
Pagi ini, aku berserta seluruh anggota Guild Quantum bersiap berangkat menuju Kota Lisbon, kota tempat kami akan melakoni pertandingan perdana kami.
Namun, seperti biasa, sebelum kami berangkat, seluruh warga desa berkumpul di perbatasan untuk melepas keberangkatan kami.
"Kalian semua, hati-hati di jalan," pesan Bibi Nur.
"Jangan sampai aneh-aneh di sana, terutama kamu, Vin," imbuh Bibi Septi.
"Tenang aja, Bik. Aman kok, aman," balasku.
"Bang Vin, Bang Yan, jangan sampai kalah! Kalau kalian gagal menjadi juara, aku akan memanggil kalian pecundang!" kata Heri, anak panti yang sebelumnya kujelaskan memiliki mulut pedas dan sifat jujur.
"Haaaa ...! Kalah ...? Abangmu ini nggak akan pernah kalah!" balasku dengan penuh percaya diri.
"Kak Vin, Kak Yan, Kak Ngel, temuanya, beljuanglah (semuanya, berjuanglah)," kata Zaltan yang sedang menggandeng tangan ayah dan ibunya.
"Tenang saja, Kakak pasti akan kembali membawa kemenangan," balasku.
Selain berpamitan dengan warga desa, aku juga berpamitan dengan Fenrir yang sedang mengawasi kami dari puncak gunung.
"Fenrir, kupercayakan desa ini padamu selagi kami pergi. Tolong jaga desa ini berserta semuanya," pikirku sambil menatap gunung tempat Fenrir berada.
"Kau pikir aku ini siapa? Selagi aku di sini, tidak akan ada yang bisa menyentuh desa kecilmu," balas Fenrir.
Meski Fenrir tidak ada di sini, dan jarak kami juga cukup jauh, tapi dia tetap bisa mendengar suara pikiranku.
Puas berpamitan dengan seluruh warga desa, kami mulai beranjak pergi meninggalkan desa.
Sambil beranjak menjauh, kami terus melambaikan tangan dan berteriak, "Sampai jumpa, semuanya!"
Sementara itu, warga desa juga terus melambaikan tangan mereka sambil berteriak.
"Berjuanglah, kalian semua!"
"Jangan sampai kalah!"
...
Setelah menempuh perjalanan selama satu hari satu malam tanpa henti, kami akhirnya sampai di Kota Lisbon.
"Wow, kota ini rasanya jadi jauh lebih ramai dari sebelumnya," gumamku sambil melihat pernak pernik bendera guild-guild yang akan mengikuti turnamen Guild War.
Bendera-bendera tersebut dipajang di berbagai sudut kota.
"Guild War adalah pesta akbar tahunan. Jadi, wajar jika kota-kota yang menjadi tuan rumah menghias kota mereka dengan berbagai macam pernak pernik turnamen," kata Pak Warto.
"Hei, lihat! Bukannya itu lambang guild kita!" teriak Angel sambil menunjuk bendera berlambang 'Q' bermahkota emas yang dipajang di pinggir jalan, di antara ratusan bendera lain.
"Wah, bangga banget lihat lambang kita juga ada di sini," balasku.
Kami kemudian mulai berkeliling kota untuk menikmati kemeriahan pesta tahunan tersebut.
Puas berkeliling, kami langsung pergi menuju asosiasi guild internasional untuk mendaftar ulang keikut-sertaan kami dalam turnamen.
Setelah semua proses selesai, kami diarahkan menuju salah satu hotel terbaik yang khusus disediakan untuk para anggota guild yang turut berpartisipasi dalam turnamen.
Berhubung jadwal pertandingan perdana kami digelar besok, hari ini kami hanya menghabiskan waktu dengan beristirahat di hotel dan sesekali berjalan keliling kota untuk menikmati kemeriahan pesta akbar tahunan tersebut.
...
Keesokan harinya, kami semua berangkat menuju Stadion Muncen, stadion tempat pertandingan perdana kami dilaksanakan.
"Kukira akan lebih ramai, ternyata tidak."
__ADS_1
Saat bersiap di bangku cadangan, aku cukup terkejut karena awalnya kupikir akan ada banyak orang yang datang untuk menonton, tapi nyatanya tidak.
Tribun stadion tempat pertandingan kami digelar kosong penonton. Hanya ada beberapa orang yang terlihat duduk di sudut-sudut tribun. Jumlahnya mungkin bisa dihitung dengan jari.
"Ini baru babak penyisihan grup tahap pertama. Lagi pula, yang bertanding juga bukan guild unggulan. Jadi, wajar kalau sepi penonton. Palingan, mereka yang hadir hanyalah scout dari guild besar yang ingin mencari bakat unggulan," balas Mbak Shelly yang berperan sebagai manager tim kami.
...
Di sisi lain, setelah melihat para anggota Guild Quantum, guild yang akan menjadi lawan mereka di pertandingan kali ini, para anggota Guild Scorpion yang sedang bersiap di bangku cadangan mulai berkomentar.
"Mereka semua kelihatan sangat lemah," kata Guyon, roaster Guild Scorpion, sambil menatap ke seberang lapangan, tepatnya ke bangku cadangan tempat para anggota Guild Quantum berkumpul.
"Kudengar, guild mereka baru terbentuk beberapa hari yang lalu. Lihat, setelan mereka saja masih polos. Itu artinya mereka belum punya sponsor sama sekali," sahut Jeje, roaster Guild Scorpion.
Sambil tersenyum meremehkan, Tere, roaster Guild Scorpion, dia menambahkan, "Mereka juga cuma punya sepuluh anggota dan tiga manager. Itu artinya mereka tidak punya banyak pemain cadangan."
Alasan Tere mengatakan itu karena biasanya sebuah guild memiliki dua puluh anggota yang diturunkan dalam turnamen.
"Ini pasti akan menjadi pertandingan mudah untuk kita," kata Guyon.
"Jangan meremehkan lawan. Kita tidak pernah tau apa yang mungkin terjadi," sahut Yandex, sang Master Guild Scorpion.
*Roaster \= Anggota reguler.*
...
Di pertandingan kali ini, kami turun dengan formasi aku, Drian, dan Angel, sementara lawan turun dengan formasi Yandex, Jeje, dan Guyon.
Sebelum pertandingan dimulai ...
"Silakan bersiap di posisi masing-masing."
Wasit yang akan mengawal jalannya pertandingan meminta kami bersiap di posisi masing-masing.
Saat kami sudah bersiap di posisi masing-masing, aku dan rekan-rekanku di sudut kiri lapangan, sementara ketiga petarung lawan di sudut kanan lapangan, wasit yang mengawal pertandingan langsung berteriak, "Mulai!"
Tepat setelah set pertama dimulai, aku dan Drian langsung menghentakkan kaki kami kuat ke tanah dan mulai melesat ke depan dengan kecepatan tinggi, sementara Angel tetap berdiam di belakang, mengingat dia adalah tipe support.
Sambil berlari menuju ke tengah lapangan dengan kecepatan tinggi, aku mulai melapisi katanaku dengan suhu dingin ekstrim, hingga membuat katanaku mengeluarkan kepulan asap putih tebal.
Sementara Drian, dia juga mulai melapisi katananya dengan atribut cahaya miliknya, hingga membuat katananya memancarkan cahaya kuning yang cukup menyilaukan.
Drian lalu menggunakan spesial tekniknya, Thone Rose, teknik menebas dengan kecepatan tinggi bak kilat menyambar.
Dengan tebasan secepat kilat ....
Slink! Slink! Slink!
Drian berhasil menebas ketiga petarung lawan dengan tiga kombinasi tebasan cepat.
"Jeje out! Guyon out!" teriak sang wasit.
Jeje dan Guyon dinyatakan out karena bar durabiliti di setelan mereka telah mencapai 0%.
Sementara itu, sang Master Guild berhasil selamat dari kombinasi tebasan kilat yang Drian lesatkan karena durabiliti di setelannya masih menyisakan 10%.
Di saat kedua anggotanya langsung tumbang, bahkan sebelum mereka sanggup merespon, sang Master Guild Scorpion sanggup bereaksi, meski tidak sepenuhnya berhasil menahan damage yang Drian berikan.
...
"Apa-apaan kecepatannya itu? Bagaimana caranya bisa bergerak secepat itu tanpa kehilangan kontrol sama sekali ...?" pikir Yandex, sang Master Guild Scorpion sambil memasang kewaspadaan tinggi, mengantisipasi kalau-kalau ada serangan lanjutan.
Belum reda akan keterkejutannya, Yandex, sang Master Guild Scorpion harus dihadapkan dengan Alvin yang sudah bersiap menyerangnya dengan tebasan katana beku.
__ADS_1
Yandex langsung mengayunkan pedangnya untuk menangkis tebasan tersebut.
Saat pedangnya mulai berkontak dengan katana beku milik Alvin, pedangnya ikut membeku.
Di saat dia sedang beradu senjata dengan Alvin, Drian tiba-tiba sudah bersiap menebasnya dari samping.
Yandex ingin menarik pedangnya, namun sayang, pedangnya menempel pada katana milik Alvin akibat pembekuan tersebut, sehingga membuatnya tidak bisa menggunakan pedangnya untuk menangkis tebasan Drian.
Alhasil, karena tidak sempat menghindar maupun menangkis serangan Drian ...
Slash!
"Set clear!" teriak sang wasit.
Yandex harus menyusul kedua anggotanya yang sudah dieliminasi lebih dulu karena bar durabilitinya yang sebelumnya masih menyisakan 10%, kini telah mencapai 0%.
Dengan tumbangnya ketiga petarung Guild Scorpion, poin di set pertama resmi menjadi milik Guild Quantum.
"Yesss!" Shelly langsung berteriak senang sambil mengepalkan satu tangannya kala mengetahui guildnya berhasil mendapat poin perdana.
Sama halnya dengan Shelly, Warto dan yang lainnya juga ikut bergembira menyambut poin perdana mereka.
Meski itu hanya satu poin, tapi itu merupakan poin yang sangat berharga, mengingat itu adalah poin perdana mereka di turnamen Guild War.
...
Saat berjalan kembali ke bangku cadangan, aku menepuk pundak Drian sambil berkata, "Nice, Yan."
"Kupikir ini akan lebih susah," gumam Drian.
"Sombongnya kumat ni anak!" gumamku.
"Kalian berdua, kerja bagus," teriak Angel yang berlari menghampiri kami.
Kami pun berjalan kembali ke bangku cadangan bersama-sama.
...
Di sisi lain, saat berjalan kembali ke bangku cadangan mereka, Jeje dan Gorgon sibuk menggerutu.
"Apa-apaan itu tadi? Kenapa bocah itu bisa bergerak secepat itu?"
"Aku bahkan tidak bisa melihat pergerakannya sama sekali!"
"Itulah kenapa, kubilang jangan meremehkan mereka," sahut Yandex, sang Master Guild Scorpion.
"Apa kau sudah tau kalau ini akan terjadi?" tanya Jeje.
Yandex terdiam beberapa saat, lalu menjawab, "Sebelum pertandingan dimulai, aku sudah merasakan hawa yang sangat aneh dari mereka. Aku tidak tau hawa macam apa yang kurasakan, tapi instingku mengatakan kalau mereka sangatlah berbahaya."
"Cih, jadi mereka itu bukan pemula, ya?" gumam Guyon.
...
Sesampainya di bangku cadangan, Hansel, Viona, serta Mbak Shelly langsung menyambut kami dengan segelas air minum.
"Kerja bagus, kalian semua. Ini minumlah. Kalian pasti lelah bukan ...?" kata Mbak Shelly sambil menyodorkan segelas air minum padaku.
"Ya, terima kasih, Mbak," balasku seraya mengambil gelas yang Mbak Shelly sodorkan, sementara Drian dan Angel mengambil segelas air minum yang Hansel dan Viona sodorkan.
...
Beralih ke salah satu sudut tribun stadion.
__ADS_1
Di sana, seorang scout dari Guild Alabama, salah satu guild terbaik di seluruh negeri, mulai menulis di kertasnya sambil bergumam, "Pemilik atribut cahaya dan atribut es. Kalau aku bisa menarik dan merekrut mereka ke guild kami, aku pasti akan mendapat bonus besar."