Legenda Sepanjang Masa

Legenda Sepanjang Masa
Chapter 37 - Legenda Sepanjang Masa


__ADS_3

Malam ini, di bawah cahaya lampu yang menerangi sebagian area taman hotel, di saat aku dan Angel asik berduaan di bangku taman, tiba-tiba ...


"Shuttt ... hoi, kalian berdua!"


Ada yang memanggil kami dengan suara berbisik.


"Siapa, Ngel?" tanyaku, sementara Angel hanya mengangkat kedua bahunya, tanda tidak tau.


"Hoi ... kalian berdua!" Lagi, ada suara berbisik yang memanggil kami. Namun, kali ini disertai lemparan kerikil.


Dari arah lemparannya, itu berasal dari area luar pagar hotel.


Aku dan Angel kemudian beranjak dari tempat duduk, menghampiri pagar pembatas hotel untuk melihat siapa yang sedari tadi memanggil-manggil kami.


Setelah kami periksa, ternyata ada seorang pria yang bersembunyi di luar pagar hotel. Pria itu menggunakan setelan jas hitam acak-acakan. Tampangnya juga terlihat tak terurus.


"Siapa lu?" tanyaku pada pria tersebut.


Dengan suara berbisik, pria itu membalas, "Perkenalkan, namaku Roberto. Aku ke sini karena ingin berbicara dengan kalian, tapi sebelumnya, apa kalian bisa berbicara dengan penjaga gerbang agar membiarkanku masuk?"


"Kenapa nggak masuk aja?" tanyaku.


"Aku sudah mencoba, tapi penjaga gerbang tidak memperbolehkanku," balas si Roberto.


Aku menatap pria itu untuk beberapa saat. Aku agak sedikit curiga karena melihat penampilannya yang nampak acak-acakan.


Entah kenapa, saat melihat penampilan si Roberto, aku jadi teringat pertemuan pertamaku dengan Javier, meski penampilan pria ini tak seburuk Javier kala itu.


"Oh, ayolah ... sebentar saja. Aku cuma mau berbicara dengan kalian sebentar saja," mohon pria itu.


"Ya udah, bicarain di sini aja," balasku.


"Tidak bisa. Aku ingin membicarakan hal yang sangat penting dengan kalian. Jadi, aku tidak bisa membicarakannya di sembarang tempat. Itu adalah etika dasar yang selalu kupegang teguh," balas si Roberto.


"Ya, ya, baiklah. Tunggu sebentar," kataku, lalu mulai berjalan menuju pos penjaga gerbang.


...


"Ha-halo." Angel menyapa Roberto dengan ekspresi canggung karena Alvin meninggalkannya berduaan dengan pria itu.


Sementara Roberto hanya membalas dengan senyuman.

__ADS_1


Setelah Alvin berbicara dengan sang penjaga gerbang hotel, salah seorang penjaga gerbang lalu melambaikan tangan memanggil Roberto dan mengizinkannya memasuki area hotel tempat para anggota guild yang berlaga di grup dua belas menginap.


...


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" tanyaku pada Roberto setelah membawanya ke lobi hotel.


Selain itu, aku juga mengumpulkan seluruh anggota yang lain karena permintaan Roberto.


Roberto yang sebelumnya duduk di sofa melingkar bersama kami, dia mulai bangun sambil merapikan bajunya.


"Maaf karena penampilanku agak tidak pantas. Aku akan memperkenalkan diri sekali lagi. Namaku Roberto. Aku adalah scout dari Guild Alabama. Maksud kedatanganku ke sini karena ingin memberikan penawaran untuk kalian."


"Penawaran ...?" Aku berserta seluruh anggota guildku keheranan.


"Aku sudah melihat penampilan kalian saat melawan Guild Scorpion. Menurutku, itu adalah pertunjukkan yang sangat luar biasa, yah, meski cukup membosankan, tapi itu tetap sangat luar biasa. Maksud kedatanganku ke sini karena ingin menawari kalian, terutama kalian bertiga (maksudnya adalah aku, Drian, dan Angel), aku ingin kalian bergabung dengan guild kami."


"Nggak, makasih," jawabku tanpa pikir panjang.


"Eh ...? Kenapa? Apa kau tidak pernah mendengar tentang Guild Alabama?" tanya Roberto keheranan.


"Kami sudah punya guild sendiri. Jadi, kami tidak berniat bergabung ke guild manapun," balasku.


"Tunggu, tolong pikirkan lagi. Kalau kalian menerima tawaranku, aku bisa menjamin kalian mendapat pendapatan besar. Apa kalian yakin tetap ingin menolak? Dibandingkan bertahan dan membangun guild kalian dari nol, bukankah akan lebih baik kalau kalian membangun karir di guild besar yang sudah terkenal ...?" tanya Roberto.


Roberto tiba-tiba berlutut dan memeluk kakiku sambil memohon, "Ayolah ... tolong pikirkan matang-matang. Ini demi bonus ... maaf, maksudku ini demi karir kalian sendiri."


"Nggak." Aku tetap kukuh dengan pendirian.


"Kumohon ... pikirkan dulu matang-matang!" Pria bernama Roberto itu terus saja memohon. Dia bahkan rela memeluk kakiku demi membujukku menerima tawarannya.


"Ngotot banget sih! Dibilangin enggak, ya, enggak!" Karena dia terus memeluk erat kakiku, aku sampai harus berusaha keras untuk melepasnya.


"Ayolah ..."


"Nggak!"


"Pikirkan dulu ..."


"Nggak!"


"Gaji besar lo ..."

__ADS_1


"Tetep nggak!"


Melihat momen tersebut, momen di mana Roberto terus memohon, sedangkan Alvin terus menolak, Drian, Angel, Hansel, Warto, Shelly, Kris, berserta seluruh anggota yang lain pun hanya bisa terdiam seribu bahasa.


"Kupikir scout dari guild besar itu keren-keren dan berwibawa, ternyata ada juga yang seperti ini," gumam Hansel.


"Ya, aku juga," balas Kris sambil melihat Roberto yang terus memohon dan menggelendoti kaki Alvin.


...


"Hei, Roberto, kenapa kau ngotot sekali ingin merekrut kami? Terutama mereka?" tanya Bang Kris. Yang Bang Kris maksud adalah aku, Drian, dan Angel.


Roberto yang sebelumnya terus menggelendoti kakiku, dia tiba-tiba melepas pelukannya.


Dengan wajah tertunduk, Roberto menjelaskan, "Sebenarnya, itu karena aku sangat membutuhkan uang untuk memberi makan keluargaku. Sudah hampir setahun aku belum mendapat penghasilan sama sekali. Kalau aku bisa merekrut kalian, aku akan mendapat bonus besar. Makanya, aku tidak mau melepaskan kesempatan ini begitu saja."


Aku beserta seluruh anggota guildku seketika merenung setelah mendengar penjelasan pria yang sedang berjuang mencari nafkah untuk keluarganya itu. Kami merasa berempati. Kami paham betul bahwa mencari uang bukanlah perkara yang mudah.


Akan tetapi, sayangnya rasa empati kami seketika hancur karena ...


"Jadi, tolong terima tawaranku. Aku pasti akan mengurus semuanya untuk kalian."


Rasa empati kami hancur karena Roberto terlihat seperti menjadikan itu sebagai alasan dan senjata untuk meluluhkan kami.


Karena tidak mau berurusan lebih jauh dengan pria aneh tersebut, aku memanggil penjaga gerbang untuk mengusirnya dari lobi hotel.


"Ayolah ... tolong pikirkan lagi!" Meski sedang ditarik dan digiring keluar oleh para penjaga hotel, Roberto terus saja memohon agar kami menerima tawarannya.


"Ada, ya, orang kaya gitu," gumamku keheranan.


"Dunia ini emang unik," sahut Drian yang berdiri di sampingku.


Saat kami semua sedang berdiri di depan lobi hotel sambil menatap Roberto yang sedang dipaksa dan digiring keluar oleh para penjaga gerbang, tiba-tiba ...


"Oh, kebetulan sekali kalian semua berkumpul di sini. Aku baru saja ingin mencari kalian."


Tiba-tiba ada suara pria yang menegur kami dari belakang.


Sambil menoleh ke belakang, aku menggerutu, "Orang aneh macam apa lagi ini ...?"


Begitu melihat siapa yang baru saja menegur kami, sebagian besar dari kami seketika terkejut.

__ADS_1


Ternyata, yang baru saja menegur kami adalah seorang pria berusia tiga puluhan tahun yang datang bersama lima orang berseragam hitam, khas pengawal pribadi.


"Bukankah kau itu Luis Amstrong?" tanyaku.


__ADS_2