Legenda Sepanjang Masa

Legenda Sepanjang Masa
Chapter 21 - Legenda Sepanjang Masa


__ADS_3

"Ini orang-orang pada ke mana, ya? Kok sepi amat," gumamku keheranan karena tidak melihat satu pun warga yang berjaga di perbatasan desa. Padahal, biasanya pasti selalu ada warga yang berjaga di perbatasan selama dua puluh empat jam penuh.


Selain itu, suasana desa juga terasa agak berbeda dari biasanya. Obor-obor yang biasanya digantung di depan rumah-rumah warga sebagai penerangan, sebagian besar menghilang sehingga membuat suasana desa jadi jauh lebih gelap dan lebih sepi dari biasanya.


Karena merasa ada yang aneh, kami pun memutuskan untuk berkeliling dan melihat-lihat sebentar sebelum pulang ke rumah masing-masing.


"Desa kalian kok suram amat?" kata Javier.


"Nggak tau, biasanya juga nggak gini," balasku.


"Apa jangan-jangan desa kita habis dijarah?" tanya Drian.


"Kayaknya nggak mungkin deh. Kalo abis dijarah, rumah-rumah pasti berantakan, tapi ini semua kayak baik-baik aja," balas Angel.


"Apa mungkin ... mereka lagi sembunyi dan mau ngasih kita kejutan?" kataku.


"Bisa jadi," balas Drian.


Kami pun terus berkeliling, dan sesampainya di depan panti, kami cukup terkejut karena mendapati ibu-ibu dan anak-anak panti sedang berkumpul dengan raut sedih bercampur cemas, bahkan ada juga yang menangis, salah satu yang menangis adalah Bu Ratna.


Dan anehnya, di sana hanya ada ibu-ibu serta anak-anak panti, tapi tidak ada satu pun bapak-bapak.


Karena rasa penasaran bercampur khawatir, aku, Drian, Angel, dan Javier pun langsung bergegas menghampiri mereka.


"Ini ada apa, Bu? Kok pada ngumpul di sini?" tanyaku panik.


"Oh, kalian sudah kembali? Maaf, tidak sempat menyambut kalian," kata Bibi Nur, ibunya Angel, sambil menggendong salah satu anak panti.


"Nggak masalah kok, Bik, tapi ini ada apa?" tanyaku.


"Itu ... Lusi ... dia ngilang di gunung," jawab Bibi Nur.


Mendengar itu, aku, Drian, dan Angel pun seketika terhenyak.


"Gimana ceritanya kok bisa Lusi sampai ngilang di gunung?" tanyaku.


"Jadi, tadi sore pas anak-anak lagi pada main petak umpet di padang rumput deket gunung, mereka bilang nggak bisa nemuin Lusi. Kata Ahmad, Lusi sembunyi di gunung, tapi udah dicari-cari nggak ketemu," jelas Bibi Nur.


"Terus sekarang gimana, Bik?" tanya Drian.


"Sekarang bapak-bapak lagi pada nyariin Lusi," jawab Bibi Nur.

__ADS_1


"Di gunung yang mana?" tanyaku.


"Itu, di gunung yang itu." Gunung yang Bibi Nur maksud adalah gunung kedua dari tiga gunung yang mengapit desa kami.


"Kalo gitu, kami juga bakalan ikut nyari," kataku, kemudian mengajak Drian segera bergegas.


"Aku juga ikut," kata Javier.


Karena tidak mau membuang-buang waktu, aku, Drian, dan Javier pun langsung bergegas menyusul rombongan bapak-bapak yang sedang mencari Lusi. Kami juga meminta Angel tetap di desa untuk menemani ibu-ibu dan anak-anak panti.


Dengan sekuat tenaga, kami berlari menuju gunung yang dimaksud.


"Apa kalian tidak bisa berlari lebih pelan?" teriak Javier yang tertinggal jauh di belakang.


"Ah, kau ini merepotkan sekali!" gerutuku.


Karena sedang dalam kondisi genting, aku pun memutuskan untuk menggendong Javier agar kami tidak terlalu banyak membuang waktu.


Tidak butuh waktu lama, kami berhasil menyusul rombongan bapak-bapak yang sedang mencari Lusi. Kami bisa dengan mudah menemukan mereka karena mereka terus berteriak sambil membawa obor di tangan masing-masing saat melakukan pencarian.


"Gimana, Pak? Lusi udah ketemu belum?" tanyaku pada Pak Kepala Desa yang memimpin pencarian tersebut.


"Oh, kalian sudah pulang ...? Maaf nggak bisa nyambut kalian," kata Pak Kepala Desa.


"Kami udah nyari ke sana ke sini, tapi belum ketemu juga sampai sekarang," jawab Pak Kepala Desa.


"Bagian mana yang belum disisir, Pak?" tanyaku.


"Kami udah nyisir bagian sana, tinggal bagian sana yang belum," jawab Paman Santoso, ayahnya Drian yang juga ikut dalam pencarian tersebut.


Area yang Paman Santoso maksud adalah area bagian selatan.


"Ok, kalo gitu kami bakal nyisir bagian sana," kataku.


Tanpa berniat membuang banyak waktu, aku dan Drian langsung berlari sekuat tenaga menyusuri area gunung bagian selatan.


Kami juga meninggalkan Javier bersama rombongan bapak-bapak karena Javier tidak bisa mengimbangi kecepatan kami. Terus membawanya hanya akan memperlambat pencarian kami.


Sambil berlari dengan kecepatan tinggi di antara pepohonan rindang yang menutupi sebagian besar area gunung, aku terus berteriak, "Lusi! Lusi! Kamu di mana? Ini Abang Alvin!"


Drian juga berteriak, "Lusi! Lusi!"

__ADS_1


Cukup lama menyisir dan menelusuri area gunung bagian selatan, kami belum juga kunjung menemukan tanda-tanda keberadaan Lusi.


Kami juga sudah memperluas indra sensorik untuk mendeteksi tanda-tanda keberadaan mahluk hidup di sekitar, tapi hasilnya tetap nol besar.


Walaupun begitu, kami tidak menyerah. Kami terus dan terus mencari. Sampai pada akhirnya, kami mendeteksi adanya tanda-tanda kehidupan yang berjarak sekitar seratus meter dari tempat kami berada.


Akan tetapi, kami tidak hanya mendeteksi adanya satu tanda-tanda kehidupan, melainkan dua.


"Yan, lu ngerasain juga nggak?" tanyaku.


"Ya, ada dua kan?" balas Drian.


Kami pun langsung berlari sekuat tenaga menuju sumber tanda-tanda kehidupan yang kami rasakan.


Kami sangat khawatir kalau salah satu dari dua tanda-tanda kehidupan yang kami rasakan adalah Lusi.


Di sana ada dua tanda-tanda kehidupan. Dengan kata lain, kalau salah satunya memang benar adalah Lusi, maka itu berarti ada seorang lagi yang bersamanya.


Sesampainya di titik lokasi, benar saja, salah satu tanda-tanda kehidupan yang kami rasakan adalah Lusi.


Namun, kami belum tau yang satunya lagi milik siapa.


Saat pertama kali menemukan Lusi, dia sedang terbaring di tanah dengan kondisi tak sadarkan diri.


Drian pun langsung mengangkat dan menggendong Lusi, sedangkan aku terus menatap tajam pohon besar yang berada tidak jauh dari tempat kami berada. Itu adalah tempat di mana kami merasakan adanya tanda-tanda kehidupan kedua.


"Siapa kau? Cepat keluar!" kataku dengan nada tegas.


Beberapa saat menunggu, tidak ada yang keluar.


Tanda-tanda kehidupan kedua yang kurasakan tidak menghilang ataupun berpindah. Dengan kata lain, dia masih bersembunyi di sana.


"Keluarlah atau aku akan menyeretmu dari sana." Kali ini aku sedikit memberikan penekanan.


Dengan takut-takut, tiba-tiba ada sesosok mahluk kecil menyerupai anak-anak yang keluar dari balik pohon besar tersebut.


Aku dan Drian pun seketika syok waktu pertama kali melihat sosok mahluk kecil menyerupai anak-anak yang sedang berdiri di hadapan kami dengan tubuh gemetar ketakutan.


Mahluk itu punya telinga yang cukup panjang. Dia punya kulit putih bersih yang terlihat berkilauan di bawah guyuran cahaya rembulan yang masuk melalui celah-celah pohon. Rambutnya lurus panjang berwarna perak. Matanya berwarna biru terang. Ukuran tubuhnya cukup kecil dan mungil, mungkin karena dia masih anak-anak.


Selain itu, dia menggunakan baju berbahan kulit kayu yang nampak compang-camping.

__ADS_1


Wujud mahluk tersebut benar-benar menyerupai penggambaran ras elf, ras yang dikatakan paling langka di dunia, ras yang dijadikan sebagai simbol keindahan mutlak.


__ADS_2