Legenda Raja Kultivator

Legenda Raja Kultivator
Chapter. 049: Keluar dari Penjara Sepuluh Dewa Agung


__ADS_3

Gunung Luxao, area Hutan.


Saat ini Xiao Chen, Ang Shao dan Yun Rue muncul di antara pepohonan. Raut wajah mereka bertiga terlihat kebingungan, tetapi itu tidak berlangsung lama.


"Kita sudah kembali..." Xiao Chen berkata dengan suara pelan.


"Benar. Tempat ini di sekitar Lembah Abadi..." Sambung Yun Rue, "Jadi, apa yang akan kalian berdua lakukan selanjutnya?"


"Aku akan kembali ke sekte..." Jawab Ang Shao.


"Kalau aku melanjutkan perjalananku..." Jawab Xiao Chen.


Yun Rue mengelus dagunya, lalu menghela nafas panjang, "Haah... Sepertinya kita berpisah disini, ya. Apakah kita akan terus berhubungan?"


"Aku pergi dulu." Tanpa menjawab pertanyaan dari Yun Rue, Ang Shao pergi dari sana.


Yun Rue berdecak kesal, "Ck, dingin sekali..."


"Kita lihat saja nanti..." Jawab Xiao Chen lalu melanjuti, "Aku juga harus pergi untuk mencari teman-temanku. Sampai jumpa, Yun Rue..."


Xiao Chen langsung pergi dari sana tanpa menunggu jawaban dari wanita cantik itu.


"Uhhhh! Apa-apaan sih mereka berdua?! Kenapa mereka mengabaikan aku?!" Yun Rue berteriak kesal, padahal saat di sektenya banyak pria yang ingin mengobrol dengannya, "Dasar! Aku tidak percaya ini!"


Yun Rue langsung melangkahkan kakinya dengan perasaan kesal.


Di sisi lain, Xiao Chen sampai di sisi Lembah Abadi. Kesadaran Spiritualnya kemudian meluas, dan mencari keberadaan teman-temannya.


Xiao Chen ingin meminta maaf kepada mereka karena sudah menghilang tanpa meninggalkan sesuatu.


Cukup lama Xiao Chen mencari keberadaan teman-temannya, akhirnya ia menemukan aura yang sangat mirip dengan Qiao Yu, "Apa yang sedang dia lakukan?" Batinnya bertanya-tanya, lalu melesat menghampiri wanita cantik itu.


"Qiao Yu!" Xiao Chen langsung menyapa sambil membuka topengnya.


Wanita cantik bergaun merah muda itu mendongakkan kepala, matanya sembab seperti baru selesai menangis.


"Aku tau kau akan menemuiku..." Qiao Yu berdiri, dan langsung menampar pipi Xiao Chen dengan tangan kanannya.


Plak!


Suara tamparan tersebut mengundang perhatian para kultivator muda yang masih ada di sana.


"Apa ada sesuatu yang terjadi?"


Xiao Chen tidak bertanya mengenai alasan Qiao Yu menamparnya, karena ia sudah jelas mengetahui kalau ada masalah yang menimpa wanita cantik itu.

__ADS_1


Qiao Yu menggertakkan gigi, air matanya berkaca-kaca seakan bisa menangis kapan saja.


"Sepertinya adikmu, ya?" Xiao Chen menebak karena di dalam Kesadaran Spiritualnya, ia sama sekali tidak merasakan keberadaan Qiao Jifeng.


Tangisan Qiao Yu pecah setelah Xiao Chen mengatakan itu, dia berusaha menghapus air matanya, "S-salahmu! I-ini salahmu! Hiks..." Ucap Qiao Yu dengan terbata-bata.


Xiao Chen tidak tau harus berbuat apa, ia hanya bisa diam dan menunggu wanita cantik itu berhenti menangis.


Setelah beberapa menit, Qiao Yu menghentikan tangisannya, ia melirik ke arah Xiao Chen yang sedang menatapnya balik dengan tatapan iba.


"Maafkan aku..." Xiao Chen memegang tangan kanan Qiao Yu, "Aku menghilang tanpa meninggalkan jejak apapun..."


"Kenapa, apa alasannya?" Qiao Yu bertanya dengan suara serak.


"Itu... Aku tidak bisa memberitahunya. Maaf..."


Xiao Chen sudah diperingati oleh ketiga roh untuk tidak memberitahu orang lain mengenai dirinya yang menjadi pewaris senjata Dewa Agung, karena suatu saat itu bisa menimbulkan masalah bagi dirinya.


"Adikku... Dia... Dia...." Qiao Yu terisak, "Lu Ren yang membunuhnya..."


Xiao Chen melebarkan matanya ketika mendengar itu, jantungnya berdetak lebih kencang karena tidak sengaja mengingat kejadian yang terjadi padanya di kehidupan lalu.


"Aku turut berduka..." Xiao Chen memeluk Qiao Yu.


Wanita cantik itu sama sekali tidak bereaksi dan hanya menggertakkan gigi, sebenarnya ini bukan salah Xiao Chen tetapi ia menyalahkannya karena kesal dengan kepergiannya tiba-tiba.


Xiao Chen memeluk Qiao Yu cukup lama, lalu mengajaknya untuk pergi dari sana.


Di perjalanan, suasana hening dan tidak ada siapapun di antara mereka berdua yang mengeluarkan suara.


Malam tiba, Xiao Chen dan Qiao Yu sudah berada di sebuah Desa yang cukup luas.


"Kita akan mencari Penginapan..." Ucap Xiao Chen dengan suara pelan.


Satu batang dupa berlalu. Xiao Chen dan Qiao Yu akhirnya menemukan sebuah Penginapan di Desa tersebut.


"Maafkan saya, tuan muda. Tetapi kamar yang tersisa hanya ada satu saja... Hari ini, cukup banyak kultivator yang berdatangan." Seorang pria tua berkata dengan suara sungkan, dia adalah pemilik dari Penginapan tersebut.


Xiao Chen mengangguk, "Baiklah. Tidak apa..."


Xiao Chen tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, meskipun dirinya harus satu ruangan dengan seorang perempuan. Setelah membayar, Xiao Chen dan Qiao Yu pergi ke kamar yang telah disewanya.


Ketika di Kamar. Xiao Chen melepaskan topeng hitamnya lalu menyimpan di cincin penyimpanan. Setelah itu, ia menoleh ke arah Qiao Yu yang sedang duduk mematung di atas tempat tidur.


Xiao Chen berjalan dan duduk di samping wanita cantik itu, "Tolong ceritakan... Aku ingin mendengar detailnya darimu." Ucapnya sambil menatap Qiao Yu.

__ADS_1


Qiao Yu sendiri terdiam cukup lama, dan kemudian menarik napasnya cukup dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan, "Baiklah..."


Tanpa menengok ke arah Xiao Chen sedikitpun, Qiao Yu menceritakan semua kejadian itu dengan rinci.


***


Dua minggu yang lalu, di Penjara Sepuluh Dewa Agung.


Setelah Xiao Chen menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Qiao Yu dan yang lainnya melanjutkan perjalanan bersama dengan Serigala Hitam.


Beberapa hari kemudian, di Hutan tanpa nama. Mereka berempat menemukan sebuah sumur gelap, aura membunuh yang kental keluar dari sana dan membuat mereka penasaran.


"Biarkan aku masuk, kalian berjaga disini." Lu Ren tanpa ragu mengajukan diri.


Du Yang He dan Qiao bersaudara setuju.


Setelah Lu Ren masuk ke dalam sumur, mereka bertiga berjaga di luar.


"Bukankah berbahaya jika membiarkan saudara Ren masuk sendirian?" Qiao Jifeng bertanya, karena khawatir ada makhluk kuat yang bersemayam di dalam sana.


Du Yang He menghela napas, "Tidak perlu khawatir. Sebelumnya aku sudah menyebarkan Kesadaran Spiritualku, dan hasilnya aku tidak menemukan satupun makhluk hidup di dalam sana."


"Tapi, bisa saja ada jebakan bukan?"


"Kau benar. Maka dari itu, dia masuk send- Hmm? Aura membunuh itu tiba-tiba saja hilang..."


Du Yang He langsung melihat ke arah dalam sumur, dan mendapati Lu Ren yang sedang memanjat.


Du Yang He mundur beberapa langkah agar Lu Ren mendapatkan ruang.


"Apa yang ada di dalam sana?" Tanya Du Yang He setelah melihat Lu Ren berhasil keluar dari sumur.


"Ada tengkorak yang berada dalam posisi sila, aku menyentuhnya dan tiba-tiba saja aura membunuh itu hilang..." Jawab Lu Ren cepat.


Du Yang He terdiam mendengar jawaban dari Lu Ren, sedangkan Qiao Jifeng menanyakan apakah tengkorak tersebut menyeramkan atau tidak.


"Ya sudahlah. Palingan itu hanya sesuatu yang sengaja dibuat oleh grup lain agar kita menjauh dari sumur..." Qiao Yu tidak ingin mempermasalahkan sumur tersebut lebih jauh lagi.


"Memangnya itu masuk akal?" Du Yang He menggelengkan kepalanya, karena ucapan dari wanita cantik itu sama sekali tidak masuk ke dalam logikanya.


Qiao Yu mengangkat pundaknya, seakan mengatakan 'Siapa yang tau tentang itu?'


Du Yang He menghela napas panjang dan mengakhiri percakapan tersebut, ia kemudian mengajak mereka untuk melanjutkan perjalanan kembali.


Bersambung.....

__ADS_1


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> GIFT >> COMMENT.


Note: Tolong vote dong, masa sepi sih :(


__ADS_2