
"Guild Saber ...? Bukannya itu adalah guild terbesar dan terkuat ketiga di seluruh negeri?" tanya Angel.
"Ya ... selain itu, mereka juga biasa dikenal sebagai guild pemburu terbaik di negeri ini," imbuh Javier.
"Zaltan bilang kalau dia sudah hidup sendirian selama sepuluh tahun, bukannya itu berarti orang tuanya sudah ditangkap sekitar sepuluh tahun yang lalu?" kata Drian.
"Kalau sudah selama itu, akan sangat sulit untuk melacak jejaknya," kata Javier yang tengah berdiri sambil memakan makanannya.
Zaltan nampak sangat sedih sewaktu mendengar pembicaraan kami.
Sementara itu, masih sambil memakan makanannya, Javier menambahkan, "Lagi pula, kita juga tidak tau apakah mereka masih ..."
"Javier! Tidak perlu diteruskan." Aku langsung memotong ucapannya karena tidak mau pembicaraan kami semakin melukai hati Zaltan.
Aku kemudian mengelus kepala Zaltan sambil berkata, "Kamu nggak perlu khawatir, Zaltan. Orang tuamu pasti baik-baik aja kok. Abang juga bakalan berusaha yang terbaik untuk mencari dan menyelamatkan mereka."
"Benalkah (Benarkah) ...?" tanya Zaltan dengan ekspresi berharap.
"Ya, Abang janji. Abang pasti akan berusaha yang terbaik," balasku.
Zaltan tak bisa menyembunyikan raut kebahagiaannya setelah mendengar ucapanku.
Aku kemudian menambahkan, "Sekarang tidur lagi gih. Biar kakimu juga cepet sembuh."
"Ayo, Kakak temenin," kata Angel sambil menggandeng tangan Zaltan dan mengajaknya kembali ke kamar, sementara Zaltan yang berjalan sambil bergandengan tangan dengan Angel nampak sangat bahagia.
Setelah Angel dan Zaltan memasuki kamar, Drian langsung bertanya padaku, "Vin, lu serius ngomong gitu? Kita bahkan nggak tau mesti mulai nyari dari mana."
"Gua juga nggak tau, Yan. Gua kasihan banget liat Zaltan, tapi gua juga nggak tau mesti gimana," balasku.
Javier tiba-tiba duduk dan merebahkan tubuhnya di kursi.
"Aku cukup kagum karena kalian sangat memperdulikan elf itu, tapi jangan sampai lupa ... kalian juga punya hal penting yang harus kalian lindungi. Kalau kalian terus-terusan membawa orang luar ke sini, apalagi kalau yang kalian bawa bukan sembarang orang, itu hanya akan semakin membahayakan desa, termasuk kalian sendiri," kata Javier sambil memakan makanan di meja.
"Ya, kami tau soal itu, tapi ... kami juga tidak mungkin sampai mengabaikan bocah seperti Zaltan begitu saja," balasku.
"Kalau begitu, sebelum kalian memutuskan menarik lebih banyak orang ke sini, sebaiknya kalian mulai memikirkan untuk membuat pasukan kalian sendiri," kata Javier sambil fokus pada makanan di hadapannya, saking fokusnya, dia bahkan sampai tidak melihat kami sewaktu mengatakan itu.
"Apa maksudmu dengan kami harus membuat pasukan kami sendiri?" tanyaku keheranan bercampur perasaan bingung.
Sama halnya denganku, Drian juga nampak keheranan bercampur perasaan bingung setelah mendengar ucapan Javier.
"Kau tau ... sebuah negara membutuhkan pasukannya sendiri untuk mempertahankan wilayahnya, bukan?" Dengan mudahnya, Javier membalas dengan kalimat seperti itu.
__ADS_1
"Sebuah negara?" tanyaku yang semakin kebingungan akan maksud ucapan Javier.
Aku dan Drian sudah cukup kebingungan saat Javier menyarankan kami untuk membuat pasukan kami sendiri, tapi sekarang dia malah mengatakan sesuatu yang semakin membuat kami kebingungan.
Sambil menatap kami dengan tatapan bersemangat, Javier berkata, "Apa kalian pikir desa ini akan tetap menjadi desa kecil dan terpencil saat aku memutuskan untuk datang ke sini? Jangan bodoh! Dengan datangnya aku ke sini, cepat atau lambat, desa ini akan berubah menjadi wilayah dengan peradaban paling maju di dunia!"
"Walaupun di luar sana aku dikenal sebagai 'Ilmuan Gila', tapi jangan sampai salah. Begini-begini ... aku adalah ilmuan paling jenius abad ini. Hampir semua teknologi paling maju di abad ini, mulai dari menara pemancar signal, pesawat, helikopter, hingga kamera terbaru, itu semua adalah hasil karyaku, buah dari penelitianku, ya ... meski pada akhirnya semua itu diakui oleh ilmuan-ilmuan sialan yang dulu sudah memanfaatkanku."
"Kalau itu semua sudah terwujud, maka semua orang akan mulai bermimpi untuk bisa tinggal di sini, sementara orang-orang yang berkepentingan tidak akan membiarkannya begitu saja. Mereka pasti akan berusaha menjatuhkan kita dengan segala cara. Saat itu terjadi, apa kalian pikir kalian bisa tetap mempertahankan desa ini ... maaf, maksudku negara ini sendirian?"
Kami sungguh tak menyangka kalau ternyata Javier akan mengatakan hal semacam itu.
"Jadi, maksudmu kau akan merubah desa ini menjadi negara dengan teknologi paling maju di seluruh dunia?" tanyaku sambil tersenyum bersemangat.
Javier balas tersenyum, lalu menjawab, "Kau ingin membuat tempat kecil ini jadi tempat yang layak untuk ditinggali semua orang, bukan? Kalau begitu, ayo perluas tempat ini agar lebih banyak orang yang bisa tinggal di dalamnya."
Aku dan Drian pun tak bisa mengendalikan senyum yang merekah di bibir kami. Perasaan senang, terkejut, antusias, hingga tercengang seketika melebur jadi satu setelah mendengar semua yang Javier katakan.
Merubah desa menjadi negara dia bilang? Itu ide yang sangat gila, tapi patut untuk dicoba.
...
Keesokan harinya, aku, Drian, dan Javier mengadakan pertemuan dengan Pak Kepala Desa serta para bapak-bapak di balai desa untuk membahas rencana pembangunan pembangkit listrik bertenaga reaktor fusi di desa kami.
Namun, sebelum itu Javier menjelaskan tentang reaktor fusi yang akan dia bangun.
"Jadi, pembangkit listrik yang ingin kubangun untuk desa ini bukan sembarang pembangkit listrik, melainkan pembangkit listrik bertenaga reaktor fusi hidrogen. Aku tidak akan menjelaskan panjang lebar, tapi intinya, itu adalah pembangkit listrik yang memanfaatkan energi panas dari plasma yang hampir mirip dengan plasma milik matahari, namun sepuluh kali lipat lebih panas. Singkatnya, itu sama seperti menciptakan matahari buatan dan memanfaatkan panasnya sebagai sumber energi tak terbatas," jelas Javier.
Barulah setelah itu, kami mulai membahas soal material, waktu, biaya, hingga tenaga kerja yang dibutuhkan untuk pembangunannya.
Pertama, Javier mengatakan kalau material yang dibutuhkan tidak terlalu banyak. Hanya saja, setiap bagiannya sangatlah mahal. Setidaknya, itu akan menghabiskan sekitar satu juta gale.
Kami tidak mempermasalahkan soal itu, mengingat dana yang kami miliki lebih dari cukup.
Kedua, Javier mengatakan bahwa setidaknya membutuhkan waktu selama satu tahun penuh untuk menyelesaikan mega projeknya, mengingat projek yang dia bangun sangatlah rumit, ditambah lagi, jumlah tenaga kerja yang ada juga hanya terbatas pada warga desa, sehingga hal itu membuat waktu pembangunannya jadi jauh lebih lama.
Pak Kepala Desa dan Paman Gary menyarankan untuk merekrut tenaga kerja dari luar. Saran itu diberikan karena selain merasa kekurangan tenaga kerja, Pak Kepala Desa dan Paman Gary juga merasa bahwa warga desa tidak memiliki cukup pengalaman untuk membangun projek semacam itu.
Awalnya, Javier menolak mentah-mentah usulan tersebut karena berpikir bahwa menarik orang dari luar akan sangat beresiko terhadap bocornya informasi mega projek yang ingin dia bangun. Akan tetapi, dia akhirnya berubah pikiran setelah memikirkanya matang-matang.
Javier menyetujui perekrutan tenaga kerja dari luar. Akan tetapi, dia mengajukan syarat: dia hanya akan menerima tambahan tenaga kerja apabila tenaga kerja tersebut berasal dari Guild Gorgius yang merupakan salah satu guild pekerja terbaik di seluruh dunia, guild yang bermarkas di Negara Kansas, Benua Tengah, sementara kami berada di Benua Timur.
Dia mengajukan syarat tersebut karena Guild Gorgius terkenal memiliki motto: 'Bersama kami, membangun negeri'.
__ADS_1
Selain itu, Guild Gorgius juga terkenal selalu menyimpan rapat rahasia pelanggan mereka, sehingga hal itulah yang mendasari pertimbangan Javier dalam merekrut tambahan tenaga kerja.
Aku dan Drian pun berusaha mendebatnya, mengingat biaya jasa pekerja dari Guild Gorgius yang notabenenya merupakan guild pekerja terbaik di dunia pasti sangatlah mahal, sehingga hal itu akan menyebabkan biaya yang dibutuhkan bisa membengkak berkali-kali lipat dari yang seharusnya.
Akan tetapi, Javier mengatakan bahwa biaya yang dibutuhkan tidak akan sebesar yang kami pikirkan, setidaknya tidak akan melebihi sepuluh juta gale, karena jika dia mendapat tambahan pekerja dari Guild Gorgius, dia bisa menyelesaikan projeknya hanya dalam waktu satu bulan saja.
Dengan mempertimbangkan perbedaan durasi pengerjaanya, ditambah dengan warga desa yang belum memiliki pengalaman, kami akhirnya menyetujui persyaratan Javier, meski sebenarnya agak disayangkan harus menelan biaya semahal itu, tapi kami pikir itu adalah solusi terbaik yang bisa diambil.
Kami membahas perencanaan pembangunan tersebut dari pagi sampai sore. Meski ada beberapa bagian yang menjadi perdebatan, tapi pada akhirnya kami bisa mencapai kesepakatan terbaik.
Setelah semuanya telah disepakati bersama, rapat pertemuan yang membahas pembangunan mega proyek reaktor fusi pun akhirnya selesai.
...
Selesai menghadiri pertemuan tersebut, aku dan Drian pergi ke padang rumput yang berada cukup dekat dari desa untuk melihat anak-anak yang sedang bermain.
Sesampainya di sana, kami hanya duduk-duduk santai sambil melihat anak-anak yang sedang bermain bersama.
Di sana, kami melihat Zaltan sudah kelihatan cukup akrab dengan anak-anak yang lain.
Khoir, anak perempuan tuna rungu, juga mulai mengajari Zaltan bahasa isyarat agar Zaltan bisa berkomunikasi dengan anak-anak yang lain.
Selain itu, di sana juga ada Angel yang sedang asik bermain bersama anak-anak.
"Yan, gua masih kepikiran soal yang dikatakan Javier tadi malam," kataku yang sedang duduk bersandar di pohon yang sama dengan Drian.
"Maksud lu soal mengubah desa kita jadi negara?" tanya Drian.
"Bukan ... tapi soal kita yang mesti buat pasukan," balasku, lalu menambahkan, "Gimana kalau kita buat pasukan monster, elf, dan semacamnya?"
"Wah, lu ngaco lu," kata Drian dengan raut terkejut bercampur tak percaya.
"Gua serius, Yan. Gara-gara ketemu Zaltan ama monster tempo hari, gua jadi kepikiran. Ada berapa banyak monster ama ras-ras minoritas di luar sana yang terpaksa hidup bersembunyi gara-gara takut diburu sama manusia? Gimana kalau kita kumpulin mereka dan biarin mereka tinggal di sini? Kalau itu sampai berhasil, mereka pasti bakalan jadi pasukan pelindung terbaik buat desa kita."
*Minoritas \= Bagian yang lebih sedikit.*
"Iya sih, tapi kan ... ngebawa mereka ke sini itu sama aja kayak lu ngebawa bencana ke sini, Vin! Terus gimana ntar kalau kita malah jadi makin banyak narik perhatian dunia? Bukannya itu malah sama aja kayak lu nuangin bensin ke dalam kobaran api?" tanya Drian.
"Kita udah nuangin bensin, Yan. Kita udah nuangin bensin ...," balasku sambil menatap anak-anak yang sedang asik bermain.
Drian tiba-tiba menghela nafas pasrah. Dia seperti tidak ingin mendebat keputusanku lebih jauh lagi.
"Terus, gimana cara lu bawa mereka ke sini?" tanya Drian yang sedang bersandar di pohon yang sama denganku.
__ADS_1
"Nggak tau," balasku singkat.