
Selesai dengan urusan perekrutan anggota guild, aku dan Drian pun berpisah.
Mulai dari sini, kami akan fokus menjalankan misi masing-masing.
Drian berserta Mbak Shelly dan Viona akan pergi ke ibu kota untuk mengurusi keperluan dan proses pendirian guild.
Drian turut serta mengajak Mbak Shelly dan Viona karena keduanya mengerti banyak hal tentang proses dan keperluan pendirian guild, sehingga keberadaan keduanya akan sangat membantu Drian yang tidak tau apa-apa.
Sementara aku, sesuai rencana, aku akan tetap pergi sendirian ke Pegunungan Himalaya untuk mencari keberadaan Serigala Fenrir.
Untuk bisa sampai ke wilayah Pegunungan Himalaya, aku harus melalui perjalanan panjang selama tiga hari tiga malam melewati lembah, hutan, hingga sungai.
Dalam perjalanan, aku beberapa kali singgah dan beristirahat di kota ataupun desa yang kulalui untuk sekadar makan dan tidur.
Aku tidak bisa singgah terlalu lama di setiap desa maupun kota yang kulalui karena aku harus segera kembali sebelum pagelaran Guild War dimulai. Maksimal, aku hanya punya waktu satu bulan, lebih dari itu, mau tidak mau, aku harus melupakan misi ini dan lebih memprioritaskan Guild War.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga hari tiga malam, aku akhirnya sampai di sebuah kota kecil bernama Lagoon.
Lagoon adalah kota terdekat dari Pegunungan Himalaya. Meski disebut kota terdekat, tapi jaraknya terbilang cukup jauh, sekitar 50 kilometer dari Pegunungan Himalaya.
Tidak ada yang istimewa dari kota ini, bangunan-bangunannya biasa saja, suasananya juga sepi, dan tidak banyak orang yang tinggal di sini.
Kebanyakan orang yang tinggal di sini menggunakan baju tebal karena suhu di sini cukup dingin, mengingat kota ini berada di daratan tinggi.
Saat pertama kali memasuki kota, yang pertama kali kulakukan adalah bertanya kepada beberapa orang tentang keberadaan Serigala Fenrir.
Namun, bukannya menjawab, sebagian besar orang yang kutemui malah menganggapku gila karena nekat mencari salah satu dari tujuh Monster Bencana Besar. Mereka menganggap tindakanku sama saja dengan bunuh diri.
Alhasil, aku tidak mendapat satu pun informasi yang berguna.
Awalnya kupikir akan lebih mudah kalau mencari informasi langsung dari desa terdekat dari Pegunungan Himalaya, tapi ternyata tidak. Bukannya informasi, justru hinaanlah yang kudapat.
Karena tidak mendapat satu pun informasi yang berguna, aku nekat pergi ke Pegunungan Himalaya tanpa bekal informasi apa pun.
Saat berjalan di bawah pepohonan rindang, menuju Pegunungan Himalaya, aku berpikir, "Kira-kira, sebulan cukup nggak, ya?"
Aku berpikir seperti itu karena mengkhawatirkan misi ini akan berlarut-larut. Di sekenario terburuk, misi ini mungkin saja berakhir dengan kegagalan.
Berdasarkan informasi yang kudapat dari Zaltan, Serigala Fenrir hampir tidak pernah menunjukkan dirinya pada sembarang orang, bahkan pada sesama ras monster sekali pun. Dia hanya akan menemui orang yang ingin dia temui, dan tidak akan pernah menemui orang yang tidak ingin dia temui. Maka dari itu, aku hanya bisa berharap Serigala Fenrir mau menemuiku, karena kalau tidak, sudah jelas misiku akan berakhir dengan kegagalan.
Setelah cukup lama berjalan melalui hutan belantara, aku akhirnya sampai di Lembah Pegunungan Himalaya.
__ADS_1
"Jadi ... inikah Pegunungan Himalaya?" gumamku takjub sewaktu melihat gunung-gunung besar menjulang tinggi berselimut salju abadi yang ada di hadapanku.
Meski aku bahkan tidak tau tujuanku, juga tidak tau apa yang harus kulakukan untuk menemui sang Serigala Fenrir, aku tetap nekat mendaki gunung tersebut.
Cukup lama rasanya aku mendaki medan terjal berselimut salju abadi tersebut, bahkan tanpa kusadari hari sudah berganti malam, aku belum juga mencapai puncaknya.
Berhubung siang sudah berganti malam, ditambah udaranya juga semakin dingin, aku memutuskan untuk membangun tenda dan bermalam di sana, sebelum kembali mendaki menuju puncak esok hari. Tidak lupa, aku juga membuat api unggun di depan tenda untuk menghangatkan tubuh.
"Untung aku sudah siap sedia," gumamku sambil menghangatkan diri di dekat api unggun.
Aku memang memiliki atribut suhu yang bisa mengontrol suhu sesuka hati, tapi bukan berarti aku kebal terhadap suhu ekstrim setiap saat. Aku hanya kebal suhu ekstrim saat menggunakan atributku. Jika tidak, aku tidak berbeda dari manusia pada umumnya.
Suasana malam itu benar-benar sepi, saking sepinya sampai membuat telingaku berdengung.
Mungkin karena tidak ada satu pun serangga maupun binatang yang bisa hidup di sini, mengingat iklim di sini sangat dingin, dan wilayahnya juga selalu diselimuti salju abadi, sehingga wajar kalau tidak ada suara serangga maupun binatang yang masuk ke telingaku.
Di tengah kesunyian tersebut, aku tiba-tiba merasakan suasana malam yang awalnya damai sentosa, seketika berubah mencekam.
Di saat aku sedang menghangatkan diri di depan api unggun, tiba-tiba ada hembusan angin yang menerpa tubuhku dari belakang. Aku yakin sekali, hembusan itu pasti berasal dari dengusan hewan buas.
Selain itu, aku juga bisa dengan jelas mendengar suara hewan menggeram. Tidak salah lagi, itu adalah suara serigala, namun bedanya yang ini jauh lebih gahar.
Ini adalah wilayah kekuasaan salah satu dari tujuh Monster Bencana Besar, Serigala Fenrir. Kalau memang benar yang ada di belakangku adalah monster, sudah pasti itu adalah Fenrir.
Sambil berusaha tetap tenang, meski sebenarnya seluruh tubuhku sedang gemetaran, aku berkata, "Fenrir, aku jauh-jauh datang ke sini cuma untuk berbicara denganmu."
Sambil menggeram dan mendengus, hingga hembusan yang menerpa tubuhku membuat bulu kudukku berdiri tegak, monster di belakangku membalas, "Memang apa perduliku? Cepat pergi sekarang juga sebelum aku berubah pikiran."
Suara monster itu terasa langsung masuk ke dalam pikiranku, layaknya telepati, dan juga, suaranya terdengar sangat gahar.
Masih tanpa menoleh, aku kembali berkata, "Ayolah, sebentar saja. Aku benar-benar hanya ingin berbicara denganmu."
Meski samar, aku bisa mendengar kalau sang Serigala Fenrir itu tiba-tiba terkekeh, entah untuk alasan apa.
"Manusia ... jadi kau bisa mendengar suaraku?"
Aku mengangguk pelan, masih tanpa menoleh.
Dengan suara senang, sang Serigala Fenrir menambahkan, "Seratus ribu tahun ... seratus ribu tahun lamanya aku berdiam di sini, tapi baru kali ini ada manusia yang datang hanya untuk mengajakku berbicara."
Dengusan yang sebelumnya menerpa tubuhku, tiba-tiba mulai terasa seperti menjauh.
__ADS_1
Aku menganggap itu sebagai sambutan baik, sehingga membuatku mulai memberanikan diri untuk menoleh ke belakang secara perlahan.
Setelah menoleh ke belakang, mataku seketika melebar akibat melihat dua bola mata raksasa berwarna keemasan yang bersinar terang di tengah kegelapan malam.
"Kenapa, Manusia? Apa kau takut?" tanya Sang Serigala Fenrir.
Sambil berusaha menutupi raut tercengang, aku membalas, "Tidak ... aku hanya tidak menyangka kalau kau ternyata sebesar ini."
Aku memang tidak bisa melihat wujud serta rupa sang Serigala Fenrir secara langsung akibat keterbatasan cahaya di malam hari, ditambah lagi, bulunya juga sepertinya berwarna hitam, sehingga membuatnya tersamarkan dengan sangat sempurna di tengah kegelapan malam.
Akan tetapi, hanya dengan melihat ukuran kedua bola matanya yang bersinar terang memecah kegelapan malam, aku bisa mengetahui bahwa serigala yang kini berada di hadapanku memiliki ukuran yang sangat besar, teramat besar sampai membuatku terlihat seperti semut di hadapannya.
Kuperkirakan, tingginya mungkin mencapai lima puluh meter.
Dengan ukurannya yang sebesar itu, aku benar-benar heran, kenapa dia bisa sulit untuk ditemukan.
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya sang Monster Bencana Besar.
"Aku ingin kau tinggal di desaku sekaligus menjadi pelindung desaku," jawabku.
Serigala itu menatapku tajam, lalu bertanya, "Jadi, kau ingin menjadikanku hewan penjaga desamu?"
"Tidak, aku hanya ingin kau menjadi bagian dari desaku," balasku.
"Aku tidak tertarik. Sekarang pergilah sebelum aku benar-benar berubah pikiran," kata Sang Serigala Fenrir sambil menggeram.
Dia sepertinya kesal karena perkataanku. Walaupun begitu, aku tidak mau menyerah begitu saja.
"Kau sudah tinggal di sini sendirian selama ratusan tahun. Kau pasti kesepian, bukan? Kalau kau bersedia tinggal di desaku, aku jamin kau tidak akan kesepian lagi," bujukku.
"Jangan menyamakanku dengan manusia. Entah itu ratusan, jutaan, atau bahkan milyaran tahun sekalipun, aku tidak akan pernah merasa kesepian," balas Sang Serigala Fenrir.
"Tidak perlu berbohong. Kalau begitu, kenapa kau bisa sangat senang saat berbicara denganku? Kau pasti sudah lama tidak pernah mendapat teman bicara, bukan?" tanyaku.
Sang Serigala Fenrir tiba-tiba tertawa kecil, lalu berkata, "Kau tajam sekali, Manusia! Kalau kau memang ingin menjadikanku sebagai hewan penjaga desamu, kau harus bisa mengalahkanku."
Aku pun tersenyum senang.
Meski bertarung dengannya bukanlah tujuan utamaku, tapi kalau dengan cara itu aku bisa membawa sang Monster Bencana Besar ini ke desa, maka dengan senang hati akan kulakukan.
Sambil mulai menghunus katana dari sarungnya, aku berkata, "Aku sebenarnya tidak mau melakukan ini karena aku tau aku pasti akan kalah, tapi sepertinya tidak ada salahnya untuk mencoba."
__ADS_1
Sambil menodongkan katanaku, aku menambahkan, "Majulah, Serigala Besar!"