
Liu Qingqing antusias. "Apa syaratnya?"
Melihat ekspresi Liu Qingqing serius, Jiang Yu juga melakukan hal yang sama. Dia berkata tanpa keraguan. "Itu tidak bisa dipastikan Nona. Bos Yu akan memberikan syarat tergantung keuntungan dan siapa orangnya."
Liu Qingqing langsung mengerti hal yang dimaksudkan oleh Jiang Yu. Dia mendengarkan dengan seksama semua perkataan bawahannya itu. Ekspresinya masih menunjukkan keseriusan, tetapi tetap saja hal tersebut tidak bisa menutupi kecantikan nona kedua dari Keluarga Liu.
Jiang Yu melanjutkan ucapannya. "Meski begitu Bos Yu merupakan orang yang jujur dan bila kita berhasil bekerjasama dengan dirinya itu bisa sangat menguntungkan. Belum ada seorang pun di ibu kota yang merugi selama bekerja sama dengan Bos Yu."
"Sehebat itukah dia?" Bai Liu menunjukkan ketidakpercayaannya.
Jiang Yu mengangguk dengan percaya diri. "Iya, semua yang aku katakan benar adanya. Mungkin para wanita tidak mengerti, tetapi semua pria Kerajaan Zhou jelas mengetahuinya."
"Aku percaya denganmu!" kata Liu Qingqing serius. "Jiang Yu, karena itu kita harus bisa memperoleh kepercayaan Bos Yu. Aku ingin pendongeng itu bisa menceritakan cerita yang aku tulis, tidak peduli bagaimanapun caranya!"
Jiang Yu meski berat hati tetap menyanggupinya. "Akan aku usahakan Nona."
Tiba-tiba terdengar ketukan dari luar pintu dan itu membuat semua orang terkejut. Mereka saling pandang sebentar sampai akhirnya Liu Qingqing membuka suara.
"Siapa di luar?" tanya Liu Qingqing.
"Yi Jintao di sini, saya datang untuk mengantarkan pesan," ujar orang di luar pintu. "Bisakah Anda membuka pintu dan membiarkan saya masuk, Nona?"
"Paman Yi?" Dahi Jiang Yu berkerut. "Nona, Paman Yi adalah pemilik penginapan ini. Tapi, dia sangat jarang menerima perintah dari orang lain. Sepertinya ada hal penting yang perlu dia sampaikan, Nona."
"Jika begitu kamu buka pintunya dan tanyakan apa keperluan dia datang kemari!" perintah Liu Qingqing.
Jiang Yu mengangguk sebelum bangkit dari kursi. Dia berjalan dengan cepat untuk segera membuka pintu. Dia mendapati seorang paruh baya dengan wajah tegas membawa baki berisi satu set peralatan minum teh.
Jiang Yu menyapa dengan ramah. "Paman Yi, kami tidak memesan sesuatu. Sepertinya Anda salah kamar."
Yi Jintao mengangkat ujung bibirnya ke atas membentuk sebuah senyuman. "Tuan Muda Jiang bisa tenang, saya datang karena ada hal penting yang perlu saya sampaikan ke Nona Kedua Liu. Bolehkah saya masuk?"
__ADS_1
Liu Qingqing bisa mendengar perkataan Yi Jintao sehingga dia memberikan sebuah anggukan. "Masuklah, Tuan Yi!"
Yi Jintao diikuti Jiang Yu memasuki ruangan. Dia menaruh bawaannya di atas meja kemudian memberi salam kepada Liu Qingqing dengan sikap sopan. Sementara itu, Jiang Yu tetap berdiri di dekat Yi Jintao.
"Nona Kedua Liu, senang bertemu dengan Anda. Saya diminta tamu kamar 17 untuk mengantarkan Teh Junshan Silver Needle, minuman terbaru di penginapan ini. Silakan Anda menikmatinya," ujar Yi Jintao penuh keramahan.
"Teh Junshan Silver Needle? Bukankah teh ini sangat sulit didapatkan? Apalagi untuk memasok sebuah penginapan, hal ini belum pernah terjadi sebelumnya!" sela Jiang Yu. Rasa penasarannya tergugah mengingat teh yang disajikan sang pemilik Penginapan Rongyi tidak biasa.
"Tentu saja perkataan Tuan Muda Jiang benar. Penginapan kami beruntung bisa mendapat kepercayaan pemilik Pulau Junshan sehingga bisa mendapatkan Teh Junshan Silver Needle. Tetapi, mengingat teh tersebut produk lokal dari Pulau Junshan jadi stoknya sangat terbatas. Bahkan penginapan ini saja hanya mendapat sedikit pasokan dengan harga cukup tinggi." Yi Jintao mengeluh. Namun, ekspresi wajahnya tidak sedikit pun terlihat terbebani akan masalah itu.
Liu Qingqing hanya bisa tersenyum sebelum berkata, "Itu sepadan dengan kwalitasnya, Tuan Yi. Bagaimanapun Teh Junshan Silver Needle bukanlah teh biasa."
Seperti yang dikatakan Liu Qingqing, Teh Junshan Silver Needle atau Teh Jarum Perak Junshan merupakan barang langka. Teh tersebut tidak bisa didapatkan oleh sembarang orang. Selain itu, ia hanya tumbuh di Pulau Junshan di tengah Danau Dongtin dan ditanam di perkebunan seluas satu kilometer persegi.
Hal lain yang membuat Teh Junshan Silver Needle diburu orang-orang adalah karena memiliki rasa halus, bulat, dan beraroma tumbuh-tumbuhan. Selain itu, ketika seseorang menyeduh secangkir akan memberikan pengalaman menarik karena daun naik turun di air seperti penari. Sungguh pemandangan yang bisa menghibur siapa pun.
Yi Jintao tampak senang mendengar pujian dari Liu Qingqing. "Nona Kedua Liu, Anda tidak perlu terlalu sopan. Cukup panggil saya dengan sebutan Paman Yi saja seperti orang lain. Semoga Anda menyukai teh terbaru penginapan ini."
"Saya mengerti Nona. Maka dari itu saya diminta memberikan ini." Paman Yi menyerahkan secarik kertas kepada Liu Qingqing.
Liu Qingqing menerima kertas yang terlipat rapi, lalu membukanya tanpa buru-buru. Ekspresinya sedikit berubah meski itu hanya untuk sepersekian detik. Ada keheranan yang tampak samar di wajah cantik Liu Qingqing, tetapi sebuah senyuman berhasil muncul di akhir.
Mari bertukar pukulan sekali lagi ketika bertemu! Aku ingin tahu, trik licik seperti apa yang akan kamu mainkan untuk melarikan diri dariku. Nikmatilah secangkir Teh Junshan Silver Needle yang aku berikan sebagai salam perkenalan.
Kalimat tersebut ditulis dengan tegas dan kertas dilipat rapi. Setiap goresan seolah-olah mampu menunjukkan kemantapan hati sang pengirim. Bisa dikatakan si penulis merupakan orang berbakat dalam bidang kaligrafi dan sastra. Seseorang yang sudah terlatih sejak dari kecil.
Senyum kekaguman tampak di wajah Liu Qingqing. Dalam hati dia memuji, "Bagus sekali tulisannya. Sungguh pantas untuk seorang pangeran."
Bai Liu yang merasa penasaran bertanya, "Nona, apa yang tertulis di kertas itu?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Bai Liu, Liu Qingqing justru mengatakan hal lain. "Liu're, kamu bisa ambilkan aku kuas dan kertas."
__ADS_1
"Baik, Nona." Bai Liu bangkit dan segera melangkah ke meja lain. Tempat di mana terdapat alat tulis. Dia menyerahkan kertas dan kuas kepada Liu Qingqing. Kemudian dia menggiling tinta untuk membantu nonanya menulis surat.
Setelah menulis beberapa kata Liu Qingqing melipat kertas dengan rapi dan menyerahkannya kepada Yi Jintao. "Sampaikan terima kasihku. Lain waktu aku akan membalas kebaikannya dengan cara yang pantas."
"Akan saya sampaikan pesan Nona," kata Yi Jintao sembari menerima surat Liu Qingqing. Setelah itu dia pamit undur diri dan berbalik untuk meninggalkan ruangan.
Tidak menyianyiakan pemberian orang lain, Liu Qingqing menuangkan teh ke dalam cangkirnya sendiri. Dia ingin mencoba seberapa nikmat Teh Junshan Silver Needle yang sering dibicarakan orang-orang. Apakah itu sungguh memiliki rasa yang halus dan mampu menciptakan pengalaman yang visual?
Namun, ketika Liu Qingqing hendak mencoba teh tersebut aksinya terhenti oleh ucapan Bai Liu. "Nona, apa tidak sebaiknya diperiksa dulu tehnya? Aku takut seseorang berniat tidak baik."
Sebuah ekspresi kekhawatiran muncul di wajah cantik Bai Liu. Bukan berarti dia melarang Liu Qingqing untuk tidak menghargai pemberian orang lain, tetapi pengirim teh itu cukup misterius membuat dirinya tidak bisa tidak waspada.
Dunia ini bukanlah tempat di mana hanya ada orang baik. Bahkan akan ada kesempatan orang datang dengan niat terselubung. Apalagi hati seseorang tidak mudah untuk dimengerti. Lebih baik sedikit berhati-hati kepada siapa pun, daripada mengendurkan kewaspadaan dan berakhir celaka.
Namun, Liu Qingqing seperti tidak merasakan khawatir sedikit pun. Dia justru menarik ujung bibirnya ke atas membentuk sebuah simpul yang manis. Kemudian berkata dengan suara lembut. "Liu're, tenanglah! Aku yakin tidak akan ada masalah dengan teh ini."
"Karena Nona berkata demikian, aku akan percaya." Bai Liu hanya bisa mengalah dan melihat Liu Qingqing meminum teh dengan pelan-pelan.
Melihat kedua bawahannya membeku di tempat, Liu Qingqing sedikit tertawa kecil dan berkata, "Kenapa kalian diam saja? Cobalah minum, ini sungguh teh yang bagus."
Jiang Yu tidak merasa sungkan lagi. Tangannya bergerak lebih cepat untuk menuangkan teh ke dalam dua cangkir. Baru kemudian dia berkata kepada Bai Liu sembari memberikan cangkir penuh Teh Junshan Silver Needle. "Silakan, Nona Bai. Kita harus menghargai niat baik Nona Kedua Liu."
Bai Liu menatap teh dalam cangkir. Dia tertegun melihat daun teh naik turun di air jernih, itu seperti penari yang mampu menghibur hatinya. Kekhawatiran Bai Liu seakan hilang bersamaan dengan saat lidahnya mengecap rasa manis dan halus.
"Benar-benar teh yang bagus. Pantas saja disebut Teh Junshan Silver Needle, ini sungguh memberikan pengalaman tak terlupakan," puji Bai Liu sembari tersenyum.
Jiang Yu juga ikut berkomentar, "Penginapan Rongyi sungguh beruntung bisa mendapatkan kepercayaan pemilik Pulau Junshan. Teh ini akan sangat menguntungkan bagi bisnis Paman Yi."
Tidak hanya mereka bertiga yang menikmati kelezatan Teh Junshan Silver Needle. Akan tetapi, dua orang pemuda juga ikut merasakan rasa halus dari minuman andalan Penginapan Rongyi tersebut. Mereka adalah sepasang tuan dan bawahan yang sedang duduk saling berhadapan sembari menunggu seseorang.
Tak lama kemudian derit pintu terdengar dan seseorang masuk.
__ADS_1
Zhou Ziyang bertanya, "Bagaimana?"