
Xiao Chen yang mendengar cerita Yang Zhen hanya mengangguk pelan, bisa dibilang ia sangat memahami perasaan pria itu.
"Menyebalkan bukan?"
Yang Zhen sedikit mengerutkan alisnya, "Apa maksudmu?"
"Menjadi lemah..."
"Huh, Kau ini sedang mengejek, ya?" Yang Zhen bertanya dengan nada sedikit kesal.
Xiao Chen tersenyum kecut, "Tidak. Aku juga mengalami hal yang sama sepertimu..."
"Ah... Maaf, aku turut berduka..."
"Terima kasih..." Xiao Chen terdiam selama beberapa saat lalu melanjuti, "Aku kehilangan kekasihku, karena aku sendiri yang membunuhnya..."
Yang Zhen sedikit melebarkan matanya dan bertanya, "Apa alasannya, bisa kau ceritakan?"
Xiao Chen menggelengkan kepala, "Maafkan aku... Tapi aku tidak ingin menceritakannya. Yang bisa aku beritahu, kalau itu adalah sebuah kecelakaan..."
Yang Zhen terdiam dan kemudian terkekeh pelan, "Hahaha~ Ternyata jenius seperti kita mempunyai cerita cinta yang tragis, ya. Haruskah kita membuat grup patah hati?"
"Hahaha~ Sialan. Kau saja yang jadi anggotanya, aku sudah mempunyai wanita lagi..."
"Cih, dasar kau..." Yang Zhen memutar bola matanya dengan malas.
Ketika obrolan mereka berdua berakhir, muncul wajah seorang wanita cantik yang sedang tersenyum.
"Hai, kalian..." Yun Rue menyapa.
"Apa maumu?" Yang Zhen bertanya dengan nada acuh tak acuh.
"Aku dan temanku ingin berkenalan, bolehkah kita?...."
"Gak. Huss... Hus... Pergi~" Yang Zhen mengusir mereka dengan lambaian tangan kiri.
Yun Rue tetap tersenyum, namun senyumannya kali ini mengandung rasa kesal.
"Kenapa masih belum pergi juga? Wajahmu mengganggu langit yang indah, tau tidak?" Yang Zhen mencibir.
Senyuman di wajah Yun Rue luntur, dan ketika ingin mengatakan sesuatu. Xiao Chen bangun dan memperkenalkan diri.
"Namaku adalah Xiao Chen..."
Yun Rue yang mendengarnya kembali tersenyum, "Namaku Yun Rue, dan dia Qing Mei Lin..." Ucapnya memperkenalkan diri, sekalian dengan wanita cantik didekatnya.
"Baiklah. Apa yang kalian inginkan? Aku tau, kedatangan kalian kesini bukan hanya perkenalan diri belaka..." Xiao Chen bertanya tanpa basa-basi.
__ADS_1
Yun Rue terdiam sejenak ketika mendengarnya lalu menoleh ke arah Qing Mei Lin. Kedua wanita cantik itu saling menatap satu sama lain, lalu menganggukkan kepala secara bersamaan.
Mereka berdua kemudian menatap Xiao Chen dengan tatapan serius, "Izinkan kami berdua melihat wajahmu!" Dengan serempak mereka berkata.
Xiao Chen cukup terkejut mendengar itu, begitu juga dengan Yang Zhen.
"Tidak. Aku tidak mau melakukannya..." Xiao Chen menolak sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa~?" Tanya Yun Rue dengan raut wajah muram.
"Karna aku tidak mau, lagipula kita tidak dekat sama sekali." Jawab Xiao Chen acuh tak acuh.
"Tuh kan, apa kubilang. Dia tidak akan mau membuka topengnya..." Qing Mei Lin berbisik.
"Memangnya kenapa kalian begitu penasaran dengan wajahku?"
Xiao Chen bertanya dan langsung dijawab oleh Yun Rue, "Kami hanya penasaran saja!"
Xiao Chen terdiam sejenak sebelum menghela nafas, "Kalau begitu, aku akan membukanya selama lima detik. Namun dengan syarat, kalian harus segera pergi dari sini."
"Wah! Benarkah?" Yun Rue tersenyum lebar, "Baiklah, kami janji!"
Yun Rue dan Qing Mei Lin berdiri dihadapan Xiao Chen, tidak hanya mereka berdua saja yang penasaran tetapi Yang Zhen juga.
Xiao Chen sendiri memegang pinggir topengnya lalu membukanya.
Mereka bertiga yang melihat wajah Xiao Chen langsung tertegun dengan ketampanannya, dan lima detik kemudian pria berjubah biru itu kembali mengenakan topengnya.
"Jadi, apakah kalian akan menepati janji?" Xiao Chen bertanya dan memecahkan keheningan yang ada.
Yun Rue dan Qing Mei Lin tersentak mendengarnya, mereka terdiam sejenak sebelum pergi dari sana.
Xiao Chen yang melihat reaksi dari kedua wanita cantik itu sedikit keheranan lalu menoleh ke arah Yang Zhen disebelahnya, "Hei, apakah wajahku sejelek itu?" Tanya Xiao Chen penasaran.
"Sial, saudara Xiao! Kau tampan!" Yang Zhen berkata dengan suara lantang.
"Oi, sial! Berhenti mengatakan itu dengan lantang!" Xiao Chen menutup mulut Yang Zhen, dia takut akan terjadi kesalahpahaman jika orang lain mendengarnya.
Yang Zhen melepaskan tangan Xiao Chen yang menutup mulutnya, "Saudara Xiao, kenapa kau memakai topeng? Padahal wajahmu itu di atas rata-rata..."
Xiao Chen sendiri menghela nafas panjang, "Aku ingin menyembunyikan identitasku..."
"Hm? Apa alasannya?"
"Aku tidak mau dikenali oleh orang yang kenal denganku, apalagi jika dia adalah anggota dari sekte yang pernah aku tempati dulu..."
Yang Zhen terdiam sejenak dan memilih untuk tidak bertanya lebih jauh lagi, "Ya sudahlah, aku tidak peduli..." Ucapnya setelah berbaring.
__ADS_1
Xiao Chen tersenyum tipis dan ikut berbaring disebelah Yang Zhen.
.....
Keesokan Harinya.
Yang Min, Xhu Ren dan Yue Ying sedang berdiri dihadapan para calon penerus. Mereka semua baru saja berkumpul, dan suasana masih dalam keadaan hening.
"Apakah kalian sudah siap untuk melakukan pertarungan hidup dan mati?" Tanya Yang Min dengan suara tenang.
"Kami siap~!" Jawab mereka secara serempak.
"Bagus... Kalau begitu..." Yang Min mengeluarkan sebuah wadah kaca bulat berukuran sedang di tangan kirinya.
Didalam wadah tersebut ada beberapa kertas kecil yang sudah digulung. Yang Min mengangkat tangannya kirinya ke depan, "Kalian akan mengambil satu dari keenam kertas ini, dan tidak ada yang boleh membukanya sebelum aku menyuruhnya, mengerti?"
"Mengerti~!" Jawab mereka serempak.
"Bagus. Kalian dapat mengambilnya..."
Qing Mei Lin menjadi yang pertama mengambil secarik kertas itu, dan kemudian diikuti oleh yang lainnya secara teratur.
Yue Ying kemudian berkata setelah para calon penerus mengambil masing-masing dari gulungan kertas itu, "Setiap kertas bertuliskan angka dari satu sampai enam, dan kalian akan bertarung dengan lawan kalian sesuai urutan angka." Ucap Yue Ying menjelaskan.
"Kalian boleh membukanya sekarang..." Lanjut Yang Min dan dengan segera dibuka oleh mereka.
Xiao Chen membuka secarik kertas yang digulung itu, dan dirinya mendapatkan angka empat, "Berarti lawanku diurutan nomor tiga, ya." Xiao Chen membatin.
"Saudara Xiao, kau dapat angka berapa?" Tanya Yang Zhen dengan raut wajah serius.
Xiao Chen menoleh dan menelan ludahnya, "Aku angka empat, kau?..."
"Ah, sayang sekali..." Yang Zhen berdecak pelan, "Aku nomor lima..." Ucapnya memberitahu sambil memperlihatkan kertas di tangannya.
Xiao Chen diam-diam menghela nafas panjang ketika melihatnya, ia bersyukur karena tidak menjadi lawan Yang Zhen. Bukan karena mereka berteman, tetapi Xiao Chen tidak begitu yakin kalau dirinya dapat menang melawannya.
"Ya... Tapi syukurlah, saudara Xiao. Jika kita berdua saling bertarung, aku sendiri tidak yakin dapat memenangkannya..." Yang Zhen tersenyum lebar.
"Sudah lihat angka masing-masing?" Xhu Ren bertanya.
"Sudah, guru!" Jawab mereka serempak.
"Bagus. Kalau begitu, kita akan mulai pertarungannya..." Xhu Ren menjentikkan jarinya dan dalam sekejap mereka semua menghilang dari padang rumput tanpa ujung.
"Aku akan mengawasi pertarungan Xiao Chen dengan Jiang Pi." Yang Min langsung menghilang dari sana tanpa menunggu jawaban.
"Ah, dasar pak tua sialan." Yue Ying berdecak kesal dan langsung menghilang, diikuti oleh Xhu Ren.
__ADS_1
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> GIFT >> COMMENT.