
Saat dalam perjalanan kembali ke desa, kami menyempatkan berbincang perihal rencana pembangunan pembangkit listrik di desa kami.
"Vin, apa kau benar-benar serius ingin membangun pembangkit listrik di desa kita?" tanya Paman Gary.
"Ya, Paman. Menurutku akan jauh lebih baik kalau kita punya pembangkit listrik sendiri daripada harus menyalurkannya dari kota," balasku.
"Tapi apa kau yakin? Tadi Javier sudah menjelaskan semuanya, tentang kita yang akan menjadi incaran seluruh dunia," tanya Paman Santoso.
"Soal itu, aku sudah memikirkan beberapa solusi untuk mengatasi kemungkinan terburuk. Jadi, Paman tidak perlu khawatir. Tidak akan kubiarkan siapa pun membuat masalah dengan desa kita." Itulah yang kukatakan, padahal sebenarnya aku sendiri bahkan belum tau harus bagaimana kalau informasi tentang pembangkit listrik di desa kami sampai bocor.
"Lagi pula, asal kita bisa menjaga rahasia dengan baik, kami yakin semuanya akan baik-baik saja," imbuh Drian.
Pak Kepala Desa lalu angkat bicara.
"Vin, Yan, kami semua sangat bangga pada kalian karena kalian memikirkan desa sampai sejauh itu, tapi juga jangan memaksakan diri kalian terlalu keras. Sebagai orang tua, kami tidak ingin hanya menjadi beban kalian."
Mendengar itu, aku pun langsung tersenyum sambil berkata, "Nggak kok, Pak ... nggak sama sekali. Kami melakukan ini juga karena kami mau. Jadi, jangan berpikir yang tidak-tidak."
"Lagi pula, tujuan kami membangun desa juga agar semua orang yang tinggal di dalamnya bisa hidup bahagia," imbuh Drian.
Mendengar ucapan kami, para bapak-bapak pun seketika tersenyum senang bercampur rasa bangga.
"Kalau memang itu yang kalian inginkan, kami pasti akan mendukung kalian," kata Pak Kepala Desa.
...
Sesampainya di desa, Bibi Nur, Bibi Septi, Bu Kepala Desa, Angel, Bu Ratna, serta ibu-ibu yang sedari tadi berharap harap cemas menunggu kepulangan kami, tiba-tiba langsung berlarian menghampiri kami saat pertama kali melihat kedatangan kami.
"Lusi ... bagaimana kondisinya?" tanya Bu Ratna sambil merebut Lusi dari gendongan Drian.
"Dia cuma pingsan kok, Bu. Nggak perlu khawatir," jawab Drian.
"Syukurlah ... Lusi." Bu Ratna nampak sangat lega setelah mengetahui bahwa Lusi baik-baik saja.
"Vin, itu siapa yang kamu gendong?" tanya Angel waktu menyadari keberadaan Zaltan yang tengah terlelap di punggungku.
"Oh, ini. Jadi ...."
Aku pun mulai menjelaskan semua yang sudah terjadi, mulai dari Zaltan yang telah menyelamatkan Lusi, sampai niatanku dan Drian yang ingin mengajaknya tinggal bersama di desa.
Setelah mendengar penjelasanku, meski sebenarnya ibu-ibu tau betul akibat dari membawa elf ke desa, tapi mereka kompak menerima dan tidak mempermasalahkannya sama sekali. Mereka justru senang dan mendukung penuh niatan kami.
Sama seperti yang di katakan Pak Kepala Desa, para ibu-ibu juga mengatakan bahwa mereka akan menghajarku dan Drian kalau kami sampai membiarkan elf kecil seperti Zaltan tetap sendirian di hutan.
Selain menjelaskan tentang Zaltan, aku juga memperkenalkan dan menjelaskan tentang Javier, termasuk rencana pembangunan pembangkit listrik untuk desa kami.
Namun, sama halnya dengan para bapak-bapak, ternyata para ibu-ibu juga sudah mengetahui tentang rencana pembangunan tersebut. Mereka tau itu dari Angel.
Beruntungnya, para ibu-ibu juga tidak mempermasalahkan rencana tersebut, meski mereka tau betul konsekuensinya.
Setelah itu, semua orang pun mulai membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing.
...
"Jadi, ini rumahmu ...?" tanya Javier yang nampak cukup terkejut sekaligus syok saat pertama kali melihat rumahku.
"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanyaku.
"Tidak ... kau kan punya banyak uang. Kau juga punya kekuatan gila. Jadi, kukira rumahmu pasti sangat besar dan mewah, tapi ternyata biasa aja. Ini benar-benar mengejutkan," gumam Javier, masih sambil menatap rumah sederhana milikku dengan tampang tak percaya.
"Nggak usah lebay, buruan masuk," kataku sambil berjalan memasuki rumah, meninggalkan Javier yang masih termenung menatap rumah sederhanaku.
Saat pertama kali memasuki rumah, aku langsung menyalakan lampu minyak yang kugunakan sebagai penerangan, lalu membawa Zaltan ke kamarku dan membaringkannya di kasur.
__ADS_1
Setelah itu, aku kembali ke ruang depan, ruang tamu.
"Hei, aku harus tidur di mana?" tanya Javier yang baru saja memasuki rumah.
"Di sini," jawabku. Tempat yang kumaksud adalah kursi kayu panjang di ruang depan.
Javier menatapku sambil tersenyum kecut, lalu dengan nada pelan namun tajam, dia berkata, "Kau bercanda kan?"
"Aku serius," balasku dengan santainya.
Javier nampak seperti sedang menahan emosinya, tapi dia tidak mengatakan sepatah kata pun.
Sambil menghela nafas panjang, Javier duduk dan merebahkan tubuhnya di kursi panjang yang kumaksud.
"Sial ... ini bahkan jauh lebih keras dari yang kukira," kata Javier sambil menyenderkan punggungnya di kursi kayu tersebut.
"Ini! Cepat mandi sana. Jangan lupa bersihkan wajahmu," kataku sambil melemparkan handuk dan pisau cukur.
"Aku mau merebahkan punggungku dulu," kata Javier yang sedang duduk bersantai di kursi.
"Kau mau mandi sendiri atau kumandikan, haaa ...?! Kau tidak sadar apa? Baumu itu sangat mengganggu," kataku sambil memberikan tatapan tajam.
"Ya, ya, oke ... aku mandi sekarang," kata Javier, lalu mulai beranjak menuju kamar mandi sambil bermalas-malasan.
Tidak lama berselang, tiba-tiba Angel dan Drian datang berkunjung. Mereka datang sambil membawa rantang besar.
"Vin, kami bawain makanan," kata Angel.
"Nih, Emak masak cumi hitam kesukaanmu," kata Drian.
"Wah, pas banget."
Kami kemudian duduk di meja makan dan mulai menyantap makanan tersebut bersama-sama.
"Dia di kamar," balasku singkat karena sedang fokus menyantap makanan di hadapanku.
"Aku bangunin ya, biar dia juga ikut makan," kata Angel.
Aku hanya mengangkat kedua alisku, sebagai tanda 'iya'.
Baru saja Angel ingin membuka pintu kamarku, tiba-tiba Zaltan sudah membukanya lebih dulu.
Dia keluar sambil mengusap-usap matanya, seperti anak kecil yang baru saja bangun tidur.
"Eh, Zaltan udah bangun? Baru aja mau Kakak bangungin," kata Angel, sementara Zaltan hanya diam, masih sambil mengusap kedua matanya.
"Wah ... kamu tu imut banget!" Angel tiba-tiba memeluk dan mengusap-usap pipi Zaltan dengan pipinya, sementara Zaltan hanya bisa pasrah, seperti anak kucing yang dipeluk majikannya.
"Aku juga mau digituin," gumamku.
"Jangan terlalu banyak ngarep, Sobat! Jatuh tu rasanya sakit," kata Drian sambil menepuk-nepuk pundakku.
Kami pun mengajak Zaltan makan bersama.
Zaltan makan dengan sangat lahap, seperti orang yang belum makan selama berhari-hari, atau mungkin dia memang belum makan selama berhari-hari.
Saat Zaltan sedang memakan makanannya dengan sangat lahap, tiba-tiba air matanya mulai mengalir.
"Kenapa, Sayang?" tanya Angel pada Zaltan yang duduk di pangkuannya.
Sementara itu, masih disertai derai air mata yang terus membasahi pipinya saat dia memakan makanannya dengan sangat lahap ...
"Ibu ... Ayah ...."
__ADS_1
Zaltan terus mengucapkan kalimat tersebut.
"Apa kau merindukan ayah dan ibumu?" tanyaku.
Zaltan pun mengangguk.
"Vin ...." Drian dan Angel tiba-tiba menatapku. Mereka seperti ingin menanyakan apa yang Zaltan katakan, mengingat hanya aku yang bisa mendengarnya. Akan tetapi, aku memilih untuk tidak menjawab.
Selesai makan, aku bertanya pada Zaltan, "Zaltan, apa kau mengingat wajah orang yang sudah menangkap ayah dan ibumu? Abang mungkin bisa membantu mencari mereka."
Zaltan mengangguk, namun setelah itu dia berkata, "Api atu idak au siapa mereta (Tapi aku tidak tau siapa mereka)."
"Dia ingat, tapi dia tidak tau siapa yang sudah menangkap orang tuanya." Aku memberitahu Drian dan Angel tentang apa yang Zaltan katakan.
"Apa kau bisa menggambarnya?" tanya Angel sambil menatap Zaltan yang duduk di pangkuannya.
Zaltan lalu berdiri, kemudian mulai menggambar di tanah.
Aku, Drian, dan Angel pun terus mengamati dengan seksama.
Secara tak disangka-sangka, ternyata Zaltan punya kemampuan menggambar yang sangat luar biasa. Dia bahkan bisa menggambarkan wajah, postur tubuh, sampai pakaian yang dikenakan kelima pria dan dua wanita yang sudah menangkap kedua orang tuanya dengan sangat amat detail.
"Apa mereka orangnya?" tanya Drian.
Zaltan pun mengangguk.
Tidak lama berselang, tiba-tiba ada seorang pria tampan yang muncul dari ruang belakang rumahku.
"Wah, ada makanan," kata pria tersebut sambil mengusap rambut basahnya menggunakan handuk.
"Woi! Siapa lu?" tanyaku.
"Ini aku, Javier!" kata pria tersebut.
"Eh ...?" Aku, Drian, dan Angel cukup terkejut mendengarnya.
Setelah mandi dan mencukur rambut, jenggot, serta kumisnya, Javier benar-benar terlihat seperti orang yang berbeda. Maksudku dalam hal yang baik. Dia jadi terlihat lebih tampan, rapi, dan keren dari sebelumnya.
"Lu beneran Javier?" tanyaku, sementara Javier hanya menanggapi dengan tatapan datar.
Dengan tampang kesal, masih sambil mengusap rambut basahnya menggunakan handuk, Javier mulai berjalan mendekati meja makan.
"Lah ... kok udah abis?" kata Javier.
"Ya, maaf ... kami lupa kalau kau juga di sini," kataku.
"Tega bener ... terus aku musti makan apa?" tanya Javier.
"Tu kan masih ada nasi ama sisaan bumbu. Makan aja yang ada," kataku, sementara lagi-lagi, Javier hanya menanggapi dengan tatapan datar.
Sambil memakan makanan yang tersisa, Javier menghampiri kami dan bertanya, "Kalian ngapain sih?"
"Ini ... kami lagi bahas orang-orang yang sudah menangkap orang tua Zaltan," jawab Drian.
"Hmm ..." Javier mulai mengamati gambar yang dibuat Zaltan sambil terus memakan makanannya.
Cukup lama mengamati, dia tiba-tiba terlihat cukup terkejut, seperti menyadari sesuatu.
"Apa mereka yang sudah menangkap orang tuanya?" tanya Javier dengan raut panik.
"Iya ... lu kenal?" tanyaku.
"Mereka itu ... mereka adalah kelompok pemburu terbaik dari Guild Saber," jawab Javier.
__ADS_1