Legenda Sepanjang Masa

Legenda Sepanjang Masa
Chapter 30 - Legenda Sepanjang Masa


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Sore ini, saat aku sedang duduk bersantai di bawah pohon sambil melihat anak-anak yang sedang asik bermain di padang rumput, Angel tiba-tiba datang menghampiriku.


"Lagi ngapain, Vin?" Angel duduk manis di sampingku.


"Nggak, ini cuma santai-santai aja."


Di bawah pohon rindang yang sedang tertiup semilir angin, aku dan Angel duduk bersama sambil melihat anak-anak yang sedang asik bermain bersama di padang rumput.


"Kayaknya ada yang lagi kamu pikirin," kata Angel.


Aku menatap wajah manis Angel untuk beberapa saat, dan hal itu membuat Angel nampak salah tingkah.


"Kenapa sih?" tanyanya sambil memelintir untaian rambut yang tertiup semilir angin.


"Nggak, rasanya adem banget liat wajahmu. Kalau aja tiap bangun tidur ada wajahmu di sampingku, aku pasti bakalan bahagia banget."


"Iiihhh ... apaan sih!" Angel semakin salah tingkah, sementara aku hanya tertawa melihatnya.


Aku kembali mengarahkan pandanganku ke depan, tepatnya pada Zaltan yang kini sudah sangat akrab dengan anak-anak yang lain.


"Ngel, semalam, Zaltan mengigau. Dia terus memanggil-manggil orang tuanya. Anak itu ... dari luar, dia mungkin kelihatan ceria, tapi aku yakin, dia pasti sangat merindukan orang tuanya. Padahal, aku sudah berjanji padanya untuk mencari dan membawa orang tuanya ke sini, tapi aku bahkan tidak tau harus memulai dari mana."


Angel hanya menundukkan kepalanya dengan raut sedih.


Tidak berselang lama ...


"Drian kembali! Drian sudah kembali!"


Tiba-tiba kami mendengar teriakan salah seorang warga yang berjaga di perbatasan desa.


Aku dan Angel langsung berdiri dan bersiap pergi ke perbatasan untuk menyambut kepulangan Drian.


Namun, sebelum itu, Angel berteriak, "Anak-anak! Kak Drian sudah kembali!"


"Benarkah?!"


"Yeiii! Kak Drian sudah kembali!"


Kami kemudian bersama-sama pergi ke perbatasan desa.


...


Sesampainya di perbatasan desa ...


"Kak Drian!"


"Kak!"


Anak-anak langsung berlarian dan memeluk Drian yang datang bersama Mbak Shelly dan Viona, sementara aku dan Angel hanya menatap dari kejauhan.


"Kak, mana oleh-olehnya?" tanya Lusi, salah satu anak panti.


"Kak Drian nggak lupa, kan?" imbuh Mei, salah satu anak panti.


"Iya, tenang aja! Kakak bawain semua pesenan kalian kok," balas Drian.


"Yeiiii ..."


Anak-anak langsung bersorak gembira mendengarnya.


"Woi, Yan, gimana?" tanyaku dari kejauhan.

__ADS_1


"Aman. Mulai sekarang, kita resmi punya guild sendiri," balas Drian yang masih sibuk dengan anak-anak.


"Tu, wajah lu kenapa?" Aku menanyakan itu karena melihat beberapa plester yang menempel di wajah Drian.


"Panjang ceritanya. Ntar gua ceritain," balas Drian.


...


Sore harinya, aku, Drian, dan Angel berkumpul di rumahku.


"Buruan cerita. Tu, kenapa lu bisa sampai babak belur begitu?" Aku langsung menagih janji Drian.


"Sabar napa sih! Basa-basi dulu kek, apa kek. Main todong aja!"


"Ce'elah ... kayak nggak kenal gua aja lu."


"Vin, jadi tu, waktu gua di ibu kota ..."


Drian mulai menjelaskan perihal apa saja yang sudah dialaminya semasa berada di ibu kota.


Saat pergi ke asosiasi guild internasional bersama Mbak Shelly dan Viona untuk mengurus pendirian guild, Drian tidak sengaja bertemu dengan beberapa orang dari Guild Saber.


Beberapa di antara mereka, ada pria yang mirip sekali dengan pria yang Zaltan gambar tempo hari.


Drian ingin menegur dan berbincang dengan pria tersebut perihal perburuan elf yang Guild Saber lakukan sepuluh tahun yang lalu. Siapa tau, dia bisa mendapat beberapa informasi berharga dari pria tersebut.


Namun, karena takut nantinya dia malah membuat keributan di sana, Drian memutuskan untuk mengikuti pria tersebut secara diam-diam.


Drian terus mengikuti pria tersebut. Hingga pada akhirnya, mereka sampai di sebuah gang kecil di salah satu sudut ibu kota.


"Hoi, keluar! Siapa kau? Kenapa dari tadi kau terus mengikutiku?" Pria itu menyadari bahwa sedari tadi Drian terus mengikutinya secara diam-diam.


Drian pun menunjukkan dirinya sambil berkata, "Maaf, aku hanya ingin bertanya beberapa hal."


Bukanya menjawab, pria itu malah tiba-tiba menyerang Drian, sehingga membuat Drian terpaksa meladeni pria itu.


Singkat cerita, Drian dan pria itupun ditahan di kantor kepolisian dan ditempatkan di sel yang sama.


Barulah pada saat itu, Drian akhirnya bisa berbincang lebih santai dengan pria itu.


"Kenapa kau tiba-tiba menyerangku?" tanya Drian.


"Kau sendiri ...? Kenapa kau terus mengikutiku?" balas pria tersebut.


"Aku cuma mau menanyakan beberapa hal."


Dengan bermalas-malasan, pria itu membalas, "Kalau kau mau mengorek informasi tentang guildku, jangan harap kau mendapat sesuatu dariku."


"Tidak ... aku hanya ingin menanyakan soal perburuan elf yang kalian lakukan sepuluh tahun yang lalu."


"Dari mana kau tau soal itu?"


"Aku tidak bisa memberitahumu," balas Drian.


"Kalau begitu, aku juga tidak bisa memberitahumu," balas pria tersebut.


Meski awalnya agak ragu, tapi pada akhirnya Drian menceritakan dari mana dia mengetahui perihal perburuan tersebut.


...


"Tunggu dulu! Jadi kau menceritakan soal Zaltan?" pekikku.


"Tenang saja. Aku memang menceritakan soal Zaltan, tapi aku sudah merubah cerita aslinya," balas Drian.

__ADS_1


"Ok, lanjutkan."


Drian pun kembali bercerita.


Dari perbincangan tersebut, Drian akhirnya mengetahui nama pria yang dia ajak bicara. Pria itu bernama Lorente. Dia adalah kapten divisi dua Guild Saber.


Awalnya, Lorente terus bersikeras tidak mau memberi tahu tentang perburuan yang dilakukan guildnya, tapi berkat kemampuan membujuknya yang layak mendapat penghargaan, Drian berhasil membujuk Lorente untuk menceritakan perihal perburuan yang Guild Saber lakukan.


Selain itu, Lorente juga dengan gamblang mengakui bahwa dia terlibat dalam perburuan elf yang diduga merupakan orang tua Zaltan.


"Apa kau bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi waktu itu?" tanya Drian, berusaha mengorek informasi secara perlahan.


Sebelum menjelaskan lebih jauh, Lorente tiba-tiba membuka bajunya dan menunjukkan bekas luka yang sangat parah, luka yang sampai kini masih membekas di tubuhnya.


Dia mengatakan bahwa luka itu dia dapat dari pertarungan melawan sepasang elf dewasa yang berusaha keras melindungi anaknya.


Lorente mengatakan bahwa itu adalah perburuan terburuk yang pernah dilakukan Guild Saber. Akibat perburuan tersebut, seratus petarung dan pemburu terbaik yang diterjunkan Guild Saber bahkan sampai nyaris musnah hanya karena menghadapi sepasang elf dewasa tersebut.


Beruntungnya, mereka berhasil menyandera anak dari sepasang elf tersebut, sehingga membuat sepasang elf dewasa tersebut menyerah tanpa perlawanan.


Dari seratus orang yang turut berpartisipasi dalam perburuan tersebut, hanya tujuh yang berhasil selamat.


...


"Jadi, benar kalau Guild Saber yang sudah menangkap orang tua Zaltan?" tanyaku.


"Memang tidak pasti, tapi kemungkinan besar, iya," balas Drian.


"Terus sekarang mereka ada di mana?" tanya Angel.


"Lorente mengatakan kalau tujuh tahun yang lalu, mereka sudah menjual sepasang elf yang mereka tangkap kepada salah satu bangsawan ternama di Kota Zargon, tapi dia tidak mau memberitahu siapa namanya."


"Kalau begitu, itu akan lebih mudah untuk melacaknya. Kerja bagus, Yan!" Aku sangat senang karena akhirnya bisa menemukan titik terang.


"Btw ... tu lu kenapa? Kok bisa sampai babak belur begitu?" tanya Drian.


"Oh, ini ... gua abis gelut ama Fenrir," jawabku.


"Lu serius ...?" Drian nampak tak percaya.


"Ya iyalah ... masa gua boong," balasku.


"Jadi, itu artinya lu berhasil bawa Fenrir ke sini?" tanya Drian.


"Yeee ... masih ditanya ... ya jelas lah gua berhasil," balasku sambil menyombongkan diri.


"Terus sekarang Fenrir-nya mana?" tanya Drian.


"Nggak tau, sejak sampai di desa, dia tiba-tiba ngilang ke gunung. Katanya sih mau nandain wilayah ini sebagai teritorinya biar nggak ada yang berani macam-macam, tapi sampai sekarang nggak balik-balik juga tu serigala," balasku.


"Ah, alesan aja. Boong kan lu ...?" Drian meragukan pernyataanku.


"Yeee ... ni anak. Dibilangin nggak percaya. Noh, tanya Angel noh," kataku.


"Beneran, Ngel?" tanya Drian, sementara Angel langsung mengangguk.


Setelah ngobrol mondar mandir ke sana kemari, kami kembali pada topik utama.


"Terus, kapan kita tanganin soal masalah ini?" tanya Drian.


Tanpa berpikir, aku menjawab "Secepatnya. Kita harus selesain ini secepatnya. Kita nggak punya banyak waktu. Bentar lagi Guild War bakalan dimulai. Reaktor rancangan Javier juga udah mau kelar. Batasnya dua minggu. Kita harus selesain masalah ini dalam waktu kurang dari dua minggu."


"Kalau masih nggak cukup?" tanya Drian.

__ADS_1


"Yan, lu tau kan ...? Kalau apa yang kita pikirin itu adalah harapan ...? Kalau kita mau misi ini berhasil, jangan pernah sekalipun lu mikir misi ini bakalan gagal."


"Iya deh, iya, Pak Guru!" Drian memberikan sedikit penekanan pada kalimat terakhirnya, sementara Angel hanya tertawa.


__ADS_2