
Pada tengah malam, di saat suasana kota mulai sepi, hanya ada cahaya lampu kuning pijar yang menerangi jalan, serta suara serangga yang beraktivitas di malam hari, Fenrir yang kini sedang menggunakan wujud serigala normal mulai berjalan perlahan menuju mansion Keluarga Don Cile yang sedang dijaga puluhan orang di berbagai macam sisi.
Dia kemudian berubah ke wujud aslinya; wujud serigala berbulu hitam legam setinggi lima puluh meter, dan menciptakan kepanikan besar di mansion Keluarga Don Cile.
"Fenrir! Itu Serigala Fenrir!"
"Kenapa salah satu dari tujuh Monster Bencana Besar bisa sampai muncul di sini?"
"Cepat kumpulkan semua penjaga!"
Bukan hanya para penjaga yang panik, namun semua orang yang masih beraktivitas di dekat kediaman Keluarga Don Cile juga ikut panik akibat melihat kemunculan sang serigala yang dikenal sebagai salah satu dari tujuh Monster Bencana Besar.
Sementara itu, di dalam salah satu ruangan mansion Keluarga Don Cile, tempat para anggota keluarga berkumpul ...
"Apa yang terjadi? Kenapa di luar ramai sekali?"
"Entahlah ...."
"Tuan, ada serangan dari Monster Fenrir! Kita harus segera pergi ke bungker," seru seorang penjaga yang dengan sigap mendatangi dan berusaha mengamankan setiap anggota Keluarga Don Cile yang sedang berkumpul di dalam ruangan tersebut.
Sementara itu, di ruangan berbeda, tempat para penjaga utama Keluarga Don Cile berkumpul ...
"Apa ...? Serigala Fenrir muncul di sini?"
"Benar, Tuan Florenze. Kami tidak tau kenapa, tapi sekarang para penjaga gerbang sedang berusaha menahan amukannya!" seru seorang penjaga yang dengan sigap melapor pada ketujuh penjaga terbaik Keluarga Don Cile yang sedang berkumpul di satu ruangan yang sama.
"Bodoh! Fenrir adalah Monster Bencana Besar. Sekuat apa pun kalian mencoba, tidak akan ada satu pun dari kalian yang sanggup bertahan di bawah amukannya. Cepat laporkan masalah ini pada pihak militer kota. Amankan juga semua anggota keluarga. Kami yang akan berusaha menahannya," kata salah satu dari kelima penjaga utama Keluarga Don Cile.
...
"Bagus, Fenrir! Kau melakukan tugasmu dengan baik. Kalau begini, mereka tidak akan curiga, dan kita akan menyusup dengan mudah," gumamku sambil melihat Fenrir yang sedang mengamuk di depan mansion Keluarga Don Cile dari kejauhan.
...
Sementara itu, di waktu yang bersamaan, di saat para penjaga mansion Keluarga Don Cile sedang panik akan kemunculan sang Serigala Fenrir, Drian dan Hansel langsung memanfaatkan kepanikan tersebut untuk menyusup ke dalam mansion, sedangkan anggota yang lainnya, seperti Kris, Toyib, serta Sulaiman langsung berjaga di berbagai macam titik untuk mengamankan jalur pelarian.
Sambil menghindar dan bersembunyi setiap ada penjaga yang lewat, Drian dan Hansel berhasil menyusup dengan sangat mulus.
"Aku sudah sering melakukan misi penyusupan, tapi ini yang terbaik," gumam Hansel yang sedang berlari di samping Drian, menelusuri setiap lorong mansion.
Hansel lalu menambahkan, "Kita harus nyari ke mana, Yan?"
"Gua juga nggak tau. Pokoknya cari aja dulu. Kita telusuri setiap ruangan," balas Drian.
Setelah cukup lama mencari dan menelusuri setiap ruangan, mereka akhirnya sampai di depan sebuah pintu besi raksasa. Daripada pintu, itu mungkin lebih mirip dengan gerbang.
"Kenapa ada gerbang besar di sini?" Hansel cukup terkejut melihatnya.
"Gerbang ini kelihatan sangat mencurigakan. Mungkin di sini tempat mereka menahan dan menyembunyikan orang tuanya Zaltan," kata Drian.
"Ini gimana masuknya? Gerbang ini terlalu tebal," gumam Hansel sambil memukul-mukul gerbang besi tebal di hadapannya sampai menimbulkan suara khas benturan logam.
"Sini, biar kucoba." Drian berancang-ancang memukul, lalu melesatkan satu pukulan kuat.
Saat kepalan tangannya menghantam gerbang besi tersebut ...
Ting!
Bukannya gerbang besi yang hancur, malah tulangnya yang terasa retak.
__ADS_1
"Idihhhh ... itu pasti sakit!" Hansel meringis ngilu hanya dengan membayangkan apa yang Drian rasakan saat ini.
"Lu oke kan Yan?" tanya Hansel.
"G-gua ... gua o-ok," balas Drian dengan suara gemetar sambil berusaha menahan sakit.
Hansel semakin ngilu saat melihat ekspresi Drian.
Di saat Drian sedang berpikir bagaimana cara membuka gerbang besi tersebut, tiba-tiba ada suara yang muncul di kepalanya.
"Woi, gimana? Udah ketemu belum?"
"Loh ... Vin? Kok lu bisa ...?" Drian keheranan karena dia tiba-tiba mendengar suara Alvin terasa seperti masuk ke kepalanya.
"Ini berkat kemampuan telepatinya Fenrir. Dia bisa nyambungin pikiran gua ke elu. Udah lupain dulu soal ini. Fenrir bilang kalau kunci yang kalian cari disimpan di laci meja di ruangan paling atas. Mumpung lagi nggak ada orang di sana, buruan ambil."
"Oke, oke. Makasih infonya, Vin."
Tanpa berniat membuang waktu lebih lama, Hansel dan Drian langsung bergegas menuju ruangan yang dimaksud.
Karena kini semua orang sedang sibuk menangani Fenrir yang tiba-tiba muncul dan mengamuk di depan mansion milik Keluarga Don Cile, ditambah para anggota keluarga juga sedang diungsikan ke dalam bungker, Drian dan Hansel jadi bisa bergerak bebas tanpa perlu khawatir menarik perhatian.
Singkat waktu, setelah berhasil mendapat kunci yang mereka cari, Drian dan Hansel langsung bergegas kembali ke tempat sebelumnya; gerbang besi raksasa.
Mereka menggunakan kunci tersebut untuk membuka gerbang besi di hadapan mereka, dan boom, mereka berhasil membuka pintu ruangan tersebut.
Di sana, mereka melihat sebuah ruangan besar yang tidak mirip dengan ruangan, melainkan lebih seperti taman indah yang dipenuhi pepohonan dan bunga-bunga bermekaran.
"What The Hell ...! Apa-apaan ini?" Drian cukup syok waktu pertama kali melihat isi ruangan tersebut.
"Kok bisa ada taman di sini?" Begitu pula dengan Hansel.
"Siapa kalian!"
Tiba-tiba ada suara perempuan yang menegur mereka.
Drian dan Hansel pun menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang gadis manis berusia sekitar dua puluhan tahun sedang bersembunyi di balik pepohonan. Gadis itu menggunakan jubah yang menutupi hampir seluruh tubuhnya, kecuali wajah.
Gadis itu tidak sendirian. Dia sedang bersama lima monster berkaki empat setinggi kurang lebih tiga meter, mirip harimau dan singa, namun jauh lebih besar, serta empat elf dewasa yang terlihat seperti ingin melindunginya.
Drian dan Hansel saling pandang satu sama lain. Raut wajah mereka menggambarkan kebingungan dan perasaan bertanya-tanya.
"Siapa kalian? Kenapa kalian bisa ke sini?" Lagi, gadis itu bertanya dengan takut-takut.
"Maaf, kami tidak bermaksud jahat. Kami hanya ingin mencari elf," jawab Drian.
"Elf ...? Apa kalian kelompok pemburu elf ...?" tanya gadis itu.
"Tidak! Kami punya kenalan elf kecil. Dia kehilangan orang tuanya sekitar sepuluh tahun yang lalu. Kami datang ke sini karena mendengar kalau orang tua elf kenalan kami sedang ditahan di sini," jawab Drian.
Sepasang elf di samping si gadis berjubah panjang tiba-tiba seperti berbicara pada gadis tersebut.
Setelah berbincang dengan sepasang elf di sampingnya, gadis itu bertanya pada Drian, "Siapa namanya?"
"Maksudmu elf kecil kenalan kami?" tanya Drian.
Gadis itu mengangguk.
"Zaltan. Namanya Zaltan. Kami tidak sengaja bertemu dengannya di gunung dekat desa kami," jawab Drian.
__ADS_1
Mendengar apa yang baru saja Drian katakan, salah satu dari sepasang elf yang berada di samping gadis tersebut, elf yang nampak seperti perempuan, tiba-tiba langsung terduduk dengan ekspresi haru biru, sementara yang satunya, elf yang nampak seperti laki-laki, langsung memeluk elf yang mungkin saja istrinya.
"Apa kau tidak berbohong?" tanya gadis itu.
"Untuk apa aku berbohong ...?" balas Drian.
Gadis itu tiba-tiba seperti kembali diajak berbicara oleh sepasang elf yang sedang terduduk dengan perasaan campur aduk; senang, lega, dan terharu yang bercampur menjadi satu.
Setelah berbincang, gadis itu kembali bertanya pada Drian, "Lalu sekarang dia ada di mana? Maksudku elf kecil yang kau maksud."
"Dia aman di desa kami. Dia punya banyak teman di sana."
"Jadi, kalian datang ke sini untuk membebaskan kami?" tanya gadis itu.
"Sebelumnya, aku ingin bertanya. Apakah mereka itu orang tuanya Zaltan?" Yang Drian maksud adalah sepasang elf yang kini sedang terduduk dan saling berpelukan dengan perasaan campur aduk.
Gadis dan sepasang elf tersebut pun mengangguk tanpa menjawab.
"Kalau begitu ..."
Belum selesai Drian berbicara, tiba-tiba suara Alvin kembali masuk ke kepalanya.
"Woi, Yan! Ngapain aja sih lu? Udah ketemu belum?"
Dengan geram, karena Alvin main potong, Drian membalas, "Ini juga gua baru mau ngajak mereka keluar!"
"Ya udah! Buruan! Ni Fenrir ngomel mulu, minta buruan kelarin misi ini!"
"Sabar napa woi! Sabar!"
Singkat waktu, Drian dan Hansel membawa keluar gadis serta empat elf dan lima monster yang mereka temui di salah satu ruangan mansion milik Keluarga Don Cile.
Lagi-lagi, berkat keributan yang Fenrir ciptakan, mereka bisa sat-set sat-set menelusuri lorong mansion tanpa ketahuan.
Sesampainya di salah satu pintu keluar mansion, mereka tidak langsung keluar. Mereka lebih dulu mengamati situasi agar tidak ada siapa pun yang melihat keberadaan mereka, mengingat situasi di luar mansion sangat keos.
Sambil fokus mengintip ke luar mansion dari salah satu pintu keluar, Hansel bergumam, "Woah ... gila! Ratusan penjaga mansion Keluarga Don Cile dan ratusan pasukan militer penjaga kota bahkan nggak ada yang sanggup ngegores kulitnya Fenrir! Monster Bencana Besar memang gila! Gua bener-bener kagum Alvin bisa ngalahin monster kayak begitu."
"Sekarang bukan waktunya kagum. Kita harus fokus kabur dari sini," balas Drian, juga sambil fokus mengintip keluar. Bedanya, jika Hansel fokus mengamati kekacauan yang Fenrir ciptakan, Drian fokus mencari rekannya yang bertugas mengamankan jalur pelarian.
"Yan, sini!" Dari kejauhan, Kris berteriak, namun dengan suara berbisik sambil melambai-lambaikan tangan untuk memanggil Drian.
Menyadari keberadaan Kris, Drian dan Hansel, bersama kelompok yang mereka selamatkan mulai berjalan mengindik-indik di tengah kekacauan yang terjadi. Mereka berjalan dengan penuh hati-hati agar para penjaga maupun pasukan militer kota yang sedang berusaha keras menahan amukan Fenrir tidak melihat mereka.
Singkat cerita, setelah berhasil melarikan diri dari mansion Keluarga Don Cile, Drian langsung memberikan kode siulan yang menandakan bahwa misi telah berhasil.
Angel yang mendengar kode siulan tersebut pun langsung meneruskannya pada Alvin, dan Alvin meneruskannya pada Fenrir.
Setelah semua anggota mendapat konfirmasi misi selesai, Alvin berserta kelompoknya, tidak terkecuali Fenrir, mereka langsung pergi meninggalkan mansion Keluarga Don Cile secara terpisah, dan hal itu menimbulkan tanda tanya besar di benak ratusan penjaga Keluarga Don Cile serta ratusan pasukan militer Kota Zargon.
Untuk apa Fenrir tiba-tiba datang mengacau, hingga menimbulkan kerusakan yang sangat parah, tapi monster itu bahkan tidak menimbulkan satu pun korban jiwa. Korban luka memang banyak, tapi tidak ada satu pun yang benar-benar terluka parah sampai harus meregang nyawa. Hal itulah yang menjadi tanda tanya besar di benak semua orang, kecuali Alvin dan kelompoknya.
...
"Ciaaahahahahaha! Ini mudah sekali! Terlalu mudah bahkan," ungkapku kegirangan saat berlari meninggalkan Kota Zargon bersama Angel.
"Kita harus berterima kasih pada Fenrir. Kalau bukan karena dia, misi ini tidak akan berjalan sebaik ini," kata Angel.
"Ciaaahahahahaha! Aku akan benar-benar berterima kasih padanya kalau kita semua sudah berkumpul nanti," balasku.
__ADS_1