
"Keluarlah atau aku akan menyeretmu dari sana," kataku sambil memberikan sedikit penekanan.
Dengan takut-takut, tiba-tiba ada sesosok elf kecil yang keluar dari balik pohon besar yang berada di hadapanku dan Drian.
Saat pertama kali melihat sosok elf kecil tersebut, aku dan Drian pun seketika syok, mengingat bisa bertemu dengan ras elf adalah suatu pengalaman yang terbilang sangat amat langka.
"Ma-Maaf ... olong ... olong maafkan atu (Maaf, tolong maafkan aku)."
Suara elf kecil tersebut terdengar seperti suara anak kecil yang sedang ketakutan. Bukan hanya suaranya saja, tapi gestur tubuhnya juga jelas menunjukkan bahwa dia sedang ketakutan.
"Yan, lu denger nggak?" tanyaku.
Drian pun menggelengkan kepalanya.
Aku menanyakan itu untuk memastikan apakah Drian juga mendengar apa yang baru saja dikatakan elf kecil tersebut, mengingat saat elf kecil tersebut berbicara, aku seperti merasakan sensasi yang sama persis dengan sensasi yang dulu kurasakan sewaktu bertemu dengan monster di danau pinggiran Kota Borneo.
Aku kemudian bertanya kepada elf kecil di hadapan kami, "Kenapa kau ada di sini? Apa kau yang sudah menculik Lusi?"
"Idak ... atu ... atu uma mau nyametin dia. Dia adi kepeset atuh (Tidak ... aku ... aku tadi cuma mau menyelamatkan dia. Dia tadi kepeleset jatuh)," jawab elf kecil tersebut dengan suara bergetar, seperti sedang ketakutan.
"Jadi, kau di sini untuk menjaganya?" tanyaku sambil tersenyum ramah.
Elf kecil itupun langsung mengangguk-anggukkan kepalanya, masih dengan raut ketakutan.
Setahuku, ras elf adalah ras yang dikenal sebagai ras paling baik di dunia. Meski sebenarnya mereka terbilang jauh lebih kuat dari manusia, tapi mereka akan lebih memilih menghindar apabila sampai bertemu dengan manusia. Itulah kenapa, ras elf sangat sulit ditemukan.
Atas dasar itu, aku bisa langsung mempercayai perkataan elf kecil di hadapanku tanpa perlu memastikannya lebih jauh, meski aku sendiri sebenarnya tidak tau kebenarannya.
"Jadi begitu rupanya ... terima kasih karena sudah menyelamatkan dan menjaga Lusi kecil kami," kataku dengan senyum ramah, dan elf kecil itupun membalas dengan menganggukan kepala.
"Vin ...." Drian yang sedang menggendong Lusi tiba-tiba menatapku. Dia seperti ingin menanyakan apa yang baru saja kubicarakan dengan elf kecil di hadapan kami.
Aku pun mulai menjelaskan apa yang baru saja kubicarakan dengan elf kecil tersebut.
"Jadi dia yang sudah menyelamatkan Lusi? Dia juga sengaja tetap di sini untuk menjaga Lusi?" tanya Drian.
"Begitulah yang dia katakan," balasku.
"Kok lu bisa denger dah? Gua aja nggak denger sama sekali," kata Drian.
"Mana gua tau ... mungkin udah bawaan lahir," balasku.
"Fix ... ni lo pasti sebangsa ama mereka," celetuk Drian.
"Ngacok lu!" balasku.
Aku kemudian kembali bertanya pada elf kecil di hadapan kami, "Siapa namamu?"
"Zaltan ... amaku Zaltan (namaku Zaltan)," jawabnya takut-takut.
"Zaltan ... kau tinggal di mana?" tanyaku.
Dia hanya diam, seperti kebingungan untuk menjawab.
"Apa kau tidak punya tempat tinggal?" tanyaku.
Zaltan kecil itupun mengangguk.
"Orang tuamu mana?" tanyaku.
"Ayah ... Ibu ... meleka dibulu manutia (mereka diburu manusia)," jawabnya dengan raut yang menggambarkan kesedihan mendalam.
Aku benar-benar turut sedih mendengarnya.
Betapa berat rasanya, bocah sepolos dan sekecil dia harus tinggal dan bertahan hidup di hutan sendirian sambil terus bersembunyi dari kejaran manusia-manusia 'Sakit' yang berniat memburu dan menjual mereka pada manusia-manusia 'Sakit' lainnya.
Setahuku, karena memiliki keindahan yang sangat luar biasa, banyak manusia 'Sakit' yang rela membayar mahal demi bisa memiliki dan menjadikan ras elf sebagai 'Barang Koleksi' maupun 'Hewan Peliharaan' mereka, sehingga hal itu memicu perburuan besar-besaran terhadap ras elf.
Akibatnya, ras elf pun jadi terpaksa hidup bersembunyi dan terus berpindah-pindah demi menghindari perburuan tersebut.
"Vin ...." Drian yang sedang menggendong Lusi kembali menatapku, dan aku pun menjelaskan apa yang baru saja kubicarakan dengan Zaltan.
Setelah mendengar penjelasanku ...
__ADS_1
"Apa kau mau tinggal di desa kami?"
Drian tiba-tiba menawari Zaltan kecil untuk tinggal bersama di desa.
Elf kecil tersebut terlihat ragu dan takut untuk menjawab.
"Tidak perlu takut ... Kami tidak berniat buruk. Kami hanya tidak mau kau terus hidup sendirian di hutan. Akan lebih baik kalau kau tinggal di desa bersama kami. Ada banyak anak-anak yang bisa bermain bersama denganmu," kataku, berusaha meyakinkannya.
"Kami pasti akan menjamin keselamatanmu. Kami berjanji!" imbuh Drian.
Elf kecil yang awalnya nampak ketakutan itu, kini mulai terlihat lebih tenang.
"Emangnya boleh?" tanya Zaltan dengan suara imut khas anak kecil yang baru belajar berbicara.
"Tentu saja. Mulai sekarang kau adalah bagian dari keluarga kami. Kau bisa memanggilku Abang Alvin," balasku.
Setelah mendengar ucapanku, Zaltan, si elf kecil itupun langsung terlihat sangat senang seperti seorang anak kecil yang baru saja diberi hadiah, sementara aku dan Drian hanya menatapnya dengan raut bahagia.
Aku kemudian mengajak Zaltan pergi dari sana, tapi dia seperti kesulitan berjalan.
"Apa kakimu terkilir?" tanyaku, dan Zaltan pun mengangguk.
"Ya udah, sini biar Abang gendong," kataku, lalu mulai menggendong tubuh mungil Zaltan di punggungku.
Setelah itu, kami mulai beranjak meninggalkan tempat tersebut.
Sambil menggendong Zaltan kecil di punggungku, aku bertanya, "Kau ini laki-laki atau perempuan?"
"Atu lati-lati (Aku laki-laki)," jawabnya.
Aku menanyakan itu karena di satu sisi, Zaltan ini punya kontur wajah mirip dengan anak laki-laki, tapi di sisi lain, keseluruhan penampilannya mirip dengan anak perempuan, sehingga hal itu membuatku bingung.
"Sudah berapa lama kau tinggal sendirian di hutan, Zaltan?" tanya Drian yang sedang berjalan di sampingku sambil menggendong Lusi.
Zaltan menekuk satu per satu jarinya, seperti sedang menghitung, lalu menjawab, "Sepuluh taun."
"Se-Sepuluh tahun?" Kami cukup terkejut mendengarnya.
"Eemm ... selatus taun (seratus tahun) ...?" Dia menjawab dengan nada ragu-ragu.
"What The F*** ..!" Kami benar-benar syok mendengarnya.
Kami memang tau kalau ras elf memiliki masa hidup yang sangat panjang, tapi kami benar-benar tidak menyangka kalau elf sekecil ini ternyata sudah berusia seratus tahun.
Kalau begitu, kira-kira berapa umur elf dewasa?
Saat dalam perjalanan kembali, aku juga menanyakan tentang bagaimana cara dia bisa bertahan hidup sendirian di hutan selama ini.
Zaltan kemudian menjelaskan bahwa selama ini dia hidup berpindah-pindah dari satu hutan ke hutan yang lain.
Untuk bertahan hidup, dia biasa memakan buah-buahan dan beberapa jenis daun yang bisa dimakan.
Setelahnya, aku kemudian menanyakan tentang bagaimana dia bisa berakhir menolong Lusi?
Dia pun menjelaskan bahwa saat pertama kali dia sampai di gunung tempat kami berada saat ini, dia tidak sengaja melihat anak-anak yang sedang bermain di padang rumput.
Dia juga mengatakan bahwa dia sangat senang sewaktu melihat anak-anak panti yang sedang bermain bersama.
Dia sebenarnya ingin sekali ikut bermain, tapi dia tidak berani menunjukkan diri. Dia takut kalau nantinya anak-anak akan langsung kabur setelah melihatnya.
Alhasil, dia pun hanya bisa mengamati anak-anak yang sedang bermain dari kejauhan.
Tidak lama setelah itu, dia melihat Lusi sedang berjalan menaiki gunung, dan secara tak disangka-sangka, Lusi tiba-tiba terpeleset dan mulai berguling menuruni gunung.
Tanpa pikir panjang, Zaltan yang berada tidak jauh dari Lusi pun langsung bergegas menghampiri dan memeluk tubuh Lusi untuk menolongnya.
Alhasil, mereka berdua pun mulai berguling dan menghantam apa pun yang mereka lalui saat berguling menuruni gunung.
Sewaktu berguling menuruni gunung, Zaltan berusaha melindungi tubuh Lusi dengan tubuhnya sendiri.
Sampai pada akhirnya, mereka terhenti setelah menghantam pohon besar.
Saat mereka akhirnya berhenti berguling, Zaltan mendapati kalau Lusi sedang pingsan.
__ADS_1
Dia sebenarnya ingin membawa Lusi pada anak anak yang lain, tapi sayangnya dia tidak bisa karena kakinya sedang terkilir, sehingga membuatnya tidak sanggup berjalan.
Alhasil, yang bisa dia lakukan hanya berdiam di sana sambil menjaga Lusi yang sedang pingsan tak sadarkan diri sampai ada yang menemukan keberadaan Lusi.
Setelah mendengar penjelasan Zaltan, aku pun kembali berterima kasih pada elf kecil tersebut.
"Kalau bukan karenamu, kami tidak tau apa yang akan terjadi pada Lusi kecil kami. Kami benar-benar berterima kasih," kataku, sementara Zaltan hanya merespon dengan menganggukkan kepala.
...
Cukup lama berjalan, kami akhirnya bertemu dengan rombongan bapak-bapak.
"Wah, itu mereka!" teriak salah satu bapak-bapak saat pertama kali melihat kedatangan kami.
Pak Kepala Desa, Paman Santoso, Paman Gary, berserta bapak-bapak yang lain pun langsung berlari menghampiri kami.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Paman Santoso, ayahnya Drian.
"Dia nggak papa kok Pak, cuma pingsan aja," balas Drian.
"Kalian menemukannya di mana?" tanya Paman Gary.
"Di sana," jawabku sambil menunjuk tempat kami menemukan Lusi.
"Untunglah ... kami benar-benar lega Lusi baik-baik saja," kata Pak Kepala Desa.
"Hoi, siapa yang sedang kau gendong?" tanya Javier yang menyadari keberadaan Zaltan.
Aku kemudian memperkenalkan Zaltan pada semua orang dan menjelaskan semua yang sudah terjadi.
"Jadi ... dia yang sudah menyelamatkan Lusi?" tanya Paman Santoso setelah mendengar penjelasanku.
"Ya, begitulah," balasku.
Paman Santoso lalu menatap Zaltan dengan senyum ramah, kemudian berkata, "Terima kasih, Zaltan. Kau adalah pahlawan kami."
Zaltan pun menganggukkan kepalanya, namun masih dengan takut-takut.
Selain itu, aku juga menjelaskan tentang kami yang berniat mengajak Zaltan tinggal bersama di desa.
"Jadi bagaimana, Pak Kepala Desa? Apa dia boleh tinggal bersama kita?" tanyaku.
Pak Kepala Desa terdiam beberapa saat, lalu memukul kepalaku.
"Dasar anak bodoh! Kenapa juga kau perlu menanyakan soal itu? Tentu saja boleh. Justru, aku akan menghajarmu kalau kau sampai membiarkan dia tetap di hutan sendirian," kata Pak Kepala Desa.
Bukan hanya Pak Kepala Desa, namun Paman Santoso, Paman Gary, dan bapak-bapak yang lainnya juga menyambut baik niatan kami.
Jujur, aku sangat bahagia karena dikelilingi orang-orang baik seperti mereka.
"Ya udah, kalo gitu ayo balik ke desa," kata Paman Gary.
Malam itu, kami pun mengakhiri pencarian kami dan bersama-sama kembali ke desa karena Lusi akhirnya sudah ditemukan.
Saat dalam perjalanan kembali, Javier yang berjalan di sampingku tiba-tiba bertanya, "Hoi, apa kau yakin ingin membawa elf ini tinggal di desa?"
"Memangnya kenapa?" tanyaku.
"Ya, kau tau ...? Elf itu adalah salah satu incaran utama para pemburu. Kalau mereka sampai tau di desa ini ada elf, mereka pasti akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya."
Dengan santainya, aku menjawab, "Aku bahkan berani membawa dan menjamin keselamatanmu, lalu kenapa juga aku harus takut hanya karena membawa elf ke desa? Lagi pula, aku juga tidak mungkin membiarkan anak sekecil ini tetap tinggal sendirian di hutan, yah, meski sebenarnya ... umurnya bahkan jauh lebih tua dariku. Kalau sampai ada orang yang nekat membuat masalah di desa, aku tidak akan segan-segan, bahkan jika nyawa taruhannya."
Javier terdiam beberapa saat setelah mendengar perkataanku. Dia seperti merenung, kemudian kembali bertanya, "Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan pada desamu? Maksudku, kenapa kau sampai berani meresikokan nyawamu demi membawa dan menjamin keselamatanku dan elf kecil itu? Kudengar dari beberapa warga, kau juga baru saja membawa anak-anak panti pindah ke sini. Kenapa kau sampai sejauh itu?"
Sambil menggendong Zaltan yang sedang terlelap di punggungku, aku menjawab, "Aku punya sebuah impian. Suatu saat nanti, aku ingin desa ini berkembang menjadi tempat yang layak untuk ditinggali semua orang, tanpa terkecuali. Aku ingin semua yang tinggal di dalamnya bisa hidup bahagia. Meski sebenarnya aku tau kalau itu adalah sesuatu yang mustahil, tapi setidaknya aku akan tetap berjuang dan berusaha untuk mewujudkannya, apa pun taruhannya."
Javier tiba-tiba menundukkan kepalanya sambil tersenyum setelah mendengar jawabanku.
Dia kemudian tertawa dan berkata, "Kau ini benar-benar anak yang sangat menarik."
"Benarkah?" tanyaku.
Javier pun hanya tersenyum sambil menatapku.
__ADS_1