
Langit sore terlihat sedikit mendung, tetapi ibu kota masih dipenuhi hiruk-pikuk kehidupan. Orang-orang terlihat sibuk menjalani kegiatan di luar rumah. Di saat itulah sebuah kereta kuda mewah dari Kediaman Liu berhenti di dekat Penginapan Rongyi.
Liu Qingqing turun dari kereta dibantu oleh Bai Liu. Namun, ketika Liu Qingqing hendak berjalan ke arah penginapan tatapannya menangkap sosok yang pernah dia temui sebelumnya. Orang itu dengan tergesa-gesa memasuki Penginapan Rongyi.
Dalam diam Liu Qingqing berpikir, "Kenapa dia ada di sini? Apa orang itu juga ada di dalam penginapan?"
"Siapa yang kamu lihat, Nona?" Bai Liu mengikuti arah pandangan Liu Qingqing, tetapi dia tidak mengerti sosok mana yang menarik di mata nonanya karena di sana ada banyak orang keluar masuk ke penginapan. "Nona, apa kita akan tetap masuk atau kembali saja?"
Liu Qingqing segera kembali ke akal sehatnya. Dia melanjutkan langkahnya sembari berkata, "Kita tetap masuk! Jiang Yu pasti sudah menunggu di dalam."
"Baik, Nona." Bai Liu mengikuti Liu Qingqing dari belakang.
Seperti biasa Penginapan Rongyi ramai oleh pengunjung. Hal tersebut dikarenakan tempat itu merupakan penginapan terbaik di bawah Paviliun Rongyu. Selain itu, mereka juga menawarkan makanan khas yang terkenal lezat dengan harga sedikit lebih rendah.
Ketika melihat Liu Qingqing dan Bai Liu datang, seorang pelayan segera menghampiri mereka. Sebuah senyuman ramah menghiasi wajah orang itu saat memberikan layanan terbaiknya. "Nona Kedua Liu, Anda akhirnya berkunjung kembali. Berapa banyak kamar yang Anda butuhkan kali ini?"
Mendengar itu Bai Liu segera menjawab, "Pelayan, nonaku datang tidak untuk menginap. Jadi, kami tidak membutuhkan kamar satu pun."
Pelayan itu kembali tersenyum. "Lalu, apa kalian datang untuk menikmati menu andalan penginapan kami? Kemarin kami baru saja mendapat pasokan teh terbaru dan itu hanya bisa ditemukan di sini."
"Nona, bagaimana?" Bai Liu meminta persetujuan nonanya, tetapi Liu Qingqing tidak langsung menjawab.
Liu Qingqing justru sibuk memperhatikan setiap pengunjung. Seolah-olah dia tengah mencari sosok yang dilihatnya di depan penginapan tadi. Benar saja, tak menunggu lama Liu Qingqing berhasil menemukan orang yang dimaksud.
Orang itu tidak lain adalah Xu Jia, bawahan pribadi Zhou Ziyang. Dia tengah berdiri di lantai atas sembari memperhatikan Liu Qingqing yang berada di lantai bawah. Awalnya dia ingin menemui Zhou Ziyang, tetapi mendengar pelayan penginapan menyebut 'Nona Kedua Liu' langkahnya tiba-tiba terhenti.
Pandangan Liu Qingqing dan Xu Jia bertemu sebentar sebelum akhirnya mereka saling memalingkan wajah. Liu Qingqing segera melihat ke arah pelayan, sedangkan Xu Jia kembali melanjutkan tujuannya.
"Pelayan, aku datang untuk menemui seseorang. Dia memiliki nama belakang Jiang," ujar Liu Qingqing setelah mengabaikan Xu Jia.
"Oh, itu. Tuan Muda Jiang ada di kamar nomor 7 di lantai dua," kata pelayan itu. Sikapnya masih sangat ramah saat dia menawarkan bantuan. "Biar saya antar, Nona."
Liu Qingqing menolak dengan sopan. "Terima kasih sebelumnya, tetapi aku rasa itu tidak perlu. Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu, kami akan mencarinya sendiri."
"Baiklah kalau begitu. Jika nanti butuh sesuatu, kalian bisa memanggilku kembali," ujar pelayan itu.
Saat pelayan itu hendak pergi, Liu Qingqing menghentikannya. Dia bertanya dengan penuh kehati-hatian. "Pelayan, apa kamu mengenal orang yang barusan naik ke lantai atas?"
__ADS_1
Pelayan penginapan itu tidak langsung menjawab. Dia melihat ke arah lantai dua, lalu memandang Liu Qingqing sambil tersenyum. "Pemuda yang barusan melihat Nona adalah Tuan Muda Xu, orang dari Kediaman Pangeran Kedua."
Kalimat 'Orang dari Kediaman Pangeran Kedua' membuat Liu Qingqing linglung di tempat. Keterkejutan muncul bersamaan dengan kerutan di keningnya. Dia berpikir, "Mungkinkah orang yang aku temui waktu itu adalah Zhou Ziyang, seorang pangeran dari Kerajaan Zhao?"
"Nona Kedua Liu, Anda tidak apa-apa?" tanya pelayan itu. Dia bisa menemukan perubahan ekspresi di diri Liu Qingqing.
Liu Qingqing berusaha menarik kesadaran dirinya kembali. Dia bersikap tenang seperti sebelumnya, berpura-pura tidak ada hal yang dipikirkan. "Aku tidak apa-apa, Pelayan. Apa nama orang itu Xu Jia?"
"Benar, Nona." Pelayan itu mengangguk. "Tuan Muda Xu Jia merupakan pelanggan setia penginapan ini. Bila Nona ingin menemui dia, saya bisa mengaturnya."
"Baiklah, aku akan mengingatnya. Kalau mana aku butuh bantuanmu, semoga kamu berkenan membantu nona ini." Liu Qingqing tersenyum.
"Nona Kedua Liu, silakan nikmati waktu Anda di penginapan ini. Saya akan undur diri untuk mengurus hal lain. Jangan lupa memanggil saya kembali jika nanti kalian butuh sesuatu," ujar pelayan itu. "Penginapan Rongyi pasti akan menjamu Anda dengan pelayanan terbaik kami."
Liu Qingqing memberikan anggukan kecil sebagai bentuk penerimaan kesopanan dari pelayan Penginapan Rongyi. Setelah itu, dia ditemani Ba Liu menaiki tangga untuk menunju lantai dua. Sudah waktunya bagi dia menemui Jiang Yu untuk membahas hal penting.
Sebenarnya bukan perkara yang sulit untuk menemukan kamar nomor 7 di lantai dua. Hal itu dikarenakan tempat tersebut merupakan kamar yang pernah disewa oleh Liu Qingqing waktu mengunjungi Penginapan Rongyi terakhir kali.
Pada saat Liu Qingqing sampai ke tempat yang dituju, Jiang Yu segera memberikan salam dengan gerakan sangat sopan. "Nona, akhirnya kamu datang. Mari masuk!"
Liu Qingqing memasuki kamar Jiang Yu sembari berkata, "Liu're, kunci pintunya!"
"Tidak perlu. Kamu temani kami mengobrol!" Liu Qingqing sedikit tersenyum sebelum melanjutkan ucapannya. "Di sini Penginapan Rongyi, kamu tidak perlu takut akan ada orang yang mencuri dengar."
Ha itulah yang menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi orang-orang mengunjungi Penginapan Rongyi. Tempat tersebut sulit untuk dimasuki seorang penyusup atau pencuri berita. Bahkan pelayan di sana tidak mudah menerima suap untuk hal-hal kotor di luar urusan makan dan bermalam.
Setelah duduk di kursi Liu Qingqing berkata, "Jiang Yu, sudah lama kita tidak bertemu. Sepertinya kamu hidup dengan baik sehingga wajahmu terlihat jauh lebih segar."
"Semua berkat kebaikan Nona. Jika Nona tidak membiayai hidupku, bagaimana mungkin aku bisa bersembunyi dengan tenang." Jiang Yu tersenyum. "Tetapi, aku tidak mengerti kenapa Nona tiba-tiba menyuruhku menunggu di sini? Apa ada masalah yang mendesak, Nona?"
Liu Qingqing menjawab, "Tidak ada masalah yang terlalu sulit, hanya saja aku perlu bantuanmu untuk melakukan sesuatu."
"Apa itu?" tanya Jiang Yu penasaran.
"Apa kamu mengenal pendongeng terbaik di ibu kota? Aku perlu seseorang yang bisa menceritakan sebuah kisah dengan baik."
Mendengar permintaan Liu Qingqing yang mudah, tetapi sedikit aneh membuat kening Jiang Yu dan Bai Liu berkerut ringan.
__ADS_1
"Pendongeng ibu kota?" tanya Jiang Yu dan Bai Liu bersamaan.
"Kenapa kalian terkejut seperti itu? Aku hanya butuh seorang pendongeng bukan pembunuh," ucap Liu Qingqing santai. Dia mengambil cangkir teh dan menyesapnya dengan gerakan anggun. "Aku punya cerita menarik sehingga butuh seorang ahli untuk menceritakannya. Aku yakin cerita ini akan menghibur banyak orang bila dibawakan dengan baik dan benar."
"Ada satu orang, Nona. Tetapi, ...." Raut muka Jiang Yu menunjukkan keraguan yang sangat jelas.
"Tetapi, apa?" tanya Liu Qingqing. "Jika itu masalah bayaran, kamu tidak perlu khawatir Jiang Yu karena aku sudah menyiapkan bayaran yang pantas."
"Bukan itu yang aku khawatirkan, Nona. Aku paham betul Nona orang seperti apa dan aku tidak pernah meragukan kekayaan Keluarga Liu. Hanya saja untuk bertransaksi dengan orang itu sangat sulit. Kita harus mendapatkan izin dari Bos Yu agar cerita kita bisa dibawakan oleh si pendongeng."
Penjelasan Jiang Yu agak tidak dimengerti oleh Liu Qingqing, tetapi tidak untuk Bai Liu. Dia terlihat seperti sedikit jauh lebih paham. "Apa yang kamu maksud adalah pendongeng Paviliun Rongyu?"
Jiang Yu memberi anggukkan. "Iya, hanya dia yang disebut pendongeng terbaik ibu kota."
Kata 'Paviliun Rongyu' berhasil menarik perhatian Liu Qingqing sepenuhnya. Dia merasa tidak asing dengan nama tersebut, tetapi sulit untuk dikatakan dari mana dia mengetahuinya. Liu Qingqing terus berpikir dalam diam, sampai akhirnya dia ingat kalau Paviliun Rongyu pernah disebutkan dalam novel Legenda Putri Qingping.
Dalam novel disebutkan bahwa Paviliun Rongyu adalah restoran sekaligus penginapan terbaik di Ibu Kota Taiyuan. Tempat yang wajib dikunjungi oleh orang-orang untuk menikmati makanan, menginap, atau sekadar mendengar cerita terbaru. Sebagian besar berita yang beredar di Kerajaan Zhao selalu bermula dari sana.
"Paviliun Rongyu benarkah seperti yang di dalam novel? Sumber informasi ibu kota?" tanya Liu Qingqing dalam hati.
Melihat Liu Qingqing diam dalam waktu yang lama, Bai Liu kembali membuka suara. "Nona, kamu tidak apa-apa? Apa kamu tidak ingat tentang Paviliun Rongyu?"
"Aku baik-baik saja, Liu'er. Aku hanya merasa familiar dengan nama itu, tetapi setelah kucoba memikirkannya masih tetap tidak ingat," jawab Liu Qingqing.
Mendengar jawaban nonanya, Bai Liu hanya bisa menghibur dengan suara lembut. "Jangan terlalu dipaksakan, Nona. Kamu masih hilang ingatan sehingga wajar kalau tidak ingat tentang tempat itu."
"Iya benar kata Nona Bai, Nona jangan terlalu memikirkannya. Kami bisa membantu supaya ingatan Nona kembali," sela Jiang Yu.
Akhirnya sebuah senyuman muncul di wajah cantik Liu Qingqing. "Ah, kalian memang yang terbaik. Aku bersyukur bisa memiliki saudara seperti kalian. Untuk masalah ingatanku aku sudah serahkan semuanya kepada Dewa, seperti ini juga baik."
"Baguslah kalau Nona berpikir seperti itu. Aku juga bersyukur bisa menjadi bawahanmu, Nona." Jiang Yu ikut tersenyum. "Lalu, bagaimana dengan masalah pendongeng itu?"
Bai Liu menyela, "Aku dengar menemui pendongeng itu mudah, tetapi untuk menemui Bos Yu cukup sulit!"
"Kenapa seperti itu, Liu'er?" tanya Liu Qingqing tak mengerti.
"Entahlah Nona. Aku hanya mendengar dari orang-orang. Mungkin Tuan Muda Jiang lebih mengerti akan masalah ini."
__ADS_1
Ditatap oleh mata cerah Bai Liu, Jiang Yu merasa sedikit gugup. Namun, dia bisa mengendalikan diri kembali setelah menarik napas sebentar. "Seperti yang dikatakan Nona Bai untuk menemui Bos Yu memang cukup sulit, tetapi akan lebih sulit untuk mendapatkan kepercayaannya. Ada beberapa syarat untuk bisa bertransaksi dengan dirinya dan itu juga tergantung keberuntungan seseorang."
Liu Qingqing antusias. "Apa syaratnya?"