
Setelah beristirahat selama beberapa waktu, Xiao Chen dan teman-temannya kembali melanjutkan perjalanan.
Waktu terus berlalu dan tak terasa hari sudah larut malam. Xiao Chen dan yang lainnya masih mencari tempat yang cocok untuk beristirahat.
"Senior Xiao, apa gak lebih baik kita berhenti disini saja?" Qiao Jifeng bertanya dengan nafas memburu.
Xiao Chen terdiam sejenak ketika mendengar pertanyaan tersebut lalu menjawab, "Baiklah. Kita akan istirahat disini..."
Xiao Chen berhenti di sebelah sebuah batu besar setinggi tiga meter. Lu Ren dan yang lainnya juga berhenti dan langsung terduduk lemas.
"Haah... Haah... Akhirnya berhenti juga." Ucap Qiao Jifeng lalu mengeluarkan botol air dari cincin penyimpanannya.
Xiao Chen sendiri mengeluarkan tumpukan kayu dan membuat api unggun menggunakan elemen apinya. Setelah itu, Xiao Chen langsung bersender di pohon besar dan menatap bulan di langit malam.
"Ternyata kamu sangat berbakat, senior Xiao." Du Yang He tidak bisa berhenti berdecak kagum melihat pengendalian Api yang dilakukan oleh Xiao Chen.
"Berbakat, ya..." Xiao Chen bergumam lalu menghela nafas, "Apakah kalian ingin makan?"
"Mau!" Lu Ren menjawab dengan cepat, dan diikuti oleh yang lainnya.
Xiao Chen tersenyum tipis dan kemudian mengeluarkan lima daging mentah yang cukup besar, "Ambil satu daging untuk satu orang..."
Lu Ren mengangguk patuh dan mengambil satu daging di tangan Xiao Chen, tidak hanya dia saja tetapi yang lain juga melakukannya.
Mereka berlima kemudian membakar daging mentah tersebut lalu memakannya setelah matang.
Usai mengisi perut mereka, Xiao Chen mengajukan diri untuk berjaga malam dan Du Yang He juga ikut mengajukan diri.
Lu Ren, Qiao Jifeng dan Qiao Yu langsung tertidur setelah Xiao Chen dan Du Yang He mengajukan diri untuk berjaga malam.
Suasana menjadi hening hingga akhirnya Du Yang He berbicara, "Sepertinya mereka sudah benar-benar percaya denganmu ya, senior Xiao,"
Xiao Chen tersenyum tipis dibalik topengnya, "Aku juga penasaran, kenapa mereka menjadi sangat percaya kepadaku? Padahal sudah menjadi pengetahuan umum, kalau di Dunia ini kita tidak boleh percaya dengan orang lain begitu saja."
Du Yang He tersenyum, "Senior Xiao, apa alasanmu mengembara?"
"Tidak ada alasan yang pasti, kecuali ingin menjadi kuat dan menemukan kekasihku." Jawab Xiao Chen dan sedikit mengejutkan pria berpakaian hitam itu.
"Aku tak menyangka orang sepertimu tertarik dengan percintaan."
"Hahaha...Aku manusia, sudah wajar tertarik dengan hal semacam itu. Kau sendiri, bagaimana?"
"Tentang percintaan?" Du Yang He bertanya memastikan.
Xiao Chen mengangguk.
"Aku tidak begitu tertarik dengan percintaan, menurutku mengurus hal itu hanya akan membuang-buang waktu saja."
Xiao Chen mengangguk paham, "Dulu aku juga sama sepertimu, tidak terlalu peduli dengan percintaan. Tetapi setelah bertemu dengannya, aku merasa seperti mendapatkan kehangatan yang tidak bisa kudapatkan setiap hari."
"Orang-orang juga begitu, banyak dari mereka yang awalnya menyukai tentang percintaan dan kemudian malah menjadi membencinya. Ya... Aku harap kau tidak menjadi salah satunya, karena kebencian seperti itu akan sulit dihilangkan."
__ADS_1
Xiao Chen tertawa pelan, sudah lama ia tidak menemukan lawan bicara seperti Du Yang He, "Terima kasih, aku akan mengingatnya..."
"Baguslah..." Du Yang He tersenyum lalu melirik ke arah kiri, "Sepertinya akan ada tamu, senior Xiao. Siapa yang ingin mengurusnya?"
Xiao Chen bangkit berdiri, "Biar aku saja. Kau jaga mereka, jika ada situasi sulit jangan ragu untuk membangunkan ketiganya." Ucapnya lalu mengeluarkan kedua pedangnya yang tersimpan di belakang punggung.
"Baik, senior."
"Aku pergi..." Xiao Chen langsung melesat ke arah barat.
***
Di Hutan Gelap.
Sekelompok orang berjumlah lima orang sedang berdiri di atas pohon yang berbeda-beda, "Ketua, salah satu dari mereka ada yang kemari..."
"Kalian bersiap, dan jangan ada yang lengah! Dia kuat! Aku tidak bisa melihat basis kultivasinya..."
"Baik, ketua."
Sesaat setelah itu, Xiao Chen muncul dihadapan salah satu dari mereka dan tanpa ragu menebaskan kedua pedangnya.
"Dia di sana! Ayo serang bersamaan!"
"Setuju."
Trang!
Trang!
Trang!
"Pergi saja. Mustahil bisa menang dariku..." Xiao Chen berkata dengan tatapan dingin.
"Sial! Ketua, dia sangat kuat!"
"Aku tau... Maka dari itu, kita harus serius." Seorang pria berusia 23 tahun mengeluarkan tombak dari udara kosong, "Jurus Ketiga, Tombak Penghancur Batu."
Pria tersebut melesat ke arah Xiao Chen dan menyerangnya dengan sangat cepat, di setiap serangan tombaknya dapat menghancurkan sebuah batu besar.
Xiao Chen menangkis semua serangan itu dengan mudah, saat ada kesempatan ia mengangkat kedua pedangnya ke atas dan langsung menyerangnya secara menyilang.
Whooosh!
Bam!
Pria itu terpental ke belakang hingga menghancurkan beberapa pohon, darah kental keluar dari mulutnya.
"Ketua!" Ketiga orang lainnya yang masih sehat langsung menghampiri pria yang dipanggil 'Ketua' itu.
"Huff... Huff... Aku pikir kekuatanku sekarang sudah menyamai jenius di luar desa, ternyata tidak apa-apanya ya..." Ketua berbicara dengan nafas memburu.
__ADS_1
"Ketua! Anda tidak boleh menyerah! Kita harus menghabisinya sebelum kita yang dihabisi!"
"Benar, Ketua! Jangan menyerah! Jika kita menyatukan kekuatan, kita bisa mengalahkan dia!"
"Hahaha... Kalian ini, terlalu berpikir positif." Ucap Ketua lalu menatap ke arah Xiao Chen, "Kamu akan membiarkan kami pergi, bukan?"
Xiao Chen mengangguk dan dengan wajah datar menjawab, "Iya."
"Bagus. Kalau begitu, ayo pergi dari sini..." Ketua bangkit berdiri dengan bantuan anggota grupnya.
"Ketua, kenapa kita tidak lawan saja?!"
"Haiss... Kau ini gak bisa baca situasi, ya?" Ketua berbicara lalu melanjuti, "Dia bisa membunuh kita dengan mudah, bahkan aku saja dibuat seperti ini dalam waktu kurang dari tiga menit. Seharusnya kita bersyukur kalau dia membiarkan kita pergi..."
Ketiga orang itu yang mendengarnya hanya bisa diam, raut wajah mereka muram karena kesal kalah dari pertarungan pertama di Penjara Sepuluh Dewa Agung.
"Bawa, Ya Chong. Dia terluka parah, pasti sulit baginya untuk bergerak sendiri."
"Baik, Ketua!"
Salah satu dari mereka pergi ke Ya Chong yang sudah terluka parah itu, lalu membantunya berjalan dengan cara merangkul.
Ketika mereka sedang beranjak pergi dari sana, Xiao Chen berbicara, "Jika kita bertemu sekali lagi, tidak akan ada lagi kesempatan semacam ini. Ingat itu..."
Ketua tersenyum dan tanpa menoleh ia menjawab, "Baik... Akan kuingat."
Xiao Chen langsung menghilang dari sana setelah mendengarnya, ia kembali ke tempat istirahat anggota grupnya.
***
"Kau hebat, senior." Du Yang He tersenyum dan Xiao Chen tiba-tiba saja muncul di sekitar sana.
"Ya, begitulah. Mereka lemah..."
"Tapi, kenapa kau tidak langsung membunuh mereka? Mereka bisa saja datang lagi untuk balas dendam, mengasihani musuh dengan cara membiarkan mereka hidup akan menjadi bom waktu bagi dirimu..."
"Kau benar. Namun kesempatan kedua harus diberikan, bukan?"
Du Yang He menghela nafas pendek, "Kesempatan kedua? Bukankah itu sama saja memberikan waktu untuk mereka menjadi tambah kuat, dan juga membunuh orang lain yang lebih lemah."
"Kau benar, maka dari itu aku hanya memberikan kesempatan kedua kepada orang yang kumau saja..." Balas Xiao Chen lalu melanjuti, "Seperti mereka contohnya..."
"Terserah senior saja, deh. Aku pernah bertemu dengan orang yang mirip sepertimu, dan nyatanya dia malah mati terbunuh ditangan orang yang sudah diberikan kesempatan kedua..."
Xiao Chen tersenyum tipis, "Orang yang kau maksud sepertinya berharga. Aku tidak akan bertanya lebih jauh, tapi menurutku pilihannya sudah tepat..."
Du Yang He diam tak membalas perkataan Xiao Chen, ia memilih untuk tidak berdebat lebih jauh karna malas.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> GIFT >> COMMENT.
__ADS_1