Legenda Raja Kultivator

Legenda Raja Kultivator
Chapter. 026: Memaksakan Diri


__ADS_3

Puncak Gunung, Daratan Bebatuan.


Xiao Chen kembali mengonsumsi Apel Air, Pisang Neraka dan Anggur Besi. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menghabiskan Apel Air dan Pisang Neraka, sekarang yang tersisa hanyalah 19 buah Anggur Besi.


Tidak seperti kemarin, Xiao Chen sudah memikirkan cara agar ia dapat mengonsumsi Anggur Besi dengan mudah. Xiao Chen menggunakan elemen apinya untuk membuat tekstur Anggur Besi menjadi lunak, tentu saja esensi dari buah tersebut tidak akan menghilang karena ia sudah mengetahui bagaimana cara mengatasinya.


Yong Shu yang melihat semua itu dibuat terkejut, dari kemarin sampai sekarang Xiao Chen selalu membuatnya kagum, ia mulai penasaran seberapa banyak bakat yang belum dikeluarkan muridnya itu.


Membutuhkan waktu satu jam bagi Xiao Chen untuk menghabiskan seluruh Anggur Besi, senyum puas terukir jelas di bibirnya, "Meskipun aku bereinkarnasi, sepertinya kepintaranku ini tidak memudar..." Batinnya dan diam-diam tertawa pelan.


Xiao Chen kemudian menatap gurunya yang sedang mengawasinya di atas batu besar sembari tiduran, "Kau ternyata anak yang pintar, Chen'er. Baiklah, sekarang mari kita lakukan latihan fisik..." Ucap Yong Shu lalu menimpali, "Kau harus turun ke kaki gunung lalu naik kembali sambil membawa batu besar di bawahku ini, lakukanlah sebanyak 100 kali dan jangan pernah berpikir untuk beristirahat. Jika kau menyelesaikannya, aku nanti akan memutuskan untuk melanjutkan kembali latihanmu atau tidak."


Xiao Chen tersedak nafasnya sendiri ketika mendengar itu, "Menaiki dan menuruni Gunung sambil membawa batu besar itu?! Apalagi melakukannya sampai 100 kali?! Apakah anda serius guru?" Xiao Chen tidak bisa untuk tidak terkejut.


Sekarang saja Xiao Chen sudah membawa beban seberat 1,2 ton dan tentu itu sangat membebankan tubuhnya, bagaimana mungkin dirinya bisa mengangkat batu besar itu?! Apalagi harus naik turun Gunung sebanyak 100 kali.


"Hahahaha... Lakukan saja, kau tidak akan menyesal jika melakukannya." Yong Shu tertawa, "Jika kau gagal melakukannya, pelatihan fisik yang sekarang akan dilipatgandakan besoknya."


Xiao Chen menelan ludah kasar ketika mendengarnya, ia kemudian mengangkat tangannya dan berniat untuk melepaskan seluruh gelang besi di tubuhnya.


"Oh iya, jangan pernah lepaskan gelang besimu sampai turnamen sekte Delapan Api tiba..." Larang Yong Shu dengan nada santai.


Tentu saja apa yang dikatakan Yong Shu membuat Xiao Chen membatalkan niatnya barusan, ia menghela nafas panjang lalu melapisi seluruh tubuhnya dengan Qi.


"Ayo lihat, sampai mana batas kekuatanku sekarang." Gumam Xiao Chen dan mulai mencoba mengangkat batu yang di atasnya terdapat guru.


Beberapa kali Xiao Chen mencoba untuk mengangkat batu tersebut, namun dirinya selalu gagal, "Apa-apaan batu ini, bagaimana bisa aku tidak dapat mengangkatnya satu inci pun?!" Xiao Chen tentu merasa syok, ia seratus persen yakin kalau berat dari batu ini lebih dari 3 ton.


"Jadi, apakah kau ingin menyerah sekarang?" Yong Shu bertanya dengan santai.

__ADS_1


Xiao Chen merasa kesal mendengarnya, ia berhenti selama beberapa saat untuk mengumpulkan tenaganya. Setelah satu batang dupa berlalu, Xiao Chen dengan raut wajah serius mulai mengangkat batu di depannya.


Xiao Chen berteriak dan batu tersebut akhirnya terangkat, ia mengangkat batunya sampai ke atas kepala. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja darah segar keluar dari lubang hidungnya.


Yong Shu yang mengetahui kalau muridnya sudah menembus batasannya langsung tersenyum tipis, "Kau dapat berhenti jika ingin beristirahat, Chen'er."


Xiao Chen menggelengkan kepalanya, "Tidak guru! Sekarang bukan waktunya untuk aku beristirahat!" Xiao Chen melangkahkan kakinya yang berat satu persatu.


Xiao Chen berjalan menuju kaki gunung sambil membawa batu besar di atas kepalanya. Membutuhkan waktu dua jam lebih untuk Xiao Chen sampai di kaki gunung, ia kemudian berbalik dan kembali berjalan ke atas gunung.


Waktu berlalu begitu cepat, malam tiba. Seharian ini, Xiao Chen hanya bolak-balik dari kaki gunung ke puncak, dia sama sekali tidak beristirahat sedikitpun dan membuat Yong Shu sedikit khawatir.


"Sepertinya latihan yang kuberikan memang terlalu berlebihan, mungkin aku harus menguranginya agar tidak membebani tubuhnya." Yong Shu membatin. Dia masih terus berbaring di atas batu sambil memandangi langit malam.


Beberapa menit kemudian. Xiao Chen sampai di puncak gunung, kakinya sekarang bergetar hebat dan ia berniat untuk membalikkan tubuhnya.


"T-tapi guru, saya belum menyelesaikan latihan yang anda berikan." Ucap Xiao Chen dengan suara serak.


Yong Shu terdiam dan dengan wajah datar ia menghancurkan batu yang di angkat Xiao Chen menggunakan tendangan, "Patuhi saja gurumu. Aku tidak ingin tubuhmu terluka parah jika latihan ini diteruskan..."


Ketika batu tersebut hancur berkeping-keping, pandangan Xiao Chen langsung menjadi gelap dan ia perlahan kehilangan kesadarannya. Yong Shu dengan siaga menangkap muridnya, ia menghela nafas panjang dan bergumam, "Kau murid yang bersemangat, Chen'er."


Sesaat setelah bergumam seperti itu, Yong Shu dan Xiao Chen menghilang dari sana dalam sekejap tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.


***


Di Dalam Gua.


Yong Shu yang sedang menggendong Xiao Chen di punggungnya langsung menidurkan muridnya itu di tanah yang dilapisi dengan kain tebal.

__ADS_1


Yong Shu menghela nafas panjang lalu mengelus rambut Xiao Chen secara perlahan, "Aku akan pergi, beristirahatlah dengan baik..."


Yong Shu berdiri lalu berjalan menuju keluar Gua.


.......


Keesokan harinya.


Pagi tiba. Xiao Chen perlahan membuka matanya dan mendapati langit-langit Gua, ia perlahan bangkit lalu menoleh ke arah sekitarnya, "Dimana guru? Apakah dia pergi berburu lagi?" Gumamnya bertanya-tanya.


Xiao Chen mencoba untuk bangkit berdiri namun kakinya sangat sakit dan sulit untuk digerakkan, "Sial, sepertinya kemarin aku benar-benar memaksakan diri..." Xiao Chen mengumpat dalam hati.


Xiao Chen kemudian melakukan posisi sila, mau tak mau ia berkultivasi untuk sementara waktu sampai gurunya kembali.


Beberapa jam kemudian. Xiao Chen perlahan membuka matanya, ia tersenyum karena sudah berhasil menembus Qi Foundation bintang 7, "Guru belum kembali juga? Sebenarnya apa yang sedang dia lakukan?" Xiao Chen mulai penasaran.


Xiao Chen berdiri meskipun kakinya masih terasa sakit, ia berjalan tertatih-tatih menuju pintu keluar Gua.


Saat di luar Gua. Xiao Chen menyebarkan Kesadaran Spiritualnya ke penjuru arah sejauh tiga kilometer, namun dirinya tidak menemukan tanda-tanda keberadaan gurunya.


"Haiss, apakah guru pergi keluar Gunung?" Xiao Chen menggelengkan kepalanya pelan dan kembali memasuki Gua.


Xiao Chen mengambil sebuah keranjang yang berisi apel air, pisang neraka dan anggur besi. Meskipun keranjang tersebut diletakkan secara tersembunyi, tetapi Xiao Chen dapat menemukannya dengan mudah berkat menyebarkan Kesadaran Spiritual barusan.


Tanpa basa-basi, Xiao Chen langsung melahap buah-buahan yang tersimpan di dalam keranjang sampai habis, ia dapat menghabiskan semuanya hanya dalam kurun waktu kurang dari satu batang dupa saja.


Bersambung.....


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> GIFT >> COMMENT.

__ADS_1


__ADS_2