
"Lama amat sih mereka. Udah hampir dua puluh menit kok belum dateng juga," gerutuku yang mulai bosan menunggu kedatangan anggota yang lain di tempat yang sudah disepakati; di salah satu gunung yang berada tidak jauh dari Kota Zargon.
"Sabar, Vin. Mungkin mereka masih otw," kata Angel.
Tidak lama berselang, Bang Toyib, Bang Dodi, Bang Gori, Bang Deri, dan Bang Sulaiman, satu per satu dari mereka mulai berdatangan.
"Drian sama yang lainnya mana, Bang? Belum sampai juga ...?" tanyaku.
"Nggak tau. Kami langsung buru-buru kabur pas denger kode siulan," jawab Bang Toyib.
"Tu anak ... apa jangan-jangan dia nyasar, ya?" gumamku.
Kami terus menunggu, tapi sampai satu jam lamanya, kelompok Drian belum juga datang.
"Kayaknya ada yang nggak beres sih ini! Apa sebaiknya kita cari mereka aja?" usulku.
"Aku setuju, tapi salah satu dari kita harus tetap di sini, kalau-kalau nanti mereka datang," usul Bang Deri.
Baru saja kami ingin mencari kelompok Drian, mereka tiba-tiba datang.
"Dari mana aja lu? Ditungguin juga!" Aku langsung menyambut kedatangan Drian dengan sambutan akrab.
"Kami muter-muter ke sana kemari gara-gara nyariin lokasi kumpulnya," balas Drian.
"Yeee ... kan udah dibilangin. Setelah misi selesai, langsung kumpul di gunung!" balasku.
"Eh, Biji *****! Gunung di sini nggak cuma satu bego! Noh gunung! Noh gunung! Noh gunung!" Drian menunjuk gunung yang mengapit Kota Zargon satu per satu dengan nada emosi.
"Hehehehehe ... maaf, Yan. Gua lupa ngasih detailnya." Aku baru sadar kalau sebelumnya aku hanya mengatakan bahwa kami harus berkumpul di gunung dekat kota, tapi aku tidak memberitahu secara pasti gunung yang mana.
"Jadi, yang mana orang tuanya Zaltan?" tanyaku pada sekumpulan elf dan monster yang datang bersama Drian, Hansel, serta Bang Kris.
Selain membawa para monster dan elf, Drian dan kelompoknya juga membawa seorang gadis yang menggunakan jubah panjang yang menutupi hampir seluruh tubuhnya, kecuali wajah.
Sepasang elf tiba-tiba mengangkat tangan mereka.
"Senang bertemu dengan kalian. Namaku Alvin, aku adalah teman anak kalian," kataku sambil menjulurkan tangan pada sepasang elf tersebut, mengajak jabat tangan.
"Venice, tolong tanyakan padanya. Apakah dia yang sudah merawat Zaltan selama ini?" kata seorang elf perempuan pada gadis yang menggunakan jubah panjang, sementara sang gadis berjubah panjang hanya mengangguk, menandakan bahwa dia mengerti.
Sebelum gadis tersebut bertanya padaku, mewakili sang elf perempuan, aku langsung menjawab, "Benar, akulah yang sudah merawat anak kalian, yah, meski belum lama."
Setelah aku mengatakan itu, para elf, para monster, serta si gadis berjubah panjang langsung nampak terkejut.
"Apa kau bisa mendengar suara elf?" tanya si gadis berjubah panjang.
Aku mengangguk, lalu membalas, "Kau sendiri? Apa kau juga bisa mendengar suara elf dan monster?"
Dengan ragu-ragu, gadis itu tiba-tiba membuka tudung jubah yang menutupi kepalanya.
Aku, Drian, serta semua orang seketika terkejut saat melihat kepala gadis itu.
__ADS_1
Gadis itu punya telinga panjang, tapi tak sepanjang elf. Dia punya rambut perak, namun tak berkilauan seperti elf. Dia punya mata berbeda warna; hitam dan biru, mirip campuran manusia dan elf.
"Aku adalah setengah manusia dan elf. Maka dari itu, aku bisa mendengar suara mereka," jawab gadis tersebut.
"Ras campuran ...?" Aku terkejut karena baru pertama kali mengetahui yang seperti itu, dan sepertinya bukan hanya aku saja, namun Bang Sulaiman, bahkan sampai Bang Kris yang sudah terbiasa berpetualang ke sana ke sini juga terlihat cukup terkejut akan hal itu.
Tidak lama setelah itu, Fenrir datang dengan wujud serigala setinggi dua meter.
Dia datang sambil menggeram dan menggerutu, "Hoi, Manusia. Awas saja kalau kau sampai menjadikanku umpan seperti tadi. Akan kupastikan untuk merobek tubuhmu sampai ke tulang tulangmu kalau kau sampai melakukannya lagi!"
"Hehehehehe ... maaf, Fenrir. Kau tau sendiri kalau itu adalah pilihan terbaik, kan ...?"
Melihat kedatangan Fenrir, para elf, para monster, serta si gadis setengah elf tiba-tiba langsung bersujud hormat sambil berkata, "Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Tuan Fenrir!"
Aku tidak tau kenapa semua monster dan elf selalu melakukan hal itu, tapi sepertinya itu bentuk dari sistem monarki yang ada pada ras mereka, di mana yang lebih rendah derajatnya harus tunduk pada yang lebih tinggi derajatnya.
Namun, mungkin karena masih kesal padaku, Fenrir tidak merespon salam mereka sama sekali.
Karena Fenrir tidak merespon, ditambah para monster dan elf terus menunduk hormat, suasana jadi agak canggung.
"Udahlah, berdiri aja. Anggap aja serigala ini nggak ada di sini," kataku pada sekumpulan elf dan monster tersebut.
Dengan takut-takut disertai gerakan ragu, mereka mulai kembali berdiri.
"Kau, kenapa kau bisa berhubungan dengan Tuan Fenrir?" tanya si gadis setengah elf.
"Kenapa ...? Itu karena aku menang taruhan. Aku berhasil memenggal kepalanya, dan sesuai kesepakatan, dia harus menjadi bawahanku," jawabku dengan sedikit melebih-lebihkannya.
Si gadis setengah elf, serta para monster dan para elf seketika tercengang mendengar apa yang baru saja kukatakan.
"Aku mengatakannya di depan monsternya sendiri. Apa kau pikir aku akan berbohong?" balasku.
"Manusia, aku tidak pernah mengatakan akan menjadi bawahanmu," sela Fenrir.
"Vin, kami nggak dibutuhin lagi kan? Kami pergi, ya?" kata Drian yang sepertinya merajuk karena sedari tadi aku sibuk berbincang dengan para monster dan elf tanpa menjelaskan apa pun pada mereka.
"Maaf, Yan. Gua malah asik sendiri," kataku.
Singkat cerita, kami langsung meninggalkan gunung tersebut, mengingat kami juga sedang dalam pelarian.
...
Keesokan harinya, berita penyerangan Serigala Fenrir terhadap kota Zargon tersiar luas ke seluruh penjuru negeri.
Berita itu menjadi topik hangat pemberitaan dan perbincangan orang-orang karena banyak yang mempertanyakan insiden tersebut. Banyak dari mereka yang merasa bahwa insiden tersebut terasa sangat janggal.
"Hancurnya area Pegunungan Himalaya secara misterius, dan sekarang Fenrir menyerang Kota Zargon tanpa menimbulkan satu pun korban jiwa ...? Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Adrian, Master Guild Fairy, yang kini sedang duduk di kursi kerjanya.
Yang membuat berita tersebut sangat hangat diperbincangkan bukan hanya tentang penyerangannya yang dianggap misterius, namun juga karena baru beberapa hari yang lalu, wilayah kekuasaan sang Serigala Fenrir hancur lebur akibat pertarungan yang tidak diketahui, sehingga banyak yang mengaitkan peristiwa Penyerangan Kota Zargon dengan hancurnya Pegunungan Himalaya.
"Apa menurutmu ada seseorang yang berhasil mengontrol Fenrir? Maksudku, mungkin saja orang itu sengaja meminta Fenrir mengacau tanpa menimbulkan korban untuk sebuah alasan yang tidak kita ketahui," tanya salah satu eksekutif Guild Fairy yang sedang berada di ruangan yang sama dengan sang Master Guild.
__ADS_1
"Maksudmu untuk memberitahu semua orang bahwa Fenrir kini telah berada di bawah kontrol seseorang ...?" tanya Adrian memastikan.
"Ya, mungkin semacam itu," balas sang eksekutif.
"Di antara ketujuh Monster Bencana Besar, Fenrir adalah yang terkuat, sekaligus yang paling sulit ditaklukkan. Jangankan ditaklukkan, didekati pun hampir mustahil. Guild Nero yang merupakan guild terbaik di dunia saja tidak sanggup melakukannya-"
"Sama seperti serigala pada umumnya, Fenrir tidak akan pernah tunduk pada siapa pun, kecuali pada sosok yang dia anggap sebagai Alfa. Kalau memang ada yang berhasil, maka sudah bisa dipastikan kalau sosok itu adalah sosok yang Fenrir anggap sebagai sang Alfa," balas Adrian.
"Lalu, apa alasan di balik penyerangan itu? Apa itu hanya bentuk keisengan Fenrir karena wilayah kekuasaanya hancur ...?" tanya sang eksekutif guild.
"Entahlah ... aku juga tidak yakin," balas Adrian, lalu menambahkan, "Cepat utus beberapa orang untuk mendatangi kediaman Keluarga Don Cile. Suruh mereka menyelidiki segala hal yang bisa menjadi petunjuk. Kalau memang benar ada orang yang bisa mengontrol monster yang sanggup memusnahkan satu negara sendirian, kita harus segera bergerak."
"Aku mengerti," balas sang eksekutif.
...
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih lima jam, pagi ini, kami akhirnya sampai di desa.
Seperti biasa, begitu kami sampai di desa ...
"Alvin dan yang lainnya kembali! Mereka sudah kembali!"
Salah satu warga yang berjaga di perbatasan langsung berteriak sambil membunyikan lonceng besar untuk memberitahu seluruh penduduk desa.
Tidak lama berselang, satu per satu warga desa mulai berdatangan menghampiri kami.
Aku benar-benar tidak mengerti kenapa mereka harus selalu melakukan itu, tapi biarlah. Toh, aku menganggap itu sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang mereka pada kami.
Di antara warga desa yang mulai berdatangan, Zaltan berlari menghampiri sepasang elf yang datang bersama kami.
"Ayah, Ibu! Atu melindutan talian! (Ayah, Ibu! Aku merindukan kalian!)"
"Zaltan sayangku!" Sementara Ayah dan Ibu Zaltan langsung menyambut anak mereka dengan pelukan hangat penuh kasih sayang, sebuah pelukan yang seakan menumpahkan kerinduan mendalam.
Aku, Drian, Angel, serta semua orang sangat bahagia melihat momen itu.
Namun, sayangnya momen itu harus hancur karena ...
"Hoi, apa saja yang sudah kalian lakukan?"
Momen itu hancur karena Javier tiba-tiba datang menegurku sambil menyodorkan sepucuk surat kabar.
"Apa?" tanyaku.
"Fenrir tiba-tiba muncul dan menghancurkan mansion Keluarga Don Cile, lalu pergi begitu saja seperti angin lalu. Akibat penyerangan misterius tersebut, seratus dua puluh orang luka-luka, dua puluh di antaranya luka berat. Seperempat Kota Zargon hancur. Kerugian ditaksir mencapai ratusan juta gale." Javier membacakan isi surat kabar tersebut.
"Bukannya kalian bilang akan menyusup secara diam-diam? Apa ini yang kalian sebut diam-diam? Dengan menghancurkan seperempat kota ...? Kalau saja kalian sampai ketahuan, kita semua akan menjadi buruan besar pemerintah." Javier terus melontarkan isi pikirannya.
"Maaf, Javi! Ini benar-benar di luar rencana. Kau tau, kan? Kita cuma bisa berencana, tapi takdir yang menentukan. Toh, kita juga nggak ketahuan, kan? Jadi aman," balasku.
Javier hanya menghela nafas panjang. Dia seperti berusaha memaklumi tindakan kami, meski sepertinya itu sulit untuknya.
__ADS_1
Dengan begitu, semua misi telah selesai. Kini, kami hanya tinggal fokus pada Guild War yang akan segera dimulai sekitar dua minggu dari sekarang.
Hitung mundur menjelang turnamen paling akbar dan paling bergengsi, resmi dimulai.