Legenda Putri Qingping

Legenda Putri Qingping
Bab 23. Menebak Pelaku Pencurian


__ADS_3

Zhou Yicheng tampak berpikir. Dia diam sejenak, mencoba menebak siapa kira-kira orang yang bisa menjadi tersangka terkuat dalam kasus hilangnya Pelat Feilong. Setelah keheningan panjang akhirnya sebuah nama berhasil keluar dari mulut pangeran pertama.


"Apa orang itu A Heng?"


"Bisa saja, tetapi untuk apa dia mencuri Pelat Feilong?" tanya Guan Zhong. Wajahnya menunjukkan keraguan yang sangat jelas. "Sepertinya kita perlu menyelidiki masalah ini lebih jauh, Yang Mulia."


"Tuan Guan, minta seseorang untuk memeriksa masalah ini. Aku khawatir ini berhubungan dengan Song Nian!"


Raut muka Guan Zhong menjadi lebih serius. "Bagaimana bisa Yang Mulia berpikir seperti itu? Selama ini Nona Song tidak terlihat menaruh perhatiannya kepada benda seperti itu. Bahkan si tua Song Xiyi juga tidak pernah menunjukkan ketertarikannya pada Pelat Feilong."


Zhou Yicheng berkata, "Ini tidak ada hubungannya dengan Song Xiyi. Nona Song mungkin sudah melihat niatku mendekati Keluarga Liu, jadi dia meminta A Heng mencuri Pelat Feilong untuk bernegosiasi denganku! Tidakkah kamu ingat kalau A Heng yang memberitahu Song Nian tentang kepergian Liu Qingqing waktu itu?"


"Aku rasa Nona Song tidak sepintar itu, Yang Mulia. Meski A Heng melakukan hal tersebut, tetapi dia bertindak atas perintah Nyonya Li Shu." Guan Zhong mendekatkan wajahnya ke arah Zhou Yicheng. Dia mengurangi volume suaranya ketika berkata, "Yang Mulia, aku mempunyai pemikiran lain tentang masalah ini."


"Pemikiran seperti apa?" Zhou Yicheng menaruh perhatian penuh pada perkataan Guan Zhong.


"Malam di mana A Heng datang ke sini untuk melapor, dia mengatakan kalau Song Nian berkunjung ke Kediaman Liu membawa Li Zemin dan Jiang Yu. Bukankah ini terlalu kebetulan, Yang Mulia?" ujar Guan Zhong.


"Apa kamu berpikir salah satu dari mereka yang mencuri Pelat Feilong?"


"Aku rasa ada sangkut-pautnya dengan mereka, Yang Mulia. Kita harus segera menyelediki mereka, Yang Mulia, mengingat bagaimana pekerjaan Li Zemin sebelumnya." Guan Zhong berhenti sejenak. Kemudian dia menambahkan, "Lebih baik salah menangkap daripada melepaskan seorang yang bisa menjadi ancaman untuk rencana kita!"


Pemikiran Guan Zhong meski belum sepenuhnya benar, tetapi itu terbilang masuk akal. Akhirnya Zhou Yicheng sependapat dengan lelaki paruh baya itu. "Jika salah satu di antara mereka pelakunya, kita benar-benar telah kecolongan, Tuan Guan."


Guan Zhong hanya mengangguk. "Sebaiknya kita cepat mengurus masalah ini dan segera temukan di mana Pelat Feilong. Jika benda itu jatuh ke tangan Pangeran Kedua, kita sudah tidak punya kesempatan lagi."


"Aku akan menyuruh Fang Li untuk menyelidiki mereka," tanggapan Zhou Yicheng dilanjutkan dengan memanggil bawahan pribadinya. "Fang Li!"

__ADS_1


Bawahan yang bernama Fang Li datang dengan langkah cepat. Dia sedikit membungkuk guna memberi hormat. "Iya, Yang Mulia, saya di sini."


"Cepat selidiki tentang Kediaman Song terutama Song Nian dan Li Zemin. Segera laporkan setelah mendapatkan informasinya. Kamu selidiki juga tentang Jiang Yu!"


Fang Li segera mengangguk. "Baik, Yang Mulia. Saya akan melaksanakan perintah dengan sebaik-baiknya."


"Fang Li, apa ada pergerakan dari Pangeran Kedua?" tanya Guan Zhong.


"Tidak ada gerakan yang mencolok dari Kediaman Pangeran Kedua. Tetapi, pagi ini Pangeran Ketiga menemui Pangeran Kedua setelah dia berkunjung kemari," terang Fang Li.


Dahi Zhou Yicheng berkerut ringan. "Zhou Jun tadi pagi datang kemari? Kenapa tidak ada yang memberitahuku masalah ini?"


Fang Li menjawab dengan sedikit ketakutan. "Yang Mulia, Anda sudah pergi ketika Pangeran Ketiga datang. Saya berniat memberitahu masalah ini ketika Anda pulang, tetapi melihat raut muka Anda tidak enak dipandang jadi saya membatalkannya."


"Sudahlah, Yang Mulia, kita abaikan dulu masalah kedatangan Pangeran Ketiga. Pelat Feilong lebih perlu kita perhatikan," sela Guan Zhong.


"Baik, Yang Mulia. Saya mengerti," ucap Fang Li sebelum pergi untuk melaksanakan tugasnya.


Malam semakin larut dan bulan tergantung tinggi di langit.


Seorang pemuda dengan wajah tampan berdiri di dekat jendela. Dia mempunyai tahi lalat di ujung alisnya sebelah kanan. Orang itu adalah Jiang Yu yang tengah menatap bulan di langit.


Tak lama seekor merpati pos mendekat ke arah Jiang Yu dan mendarat di tangannya. Jiang Yu melepas tabung bambu dari kaki merpati pos, lalu membuka strip kertas di dalamnya. Sebuah senyuman kecil muncul setelah membaca isi surat.


"Akhirnya aku bisa bertemu dengan Nona Kedua Liu. Sudah lama aku ingin memberi tahu dia tentang pencapaianku." Jiang Yu bergumam pelan. Dia menutup jendela dan beranjak pergi ke tempat tidur. Sebelum itu dia menghampiri lilin yang menyala dan membakar surat dari Liu Qingqing sampai menjadi abu.


Malam yang panjang dan cukup melelahkan akhirnya berangsur pergi. Pagi datang dengan tampilan cerah, tetapi Kediaman Liu masih berkabut oleh hilangnya Pelat Feilong.

__ADS_1


Liu Qingqing tidak keluar kamar setelah bangun tidur. Bahkan sarapannya pun harus diantar ke kamar oleh Bai Liu. Gadis cantik itu tengah sibuk menulis sebuah cerita di buku. Dia akan menyerahkan hasil karyanya ke seseorang.


Bai Liu sudah terlalu lama diam menyaksikan nonanya fokus pada kertas dan kuas akhirnya bertanya, "Nona, sebenarnya cerita apa yang sedang kamu tulis? Di waktu biasa kamu tidak akan seserius ini."


"Liu'er, ini cerita yang sangat menarik. Aku akan memberikannya kepada seseorang sore ini. Jadi, bagiamana mungkin aku tidak menjadi serius?" Liu Qingqing menjawab tanpa menghentikan pekerjaannya.


"Setidaknya Nona harus istirahat sejenak. Nona, kamu jangan terlalu memaksakan diri. Tidak bisakah cerita itu diberikan besok atau lusa?" Bai Liu tampak khawatir melihat Liu Qingqing terus bermain dengan kuas bulunya.


Namun, Liu Qingqing tetap saja tidak mempedulikan kecemasan Bai Liu. Bagi dia semakin cepat menyelesaikan tulisannya itu semakin baik. Ini adalah kesempatan untuk menarik perhatian mangsa supaya bisa masuk ke perangkap. Bukankah sebelum berburu para pemburu perlu meyiapkan umpan?


Liu Qingqing tidak menjawab pertanyaan Bai Liu. Dia mengubah topik pembicaraan ke arah lain. Di tengah kegiatan menulisnya gadis itu bertanya, "Liu'er, bagaimana perkembangan dari pencarian Pelat Feilong? Apakah Li Shu sudah menemukan sang pelaku?"


"Belum, Nona. Nyonya Besar dan Nona Pertama masih mengintrogasi semua pelayan. Mereka sepertinya kebingungan mencari dalang dari masalah ini." Bai Liu menjawab dengan tenang. Ada keheranan dalam wajahnya dan memutuskan untuk mengajukan pertanyaan. "Nona, kenapa kamu tidak ikut mengintrogasi para pelayan?"


Di saat inilah Liu Qingqjng berhenti menulis. Alisnya yang seperti bulan sabit terangkat sedikit. "Liu'er, biarkan mereka bertanggung jawab. Pelat itu hilang oleh mereka, jadi mereka harus bisa menemukannya tidak peduli dengan cara apa pun."


"Nona, siapa kira-kira yang mengambil Pelat Feilong? Untuk apa orang itu mengambil benda seperti itu?" tanya Bai Liu penasaran.


"Aku rasa orang itu punya tujuan besar sehingga berani mengambil Pelat Feilong. Tetapi, aku tidak bisa mengira siapa pelakunya. Bagiku yang terpenting kamu tidak perlu diintrogasi lagi dan tidak harus menderita oleh kekejaman Li Shu dan Liu Yifei," jawab Liu Qingqing.


Bai Liu tersenyum. "Nona, terima kasih atas perlindunganmu."


"Liu'er, kamu sudah aku anggap sebagai adik seperti Jiang Yu. Jadi, tidak perlu mengucapkan kata itu lain kali."


"Nona, aku tidak bisa melakukan hal itu. Aku selalu ingin berterima kasih kepadamu mengingat kamu selalu baik kepadaku," terang Bai Liu dengan wajah senang dan serius.


"Liu'er, nanti sore kamu temani aku pergi ke Penginapan Rongyi!" perintah Liu Qingqing yang dibalas persetujuan Bai Liu.

__ADS_1


__ADS_2