
Di pagi yang cerah, Kediaman Liu dihiasi oleh kehadiran suci Zhou Yicheng. Kali ini dia datang sendirian dengan raut muka seperti kertas kusut. Senyuman yang waktu itu ikut menyertai kedatangannya terakhir kali seolah-olah luruh oleh angin musim gugur. Ini jelas dikarenakan masalah kotak hadiah kemarin.
Kedatangan Zhou Yicheng sedikit menimbulkan keributan. Dia mendorong orang yang menjaga pintu masuk. Bahkan dia tidak membiarkan seseorang untuk menyampaikan berita kedatangannya terlebih dahulu. Lelaki itu langsung masuk ke kediaman begitu saja dengan langkah panjang dan tergesa-gesa.
Seorang penjaga mengikuti Zhou Yicheng dengan kecepatan tinggi sepanjang jalan. Dia berteriak berulang kali. "Yang Mulia, Yang Mulia, Anda tidak diperbolehkan masuk begitu saja!"
Zhou Yicheng tidak peduli dengan teriakan penjaga itu. Dia terus menerobos masuk untuk menemui Liu Qingqing. Kemarahan tampak menghiasi wajahnya yang tampan.
"Yang Mulia, saya mohon Anda berhenti! Nona Besar tidak mengizinkan siapa pun mengganggunya!" seru pelayan itu sekali lagi. Dia masih berusaha menghentikan Zhou Yicheng untuk melangkah lebih jauh.
Zhou Yicheng tidak repot-repot menghentikan langkahnya saat mengatakan, "Orang rendahan sepertimu berani menghentikanku! Setelah urusanku selesai, aku pasti akan membunuhmu!"
Penjaga itu ketakutan. "Tapi, Yang Mulia, Nona Besar ...."
Sebelum penjaga itu bisa menyelesaikan perkataannya terdengar seseorang menyela dari samping. "Pagi-pagi kalian sudah membuat keributan! Apa kalian tidak bisa membiarkan nona kediaman ini tidur lebih lama? Yang Mulia, setidaknya Anda harus bersedia untuk sedikit menunggu jika ingin bertemu dengan saya!"
Liu Qingqing muncul dari ruang kerja yang setengah tertutup. Wajahnya tidak secerah langit pagi ini. Suara gadis itu sedikit serak seperti orang baru bangun tidur. Dia tidak terkejut sama sekali atas kehadiran Zhou Yicheng seolah-olah hal tersebut sudah masuk dalam prediksinya.
Penjaga segera membungkuk untuk memberi hormat. Dalam sedikit ketakutan dia berkata, "Nona Besar, maaf saya tidak bisa mencegahnya masuk."
Liu Qingqing melambaikan tangannya, menyuruh penjaga untuk bangkit. "Tidak apa-apa, aku mengerti. Kamu boleh pergi dan minta pihak dapur menyiapkan teh yang aku bawa kemarin!"
"Baik, Nona Besar." Penjaga itu segera meninggalkan tempatnya untuk melaksanakan perintah Liu Qingqing.
Setelah kepergian penjaga Liu Qingqing mempersilakan Zhou Yicheng masuk ke ruang kerja. Mereka duduk berdua saling berhadapan dalam diam yang panjang.
__ADS_1
Tak lama dua pelayan datang membawa satu set perlengkapan teh dan beberapa cemilan. Mereka memindahkan semua bawaan ke atas meja. Gerakan mereka sungguh berhati-hati, tidak membiarkan kesalahan sekecil apa pun terjadi.
Liu Qingqing menjadi orang yang pertama berbicara. "Yang Mulia, Anda datang untuk masalah apa?"
"Seharusnya Nona Kedua Liu punya penjelasan untuk kematian A Heng," ujar Zhou Yicheng.
"Yang Mulia, tanpa penjelasan apa pun Anda sudah mengerti jauh lebih jelas. Kenapa saya harus repot-repot menjelaskan detail permasalahannya?" Liu Qingqing sedikit tersenyum. "A Heng cepat atau lambat akan menemui kematian, baik itu di Kediaman Liu atau di tangan Anda sendiri."
"Kamu sungguh mengerti banyak hal, Nona Kedua Liu." Zhou Yicheng sedikit terkekeh. "Lalu, bagaimana jawabanmu mengenai tawaranku?"
"Ini masih terlalu pagi untuk membicarakan masalah pernikahan. Yang Mulia, sebaiknya Anda menikmati dulu Teh Tieguanyin. Teh ini cukup sulit untuk didapatkan." Liu Qingqing menyerahkan secangkir teh dengan gerakan lembut.
"Tidak akan sulit jika aku yang menginginkannya! Nona Kedua Liu, aku ke sini tidak untuk membicarakan omong kosong tentang teh, tapi jawaban atas penawaranku!"
Meski perkataan Zhou Yicheng terdengar agak kasar, tetapi dia masih menerima cangkir dari Liu Qingqing. Dia menghabiskan minumannya dalam sekali teguk. Kemudian meletakkan kembali cangkir tersebut di atas meja dengan gerakan kasar sembari berkata, "Cangkir sudah kosong, mari kita bicarakan tentang masalah serius! Jika ada persyaratan tertentu yang harus aku lakukan supaya bisa menjadikanmu sebagai istriku, katakan saja!"
Liu Qingqing hanya tersenyum sebelum menyesap tehnya. Setelah itu dia berkata, "Yang Mulia, saya sarankan jika Anda ingin menjadikan nona dari Keluarga Liu sebagai istri sebaiknya Anda memilih Liu Yifei. Saya mengatakan hal ini karena sesuatu yang Anda butuhkan ada di tangan Li Shu. Meski saya anak dari istri sah, tetapi semua kekayaan Keluarga Liu dikendalikan oleh Li Shu sebagi nyonya besar di kediaman ini."
Kerutan muncul di dahi Zhou Yizheng. "Apa maksudmu tentang sesuatu yang aku butuhkan?"
"Sudah sampai sejauh ini, kenapa masih berpura-pura, Yang Mulia? Saya telah memotong salah satu lengan Anda, bagaimana bisa Anda masih ingin menjadikan saya sebagai istri? Apa ini tidak terlalu mencurigakan, Yang Mulia?" Suara Liu Qingqing terdengar lembut, tetapi senyumannya sedikit membawa sebuah ejekan.
"Terlalu berlebihan jika kamu menganggap A Heng salah satu lenganku! Dia hanyalah pion kecil yang tidak berarti!" jawab Zhou Yicheng. Ekspresi kesombongan tampak jelas di wajahnya.
"Zhou Yicheng, kamu benar-benar brengsek seperti Bei Muchen! Apa kalian dilahirkan dari leluhur yang sama?" tanya Liu Qingqing dalam hati. Dia merasa kesal, tetapi tidak ditunjukkan di hadapan Zhou Yicheng.
__ADS_1
Melihat Liu Qingqing diam saja, Zhou Yicheng kembali mengulangi pertanyaannya. "Apa maksudmu tentang sesuatu yang aku butuhkan?"
"Oh, masalah itu ...." Liu Qingqing mendekatkan wajahnya ke arah Zhou Yicheng. Dia berkata setengah berbisik, "Contohnya seperti Pelat Feilong!"
Sungguh kejutan tak terduga di musim gugur.
Zhou Yicheng dibuat terkejut oleh ucapan Liu Qingqing. Dia tidak bisa memberikan tanggapan dalam sekejap waktu. Namun, itu hanya untuk sepersekian detik dan detik berikutnya lelaki itu sudah kembali bersikap normal.
Sebuah senyuman dipaksakan keluar dari bibirnya ketika Zhou Yicheng mengatakan, "Nona Kedua Liu, kamu sungguh wanita cerdas dan luar biasa. Bahkan niat yang aku sembunyikan selama ini bisa diketahui olehmu."
"Yang Mulia, Anda terlalu memuji, saya tidak pantas dengan sebutan itu. Sebaiknya Anda lekas bergegas untuk mendekati Liu Yifei. Kebetulan musim gugur telah datang dan keindahan pohon maple perlu disaksikan," ujar Liu Qingqing sembari tersenyum.
"Maka aku tidak akan sungkan!" Zhou Yicheng bangkit dari tempat duduknya. Kemudian berkata sebelum melangkah keluar meninggalkan ruang kerja Liu Qingqing. "Nona Kedua Liu, terima kasih atas saranmu. Semoga kita cepat menjadi saudara ipar."
"Aku akan menunggu waktu itu, Yang Mulia." Liu Qingqing ikut bangkit. Dia sedikit membungkuk untuk memberi hormat kepada Zhou Yicheng.
Akhirnya kelegaan bisa dirasakan oleh Liu Qingqing setelah berhasil melabui Zhou Yicheng dengan trik licik. Setidaknya untuk beberapa waktu Zhou Yicheng tidak akan menemui dirinya lagi. Dia hanya perlu menyiapkan rencana lain untuk memastikan Zhou Yicheng masuk ke dalam perangkapnya.
Liu Qingqing keluar dari ruang kerja dan bersiap kembali ke kamarnya. Namun, saat tiba di depan pintu dia melihat ada seseorang yang mengintip dari balik tembok. Melihat sekilas dari segi pakaiannya, orang itu bukan dari penjaga Kediaman Liu.
"Siapa orang itu? Apa mungkin dia bawahan Zhou Yicheng?" pikir Liu Qingqing dalam hati.
Liu Qingqing ingat dalam novel diceritakan bahwa Zhou Yicheng bukanlah orang yang mudah percaya dengan perkataan orang lain. Lelaki itu pasti akan mengutus seseorang untuk mencari kebenaran pada semua hal. Ucapan Liu Qingqing tentang Pelat Feilong ada di tangan Li Shu pun tidak lepas dari kecurigaan Zhou Yicheng.
"Baiklah, aku akan memberikanmu sesuatu yang lain supaya kamu bisa benar-benar percaya denganku, Zhou Yicheng!" Liu Qingqing mengatakan hal ini dalam hati.
__ADS_1
Liu Qingqing memanggil seorang penjaga untuk memberikan pengaturan. Dia berbisik, "Kendurkan penjagaan di serambi kanan dan kiri! Biarkan mata-mata musuh masuk dan keluar dengan bebas!"
Dahi penjaga itu berkerut, tetapi masih mengangguk. "Baik, Nona Besar. Saya akan mengaturnya dengan baik."