihat begitu lihai memainkan kuas bulu. Dia telah sibuk dalam kebisuan untuk waktu yang lama. Ketika terdengar ketukan pintu dari luar, dia baru membuka mulut dan mengatakan, "Masuk."
Orang yang mengetuk pintu, segera masuk kemudian sedikit membungkuk di hadapan lelaki itu. "Yang Mulia, Paman Yi memberi kabar. Penginapan kita didatangi dua tamu istimewa."
"Siapa mereka?" Suara lelaki itu terdengar dingin tanpa mengangkat pandangannya.
"Nona Kedua Liu dan Nona Song. Nona Kedua Liu datang dua hari yang lalu, sedangkan Nona Song datang pada pagi berikutnya."
Melihat mata tuannya, Xu Jia sedikit merinding. "Paman Yi tidak mengerti jelas tentang rencana mereka, tetapi Song Nian datang dengan Li Zemin untuk menemui Liu Qingqing. Tidak lama kemudian Li Zemin pergi dan kembali di siang hari bersama Jiang Yu."
"Jiang Yu? Apa itu orang yang sedang kita cari?"
Xu Jia mengangguk. "Benar, Yang Mulia."
Tidak ada tanggapan dari Zhou Ziyang. Dia memindahkan kertas yang sudah dipenuhi tulisan dan menggantinya dengan kertas baru. Kemudian dia mengambil kuas bulu, memasukannya ke tinta hitam, lalu mulai menulis nama 'Liu Qingqing' dan 'Song Niang' bersebelahan. Kemudian Zhou Ziyang membuat lingkaran besar di luar nama tersebut dengan tambahan kata 'Penginapan Rongyi'.
__ADS_1
Zhou Ziyang mengambil jarak agak jauh dari tulisan pertama, lalu menambah nama 'Li Zemin' serta 'Jiang Yu' dalam lingkaran besar. Setelah itu dia menarik garis lurus di antara kedua lingkaran tersebut. Namun, Zhou Ziyang masih belum mengerti keterikatan yang terjalin antara mereka untuk urusan apa.
Dalam diam pikiran Zhou Ziyang melayang ke segala arah, mencoba mencari di mana titik penting yang mungkin telah dia lewatkan. Tiba-tiba sebuah nama terlintas dalam benak lelaki itu. Seingat dia Song Nian sangat menyukai Zhou Yicheng, tetapi Zhou Yicheng lebih memilih Liu Qingqing sebagai istri.
"Ini jelas berhubungan dengan Kakak Pertama, tetapi untuk apa mereka menarik Jiang Yu? Apa Song Nian mendatangi Liu Qingqing untuk membuat perhitungan? Melihat temperamen Song Nian, dia tidak mungkin akan memberi pelajaran yang mudah untuk saingan cintanya. Pasti ada hal lain dalam masalah ini," pikir Zhou Ziyang.
"Yang Mulia, sebenarnya ada hal lain yang belum aku laporkan."
Zhou Ziyang bertanya, "Apa itu?"
"Tadi pagi Li Zemin membawa Jiang Yu pergi dari penginapan dan aku menyuruh orang kita untuk mengikutinya. Mereka mendatangi Kediaman Liu yang dipimpin langsung oleh Song Nian."
Tangan Zhou Ziyang kembali bergerak. Saat ini yang dia tulis tiga nama orang yang telah memenuhi pikirannya, Zhou Yicheng, Liu Qingqing, dan Song Nian. Tiga nama tersebut diberi garis hingga menjadi bentuk segitiga. Kemudian dia menambahkan kata 'Kediaman Liu' di bagian tengah segitiga.
Zhou Ziyang mengamati semua karakter di atas kertas dengan serius. Xu Jia mencoba mengintip dan pemikirannya dibuat bingung oleh coret-coretan Zhou Ziyang. Meski sapuan kuas tuannya sangat bagus, tetapi di sana tidak ada penjelasan yang menjadi titik terang. Hal itu membuat Xu Jia harus menerka-nerka dengan pemikiran sendiri.
Di saat sedang sibuk menarik kesimpulan dari tulisan yang dilihatnya, Xu Jia dikejutkan oleh suara dingin Zhou Ziyang. "Pelat Feilong!"
"Yang Mulia, ada apa dengan Pelat Feilong?" tanya Xu Jia penasaran.
__ADS_1