
Setelah kepergian Liu Qingqing, Jiang Yu bergegas meninggalkan Penginapan Rongyi. Dia harus segera menemui Bos Yu untuk menyampaikan permintaan nonanya. Namun, tampaknya dia tidak menyadari kalau gerakannya sedang diawasi orang lain.
"Sepertinya dia akan menjadi orang penting di ibu kota," ujar seseorang memecah keheningan. Dia tengah berdiri di dekat jendela kamar nomor 17 untuk melihat kepergian bawahan Liu Qingqing. "Tidak hanya dari kediaman Kakak Pertama, bahkan penjaga rumah Keluarga Song pun mengirim orang untuk mengawasinya."
Yi Jintao yang berdiri di samping Zhou Ziyang ikut menanggapi, "Apa perlu seseorang untuk membantunya?"
"Tidak perlu, pasti dia punya cara sendiri untuk mengatasinya. Selain itu, Xu Jia tentu sudah menyiapkan seseorang untuk bersiap."
"Bagaimana kalau orang lain mengetahui Tuan Muda Jiang akan menemui Bos Yu?" tanya Yi Jintao sedikit khawatir. "Apa nantinya hal tersebut tidak akan membawa masalah baru, Tuan?"
Zhou Ziyang mengalihkan pandangannya. Dia melihat ke arah Yi Jintao dengan sedikit senyuman muncul. "Mereka hanya akan mengetahui Jiang Yu berkujung ke Paviliun Rongyu, untuk masalah lain kita tidak perlu khawatir. Mereka tentu bisa mengurusnya degan baik."
Dia berbaik dan kembali duduk di kursi, menuangkan teh ke dalam cangkirnya sendiri. Baru kemudian dia melanjutkan ucapannya. "Tidak begitu mengherankan jika Kakak Pertama mengirim anak buahnya, tetapi untuk Kediaman Song ini merupakan hal baru."
"Menurutku ini bukan maksud dari Song Xiyi," sanggah Yi Jintao.
"Jelas bukan. Li Zemin bertindak seperti ini pasti dibawah kendali Nona Song, wanita itu agak merepotkan dan jauh berbeda dengan ayahnya."
"Melihat hubungan lama mereka, jika Li Zemin meminta beberapa informasi darinya akankah Tuan Muda Jiang melakukan hal itu?" Ada semacam kehati-hatian dalam ucapan Yi Jintao. "Bisakah dia mengkhianati Nona Liu Qingqing demi menghargai hubungan persaudaraan mereka?"
"Jiang Yu tidak akan melakukan hal tersebut dan Li Zemin juga tidak akan memaksanya. Mereka menghargai hubungan persaudaraan mereka dengan baik. Bahkan jika Li Zemin terpaksa menekan Jiang Yu, dia pasti tidak akan pernah berhasil." Zhou Ziyang berhenti sejenak. Dia melihat gumpalan uap mulai naik dari cangkir teh dan dengan ringan meniupnya, lalu menyesap Teh Jarum Perak Jiushan secara berlahan.
Sikap Zhou Ziyang begitu tenang. Dia duduk dengan punggung tegak seperti pohon pinus yang tidak terganggu dengan tiupan angin di segala musim. Bahkan ketika dirinya sedang menikmati teh, terlihat seolah dia tidak bisa merasakan segala macam jenis kekhawatiran.
"Jiang Yu bukanlah orang yang mudah menyerah hanya karena tekanan kecil. Jika dia orang seperti itu, bagaimana mungkin aku ingin menariknya ke pihak kita?"
Meski nada suara Zhou Ziyang terdengar ringan, tetapi sorot matanya terlihat tajam dan menusuk. Oleh karenanya, Yi Jintao tidak bisa tidak merasakan tubuhnya bergetar. "Tuan memang memiliki penilaian yang bagus. Tetapi, Tuan Muda Jiang sudah menolak permintaan itu. Apa perlu aku untuk membujuknya kembali? Mungkin dengan begitu dia akan berubah pikiran."
"Sudah terlambat, sekarang dia telah bertuan." Pandangannya beralih kembali ke dalam cangkir teh. "Jika ingin menarik dia, lebih baik tarik saja tuannya. Dengan begitu kita akan mendapatkan dua keuntungan sekaligus!"
"Maksudnya ... Tuan, ingin menarik Nona Liu Qingqing ke pihak kita?" Ekspresi keterkejutan nampak jelas di wajahnya.
Sesaat kemudian dia dengan mantap berkata, "Biarkan aku yang mengurus hal ini, Tuan. Aku pasti bisa membuat Nona Kedua Liu ada di pihak kita."
Yi Jintao sungguh berantusias. Dia begitu bersemangat dan percaya diri dengan kemampuannya. Sebagai seorang kepala penginapan tentu saja dia ahli dalam membujuk para pelanggan untuk singgah di tempatnya. Oleh karena itulah Penginapan Rongyi menempati posisi kedua sebagai penginapan terbaik di ibukota.
Namun, meskipun Yi Jintao ahli dalam hal membujuk pelanggan, itu tidak akan berlaku sama sekali terhadap kasus ini. Bagaimanapun Liu Qingqing bukan lagi nona lemah lembut yang mudah dihasut oleh orang lain.
Sudah bisa dipastikan Zhou Ziyang akan menolak usul Ji Yintao.
__ADS_1
Zhou Ziyang mengangkat wajahnya, menatap Yi Jintao dengan senyuman kecil. "Paman Yi, terima kasih untuk niat baikmu. Tetapi, ini bukan sesuatu yang bisa kamu urus. Aku sendiri yang akan melakukannya dan menggunakan kesempatan ini untuk mengamati sesuatu."
"Apa Tuan memiliki beberapa kecurigaan terhadap Nona Liu Qingqing? Atau terhadap Tuan Muda Jiang Yu?"
"Ah ... aku akan memberitahumu jika sudah waktunya." Zhou Ziyang mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Dia bisa melihat langit telah dipenuhi warna jingga.
Senja akhirnya turun.
"Paman Yi, tolong siapkan beberapa makan malam. Aku akan bermalam di sini." Zhou Ziyang berkata kepada Yi Jintao yang dibalas anggukan.
"Baik, Tuan. Aku akan segera menyiapkannya."
Setelah mengatakan hal tersebut Yi Jintao bergegas keluar dari kamar nomor 17.
Zhou Ziyang memijat pelipisnya dengan sedikit kekuatan. Ada beberapa pertanyaan yang singgah di pikirannya.
"Sebenarnya apa yang sedang dia rencanakan?"
"Kenapa dia perlu menemui Bos Yu?"
"Apa semua ini berkaitan dengan hilangnya Pelat Feilong?"
Bukan tidak ada, hanya saja orang yang bisa memberikan jawaban tidak berada dalam lingkup jangkauannya.
Akhirnya langit malam semakin gelap dan bulan naik lebih tinggi.
Liu Qingqing tengah berdiam diri di kamar. Setelah kepulangannya dari Penginapan Rongyi, dia bergegas membersihkan diri kemudian mulai sibuk untuk membaca beberapa buku. Dia mengabaikan Bai Liu yang sering bolak balik ke kamarnya untuk mengeceknya.
"Nona, ini sudah malam. Apa kamu tidak punya keniatan untuk beristirahat?" tanya Bai Liu dengan wajah cemas.
"Sebentar lagi, Liu'er. Aku ingin menyelesaikan bacaanku dulu." Liu Qingqing memberikan jawaban tanpa menoleh ke arah Bai Liu.
Bai Liu memperhatikan buku yang sedang dibaca Liu Qingqing. Dia tidak bisa tidak cemas, melihat nonanya terus sibuk sampai melupakan makan malam. Namun, dia telah berupaya untuk menegurnya meski pada akhirnya hanya mendapat sebuah penolakan ringan.
Dalam sekali pandang saja semua orang bisa melihat betapa tebal benda itu. Tidak mungkin bagi siapa pun mampu menyelesaikannya dalam waktu semalam. Sekalipun orang tersebut merupakan seorang jeniuas yang dihadirkan Dewa setiap seratus tahun sekali.
Liu Qingqing seolah bisa mengerti kecemasan Bai Liu. Dia berhenti membaca, mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Bai Liu. Dia menyunggingkan sebuah senyuman sembari berkata, "Baiklah, aku akan mendengarkanmu Liu'er. Sekarang aku akan menutup bukunya dan istirahat seperti yang kamu inginkan."
Dia dalam hati Bai Liu merasa bersalah, tetapi apa yang dilakukan hanya demi kebaikan nonanya juga. "Maafkan aku, Nona. Aku tidak bermaksud melarangmu, tetapi ini sudah malam. Menurutku buku itu sangat tebal, tidak mungkin kamu bisa membacanya sampai selesai hanya dalam waktu semalam."
__ADS_1
Mata Liu Qingqing menyipit. Dia sedikit menunduk dan melirik buku di hadapannya. Keningnya berkerut seolah dia baru menyadari kalau ternyata buku yang barusan dibacanya sangat tebal. Pantas saja Bai Liu terlihat sangat khawatir.
Dia memandang Bai Liu sekali lagi. "Liu'er, tolong kamu pergi ke dapur, bawakan aku beberapa cemilan dan satu toples anggur."
"Anggur? Apa Nona sedang dalam suasana hati yang tidak baik? Kenapa dia ingin minum?" Pertanyaan ini memenuhi hati Bai Liu.
"Liu'er, apa kamu tidak mendengar perkataanku?" tanya Liu Qingqing melihat ekspresi terkejut Bai Liu.
Bai Liu segera tersadar. "Dengar, Nona. Aku akan segera mengambilnya."
Setelah itu, dia buru-buru menyeret kakinya keluar dan pergi menuju dapur. Di waktu sebelumnya Bai Liu telah memerintahkan pelayan dapur untuk selalu memanaskan kompor, supaya ketika nonanya butuh sesuatu untuk dimakan dia tidak perlu menunggu lama.
Tanpa menunggu lama Bai Liu telah kembali ke kamar Liu Qingqing. Dia membawa semua pesanan nonanya. Meja yang tadinya dipenuhi buku-buku telah dibersihkan dan siap untuk menampung bawaan Bai Liu.
"Nona, semua sudah dibawa kesini. Apa kamu perlu sesuatu yang lain?"
"Ini sudah cukup, Liu'er." Nada suara Liu Qingqing terdengar ringan. "Kamu pergilah ke kamarmu dan istirahatlah."
"Kenapa, Nona? Apa saya tidak boleh menemanimu?"
Liu Qingqing menatap bawahannya. Dia bisa mengerti Bai Liu pasti sudah lelah setelah seharian menemaninya. Dia tidak ingin terus menyusahkan bawahannya itu, memaksanya untuk tetap berjaga sampai malam hari.
Dia memberikan senyuman kecil. Itu terlihat sangat murni tanpa ada unsur paksaan. Dia seolah ingin menyatakan bahwa dirinya baik-baik saja dan hatinya sama sekali tidak berada dalam suasana buruk. 'Ini sudah malam, Liu'er. Sebaiknya kamu kembali ke kamar dan beristirahat. Ini bukan permintaan tapi perintah!"
Ada ketegasan di akhir perkataan Liu Qingqing, membuat niat Bai Liu untuk menemaninya menjadi menciut. Dia jelas tahu bila mana Liu Qingqing sudah mengatakan 'Ini perintah', itu hal yang tidak bisa dilanggar.
Maka dari itu, dengan berat hati Bai Liu mengangguk. "Baik, Nona, aku akan undur diri."
Dia memandang Liu Qingqing dalam waktu cukup lama sebelum akhirnya berbalik untuk pergi. Langkahnya terasa berat. Dia begitu enggan untuk meninggalkan kamar nonanya
Tepat di bang pintu Bai Liu berhenti. Dia menoleh ke belakang, menatap Liu Qingqing dengan sorot permohonan. "Nona, apa kamu benar-benar tidak ingin aku temani?"
Liu Qingqing menggelengkan kepalanya. "Pergilah!"
Meskipun sangat berat untuk menyetujui permintaan Liu Qingqing, tetapi Bai Liu tidak bisa berbuat banyak. Pada akhirnya dia hanya bisa menyerah dan melangkah pergi ke kamarnya sendiri.
"Liu'er, Liu'er, kamu ini. Aku tahu kamu begitu peduli denganku, tetapi kamu juga harus mempedulikan dirimu sendiri."
Liu Qingqing menghela napas lega setelah kepergian Bai Liu. Dia tidak menikmati hidangan di atas meja dan lebih memilih melangkah ke arah jendela. Dia membuka jendela membiarkan angin dingin masuk dan menghantam dirinya.
__ADS_1
Dia mendongak ke atas dan pandangannya diarahkan ke bulan yang tergantung di langit. "Malam ini bulan bersinar lebih terang. Apakah ini bisa menjadi pertanda baik? Mungkinkan dia berhasil menemui Bos Yu?"